Bab baru: Kehilangan potongan-potongan kecil dalam hidup.
Selasar
Di Selasar kita bisa berdiskusi. Ramai-ramai atau sendiri. Boleh. Sambil minum kopi, merenung atau hanya sekedar berimajinasi, juga boleh. Atau sambil bermimpi dan masturbasi. Pun boleh-boleh saja. Terserah! Silakan saja. Suka-suka.
Kamis, 09 April 2026
Bab baru: Kehilangan potongan kecil dalam hidup.
Bab baru: Kehilangan potongan-potongan kecil dalam hidup.
Kamis, 11 September 2025
Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal
Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).
Kalau
reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti
ganti sprei di kasur yang masih penuh kutu. Nyaman sebentar, gatal lagi
kemudian. Reshuffle seharusnya bukan kosmetik, tapi operasi. Bukan sekadar rias
wajah, tapi cuci darah. Kalau tidak, rakyat hanya diberi ilusi bahwa sesuatu
berubah, padahal sebenarnya cuma ditukar nama di absen rapat.
*
Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal
Oleh: Yoss Prabu
Ada yang bilang reshuffle itu
seperti putus cinta. Awalnya manis, penuh janji, tapi lama-lama jadi hambar. Bikin
sakit kepala, lalu akhirnya terpaksa bilang, “Maaf, ini bukan salahmu, ini
salah kinerjamu.” Bedanya, kalau pacar bisa balas dendam dengan cara update
status galau di medsos, menteri yang dicopot biasanya balas dendam dengan
mendirikan partai baru.
Kenapa kabinet harus
di-reshuffle? Karena banyak kursi diisi bukan oleh orang yang bisa kerja, tapi
oleh orang yang bisa lobi. Bayangkan, sebuah orkestra. Sang konduktor ingin memainkan
simfoni Beethoven, tapi yang pegang biola malah sibuk scrolling TikTok, yang
pegang trompet ngotot main dangdut, sementara yang megang drum malah sibuk ngetik
status quotes motivasi. Mau jadi musik apa negara ini?
Reshuffle adalah bentuk cinta
presiden kepada rakyat. Ibarat suami yang sadar istrinya mulai capek mengurus
rumah, dia harus turun tangan, mencari pembantu baru. Kalau tidak, rumah tangga
bisa bubar. Rakyat itu pasangan abadi kekuasaan. Dan reshuffle itu seperti
bunga mawar yang dikirim diam-diam ke meja rakyat, “Tenang, Sayang. Aku masih
peduli.” Meski tentu saja, banyak rakyat yang sudah kebal dengan rayuan gombal
macam ini.
Tapi jangan salah. Ada sisi
melankolis di sini. Setiap kali reshuffle diumumkan, wajah-wajah tegang menteri
muncul di layar kaca. Mereka senyum kecut, pura-pura bilang, “Saya siap
ditempatkan di mana saja.” Padahal dalam hati berbisik getir, “Asal jangan di
luar kabinet, ya Tuhan.” Di balik dasi dan jas yang licin itu, ada rasa takut
kehilangan jabatan. Takut kembali jadi orang biasa, takut jadi alumni kekuasaan
yang hanya dipanggil di acara reuni.
Secara filosofis, reshuffle
adalah pengingat bahwa kekuasaan itu fana. Tidak ada kursi yang kekal. Bahkan
kursi presiden pun punya tanggal kadaluarsa, apalagi kursi menteri. Hidup
adalah panggung sementara, jabatan hanyalah properti pentas. Hari ini kau duduk
gagah di meja rapat, besok bisa jadi hanya penonton yang nyinyir. Dan bukankah
itu keadilan semesta? Semua orang pada akhirnya di-reshuffle oleh waktu.
Namun mari kita jujur,
reshuffle juga penuh drama. Media sibuk menerka siapa yang bakal tergeser, siapa
yang naik. Seperti sinetron, “Akankah si Menteri X bertahan, ataukah digantikan
oleh tokoh misterius yang tiba-tiba muncul dari balik tirai partai?” Rakyat pun
jadi penonton setia, menunggu ending dengan popcorn politik. Bedanya, dalam
sinetron biasanya ada pahlawan yang menolong. Di politik, kadang yang muncul
justru villain baru dengan senyum manis.
Kalau reshuffle hanya sekadar
memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di
kasur yang masih penuh kutu. Nyaman sebentar, gatal lagi kemudian. Reshuffle
seharusnya bukan kosmetik, tapi operasi. Bukan sekadar rias wajah, tapi cuci
darah. Kalau tidak, rakyat hanya diberi ilusi bahwa sesuatu berubah, padahal
sebenarnya cuma ditukar nama di absen rapat.
Dan humor terbaik selalu lahir
dari ironi. Rakyat yang tiap hari susah bayar beras justru jadi penonton setia
drama reshuffle, padahal dampaknya entah kapan terasa di dapur mereka. Mereka
menonton dengan komentar khas warung kopi. “Yang penting jangan copot menteri
favorit gue, soalnya kalau ngomong selalu lucu.”
Maka, kenapa kabinet harus
di-reshuffle? Karena negara ini butuh lebih dari sekadar aktor yang jago
berpose di depan kamera. Butuh pekerja, bukan sekadar penghibur. Butuh pemimpin
kecil yang bisa kerja di level kementerian, bukan sekadar penyalur ambisi
partai.
Pada akhirnya, reshuffle
adalah bentuk cinta yang keras kepala. Seperti pasangan yang meski berkali-kali
disakiti, tetap berharap, “Mungkin kalau ganti gaya rambut, dia akan lebih
baik.” Rakyat pun masih percaya – atau pura-pura percaya – bahwa tiap reshuffle
adalah kesempatan baru.
Apakah benar akan ada
perubahan? Itu urusan lain. Tapi kalau tidak dicoba, negara ini bisa jadi rumah
tangga yang berantakan: suami sibuk kampanye, istri sibuk berutang, anak-anak
bingung mau makan apa. Dan kita, rakyat, hanya bisa berdoa, semoga reshuffle
kali ini bukan sekadar drama, tapi benar-benar babak baru. Lalu kenapa kabinet
harus di-reshuffle? Karena terlalu banyak menteri yang lebih sibuk jadi seleb
medsos daripada bekerja. Ada yang hobinya bikin konten video ketawa-ketiwi,
padahal rakyatnya nangis di dapur karena harga beras loncat lebih tinggi dari
harga tiket Coldplay. Ada pula yang sok jadi influencer ekonomi. Tiap kali
bicara, grafik di layar indah, tapi di dompet rakyat angkanya minus.
Reshuffle itu sebetulnya
bukan sekadar kebutuhan, tapi darurat. Negara ini sudah seperti rumah bocor
yang ditambal dengan kalender bekas. Menteri-menteri tertentu kerja seperti
tukang cat. Poles permukaan biar kinclong, padahal tembok di dalamnya rapuh,
siap rubuh. Dan yang lebih parah, ada yang bahkan “tidak mengerti pekerjaannya
sendiri”. Menteri pertanian bingung soal pupuk, menteri pendidikan sibuk jualan
jargon, menteri kesehatan sibuk bikin statement yang lebih memusingkan daripada
penyakitnya.
Ada pula sisi mesranya, sih. Begini.
Bakyat itu ibarat pasangan setia yang menunggu janji manis ditepati. Tapi apa
yang terjadi? Presiden malah memperlakukan rakyat seperti selingkuhan murahan, dikasih
janji manis tiap kali mau reshuffle, tapi setelah itu tetap balik ke pelukan
partai politik. Katanya, “Demi kamu, aku akan pilih yang terbaik.” Eh, begitu
diumumkan, yang masuk justru titipan sana-sini.
Jelas terasa, setiap kali
wajah-wajah menteri nongol di berita menjelang reshuffle. Mereka pura-pura
tegar, bilang siap diganti, padahal dalam hati ketakutan seperti anak magang
yang baru sadar dia tidak bisa kerja tapi sudah terlanjur dipajang di depan
bos. Ada yang sampai main lobi, ada yang sowan ke istana, ada pula yang
mendadak rajin tampil di televisi, berharap rakyat ikut kampanye. “Jangan copot
dia, kasihan, dia kan lucu dan imut banget.”
Tapi mari kita jujur,
reshuffle seringkali cuma drama murahan. Bedanya dengan sinetron, di sini
aktornya lebih mahal jasnya, lebih mewah jam tangannya, tapi lebih buruk
aktingnya. Rakyat menonton, berharap ada perubahan. Tapi yang terjadi? Pindah
kursi, ganti nama, tapi penyakit tetap sama, “korup, malas, dan sibuk
pencitraan.”
Reshuffle itu mengingatkan
kita bahwa jabatan hanyalah titipan. Tapi sayangnya, banyak pejabat yang
memperlakukannya seperti harta pusaka. Mereka rela menggadaikan harga diri,
akal sehat, bahkan negara, demi bertahan di kursi empuk itu. Mereka lupa, kursi
menteri bukan warisan kakek mereka, melainkan amanah dari rakyat. Dan amanah,
kalau dipelihara dengan kebohongan, akhirnya berubah jadi kutukan.
Rakyat sudah apatis. Mereka
bilang, “Mau reshuffle atau tidak, hidup kami tetap susah.” Sama seperti
pasangan yang sudah sering dibohongi, lama-lama jadi ketawa sendiri tiap kali
dengar janji baru. “Katanya mau turunkan harga, katanya mau bereskan impor,
katanya mau revolusi mental.” Semua tinggal katanya.
Maka, kenapa kabinet harus
di-reshuffle? Karena banyak menteri yang lebih layak duduk di “kursi cadangan”
ketimbang kursi kabinet. Karena kita butuh pejabat yang bisa kerja, bukan pejabat
yang hanya bisa tanda tangan kontrak dengan donor politik. Karena negara ini
terlalu besar untuk dijadikan ajang internship politik buat anak-anak manja
partai.
Dan yang paling penting. Reshuffle
adalah cermin, apakah presiden benar-benar berpihak pada rakyat, atau hanya
berpihak pada partai dan oligarki. Kalau reshuffle cuma jadi operasi plastik
kosmetik. Hasilnya tetap sama. Wajah kabinet mulus, tapi penyakit dalamnya
tetap membusuk.
Kalau reshuffle gagal lagi, jangan
kaget kalau rakyat suatu hari nanti bilang. “Sudahlah, gantian saja, bukan cuma
menterinya yang direshuffle, tapi presidennya sekalian.” Karena cinta rakyat
juga ada batasnya. Dan kalau rakyat sudah putus cinta, siap-siap saja. Cerai
politik itu lebih pahit daripada cerai rumah tangga.
*
Jakarta,
11 September 2025.
Minggu, 07 September 2025
Sepuluh Nama, Seribu Luka. Ketika Negara Berdiri di Atas Kuburan Rakyatnya
Hanya ilustrasi. (Gambar: AI).
Mereka yang meninggal hanyalah sepuluh nama dari ribuan yang disiksa,
dipukul, ditendang, dicaci. Sepuluh tubuh yang sudah terbujur itu kini menjadi
simbol betapa murah nyawa di negeri sendiri. Anak sekolah, tukang becak,
pegawai kecamatan, mahasiswa, ojek online, semua lapisan rakyat ada di daftar
korban. Sebuah potret sempurna. Kekerasan negara tak pandang bulu, karena bagi
kekuasaan, rakyat hanyalah kerumunan tanpa wajah.
*
Sepuluh Nama,
Seribu Luka.
Ketika Negara
Berdiri di Atas Kuburan Rakyatnya
Oleh: Yoss Prabu
Pada akhir Agustus
2025, Indonesia menulis ulang bab paling kelam dalam buku panjang kekerasan
negara. Sepuluh nyawa melayang, ratusan patah tulang, ribuan luka, dan lebih
banyak lagi air mata yang tidak pernah masuk hitungan resmi. Negara sibuk
menghitung kerugian gedung yang terbakar, tapi tidak pernah mampu menghitung
berapa banyak hati yang hancur.
Andika, 16 tahun,
masih berseragam SMK ketika hidupnya diremukkan benda tumpul. Affan, pengemudi
ojek online, dilindas kendaraan rantis seolah nyawanya seharga ban cadangan. Di
Yogyakarta, Rheza, mahasiswa penuh mimpi, pulang dalam kondisi tubuh biru
lebam, wajahnya ditandai jejak sepatu aparat. Di Makassar, Rusdam alias Dandi,
tulang punggung keluarga, dipukuli sampai mati hanya karena dituduh intel. Dan
daftar itu terus berlanjut. Sepuluh nama, sepuluh cerita, sepuluh tragedi, yang
semuanya berakhir di liang kubur.
Negara menyebut mereka
“anarkis”, “makar”, bahkan “teroris”. Betapa murah label itu ditempelkan pada
tubuh yang sudah kaku. Betapa mahal harga sebuah pertanyaan sederhana, kenapa
rakyat yang bersuara selalu dibungkam dengan peluru, gas air mata, dan
pentungan? Presiden bahkan sempat berpidato dengan gagah: aparat harus “tegas.”
Tegas rupanya berarti menginjak kepala remaja, menembakkan gas air mata ke
dada, atau melindas dengan kendaraan taktis. Tegas rupanya sinonim dari bengis.
Mari kita berhitung.
Sepuluh korban jiwa. Tapi sesungguhnya, lebih dari sepuluh keluarga yang mati
perlahan. Seorang ibu kehilangan suara karena terlalu lama menangis di Makassar.
Seorang ayah masih menyimpan kunci motor anaknya yang tak akan pernah pulang di
Yogyakarta. Seorang istri kehilangan suami yang melompat dari lantai empat
gedung terbakar di Makassar. Anak-anak yang seharusnya masih bisa bercanda
dengan bapaknya kini hanya bisa berbicara pada batu nisan. Tragedi ini bukan
sekadar angka. Ia adalah potongan daging yang dicabik dari tubuh bangsa
sendiri.
Ironinya? Uang
triliunan rupiah justru digelontorkan untuk membeli peluru karet, gas air mata,
dan drone pelontar, bukan untuk pendidikan, kesehatan, atau kesejahteraan.
Seolah rakyat hanya layak diatur, dipukul, dan ditakuti. Seolah demokrasi
hanyalah panggung sandiwara di mana aparat jadi pemeran utama, dan rakyat
hanyalah figuran yang bisa mati kapan saja.
Komnas HAM berteriak.
PBHI berteriak. Amnesty International berteriak. Tapi suara mereka tenggelam
oleh sirene, ledakan gas air mata, dan perintah “tindak tegas.” Bahkan dunia
internasional ikut bersuara, meminta penyelidikan independen. Namun di negeri
ini, keadilan seringkali hanyalah kata yang dipajang di baliho, bukan yang
hidup di pengadilan.
Mereka yang meninggal
hanyalah sepuluh nama dari ribuan yang disiksa, dipukul, ditendang, dicaci.
Sepuluh tubuh yang sudah terbujur itu kini menjadi simbol betapa murah nyawa di
negeri sendiri. Anak sekolah, tukang becak, pegawai kecamatan, mahasiswa, ojek
online, semua lapisan rakyat ada di daftar korban. Sebuah potret sempurna. Kekerasan
negara tak pandang bulu, karena bagi kekuasaan, rakyat hanyalah kerumunan tanpa
wajah.
Dan kita? Kita hanya
bisa membaca berita, menunduk, menelan pil pahit yang sama. Kita tahu suatu
hari nanti mungkin nama lain akan ditambahkan ke daftar. Sebab di negeri ini,
darah rakyat hanyalah catatan kaki dalam sejarah yang ditulis dengan tinta
polisi.
Sepuluh korban jiwa
itu kini jadi monumen diam. Bukan di pusat kota, bukan di depan gedung DPR,
tapi di hati setiap orang yang masih percaya bahwa manusia semestinya lebih
berharga dari kursi empuk dewan. Mereka pergi tanpa keadilan, tapi meninggalkan
luka yang seharusnya jadi cambuk. Bahwa, negara tak boleh lagi berdiri di atas
kuburan rakyatnya sendiri.
Apakah mereka akan
diusut tuntas? Atau akan dilupakan seperti korban-korban sebelumnya? Kita semua
tahu jawabannya. Dan mungkin itulah yang paling tragis. Di negeri yang katanya
demokratis, bahkan kematian rakyat pun hanya jadi angka dalam laporan resmi.
Diolah dari berbagai sumber:
- https://www.bbc.com/indonesia/articles/cp949kn2d84o
Jumat, 05 September 2025
Monolog Seorang Penyapu Jalanan
Hanya ilustrasi. (Gambar: AI).
Monolog Seorang Penyapu
Jalanan
Oleh: Yoss Prabu
Aku bukan orator. Suaraku
tak pernah menggema lewat pengeras suara, apalagi ditulis di spanduk. Aku cuma
penyapu jalanan. Si penjual sapu tangan dari aspal kota. Tapi anehnya, setiap
kali mahasiswa berdemo, panggungku lebih luas dari mereka: seluruh jalan raya.
Lihatlah ini. Kertas
selebaran berserakan seperti daun kering yang berguguran, botol air mineral
beterbangan seperti peluru plastik, dan batu-batu berceceran bagai kenangan
masa lalu yang tak pernah dibereskan. Demo itu katanya demi rakyat. Pertanyaannya,
rakyat yang mana? Aku rakyat, tapi setiap kali mereka selesai berteriak, aku
yang jadi korban patah pinggang karena harus menyapu jejak revolusi.
Ada yang bilang, “Bang, itu
kan konsekuensi demokrasi.”
Lah, kalau demokrasi identik
dengan sampah, kenapa aku tidak sekalian jadi menteri lingkungan hidup saja?
Toh aku lebih paham cara mengangkat sisa-sisa amarah ketimbang mereka yang
hanya jago bikin janji.
Lucunya, para mahasiswa itu
romantis sekali dalam berteriak. Slogannya puitis, nadanya heroik, wajahnya
penuh gairah masa muda. Tapi begitu pulang, mereka tinggalkan bekas seperti
mantan yang tak tahu diri. Ingatan pahit, luka hati, dan tentu saja, botol
plastik bekas air mineral yang entah kapan akan terurai.
Aku menyapu sambil mendesah
panjang. Kadang sapu lidi ini terasa seperti biola tua. Setiap gesekan lidi ke
aspal, bunyinya serupa musik sedih. Ah, barangkali aku terlalu melankolis. Tapi
bukankah setiap pekerjaan kuli selalu punya puisi terselip? Mereka menulis
sajak di laptop, aku menuliskannya dengan garis-garis sapu di jalanan. Bedanya,
puisiku hilang begitu kendaraan pertama lewat.
Tapi jangan kira aku cuma
mengeluh. Ada juga lucunya. Pernah sekali, usai demo, aku menemukan sepatu kiri
tanpa pasangannya. Sepatu kiri, sendirian di tengah aspal. Aku bayangkan si
pemilik pulang dengan kaki kanan bersepatu gagah, kaki kiri nyeker malu-malu.
Mungkin itulah ironi revolusi. Mereka bicara soal keadilan sosial, tapi bahkan
sepatunya pun tidak adil. Satunya hilang, satunya bertahan.
Ada pula spanduk berisi
kata-kata lantang, “Hapus Outsourcing! Hancurkan Penindasan!” Aku angkat
spanduk itu, lalu aku pakai untuk melap keringat. Rasanya pas sekali.
Penindasan mungkin jauh di istana, tapi keringatku nyata menetes di ubun-ubun.
Meski begitu, jangan salah
sangka. Di balik keluhanku, aku diam-diam jatuh cinta pada kota yang berantakan
ini. Jalanan penuh sampah sekalipun, tetaplah rumahku. Aspal hitam ini seperti
kekasih tua yang keras, kaku, retak-retak, tapi selalu setia menunggu langkahku
tiap pagi. Kadang aku berpikir, barangkali cinta sejati memang begitu. Tak
pernah indah di mata orang lain, tapi aku rela setia melakukannya setiap hari. Dan
bukankah hidup ini pada dasarnya kerja menyapu yang tak pernah selesai? Kita
bersihkan hari ini, besok kotor lagi. Kita perbaiki hati, besok patah lagi.
Kita jatuh cinta, lalu kecewa, lalu jatuh cinta lagi. Seolah-olah hidup
hanyalah putaran tak berujung. Membersihkan, kotor, membersihkan lagi. Mungkin
Tuhan memang sedang bercanda dengan cara itu.
Sarkastisnya, mereka yang
berteriak di jalan dengan gagah seringkali kelak duduk di kursi empuk,
melupakan idealisme. Sedang aku, penyapu jalan, tetap di sini. Setia bersama
sampah yang jujur apa adanya. Sampah tidak pernah munafik. Ia busuk ya busuk,
bau ya bau. Tidak seperti politisi yang baunya disamarkan parfum mahal.
Kadang aku iri pada
mahasiswa yang bisa jatuh cinta sambil berteriak revolusi. Aku? Paling banter
jatuh cinta pada pagi yang dingin, ketika sinar matahari pelan-pelan
menghangatkan tubuhku. Atau pada bayangan samar seorang perempuan yang dulu
lewat sambil tersenyum, entah siapa namanya, entah di mana sekarang. Ia mungkin
sudah lupa padaku, tapi aku masih ingat caranya menoleh. Kenangan itu seperti
plastik kresek hitam-ringan, remeh, tapi selalu menyangkut di ranting
pikiranku.
Jadi kalau kau tanya aku,
apa arti demo? Demo itu seperti pesta cinta yang ditinggalkan tamu dalam
keadaan berantakan. Mereka pergi dengan dada membara, aku tinggal dengan sapu
dan dengkul pegal. Tapi tak apa. Karena di balik keluhanku, aku belajar satu
hal, revolusi sejati bukan soal teriak di jalan, melainkan berani menyapu
sisa-sisa keributan dengan sabar.
Dan aku, penyapu jalanan,
mungkin satu-satunya revolusioner sejati yang masih setia setiap pagi.
*
Jakarta, 05 September 2025.
Kamis, 04 September 2025
17 + 8 Romansa Reformasi yang Tertunda
17 + 8
Romansa Reformasi yang Tertunda
Oleh: Yoss Prabu
Di negeri +62 yang terkenal dengan keajaiban nasi padang bisa
utang dulu bayar belakangan. Kini rakyat punya menu baru, 17+8 Tuntutan Rakyat.
Viral di medsos, diangkat dari status influencer, diangkat lagi di jalanan,
lalu dilempar tepat ke pintu gerbang DPR. Singkatnya, rakyat sudah muak
dijadikan penonton sinetron politik yang episodenya panjang tapi ceritanya
tetap. “Uangmu untuk gaji kami, sabarmu untuk salah kami.”
Apa isinya? Bayangkan sebuah daftar belanja emak-emak, tapi isinya
bukan cabai rawit atau minyak goreng, melainkan keadilan, transparansi, dan
harapan. Ada 17 tuntutan jangka pendek (harus kelar dalam seminggu) dan 8
tuntutan jangka panjang (harus beres setahun). Kalau DPR dan pemerintah gagal,
rakyat siap bilang. Check out gagal, bubarkan keranjang belanja DPR.
Tuntutan 17 poin, lebih mirip emergency
call. Dari tarik TNI kembali ke barak, hentikan kriminalisasi demonstran,
bentuk tim investigasi kasus Affan Kurniawan & Umar Amarudin, hingga
pembekuan kenaikan gaji DPR yang konon hobinya menambah fasilitas tapi lupa
kerja. Bahkan ada permintaan manis. Partai politik harus “umumkan komitmen
berpihak pada rakyat". Lucu, ya. Sama seperti minta mantan untuk setia, bisa
saja. Tapi rasanya mustahil.
Polisi juga kena semprot. “Hentikan kekerasan, taati SOP!” kata
rakyat. Ironis, SOP itu ada, tapi sering lebih rapi di laci ketimbang di
lapangan. Sementara untuk sektor ekonomi, rakyat menagih upah layak,
perlindungan dari PHK massal, dan dialog buruh yang bukan sekadar seremonial
kopi darat. Intinya, 17 poin ini seperti deadline skripsi. Harus selesai dalam
seminggu, kalau tidak, siap-siap kena demo babak 2.
“Tuntutan 8 poin jangka panjang, lebih filosofis. Bersihkan DPR,
reformasi partai politik, revisi sistem perpajakan biar adil, sahkan UU perampasan
aset koruptor, reformasi kepolisian. Dan lagi-lagi, TNI balik barak tanpa
alasan bercocok tanam di proyek “food estate”. Ditambah penguatan Komnas HAM
serta peninjauan ulang kebijakan ekonomi yang bikin rakyat ngos-ngosan. Ini
bukan sekadar tuntutan, tapi mimpi romantis rakyat. Sebuah negara yang
benar-benar berpihak pada mereka, bukan pada elite yang sibuk selfie di
parlemen.
Di balik semua ini, ada aroma melankolis. Nama-nama korban yang
disebut – Affan, Umar, dan lain – adalah wajah nyata dari harga demokrasi.
Mereka bukan sekadar headline berita, tapi luka yang masih basah. Rakyat
menuntut investigasi bukan untuk gaya-gayaan, tapi untuk menegakkan janji
paling sederhana. “Negara melindungi segenap bangsa.”
Ah, betapa indah kalimat itu di buku teks PKN, betapa getir
rasanya di jalanan penuh gas air mata.
Drama pun pecah di depan gedung DPR. Massa mahasiswa, influencer,
BEM, semua berbaur dalam satu orkestra protes. Ada yang bawa poster, ada yang
bawa tenda, seolah bilang, “Kalau DPR ogah dengar, ya kita camping di sini
sekalian.” Bahkan BEM Unindra tak segan menulis resolusi paling pedas, “#BubarkanDPR”.
Sederhana tapi menohok, seperti SMS putus cinta. Singkat, jelas, bikin sakit
hati.
Di tengah itu, ada juga sisi humor. Andovi dan Jovi menyebut tuntutan
ini gampang, “Tinggal ceklis!” Katanya, 17 poin bisa selesai kalau ada niat.
Ceklis seperti belanja di e-commerce. Sayangnya di republik ini, satu ceklis
bisa makan waktu satu dekade.
Namun, di balik humor dan drama, tuntutan ini punya sisi filosofis
yang dalam. Rakyat sejatinya hanya ingin didengar, dilibatkan, dan diperlakukan
sebagai manusia. Demokrasi bukan hanya kotak suara lima tahun sekali, tapi
ruang dialog setiap hari. Romantis, kan? Ya, romantis sekali, kalau saja elite
politik benar-benar bisa jatuh cinta pada rakyatnya, bukan pada rekeningnya.
Maka, “17+8 Tuntutan Rakyat”, bukan sekadar daftar. Tapi puisi
panjang penuh darah, keringat, dan harapan. Ia adalah serenada rakyat untuk
negaranya, kadang dinyanyikan dengan air mata, kadang dengan teriakan, kadang
dengan canda sinis. Sebuah doa agar Indonesia tidak lagi jadi panggung drama
penuh aktor palsu, tapi rumah yang adil dan manusiawi.
Dan bila tuntutan ini diabaikan? Ya, rakyat mungkin akan menulis
lagi, kali ini bukan “17+8”, tapi cukup dua kata yang lebih singkat, lebih
keras, dan lebih menakutkan.
“Revolusi Rakyat”.
Diolah dari:
-
<https://news.detik.com/berita/d-8093935/isi-17-8-tuntutan-rakyat-bergema-di-medsos-dan-dibawa-ke-aksi-di-dpr>
-
https://kumparan.com/kumparannews/isi-tuntutan-demo-25-agustus-di-dpr-hapus-tunjangan-stop-pemborosan-anggaran-25j0E3PRst6
*
Jakarta,
04 Septenber 2025.
Selasa, 02 September 2025
Saling Tuding dari Sebuah Opera
Hanya ilustrasi. (Gambar: AI).
Ironis,
setelah ribuan suara berteriak di Jalan Gatot Subrota, pemerintah justru
bertanya, siapa dalangnya? Seakan-akan demo buruh hanyalah pertunjukan wayang
dengan dalang misterius yang menggerakkan. Padahal, dalang sesungguhnya duduk
manis di kursi empuk. Eksekutif dan legislatif dengan kebijakan yang
memprovokasi. Outsourcing dilegalkan, upah ditekan, aturan berpihak pada pemodal.
Jika ada yang layak dituding provokator, justru mereka. Para pembuat
undang-undang yang lebih sibuk melayani pemodal ketimbang rakyat. Di sinilah
ironi menjadi opera. Rakyat yang meminta singkong rebus dianggap pengacau,
sementara penguasa yang mencuri nasi pulen disebut negarawan.
Saling
Tuding dari Sebuah Opera
Oleh: Yoss Prabu
Jakarta kembali
bersiap. Bukan karena konser Coldplay atau resepsi artis, melainkan sebuah
panggung akbar bernama “demo buruh”. Ribuan pekerja dari Bekasi, Karawang,
Bogor, Depok, hingga Tangerang berencana menumpahkan suara di depan Gedung DPR
RI dan Istana Presiden. Temanya sederhana namun klasik. “Hapus Outsourcing,
Tolak Upah Murah.” Singkatnya, HOSTUM. Nama yang terdengar lebih seperti band
indie ketimbang gerakan massa, tapi justru di situlah daya tariknya.
Polisi,
sebagaimana naskah tetap dalam drama jalanan, sudah menyiapkan diri sebagai
antagonis berwibawa. Polisi menyebut, lalu lintas akan direkayasa secara
“situasional”. Terjemahannya sederhana. Kalau massa besar, jalan ditutup. Kalau
kecil, biarkan saja. Mirip cinta remaja galau di ibu kota. Kalau terlalu ramai,
cari jalan lain. Kalau sepi, silakan lewat. Meski demikian ada aatu larangan
keras: jangan sampai buruh masuk jalur tol. Polisi akan menegakkan hukum
sekeras ayah galak yang berkata, “Silakan main di halaman, asal jangan naik
genteng.”
Namun yang
sebenarnya, apa isi hati buruh hingga rela berpanas-panasan, diteriaki sopir
macet, dan ditatap pedagang kaki lima dengan penuh curiga? Jawabannya, enam bab
kisah yang mereka tulis dengan keringat.
Pertama. Sandal
Jepit. Outsourcing adalah patah hati kolektif. Buruh diperlakukan seperti
sandal jepit. Dipakai bila perlu, dibuang saat aus. Tak ada janji setia, tak
ada jaminan hari tua.
Kedua. Dompet
Kurus. Upah murah adalah hubungan beracun. Selalu memberi, jarang menerima.
Gaji yang tak cukup bahkan untuk menandingi cicilan motor pejabat.
Ketiga. Puisi
Cabai. Kenaikan upah minimum 8,5–10,5 persen hanya angka. Bagi buruh, itu
berarti, bisa beli cabai atau tidak. Karena harga cabai naik-turun seperti pacar
galau yang ditinggal.
Keempat. Undangan
Tanpa Nama. PP Nomor 35 Tahun 2021 terasa seperti undangan pesta yang tak
pernah mencantumkan nama mereka. Datang, bekerja, tapi tak pernah dianggap
keluarga.
Kelima. Superhero
yang Ditunggu. PHK (pemutusan hubungan kerja) datang seperti badai. Buruh
menuntut Satgas khusus, entah berjubah Batman atau berkeris Wiro Sableng,
asalkan bisa menahan tangan perusahaan yang terlalu mudah berkata, “Anda
dipecat.”
Keenam. Kopi
Sachet Rasa Kopi. PTKP (penghasilan tidak kena pajak) Rp4,5 juta hanya cukup
untuk kos sempit dan kopi sachet. Buruh ingin naik ke Rp7,5 juta. Pajak adil
mestinya bukan beban bagi yang miskin, sementara yang kaya bisa menguap santai.
Enam bab ini
bukan sekadar tuntutan. Melainkan kisah cinta, luka, dan harapan. Dari sandal
jepit sampai kopi sachet, semua ditulis di jalanan dengan suara serak di bawah
matahari.
Ironisnya,
setelah ribuan suara berteriak di Jalan Gatot Subrota, pemerintah justru
bertanya, siapa dalangnya? Seakan-akan demo buruh hanyalah pertunjukan wayang
dengan dalang misterius yang menggerakkan. Padahal, dalang sesungguhnya duduk
manis di kursi empuk. Eksekutif dan legislatif dengan kebijakan yang
memprovokasi. Outsourcing dilegalkan, upah ditekan, aturan berpihak pada pemodal.
Jika ada yang layak dituding provokator, justru mereka. Para pembuat
undang-undang yang lebih sibuk melayani pemodal ketimbang rakyat. Di sinilah
ironi menjadi opera. Rakyat yang meminta singkong rebus dianggap pengacau,
sementara penguasa yang mencuri nasi pulen disebut negarawan.
Gerakan ini tak
hanya di Jakarta. Dari Bandung hingga Jayapura, dari Lampung sampai Ternate,
buruh menggelar aksi serentak. Indonesia serasa panggung besar, dengan naskah
sama. Perjuangan hidup di negeri yang katanya kaya raya, gemah ripah loh
jinawi. Tapi pekerjanya harus terus menagih janji.
HOSTUM ingin
berjalan damai. Bahkan di tengah panas dan teriakan. Ada romantisme. Buruh
berbagi air mineral, bendera serikat jadi payung bersama, harapan dibagi sama
rata. Romantisme jalanan ini tak kalah manis dibanding selfie muda-mudi di
Bundaran HI.
Namun di balik
yel-yel, ada kesedihan melankolis. Tuntutan mereka selalu sama dari tahun ke
tahun. Upah layak, kerja aman, perlakuan manusiawi. Seperti lagu lama yang
terus diputar, sementara pemerintah pura-pura tuli.
Jakarta pada
akhirnya memang panggung sarkastisk. Jalanan macet bukan karena pesta rakyat,
melainkan rakyat menuntut pesta hak. Polisi tersenyum kecut mengatur lalu
lintas, pengendara menggerutu, dan buruh berharap suara mereka masuk ke ruang
rapat ber-AC.
Kini, pemerintah
sibuk mencari kambing hitam. Tapi rakyat sudah paham. Kambing hitam itu bukan
buruh, melainkan kebijakan yang dilahirkan di Istana dan disahkan di Senayan.
Bila penguasa
terus menganggap kritik sebagai makar, demo sebagai kerusuhan, dan jeritan
rakyat sebagai gangguan, maka sebenarnya dalang kerusuhan ada di kursi
kekuasaan itu sendiri.
Sejarah selalu
mencatat. Bukan rakyat yang menggulingkan pemerintah, tapi pemerintah yang
meruntuhkan dirinya sendiri. Dengan kesombongan, ketidakadilan, dan kebijakan
yang mengkhianati janji konstitusi.
*
Jakarta,
02 September 2025.
Senin, 01 September 2025
Air Mata yang Tak Pernah Masuk Risalah Sidang
DPR didemo lagi. Rakyat teriak soal harga bahan pokok. Mereka rapat
soal proyek yang bisa dibagi. Rakyat menjerit soal anak-anak putus sekolah,
mereka sibuk debat siapa yang pantas menjadi ketua panitia. Ironis, bukan?
Bangsa ini punya teater termegah, tapi lakonnya selalu sama. Komedi busuk
dengan tiket termahal.
Air Mata yang Tak Pernah Masuk Risalah Sidang
Oleh:
Yoss Prabu
Ada
suara yang pecah di depan pagar tinggi itu. Suara rakyat yang berderai, yang
menggeram, yang seakan tak pernah benar-benar didengar. Gedung megah bercat
putih berdiri kokoh, dijaga aparat dengan tameng baja, seakan lebih layak
melindungi kursi empuk daripada hati rakyat yang compang-camping.
Hari itu,
DPR kembali didemo. Bukan pertama, bukan kedua, entah sudah keberapa kalinya.
Tetapi setiap kali rakyat datang dengan luka di dada, setiap kali pula gedung
itu hanya menutup mata. Orang-orang berteriak sampai serak, memegang poster
lusuh bertuliskan harapan yang patah, sementara dari dalam sana – para wakil
yang katanya “rakyat titipkan suara” – sibuk dengan agenda mereka sendiri.
Mengapa?
Karena janji sudah jadi barang dagangan. Karena suara rakyat dianggap tiket
masuk, bukan amanah. Karena kursi yang diduduki lebih dipandang sebagai trofi
kekuasaan, bukannya tanggung jawab.
Dan pada
akhirnya, partai-partai pun mulai menarik kadernya. Satu per satu, ada yang
diminta mundur, ada yang “dicabut mandatnya.” Mereka bilang ini demi meredam
amarah rakyat. Mereka bilang ini demi menyelamatkan nama baik partai. Tapi
siapa yang sebenarnya mereka selamatkan? Nama baik partai, atau hati rakyat
yang remuk?
Di depan
pagar itu, ada seorang bapak tua. Rambutnya memutih, kulitnya menggelap
terbakar matahari. Ia mengangkat poster dengan tangan gemetar, “Anakku mati di
jalan karena kebijakanmu.” Suaranya pecah, tubuhnya ringkih. Ia menangis bukan
karena kehilangan kursi, tapi karena kehilangan darah daging. Bagi dia, DPR
bukan lagi rumah harapan, melainkan gedung dingin tempat keputusan-keputusan
yang merampas masa depan bangsa.
Ada pula
seorang ibu yang menggenggam foto anaknya. Mahasiswa yang dulu rajin turun ke
jalan, kini hanya tersisa dalam bingkai. “Kalian bilang, kalian wakil rakyat. Rakyat
yang mana? Karena anakku mati di jalanan menuntut kalian, bukan karena musuh
asing, tapi karena kalian sendiri.” Suaranya parau, menusuk lebih tajam
daripada batu yang dilemparkan ke pagar.
Mereka
yang ditarik pulang dari kursi empuk DPR mungkin merasa malu, mungkin juga
tidak. Tetapi rakyat hanya melihat. Darah sudah tumpah, air mata sudah terlalu membanjir.
Dan penarikan itu hanyalah tambal sulam di kain yang sudah lama robek.
DPR
didemo bukan karena rakyat benci tanpa sebab. Mereka didemo karena janji tidak
ditepati, karena suara rakyat dianggap kentut. Karena keputusan yang lahir di
ruangan ber-AC itu tidak pernah sejalan dengan jeritan di kolong-kolong jalan
layang ibu kota. Plus lorong-lorong kampung.
Setiap
kali rakyat datang, aparat berdiri tegak, pagar makin tinggi, senjata makin
lengkap. Seakan rakyat adalah musuh yang mesti ditundukkan, padahal bukankah
rakyatlah yang membayar setiap bata gedung itu, setiap kursi empuk yang
diduduki?
Ada
seorang mahasiswa yang menulis dengan spidol hitam di karton. “Kami hanya ingin
didengar.” Kalimat sederhana, tapi entah mengapa tak pernah bisa dipahami dari
balik tembok kokoh itu.
Dan di
balik semua hiruk-pikuk, ada getir yang membekas. Bahwa demokrasi yang dulu
diperjuangkan dengan darah, kini terasa hambar. Bahwa kursi DPR yang katanya
rumah rakyat, kini lebih mirip menara gading. Bahwa wakil rakyat sering lupa,
mereka hanyalah wakil. Bukan penguasa.
Maka
partai-partai pun mulai sibuk menarik kader, membersihkan citra, menambal
reputasi. Tapi bagi rakyat, itu semua sudah terlambat. Mereka sudah kadung kecewa,
kadung percaya bahwa suara hanyalah komoditas lima tahunan.
Di
jalanan itu, di bawah terik matahari dan gas air mata, rakyat masih berdiri.
Mereka bukan ingin menggulingkan, mereka hanya ingin diingat. Bahwa setiap
kebijakan adalah soal hidup-mati, bukan sekadar angka di kertas.
Ada
tangisan, ada darah, ada pelukan di antara sesama yang luka. Mereka sadar,
mungkin hari ini lagi-lagi tak didengar. Tapi mereka tetap datang, karena kalau
diam, luka itu akan membusuk.
Dan
gedung itu masih berdiri, megah, dingin, membisu. Sementara di luar pagar,
suara rakyat terus pecah, seperti doa yang terkatung-katung di langit kelabu.
Ada hari
ketika jalanan penuh suara yang pecah seperti kaca dilemparkan ke lantai. Suara
rakyat. Serak, parau, teriris. Mereka berdiri di depan pagar tinggi, gedung
yang dulu dinamai “rumah rakyat, tapi kini terasa seperti benteng dingin yang
melindungi kursi, bukan nurani”. DPR kembali didemo. Seakan ini sudah jadi
ritus tahunan. Tapi bukan tanpa alasan. Rakyat datang karena janji yang pernah
dilontarkan telah membusuk di udara, karena harapan yang dulu ditanam malah
diinjak-injak oleh mereka yang mengaku “wakil”.
Di
tengah kerumunan itu, ada seorang bapak tua. Tangannya gemetar memegang poster,
“Anakku pulang tinggal nama, karena keputusan kalian.” Ia tak menjerit. Ia
hanya berdiri, tubuhnya rapuh, matanya basah. Tangisnya tidak keras, tapi
justru karena lirih, ia menusuk hati siapa pun yang melihat.
Di
sampingnya, seorang ibu memeluk foto anaknya yang sudah tiada. Mahasiswa yang
dulu percaya pada suara rakyat, kini hanya tergantung di dinding rumah. Ia
berkata dengan suara parau,
DPR
diguncang, bukan oleh batu atau bom, tapi oleh tangisan. Dan partai-partai
mulai menarik kadernya dari kursi yang empuk itu. Ada yang dicabut mandatnya,
ada yang ditarik pulang. Katanya demi meredam amarah rakyat, demi menyelamatkan
nama baik. Tapi siapa yang mereka selamatkan? Nama partai, atau hati rakyat
yang sudah lama retak?
Penarikan
itu terasa seperti tambal sulam di kain yang robek parah. Seperti menutup luka
bernanah dengan kain putih, padahal bau busuknya tetap menyebar. Rakyat sudah
terlalu sering dikhianati untuk bisa percaya pada sekadar “penarikan kader.”
Rakyat
bukan ingin menggulingkan. Mereka hanya ingin diingat. Bahwa setiap kebijakan bukan
sekadar angka di kertas, tapi soal hidup-mati. Bahwa harga beras bukan
statistik, melainkan isi piring anak-anak mereka. Bahwa korupsi bukan sekadar
kasus, melainkan sebab dari lapar yang menggigil di banyak rumah.
Mereka
berdiri di jalan, berteriak, menangis, merangkul satu sama lain dalam luka.
Mereka tahu, mungkin lagi-lagi suara itu akan dibungkam, dihalau dengan gas air
mata, dijawab dengan tameng baja. Tapi mereka tetap datang, sebab diam hanyalah
membuat luka kian membusuk lebih dalam.
Dan
gedung itu masih berdiri, megah, kokoh, tapi bisu. Pagar masih menjulang,
seakan membentengi segelintir orang dari lautan luka di luar sana.
Di
langit yang kelabu, suara rakyat terbang seperti doa yang tak pernah sampai.
Mereka tahu, harapan mungkin tak dijawab hari ini. Tapi mereka juga tahu,
mereka tak bisa berhenti mengetuk, meski pintu itu selalu terkunci.
Maka
tangisan di depan DPR bukan sekadar protes. Ia adalah ratapan panjang bangsa
yang merasa ditinggalkan. Ia adalah air mata yang jatuh bukan hanya karena
kecewa, tapi karena cinta. Cinta pada negeri yang perlahan diperlakukan asing
oleh anak-anaknya sendiri.
Dan di
balik setiap teriakan, ada kalimat lirih yang seakan berbisik ke dalam hati
kita semua. “Apakah wakil rakyat pernah benar-benar mengingat rakyat, atau
hanya mengingat kursinya?”
Lucu,
ya. Gedung yang megah itu katanya “rumah rakyat. Tapi kok setiap kali rakyat
datang, pintunya dikunci rapat, pagarnya dipasang kawat berduri, aparatnya
berjajar seperti siap perang. Seakan-akan rakyat bukan tuan rumah, melainkan
maling yang ingin merampok kursi empuk mereka.
DPR
didemo lagi. Ya, wajar. Kalau bayi menangis tiap lapar, itu manusiawi. Kalau
rakyat berteriak tiap perut kosong, itu super manusiawi. Yang aneh justru para
wakilnya, telinga mereka seolah hanya mendengar bunyi tepuk tangan partai dan
bisikan penguasa.
Rakyat
teriak soal harga bahan pokok, mereka rapat soal proyek yang bisa dibagi.
Rakyat menjerit soal anak-anak putus sekolah, mereka sibuk debat siapa yang
pantas menjadi ketua panitia. Ironis, bukan? Bangsa ini punya teater termegah,
tapi lakonnya selalu sama. Komedi busuk dengan tiket termahal.
Dan
ketika amarah rakyat tak terbendung, partai buru-buru menarik kadernya dari
kursi DPR. Katanya demi meredam kemarahan publik. Katanya, demi menyelamatkan
marwah partai. Oh, betapa mulianya. Padahal semua orang tahu, yang mereka
selamatkan bukan marwah, tapi citra jelang pemilu. Kader ditarik bukan karena
salah, tapi karena sudah terlalu kentara.
Rakyat
dipaksa menonton sandiwara murahan. Kader ditarik, lalu partai pura-pura suci.
Padahal besok lusa, wajah baru akan duduk di kursi yang sama, melanjutkan
kebiasaan lama. Sama saja. Janji di awal manis seperti madu, di tengah basi
seperti nasi semalam, dan di ujung pahit seperti kopi kurang gula.
Seorang
bapak di depan pagar, tangannya gemetar menulis dengan spidol di karton, “ANAKKU
MATI KARENA KEBAJIKANMU”. Tapi tulisan itu tidak pernah dibacakan di sidang
paripurna. Yang dibacakan hanya usulan anggaran perjalanan dinas.
Ada
seorang ibu berteriak, “Wakil rakyat? Rakyat yang mana? Aku ini rakyat juga,
tapi suaraku tak pernah sampai telinga kalian!” Namun di gedung itu, yang
terdengar hanyalah bunyi palu sidang, tanda sepakat dalam bisu yang
menyakitkan.
Rakyat
menangis di jalanan, tapi tangisan itu tidak pernah masuk risalah sidang. Yang
masuk hanyalah catatan siapa hadir, siapa izin, siapa absen. Seolah air mata
jutaan orang lebih tak berarti daripada tanda tangan absen seorang anggota.
Dan
partai-partai itu? Mereka seperti dokter gadungan. Memberi obat penenang
padahal penyakitnya sudah kanker stadium akhir. Menarik kader hanyalah
kosmetik, bukan penyembuhan. Rakyat tahu itu. Tapi apa daya? Suara rakyat
selalu lebih pelan daripada bisikan amplop di ruang lobi.
Kalau
ditanya kenapa DPR selalu didemo, jawabannya sederhana. Karena rakyat masih
punya harapan, walau kecil. Orang tak akan marah kalau sudah benar-benar putus
asa. Demonstrasi adalah tanda cinta terakhir. Cinta yang kecewa, cinta yang
patah hati, cinta yang terkhianati. Tapi cinta juga bisa mati. Dan ketika cinta
rakyat mati, jangan salahkan bila pagar itu kelak tak cukup tinggi, aparat itu
tak cukup banyak, dan kursi empuk itu tak cukup kokoh untuk menahan amarah yang
meluap.
Untuk
sementara, partai boleh menarik kadernya, boleh cuci tangan dengan sabun
retorika. Tapi noda yang sudah menghitam di hati rakyat tak akan hilang. Tak
akan pernah. Luka yang ditorehkan oleh janji-janji palsu itu terlalu dalam
untuk bisa diseka oleh konferensi pers.
Lucu,
ya. Gedung itu disebut Dewan Perwakilan Rakyat. Tapi setiap kali rakyat datang,
mereka dihalau. Setiap kali rakyat bicara, mereka dibungkam. Setiap kali rakyat
menangis, mereka menutup telinga. Jadi jangan salahkan rakyat bila suatu hari
nanti mereka bertanya dengan suara getir.
“Kalian
sebenarnya wakil rakyat, atau wakil kursi?”
*
Jakarta,
01 September 2025.
Bab baru: Kehilangan potongan kecil dalam hidup.
Bab baru: Kehilangan potongan-potongan kecil dalam hidup. 2026 ini serba berat. hilang perasaan, hilang setengah pemikiran, hilang jati dan ...
-
Telah terbit buku antologi cerpen: Cygnus Atratus. Kumpulan cerpen seputar pandemi covid-19. Ada cerpen Yoss Prabu di antara dua sutradara f...
-
Tulisan ini saya buat ketika saya menjadi anggota dari sebuah grup WA yang admin-nya secara kurang ajar mendaulat saya untuk menjadi narasum...





