Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Maret 2025

Sebuah Renungan yang Tak Berguna Tapi Tetap Saya Tulis Juga

Hanya ilustrasi. (Gambar: AI). Menulis adalah kejahatan yang paling absurd yang pernah saya lakukan. Serius. Dari sekian banyak aktivitas yang bisa saya pilih – seperti tidur, makan gorengan, atau merenungi nasib umat manusia di warung kopi – saya justru memilih menulis. Sebuah kegiatan yang mengharuskan saya duduk berjam-jam, menatap layar kosong, dan berharap kata-kata yang saya ketik memiliki arti. Dan lebih parahnya lagi, saya tetap melakukannya. Sebuah Renungan yang Tak Berguna Tapi Tetap Saya Tulis Juga Oleh: YossPrabu Kenapa? Ah, pertanyaan itu seperti menanyakan kenapa saya masih hidup di dunia yang semakin absurd ini. Jawabannya tidak ada yang pasti, tapi mari kita mencoba mencarinya. Karena menulis itu terapi mahal. Sayangnya, tidak menjamin waras. Ketika sebagian orang pergi ke psikolog untuk mencurahkan isi hati. Sebagian lagi memilih karaoke, menjeritkan lirik lagu Abg galau sambil menenggak minuman manis penuh gula. Saya? Saya menulis. Menulis adalah terapi yang gratis. Saya bisa menumpahkan segala kekesalan tanpa harus membayar Rp700 ribu per sesi kepada psikolog yang kemungkinan besar hanya akan berkata, “Saya mengerti perasaan Anda.” Tentu saja Anda mengerti, karena Anda dibayar untuk itu! Tapi meski saya menulis ribuan kata, apakah saya merasa lebih waras? Tidak juga. Menulis seperti membongkar lemari penuh sampah dalam kepala saya – saya mengeluarkan satu barang, lalu menemukan sampah lain yang lebih busuk di bawahnya. Siklus ini berulang tanpa henti. Jadi, kalau ada yang bilang menulis bisa menyembuhkan jiwa, saya sarankan jangan percaya begitu saja. Karena dunia ini terlalu gila untuk tidak dicatat. Mari kita hadapi kenyataan, dunia ini adalah tempat yang absurd. Kita hidup dalam realitas di mana orang bisa terkenal hanya dengan membuat video makan mi instan dengan ekspresi berlebihan, sementara ilmuwan yang menciptakan vaksin harus berjuang untuk sekadar mendapatkan dana riset. Jika ini bukan bukti bahwa dunia sudah miring, saya tidak tahu lagi apa. Jadi, saya menulis. Saya mencatat kegilaan ini dengan harapan, suatu hari nanti, seseorang di masa depan akan membaca tulisan saya dan berkata, “Oh, ternyata manusia di abad ini memang sudah gila sejak lama.” Mungkin itu tidak akan mengubah dunia, tapi setidaknya saya bisa mati dengan perasaan bahwa saya telah mendokumentasikan absurditas ini. Karena menulis itu seperti bicara, tapi tanpa risiko ditampar. Sejujurnya, saya ini orang yang cukup malas berbicara. Bukan karena saya tidak suka, tapi karena berbicara itu berisiko. Salah ucap sedikit, bisa berujung pada perkelahian, permusuhan, atau lebih buruk lagi – diskusi panjang yang tidak ada ujungnya. Menulis di sisi lain, memberi saya kebebasan untuk berbicara tanpa harus menghadapi tatapan kosong orang-orang yang tidak mengerti apa yang saya bicarakan. Saya bisa mengeluarkan pendapat, mengkritik dunia, atau bahkan menyumpahi sistem negara yang bobrok, tanpa takut ada yang menculik. Atau minimal, langsung melemparkan sepatu ke arah muka saya. Tentu saja, ada risiko tulisan saya dibaca oleh orang yang salah dan berujung pada perdebatan sengit. Tapi setidaknya, saya punya waktu untuk berpikir sebelum menjawab, tidak seperti di percakapan langsung di mana saya sering kehabisan kata-kata dan baru menemukan jawaban yang tepat tiga jam kemudian, di kamar mandi. Karena saya masih berharap bisa mengubah dunia, walau saya tahu itu mbulshit. Setiap penulis pasti pernah memiliki ilusi bahwa tulisan mereka bisa mengubah dunia. Bahwa kata-kata mereka bisa mengguncang sistem, menginspirasi revolusi, atau setidaknya, membuat seseorang berpikir lebih dalam. Untuk merekomendasikan buku saya, supaya mendapat Nobel Prize. Saya pun pernah berkhayal seperti itu. Harapan seperti itu. Saya pernah berpikir bahwa jika saya menulis cukup baik, cukup tajam, cukup menggetarkan – maka dunia akan berubah. Tapi tentu saja, dunia tidak peduli. Dunia terlalu sibuk dengan selebriti, promo diskon, dan tren TikTok terbaru. Namun, meskipun saya tahu bahwa tulisan saya tidak akan mengubah dunia, saya tetap menulis. Kenapa? Karena mungkin, di antara miliaran orang yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing, ada satu orang yang membaca tulisan saya dan merasa tidak sendirian. Satu orang yang merasa bahwa ada seseorang di luar sana yang mengerti perasaannya. Dan jika itu terjadi, mungkin menulis tidak sepenuhnya sia-sia. Karena jika saya tidak menulis, mungkin saja kejiwaan saya akan terganggu. Serius. Saya tidak melebih-lebihkan. Jika saya tidak menulis, saya mungkin akan tenggelam dalam lautan pikiran saya sendiri. Otak manusia adalah mesin yang tidak pernah berhenti bekerja. Ia terus memroses, terus bertanya, terus menciptakan skenario aneh tentang masa depan dan menyesali keputusan di masa lalu. Jika saya tidak menulis, pikiran-pikiran itu–bisa saja – akan berputar tanpa henti, seperti lagu dangdut yang diputar keras-keras melalui speaker tetangga yang tidak tahu etika. Menulis adalah cara saya menuangkan semua itu keluar dari kepala saya, setidaknya untuk sementara. Dengan menulis, saya memberi ruang bagi diri saya untuk bernapas, untuk merasa bahwa saya memiliki kendali – meskipun hanya dalam bentuk kata-kata di layar monitor komputer. Karena menulis itu kesenangan yang menyakitkan. Menulis itu seperti jatuh cinta dengan seseorang yang tidak akan pernah benar-benar mencintai Anda kembali. Saya duduk, mengetik, menghapus, mengutuk diri sendiri, merasa bangga sebentar, lalu kembali merasa tidak puas. Saya menghabiskan berjam-jam merangkai kalimat, hanya untuk kemudian membaca ulang dan berpikir, “MasyaAllah, ini sampah.” Tapi meskipun menyakitkan, saya tetap kembali. Seperti seorang pecandu yang tidak bisa berhenti meskipun tahu bahwa ini akan menyiksa. Karena di tengah semua penderitaan itu, ada momen-momen kecil yang membuat segalanya sepadan – momen di mana kata-kata mengalir dengan sempurna, di mana saya membaca kembali tulisan saya dan merasa, “Ya, ini yang ingin saya katakan.” Dan mungkin, itu cukup. Karena menulis itu warisan. Bagi siapa saja yang mau membacanya. Kita semua akan mati. Itu fakta yang tidak bisa dihindari. Tapi tulisan? Tulisan bisa bertahan lebih lama. Tentu saja, ada kemungkinan bahwa tidak ada yang peduli dengan tulisan saya, dan semua yang saya tulis akan terkubur bersama saya. Tapi ada juga kemungkinan kecil bahwa suatu hari, seseorang di masa depan akan menemukannya, membacanya, dan merasa bahwa saya, di suatu masa yang jauh, pernah ada. Dan jika itu terjadi, saya rasa saya bisa pergi dengan tenang. Akhir kata. Saya menulis, maka saya ada. Jadi, kenapa saya menulis? Karena saya bisa. Dan harus. Karena jika tidak, saya tidak tahu bagaimana cara menghadapi dunia ini. Sebab di antara semua hal yang tidak masuk akal dalam hidup, menulis adalah satu-satunya hal yang, meskipun juga tidak masuk akal, tetap memberi saya alasan untuk terus berjalan. Jadi saya menulis. Bukan karena saya percaya bahwa ini akan mengubah dunia, tapi karena saya tahu bahwa tanpa menulis, dunia akan mengubah saya menjadi seseorang yang saya tidak ingin jadi. Dan, mungkin itu alasan yang cukup baik. *

Senin, 17 Juni 2013

Krisis Finansial Asia 1997

Krisis finansial Asia adalah krisis finansial yang dimulai pada Juli 1997 di Thailand, dan memengaruhi mata uang, bursa saham dan harga aset lainnya di beberapa negara Asia, sebagian Macan Asia Timur. Peristiwa ini juga sering disebut krisis moneter ("krismon") di Indonesia.

Indonesia, Korea Selatan dan Thailand adalah negara yang paling parah terkena dampak krisis ini. Hongkong, Malaysia dan Filipina juga ikut terpengaruh. Jepang tidak terpengaruh banyak tapi mengalami kesulitan ekonomi jangka panjang.

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

  Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).  Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...