Kamis, 11 September 2025

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

 

Hanya ilistrasi. (Gambar: AI). 

Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di kasur yang masih penuh kutu. Nyaman sebentar, gatal lagi kemudian. Reshuffle seharusnya bukan kosmetik, tapi operasi. Bukan sekadar rias wajah, tapi cuci darah. Kalau tidak, rakyat hanya diberi ilusi bahwa sesuatu berubah, padahal sebenarnya cuma ditukar nama di absen rapat.

*

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

Oleh: Yoss Prabu

 

Ada yang bilang reshuffle itu seperti putus cinta. Awalnya manis, penuh janji, tapi lama-lama jadi hambar. Bikin sakit kepala, lalu akhirnya terpaksa bilang, “Maaf, ini bukan salahmu, ini salah kinerjamu.” Bedanya, kalau pacar bisa balas dendam dengan cara update status galau di medsos, menteri yang dicopot biasanya balas dendam dengan mendirikan partai baru.

Kenapa kabinet harus di-reshuffle? Karena banyak kursi diisi bukan oleh orang yang bisa kerja, tapi oleh orang yang bisa lobi. Bayangkan, sebuah orkestra. Sang konduktor ingin memainkan simfoni Beethoven, tapi yang pegang biola malah sibuk scrolling TikTok, yang pegang trompet ngotot main dangdut, sementara yang megang drum malah sibuk ngetik status quotes motivasi. Mau jadi musik apa negara ini?

Reshuffle adalah bentuk cinta presiden kepada rakyat. Ibarat suami yang sadar istrinya mulai capek mengurus rumah, dia harus turun tangan, mencari pembantu baru. Kalau tidak, rumah tangga bisa bubar. Rakyat itu pasangan abadi kekuasaan. Dan reshuffle itu seperti bunga mawar yang dikirim diam-diam ke meja rakyat, “Tenang, Sayang. Aku masih peduli.” Meski tentu saja, banyak rakyat yang sudah kebal dengan rayuan gombal macam ini.

Tapi jangan salah. Ada sisi melankolis di sini. Setiap kali reshuffle diumumkan, wajah-wajah tegang menteri muncul di layar kaca. Mereka senyum kecut, pura-pura bilang, “Saya siap ditempatkan di mana saja.” Padahal dalam hati berbisik getir, “Asal jangan di luar kabinet, ya Tuhan.” Di balik dasi dan jas yang licin itu, ada rasa takut kehilangan jabatan. Takut kembali jadi orang biasa, takut jadi alumni kekuasaan yang hanya dipanggil di acara reuni.

Secara filosofis, reshuffle adalah pengingat bahwa kekuasaan itu fana. Tidak ada kursi yang kekal. Bahkan kursi presiden pun punya tanggal kadaluarsa, apalagi kursi menteri. Hidup adalah panggung sementara, jabatan hanyalah properti pentas. Hari ini kau duduk gagah di meja rapat, besok bisa jadi hanya penonton yang nyinyir. Dan bukankah itu keadilan semesta? Semua orang pada akhirnya di-reshuffle oleh waktu.

Namun mari kita jujur, reshuffle juga penuh drama. Media sibuk menerka siapa yang bakal tergeser, siapa yang naik. Seperti sinetron, “Akankah si Menteri X bertahan, ataukah digantikan oleh tokoh misterius yang tiba-tiba muncul dari balik tirai partai?” Rakyat pun jadi penonton setia, menunggu ending dengan popcorn politik. Bedanya, dalam sinetron biasanya ada pahlawan yang menolong. Di politik, kadang yang muncul justru villain baru dengan senyum manis.

Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di kasur yang masih penuh kutu. Nyaman sebentar, gatal lagi kemudian. Reshuffle seharusnya bukan kosmetik, tapi operasi. Bukan sekadar rias wajah, tapi cuci darah. Kalau tidak, rakyat hanya diberi ilusi bahwa sesuatu berubah, padahal sebenarnya cuma ditukar nama di absen rapat.

Dan humor terbaik selalu lahir dari ironi. Rakyat yang tiap hari susah bayar beras justru jadi penonton setia drama reshuffle, padahal dampaknya entah kapan terasa di dapur mereka. Mereka menonton dengan komentar khas warung kopi. “Yang penting jangan copot menteri favorit gue, soalnya kalau ngomong selalu lucu.”

Maka, kenapa kabinet harus di-reshuffle? Karena negara ini butuh lebih dari sekadar aktor yang jago berpose di depan kamera. Butuh pekerja, bukan sekadar penghibur. Butuh pemimpin kecil yang bisa kerja di level kementerian, bukan sekadar penyalur ambisi partai.

Pada akhirnya, reshuffle adalah bentuk cinta yang keras kepala. Seperti pasangan yang meski berkali-kali disakiti, tetap berharap, “Mungkin kalau ganti gaya rambut, dia akan lebih baik.” Rakyat pun masih percaya – atau pura-pura percaya – bahwa tiap reshuffle adalah kesempatan baru.

Apakah benar akan ada perubahan? Itu urusan lain. Tapi kalau tidak dicoba, negara ini bisa jadi rumah tangga yang berantakan: suami sibuk kampanye, istri sibuk berutang, anak-anak bingung mau makan apa. Dan kita, rakyat, hanya bisa berdoa, semoga reshuffle kali ini bukan sekadar drama, tapi benar-benar babak baru. Lalu kenapa kabinet harus di-reshuffle? Karena terlalu banyak menteri yang lebih sibuk jadi seleb medsos daripada bekerja. Ada yang hobinya bikin konten video ketawa-ketiwi, padahal rakyatnya nangis di dapur karena harga beras loncat lebih tinggi dari harga tiket Coldplay. Ada pula yang sok jadi influencer ekonomi. Tiap kali bicara, grafik di layar indah, tapi di dompet rakyat angkanya minus.

Reshuffle itu sebetulnya bukan sekadar kebutuhan, tapi darurat. Negara ini sudah seperti rumah bocor yang ditambal dengan kalender bekas. Menteri-menteri tertentu kerja seperti tukang cat. Poles permukaan biar kinclong, padahal tembok di dalamnya rapuh, siap rubuh. Dan yang lebih parah, ada yang bahkan “tidak mengerti pekerjaannya sendiri”. Menteri pertanian bingung soal pupuk, menteri pendidikan sibuk jualan jargon, menteri kesehatan sibuk bikin statement yang lebih memusingkan daripada penyakitnya.

Ada pula sisi mesranya, sih. Begini. Bakyat itu ibarat pasangan setia yang menunggu janji manis ditepati. Tapi apa yang terjadi? Presiden malah memperlakukan rakyat seperti selingkuhan murahan, dikasih janji manis tiap kali mau reshuffle, tapi setelah itu tetap balik ke pelukan partai politik. Katanya, “Demi kamu, aku akan pilih yang terbaik.” Eh, begitu diumumkan, yang masuk justru titipan sana-sini.

Jelas terasa, setiap kali wajah-wajah menteri nongol di berita menjelang reshuffle. Mereka pura-pura tegar, bilang siap diganti, padahal dalam hati ketakutan seperti anak magang yang baru sadar dia tidak bisa kerja tapi sudah terlanjur dipajang di depan bos. Ada yang sampai main lobi, ada yang sowan ke istana, ada pula yang mendadak rajin tampil di televisi, berharap rakyat ikut kampanye. “Jangan copot dia, kasihan, dia kan lucu dan imut banget.”

Tapi mari kita jujur, reshuffle seringkali cuma drama murahan. Bedanya dengan sinetron, di sini aktornya lebih mahal jasnya, lebih mewah jam tangannya, tapi lebih buruk aktingnya. Rakyat menonton, berharap ada perubahan. Tapi yang terjadi? Pindah kursi, ganti nama, tapi penyakit tetap sama, “korup, malas, dan sibuk pencitraan.”

Reshuffle itu mengingatkan kita bahwa jabatan hanyalah titipan. Tapi sayangnya, banyak pejabat yang memperlakukannya seperti harta pusaka. Mereka rela menggadaikan harga diri, akal sehat, bahkan negara, demi bertahan di kursi empuk itu. Mereka lupa, kursi menteri bukan warisan kakek mereka, melainkan amanah dari rakyat. Dan amanah, kalau dipelihara dengan kebohongan, akhirnya berubah jadi kutukan.

Rakyat sudah apatis. Mereka bilang, “Mau reshuffle atau tidak, hidup kami tetap susah.” Sama seperti pasangan yang sudah sering dibohongi, lama-lama jadi ketawa sendiri tiap kali dengar janji baru. “Katanya mau turunkan harga, katanya mau bereskan impor, katanya mau revolusi mental.” Semua tinggal katanya.

Maka, kenapa kabinet harus di-reshuffle? Karena banyak menteri yang lebih layak duduk di “kursi cadangan” ketimbang kursi kabinet. Karena kita butuh pejabat yang bisa kerja, bukan pejabat yang hanya bisa tanda tangan kontrak dengan donor politik. Karena negara ini terlalu besar untuk dijadikan ajang internship politik buat anak-anak manja partai.

Dan yang paling penting. Reshuffle adalah cermin, apakah presiden benar-benar berpihak pada rakyat, atau hanya berpihak pada partai dan oligarki. Kalau reshuffle cuma jadi operasi plastik kosmetik. Hasilnya tetap sama. Wajah kabinet mulus, tapi penyakit dalamnya tetap membusuk.

Kalau reshuffle gagal lagi, jangan kaget kalau rakyat suatu hari nanti bilang. “Sudahlah, gantian saja, bukan cuma menterinya yang direshuffle, tapi presidennya sekalian.” Karena cinta rakyat juga ada batasnya. Dan kalau rakyat sudah putus cinta, siap-siap saja. Cerai politik itu lebih pahit daripada cerai rumah tangga.

*

Jakarta, 11 September 2025.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

  Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).  Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...