Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).
Kalau
reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti
ganti sprei di kasur yang masih penuh kutu. Nyaman sebentar, gatal lagi
kemudian. Reshuffle seharusnya bukan kosmetik, tapi operasi. Bukan sekadar rias
wajah, tapi cuci darah. Kalau tidak, rakyat hanya diberi ilusi bahwa sesuatu
berubah, padahal sebenarnya cuma ditukar nama di absen rapat.
*
Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal
Oleh: Yoss Prabu
Ada yang bilang reshuffle itu
seperti putus cinta. Awalnya manis, penuh janji, tapi lama-lama jadi hambar. Bikin
sakit kepala, lalu akhirnya terpaksa bilang, “Maaf, ini bukan salahmu, ini
salah kinerjamu.” Bedanya, kalau pacar bisa balas dendam dengan cara update
status galau di medsos, menteri yang dicopot biasanya balas dendam dengan
mendirikan partai baru.
Kenapa kabinet harus
di-reshuffle? Karena banyak kursi diisi bukan oleh orang yang bisa kerja, tapi
oleh orang yang bisa lobi. Bayangkan, sebuah orkestra. Sang konduktor ingin memainkan
simfoni Beethoven, tapi yang pegang biola malah sibuk scrolling TikTok, yang
pegang trompet ngotot main dangdut, sementara yang megang drum malah sibuk ngetik
status quotes motivasi. Mau jadi musik apa negara ini?
Reshuffle adalah bentuk cinta
presiden kepada rakyat. Ibarat suami yang sadar istrinya mulai capek mengurus
rumah, dia harus turun tangan, mencari pembantu baru. Kalau tidak, rumah tangga
bisa bubar. Rakyat itu pasangan abadi kekuasaan. Dan reshuffle itu seperti
bunga mawar yang dikirim diam-diam ke meja rakyat, “Tenang, Sayang. Aku masih
peduli.” Meski tentu saja, banyak rakyat yang sudah kebal dengan rayuan gombal
macam ini.
Tapi jangan salah. Ada sisi
melankolis di sini. Setiap kali reshuffle diumumkan, wajah-wajah tegang menteri
muncul di layar kaca. Mereka senyum kecut, pura-pura bilang, “Saya siap
ditempatkan di mana saja.” Padahal dalam hati berbisik getir, “Asal jangan di
luar kabinet, ya Tuhan.” Di balik dasi dan jas yang licin itu, ada rasa takut
kehilangan jabatan. Takut kembali jadi orang biasa, takut jadi alumni kekuasaan
yang hanya dipanggil di acara reuni.
Secara filosofis, reshuffle
adalah pengingat bahwa kekuasaan itu fana. Tidak ada kursi yang kekal. Bahkan
kursi presiden pun punya tanggal kadaluarsa, apalagi kursi menteri. Hidup
adalah panggung sementara, jabatan hanyalah properti pentas. Hari ini kau duduk
gagah di meja rapat, besok bisa jadi hanya penonton yang nyinyir. Dan bukankah
itu keadilan semesta? Semua orang pada akhirnya di-reshuffle oleh waktu.
Namun mari kita jujur,
reshuffle juga penuh drama. Media sibuk menerka siapa yang bakal tergeser, siapa
yang naik. Seperti sinetron, “Akankah si Menteri X bertahan, ataukah digantikan
oleh tokoh misterius yang tiba-tiba muncul dari balik tirai partai?” Rakyat pun
jadi penonton setia, menunggu ending dengan popcorn politik. Bedanya, dalam
sinetron biasanya ada pahlawan yang menolong. Di politik, kadang yang muncul
justru villain baru dengan senyum manis.
Kalau reshuffle hanya sekadar
memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di
kasur yang masih penuh kutu. Nyaman sebentar, gatal lagi kemudian. Reshuffle
seharusnya bukan kosmetik, tapi operasi. Bukan sekadar rias wajah, tapi cuci
darah. Kalau tidak, rakyat hanya diberi ilusi bahwa sesuatu berubah, padahal
sebenarnya cuma ditukar nama di absen rapat.
Dan humor terbaik selalu lahir
dari ironi. Rakyat yang tiap hari susah bayar beras justru jadi penonton setia
drama reshuffle, padahal dampaknya entah kapan terasa di dapur mereka. Mereka
menonton dengan komentar khas warung kopi. “Yang penting jangan copot menteri
favorit gue, soalnya kalau ngomong selalu lucu.”
Maka, kenapa kabinet harus
di-reshuffle? Karena negara ini butuh lebih dari sekadar aktor yang jago
berpose di depan kamera. Butuh pekerja, bukan sekadar penghibur. Butuh pemimpin
kecil yang bisa kerja di level kementerian, bukan sekadar penyalur ambisi
partai.
Pada akhirnya, reshuffle
adalah bentuk cinta yang keras kepala. Seperti pasangan yang meski berkali-kali
disakiti, tetap berharap, “Mungkin kalau ganti gaya rambut, dia akan lebih
baik.” Rakyat pun masih percaya – atau pura-pura percaya – bahwa tiap reshuffle
adalah kesempatan baru.
Apakah benar akan ada
perubahan? Itu urusan lain. Tapi kalau tidak dicoba, negara ini bisa jadi rumah
tangga yang berantakan: suami sibuk kampanye, istri sibuk berutang, anak-anak
bingung mau makan apa. Dan kita, rakyat, hanya bisa berdoa, semoga reshuffle
kali ini bukan sekadar drama, tapi benar-benar babak baru. Lalu kenapa kabinet
harus di-reshuffle? Karena terlalu banyak menteri yang lebih sibuk jadi seleb
medsos daripada bekerja. Ada yang hobinya bikin konten video ketawa-ketiwi,
padahal rakyatnya nangis di dapur karena harga beras loncat lebih tinggi dari
harga tiket Coldplay. Ada pula yang sok jadi influencer ekonomi. Tiap kali
bicara, grafik di layar indah, tapi di dompet rakyat angkanya minus.
Reshuffle itu sebetulnya
bukan sekadar kebutuhan, tapi darurat. Negara ini sudah seperti rumah bocor
yang ditambal dengan kalender bekas. Menteri-menteri tertentu kerja seperti
tukang cat. Poles permukaan biar kinclong, padahal tembok di dalamnya rapuh,
siap rubuh. Dan yang lebih parah, ada yang bahkan “tidak mengerti pekerjaannya
sendiri”. Menteri pertanian bingung soal pupuk, menteri pendidikan sibuk jualan
jargon, menteri kesehatan sibuk bikin statement yang lebih memusingkan daripada
penyakitnya.
Ada pula sisi mesranya, sih. Begini.
Bakyat itu ibarat pasangan setia yang menunggu janji manis ditepati. Tapi apa
yang terjadi? Presiden malah memperlakukan rakyat seperti selingkuhan murahan, dikasih
janji manis tiap kali mau reshuffle, tapi setelah itu tetap balik ke pelukan
partai politik. Katanya, “Demi kamu, aku akan pilih yang terbaik.” Eh, begitu
diumumkan, yang masuk justru titipan sana-sini.
Jelas terasa, setiap kali
wajah-wajah menteri nongol di berita menjelang reshuffle. Mereka pura-pura
tegar, bilang siap diganti, padahal dalam hati ketakutan seperti anak magang
yang baru sadar dia tidak bisa kerja tapi sudah terlanjur dipajang di depan
bos. Ada yang sampai main lobi, ada yang sowan ke istana, ada pula yang
mendadak rajin tampil di televisi, berharap rakyat ikut kampanye. “Jangan copot
dia, kasihan, dia kan lucu dan imut banget.”
Tapi mari kita jujur,
reshuffle seringkali cuma drama murahan. Bedanya dengan sinetron, di sini
aktornya lebih mahal jasnya, lebih mewah jam tangannya, tapi lebih buruk
aktingnya. Rakyat menonton, berharap ada perubahan. Tapi yang terjadi? Pindah
kursi, ganti nama, tapi penyakit tetap sama, “korup, malas, dan sibuk
pencitraan.”
Reshuffle itu mengingatkan
kita bahwa jabatan hanyalah titipan. Tapi sayangnya, banyak pejabat yang
memperlakukannya seperti harta pusaka. Mereka rela menggadaikan harga diri,
akal sehat, bahkan negara, demi bertahan di kursi empuk itu. Mereka lupa, kursi
menteri bukan warisan kakek mereka, melainkan amanah dari rakyat. Dan amanah,
kalau dipelihara dengan kebohongan, akhirnya berubah jadi kutukan.
Rakyat sudah apatis. Mereka
bilang, “Mau reshuffle atau tidak, hidup kami tetap susah.” Sama seperti
pasangan yang sudah sering dibohongi, lama-lama jadi ketawa sendiri tiap kali
dengar janji baru. “Katanya mau turunkan harga, katanya mau bereskan impor,
katanya mau revolusi mental.” Semua tinggal katanya.
Maka, kenapa kabinet harus
di-reshuffle? Karena banyak menteri yang lebih layak duduk di “kursi cadangan”
ketimbang kursi kabinet. Karena kita butuh pejabat yang bisa kerja, bukan pejabat
yang hanya bisa tanda tangan kontrak dengan donor politik. Karena negara ini
terlalu besar untuk dijadikan ajang internship politik buat anak-anak manja
partai.
Dan yang paling penting. Reshuffle
adalah cermin, apakah presiden benar-benar berpihak pada rakyat, atau hanya
berpihak pada partai dan oligarki. Kalau reshuffle cuma jadi operasi plastik
kosmetik. Hasilnya tetap sama. Wajah kabinet mulus, tapi penyakit dalamnya
tetap membusuk.
Kalau reshuffle gagal lagi, jangan
kaget kalau rakyat suatu hari nanti bilang. “Sudahlah, gantian saja, bukan cuma
menterinya yang direshuffle, tapi presidennya sekalian.” Karena cinta rakyat
juga ada batasnya. Dan kalau rakyat sudah putus cinta, siap-siap saja. Cerai
politik itu lebih pahit daripada cerai rumah tangga.
*
Jakarta,
11 September 2025.





