Tampilkan postingan dengan label Humaniora. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humaniora. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Agustus 2025

Filsafat Tahu Goreng Isi

 


Pengantar

 

Kang Juhi, pedagang gorengan. Tinggal seorang diri, di sebuah kamar kontrakan, di pinggiran Jakarta. Namun ia bisa berada di mana saja, dan bertemu dengan siapa saja. Karena ia hanya semacam simbol yang mewakili suatu kelompok masyarakat marjinal, yang alam bawah sadarnya terkadang mengejawantah ke berbagai dimensi kehidupan. Kang Juhi mengamati lalu batinnya mengkritisi berbagai aspek kehidupan yang sering kali menyimpang menurut penalaran akal sehat Kang Juhi. Apakah penalaran batinnya bisa dipertanggungjawabkan? Perlu diskusi lebih lanjut. Karena ia hanya penjual gorengan, yang tak menarik perhatian. Dibutuhkan tatkala tak ada pilihan.

Namanya juga dongeng.

*

Filsafat Tahu Goreng Isi

Oleh: Yoss Prabu

 

Tahu isi goreng sedang merenung di dalam wajan Kang Juhi. Suara “cesss......” minyak panas seperti orkestra kemerdekaan yang tak pernah selesai. Kang Juhi menatapnya lama-lama, lalu tertawa kecil, “Lucu ya, kamu disebut “tahu isi”. Padahal banyak orang yang hidupnya ‘tahu kosong’.”

Tahu isi menjawab, dengan suara lirih namun penuh wibawa, “Itulah paradoks keberadaanku, Kang. Aku ini tahu yang tidak polos. Aku punya isi. Kadang sayur toge, kadang wortel, kadang kubis. Tapi manusia sering mengabaikan isi itu, lebih sibuk pada kulitku yang renyah. Padahal, bukankah kehidupan juga begitu? Orang menilai dari kulit, bukan dari isi.”

Kang Juhi tercenung. “Jadi maksudmu, merdeka itu harus dari dalam, bukan sekadar kulit luar?”

“Betul,” jawab tahu isi. “Bangsa ini boleh saja punya gedung tinggi, jalan tol, bahkan kereta cepat. Tapi kalau dalamnya penuh korupsi dan kebohongan, semua itu cuma seperti aku, tanpa isi. Kosong tapi dipaksakan. Merdeka sejati ada ketika dalamnya sehat, bukan hanya luarnya kriuk.”

Kang Juhi menyeringai sarkastis. “Luar kriuk, dalam kosong. Itu kayak politisi yang kampanye pakai janji manis, tapi begitu dimakan… anyep.”

Tahu isi menghela napas, asap panas naik ke udara. “Kadang aku iri pada tempe goreng. Dia jujur. Isinya tempe, ya sudah begitu. Aku? Harus menyembunyikan isi di balik kulit. Tapi di situlah letak eksistensiku. Aku mengajarkan manusia bahwa kejujuran isi lebih penting daripada keindahan kulit. Hanya saja, manusia sering tak belajar.”

Kang Juhi mendadak melankolis. Ia merasa seolah sedang menatap dirinya sendiri. Hidupnya sederhana, luarnya kusam, tapi dalamnya penuh tanya, kritik, dan harapan.

“Jadi aku ini sebenarnya mirip kamu, Tahu. Orang hanya lihat kulitku – penjual gorengan tak berpendidikan – tapi mereka tak pernah tahu isi kepalaku.”

“Ah, Kang,” suara tahu isi tiba-tiba lembut, seperti seorang sahabat, bahkan hampir romantis. “Justru itulah keindahanmu. Kau mungkin sederhana, tapi hatimu penuh isi. Kau tahu menertawakan nasib, bahkan saat perut lapar. Kau tahu menyindir dunia, meski tak ada yang dengar. Itu pun bentuk kemerdekaan.”

Kang Juhi mengangguk. “Kemerdekaan bukan cuma soal bangsa, ya. Tapi juga soal batin. Bisa tertawa meski hidup getir, itu juga merdeka. Bisa mencintai meski miskin, itu pun merdeka. Meski cintaku gosong karena tak ada yang membalas, setidaknya aku tetap bisa jatuh cinta.”

Tahu isi terdiam sejenak, lalu berkata filosofis, “Setiap gorengan punya takdir. Tempe jadi simbol kesederhanaan. Kerupuk jadi lambang kesia-siaan yang meriah. Bakwan jadi saksi gosongnya sejarah. Dan aku, tahu isi, menjadi pengingat bahwa manusia harus berisi. Kalau tidak, kau hanya jadi kulit kosong yang garing sebentar lalu dilupakan.”

Kang Juhi menatap lembut dengan mata berbinar. “Dasar, gorengan pun bisa jadi guru bangsa!”

Di luar kontrakan, kembang api mulai meletup, tanda malam kemerdekaan dirayakan. Anak-anak berteriak riang, bendera berkibar meski sobek di ujungnya.

Kang Juhi mengangkat sepotong tahu isi, menatapnya seolah menatap nasib bangsa.

“Semoga negeri ini seperti kamu, Tahu. Renyah di luar, tapi penuh isi di dalam. Semoga rakyat tak lagi sekadar jadi kulit gorengan yang habis sekali kunyah, tapi jadi isi yang menguatkan tubuh. Dan semoga para pemimpin sadar, jadi pemimpin itu jangan cuma kriuk di luar, tapi juga punya isi yang nyata.”

Ia menggigit tahu isi itu. Panas, pedas dari cabai, tapi hangat di perut.

“Terima kasih, Tahu,” bisiknya. “Kau telah memberiku kuliah filsafat yang lebih jujur daripada profesor mana pun.”

Dan di malam tujuh belas Agustus itu, Kang Juhi merasa ia tak sekadar makan gorengan. Ia sedang makan kemerdekaan. Renyah, pedas, pahit, tapi penuh isi.

*

Jakarta, 16 Agustus 2025.

Romantika Bakwan Gosong dan Eksistensi Cireng Goreng

 

Hanya ilustrasi (Gambar: AI). 

Pengantar

 

Kang Juhi, pedagang gorengan. Tinggal seorang diri, di sebuah kamar kontrakan, di pinggiran Jakarta. Namun ia bisa berada di mana saja, dan bertemu dengan siapa saja. Karena ia hanya semacam simbol yang mewakili suatu kelompok masyarakat marjinal, yang alam bawah sadarnya terkadang mengejawantah ke berbagai dimensi kehidupan. Kang Juhi mengamati lalu batinnya mengkritisi berbagai aspek kehidupan yang sering kali menyimpang menurut penalaran akal sehat Kang Juhi. Apakah penalaran batinnya bisa dipertanggungjawabkan? Perlu diskusi lebih lanjut. Karena ia hanya penjual gorengan, yang tak menarik perhatian. Dibutuhkan tatkala tak ada pilihan.

Namanya juga dongeng.

*

Romantika Bakwan Gosong dan Eksistensi Cireng Goreng

Oleh: Yoss prabu

 

Kang Juhi duduk di depan kontrakan, menatap sepotong bakwan gosong di tangannya. Malam itu bulan setengah, persis seperti hatinya. Setengah kenyang, setengah kosong.

Bakwan gosong tiba-tiba bersuara, dengan nada patah hati, “Kau tahu, Kang. Aku ini korban cinta yang berlebihan. Kau ingin aku matang, tapi terlalu lama kau tinggalkan, jadilah aku gosong. Bukankah begitu juga kisah asmara manusia? Terlalu lama menunggu kepastian, akhirnya hangus di ujung waktu.”

Kang Juhi terkekeh getir. “Jadi kamu ini puisi patah hati, Wan? Jangan lebay ah, toh nanti ada juga yang makan kamu meski gosong.”

Bakwan menatapnya dengan mata imajiner. “Itulah romantikaku, Kang. Aku tetap dicintai meski buruk rupa. Bukankah itu cinta sejati? Bukan pada kulit yang mulus, tapi pada isi. Pada rasa yang masih bisa ditelan, meski getir.”

Kang Juhi diam sejenak, lalu senyum melankolis. “Kalau begitu, aku ini mirip kamu. Hidupku gosong, penuh gagal, tapi siapa tahu masih ada yang bisa mencintaiku.”

Tiba-tiba, dari piring plastik di sampingnya, cireng goreng ikut nimbrung. Suaranya tegas, penuh eksistensi ala filsuf jalanan. “Halaaaaa....h, kalian berdua terlalu sentimentil. Aku ini cireng – sagu digoreng. Dari luar keras, dalamnya kosong. Dan justru itulah kejujuran eksistensialku. Aku tidak pura-pura punya isi. Aku jujur, aku hanyalah kehampaan yang dibungkus kriuk.”

Bakwan gosong mendelik. “Kau bangga dengan kekosonganmu? Apa itu bukan tanda kesia-siaan?”

Cireng tertawa sinis. “Sia-sia bagimu, mungkin. Tapi aku disukai banyak orang. Karena manusia, Kang, suka mengunyah kehampaan. Lihat saja politik, janji kosong paling laku. Lihatlah asmara, rayuan gombal lebih cepat bikin jatuh cinta ketimbang kejujuran yang getir. Aku adalah wajah bangsa ini. Kosong namun digemari.”

Kang Juhi hampir tersedak oleh kebijaksanaan absurd itu. “Astaga, gorengan pun bisa jadi dosen filsafat! Tapi, Cireng. Bukankah hidup yang kosong itu menyedihkan?”

Cireng mendengus. “Tidak, Kang. Justru dari kekosongan itu, lahirlah kemungkinan. Kosong itu ruang untuk diisi, kalau mau. Kau, misalnya. Merasa kosong tiap malam. Tapi bukankah dari situ lahir semua renunganmu, semua tawa getir yang kau bagikan? Jangan takut kosong. Kosong itu awal dari segalanya.”

Bakwan gosong mendengus sinis. “Aku tetap lebih mulia. Aku hangus karena api cinta. Sedangkan kau, Cireng, hanya hampa yang dimuliakan orang bodoh.”

Cireng balas tertawa. “Lebih baik kosong daripada gosong! Setidaknya aku tak bikin lidah pahit.”

Kang Juhi terbahak. “Wah, kalian berdua ini seperti politisi dan seniman. Satunya gosong karena idealisme, satunya kosong tapi populer. Dua-duanya tetap laku di pasar.”

Lalu, tiba-tiba suasana jadi romantis. Angin malam masuk lewat celah kontrakan. Bendera lusuh di depan rumah berkibar pelan. Kang Juhi menatap bakwan gosong dan cireng dengan mata penuh kasih.

“Kalian tahu? Kalian ini ibarat dua wajah cinta. Ada cinta yang gosong – hangus tapi tulus. Ada cinta yang kosong – hampa tapi membahagiakan sebentar. Hidup butuh keduanya. Kadang kita rela terbakar demi seseorang. Kadang kita bahagia hanya dengan janji kosong yang renyah di telinga.”

Bakwan meneteskan minyak gosong, seolah air mata. Cireng tetap keras di luar, tapi diam-diam rapuh di dalam.

Di luar, anak-anak berlarian membawa obor kecil, menyanyi lagu kemerdekaan dengan nada fals. Suara mereka mengalun ke dalam kontrakan, mencampur wangi minyak goreng.

Kang Juhi mengangkat bakwan gosong di tangan kanan, cireng di tangan kiri. “Inilah Indonesia,” katanya puitis. “Negeri gosong tapi tetap dicintai, negeri kosong tapi tetap digemari. Antara pahit dan hampa, kita tetap menelan semuanya. Karena cinta pada tanah air memang begitu. Bukan soal enak atau tidak enak, tapi soal berani menelan sampai habis.”

Lalu ia menggigit bakwan gosong – pahit tapi hangat. Ia lanjut menggigit cireng – hampa tapi renyah. Dan ia tertawa di tengah kontrakan sepi.

“Terima kasih, gorengan,” bisiknya. “Kalian selalu mengajarkan filsafat tanpa kampus, romantika tanpa puisi, dan kemerdekaan tanpa pidato.”

*

Jakarta, 17 Agustus 2025.

Sabtu, 16 Agustus 2025

Dongeng Kemerdekaan Kang Juhi dan Para Gorengan Ajaib

 


Pengantar

 

Kang Juhi, pedagang gorengan. Tinggal seorang diri, di sebuah kamar kontrakan, di pinggiran Jakarta. Namun ia bisa berada di mana saja, dan bertemu dengan siapa saja. Karena ia hanya semacam simbol yang mewakili suatu kelompok masyarakat marjinal, yang alam bawah sadarnya terkadang mengejawantah ke berbagai dimensi kehidupan. Kang Juhi mengamati lalu batinnya mengkritisi berbagai aspek kehidupan yang sering kali menyimpang menurut penalaran akal sehat Kang Juhi. Apakah penalaran batinnya bisa dipertanggungjawabkan? Perlu diskusi lebih lanjut. Karena ia hanya penjual gorengan, yang tak menarik perhatian. Dibutuhkan tatkala tak ada pilihan.

Namanya juga dongeng.

*

Dongeng Kemerdekaan Kang Juhi dan Para Gorengan Ajaib

Oleh; Yoss Prabu

 

Kang Juhi menatap wajannya yang bergolak. Malam tujuh belas Agustus, ia merasa ada sesuatu yang berbeda. Minyak goreng itu berkilau seperti bintang. Tiba-tiba, sepotong kerupuk putih melompat dari plastik.

“Aku bosan jadi cemilan lomba makan!” teriak kerupuk itu. “Dulu aku simbol perjuangan: susah digigit, susah dikunyah, tapi bikin orang tertawa. Sekarang? Aku cuma jadi konten TikTok!”

Kang Juhi menghela napas. “Kerupuk pun bisa krisis eksistensi,” gumamnya.

Tak lama, bendera merah putih di pojok kontrakan ikut bicara. Suaranya halus, tapi getir.

“Aku capek dikibarkan cuma setahun sekali. Setelah itu dilipat, dimasukkan plastik, baunya apek. Merdeka bukan sekadar berkibar di upacara, Juhi. Merdeka itu harus terasa di perutmu juga. Apa kau sudah makan layak hari ini?”

Kang Juhi terdiam. Ia ingin menjawab jujur, tapi tahu, perutnya sendiri sudah menjawab dengan bunyi “krucu, krucuk, krucuk”.

Lalu tiang bambu tempat bendera itu berdiri ikut bicara, agak romantis.

“Jangan salahkan aku, Juhi. Aku setia menopang bendera itu, walau aku sendiri sering dimakan rayap. Kau tahu? Kemerdekaan itu seperti cinta, harus kuat menahan angin, meski pelan-pelan lapuk di dalam.”

Kang Juhi nyengir pahit. “Aku malah iri sama kau, Tiang. Kau punya pasangan abadi, bendera. Aku? Hanya ditemani wajan gosong dan hutang kontrakan.”

Bakwan gosong di wajan pun protes. “Hei, jangan remehkan kami! Kami ini saksi sejarah. Dari zaman perjuangan, rakyat kecil bertahan hidup dengan gorengan. Kami ini simbol ketabahan. Kalau negara krisis, yang pertama dicari rakyat adalah kami!”

“Aku setuju,” kata gorengan tempe dengan nada filosofis. “Merdeka itu bukan hanya bebas dari penjajah asing, tapi juga bebas dari rasa lapar. Dan kami, gorengan ini, meski sering dihina sebagai makanan kelas bawah, justru yang paling demokratis. Semua bisa makan kami, pejabat atau kuli bangunan. Semua makan.”

Kang Juhi menepuk jidat. “Astaga, aku dikelilingi para filsuf gorengan!”

Tiba-tiba kerupuk yang tadi protes mulai menangis. “Tapi kenapa, Kang, meski kita gorengan selalu ada, nasib penjualnya tetap sengsara? Di mana letak merdeka itu kalau hidup sekadar numpang lewat di minyak panas?”

Suasana hening. Bahkan angin malam pun terasa melankolis.

Di luar kontrakan, anak-anak kampung sedang latihan paduan suara. Suaranya fals, tapi semangat. Mereka bernyanyi “Hari Merdeka” sambil tertawa-tawa, tak peduli liriknya belepotan.

Bendera tiba-tiba bicara lagi, kali ini lebih puitis.

“Lihatlah anak-anak itu, Juhi. Mereka belum tahu utang negara, belum tahu harga beras, tapi mereka bernyanyi seolah esok dunia akan baik-baik saja. Itulah kemerdekaan yang sesungguhnya. Masih bisa tertawa meski hidup belum tentu adil.”

Kang Juhi menatap bendera itu lama-lama, lalu bergumam lirih, “Mungkin benar. Merdeka bukan janji pemerintah, bukan slogan partai, tapi keberanian untuk tetap hidup. Meski perih.”

Bakwan gosong tiba-tiba tersenyum getir. “Merdeka itu seperti aku. Meski gosong, tetap ada yang mau memakan. Meski pahit, tetap bisa mengenyangkan.”

Kang Juhi tertawa kecil. “Dasar konyol! Tapi aku suka filsafatmu.”

Ia lalu mengambil bakwan gosong itu, mengangkatnya tinggi-tinggi seperti mengangkat matahari kecil.

“Selamat ulang tahun, tanah air,” katanya. “Meski kau sering gosong, meski asin tak seimbang, aku tetap cinta. Karena cintaku padamu tak bisa direbus, apalagi dihangatkan ulang. Ia cuma bisa digoreng sekali, langsung habis. Harus langsung habis.”

Lalu ia gigit bakwan itu. Rasanya pahit, renyah, getir, hangat. Semua campur jadi satu. Seperti Indonesia itu sendiri.

Dan malam itu, di kontrakan kecil, Kang Juhi merasa dirinya bukan hanya pedagang gorengan. Ia merasa bagian dari dongeng besar bernama kemerdekaan, yang kadang lucu, kadang menyedihkan, kadang romantis, kadang absurd. Tapi tetap layak ditelan, meski bikin seret di tenggorokan.

*

Jakarta, 16 Agustus 2025.

Senin, 28 Juli 2025

Menulis: Usaha Santai Menuju Bahagia

 


Gerundelan Bang Yoss

 

Kalau suatu hari aku berhenti menulis, itu bukan karena aku tak bahagia lagi. Tapi mungkin karena aku sudah terlalu bahagia, sampai tak perlu menulis untuk mengingatkan diri sendiri bahwa aku masih hidup. Belum gila betulan. Atau minimal, tidak lagi punya laptop. Atau, kemungkinan lain. Aku sedang sibuk ngitung royalti.

Dan untuk yang terakhir itu, aku akan berkata, “Alhamdulillah banget.”

 

Menulis: Usaha Santai Menuju Bahagia

Oleh: Yoss Prabu

 

Aku menulis karena katanya itu jalan menuju kelegaan batin. Sebuah cara untuk memuntahkan segala yang tak bisa disampaikan dalam obrolan warung kopi, atau yang terlalu rumit untuk diketik dalam kolom komentar medsos. Menulis adalah terapi gratis bagi jiwa yang tak sanggup bayar psikolog tapi tetap ingin merasa waras. Atau minimal, terlihat waras.

Katanya, menulis bisa membawa kita pada kebahagiaan. Aku percaya. Karena bagaimana bisa tidak bahagia saat berhasil merangkai kalimat puitis yang membuat orang mengernyit dan berkata, "Wah, dalam banget, padahal gue gak ngerti." Itu kan pujian terselubung. Sejenis kebahagiaan pas-pasan tapi bisa kredit.

Tapi, ayo kita jujur, kalau tulisan kita sampai mendatangkan uang, itu bukan cuma kebahagiaan. Itu mukjizat. Itu seperti menemukan cinta sejati di kolom komentar medsos. Tidak mustahil, tapi mari kita bilang..., langka.

Aku menulis karena hidup sering kali terlalu sunyi untuk tidak dibicarakan. Dalam diamnya malam, ketika suara nyamuk lebih meriah dari notifikasi WhatsApp, menulis menjadi bentuk percakapan satu arah yang tidak menyela. Kalimat demi kalimat yang kutulis adalah teman-teman imajiner yang tidak menghakimi, tidak meninggalkan ‘read’ doang, dan tidak bertanya, "Kontrakan sudah nunggak 2 bulan, Pak? Kapan mau dibayar?"

Dan, oh, betapa menulis bisa begitu romantis. Bukan cuma tentang kisah cinta dua insan yang saling pandang lalu bertanya, “Mau nulis bareng di warteg?” Tapi juga tentang cinta pada kata. Pada bunyi. Pada keindahan kalimat yang melengkung halus seperti senyuman tipis dari sang pelayan.

Kadang, menulis itu semacam rindu yang tak tersalurkan. Rindu pada masa lalu, pada versi diri kita yang lebih muda, lebih polos, dan belum tahu bahwa dewasa itu ternyata isinya tagihan dan ekspektasi yang tak kunjung lunas. Menulis mengingatkan kita bahwa kita pernah punya mimpi, bahkan jika mimpi itu sekarang berubah bentuk jadi utang.

Kalau ditanya kenapa aku menulis, aku bisa jawab pakai bahasa puitis, "Karena dunia terlalu sempit bila hanya dipahami lewat ucapan." Tapi sejujurnya. Aku menulis karena tidak semua isi kepala bisa dibicarakan tanpa membuat orang di sekitarku menghindar pelan-pelan.

Menulis jadi satu-satunya tempat di mana absurditas dipeluk, kegelisahan dipahami, dan kebodohan bisa diedit. Coba lakukan itu dalam hidup nyata. Salah ngomong sekali, eh, viral. Tapi kalau salah tulis? Tinggal backspace. Luar biasa betapa damainya hidup dalam dunia fiksi yang bisa kita kontrol.

Namun, jangan salah. Ada pula saat ketika menulis jadi ladang perjuangan. Aku duduk menatap layar kosong selama tiga jam, berdebat dengan kursor yang berkedip seolah berkata, "Yakin mau jadi penulis? Yakin?" Kursor itu menyebalkan. Dia tak pernah berkata ‘kamu bisa’, hanya berkedip pasif-agresif seperti mantan yang masih menyimpan dendam.

Kadang aku berpikir, menulis adalah satu-satunya hal yang tetap kulakukan bahkan saat dunia rasanya ambruk. Ketika cinta kandas, ketika rekening tinggal seratus dua ribu, ketika mimpi terasa seperti promo online yang kadaluarsa. Aku masih menulis.

Bukan karena aku kuat, tapi karena tidak menulis terasa lebih menyakitkan. Menulis memberiku ruang untuk menangis diam-diam, menyelipkan duka dalam metafora, menyimpan kesepian dalam baris-baris kalimat yang terlihat tenang namun sebenarnya menjerit.

Dan meski begitu, tetap saja aku berharap... ada pembaca. Setidaknya satu. Seseorang yang membaca dan berkata, “Saya mengerti apa yang kamu rasakan.” Itu cukup. Lebih dari cukup. Itu validasi yang bahkan tak bisa diberikan oleh algoritma media sosial.

Tapi..., kalau kemudian ada penerbit yang tertarik, atau klien yang bilang, "Saya mau bayar segini buat tulisan ini," maka aku akan langsung berdiri, mengambil air wudu, dan sujud syukur. Karena walaupun menulis lahir dari cinta, tak ada salahnya cinta itu menghasilkan uang. Bukankah cinta yang sehat adalah yang bisa membuat bertahan hidup.

Ada orang yang menulis untuk ketenaran. Ada yang menulis karena deadline. Aku? Aku menulis karena ingin bahagia. Dan kadang bahagia itu sederhana, menyelesaikan satu tulisan tanpa membenci diri sendiri. Tapi, kalau bisa bahagia sambil dapat transferan, ya itu baru namanya nirwana literasi.

Aku tahu, uang bukan segalanya. Tapi segalanya – termasuk waktu menulis – butuh uang. Bayangkan ingin menulis puisi panjang tentang cinta, tapi mulut kecut karena belum merokok. Akhirnya puisinya berubah jadi.

“Kau seperti mi instan. Murah, cepat, tapi membekasnya lama.”

Puitis, kan? Tapi juga lapar.

Menulis mengajarkanku untuk terus jujur, bahkan pada bagian-bagian diriku yang tak ingin kulihat. Ia menelanjangiku, bukan secara cabul, tapi secara eksistensial. Di balik setiap kalimat, tersembunyi pengakuan bahwa, aku rapuh. Bahwa aku takut. Bahwa aku berharap.  Tapi juga bahwa, aku masih hidup.

Dan selama aku masih bisa menulis, aku tahu aku belum menyerah. Aku mungkin terengah-engah, tapi belum mati. Karena menulis adalah bentuk paling sunyi dari perjuangan yang penuh harapan.

Jadi kalau kau bertanya, “Apa tujuanmu menulis?” 

Aku akan bilang, “Untuk mencari kebahagiaan. Yang sederhana. Yang jujur. Yang mungkin. Dan..., kalau bisa, yang bisa dibayar.”

Karena pada akhirnya, tak ada yang lebih romantis dari kalimat ini, “Tulisanmu bagus. Mau saya bayar berapa?”

Itu bukan cuma validasi. Itu cinta sejati. Dan tentu saja..., Alhamdulillah banget.

Kadang aku bertanya pada diri sendiri. Apa benar aku menulis untuk bahagia? Atau jangan-jangan, aku menulis karena terlalu takut untuk diam.

Diam itu berbahaya. Dalam diam, pikiran bisa tumbuh seperti jamur di dinding rumah kontrakan. Liar, lembap, dan menjijikkan. Pikiran-pikiran itu perlu jalan keluar. Jadi aku tulis saja. Apa pun. Tentang hidup. Tentang cinta yang tak selesai. Tentang token listrik yang lebih cepat habis. Semua.

Tapi ya, jangan salah sangka. Aku menulis karena bukan ingin jadi pahlawan literasi. Aku tidak ingin jadi penyelamat bahasa atau pelestari budaya sastra. Aku bahkan tak tahu cara tepat mengeja “kulturalisasi” tanpa mengeceknya tiga kali di Google.

Aku menulis karena hidup terlalu absurd untuk diterima begitu saja. Dan menulis membuat absurditas itu terasa logis. Atau setidaknya, menghibur. Seperti bilang, “Aku tidak gagal, aku hanya sedang berada dalam fase ‘plot twist’.” Lebih menyenangkan, bukan?

Dulu aku berpikir, menulis itu seperti menciptakan dunia. Kini aku tahu, menulis itu seperti menggali lubang di tanah hati kita sendiri. Kadang kita menemukan emas. Kadang hanya batu bata bekas bangunan patah hati yang belum dibersihkan. Tapi menggali tetap menggali. Karena ada sesuatu di dalam sana yang terus memanggil.

Dan anehnya, dunia pun ikut berubah saat kita menulis. Bukan karena tulisan kita mengubah dunia – jangan mimpi sejauh itu, honey – tapi karena menulis mengubah cara kita memandang dunia. Hal sepele seperti tumpukan baju kotor bisa menjadi metafora tentang hidup. “Lihatlah, semakin lama ditunda, semakin bau.” Seperti masalah pribadi, bukan?

Bahkan kesepian pun jadi bahan bakar. “Aku pernah duduk di warung kopi, sendirian, menatap pasangan yang tertawa-tawa seperti iklan pasta gigi. Alih-alih cemburu, aku malah menulis.”  

“Mereka tertawa keras, seperti tak pernah menyimpan luka. Tapi aku tahu, semua orang menyembunyikan sesuatu, bahkan senyuman.”

Cukup satu kalimat itu, dan aku merasa... , tidak terlalu sendirian lagi.

Orang bilang menulis itu kerja sunyi. Benar. Tapi sunyi bukan berarti sepi. Ada riuh dalam kepala saat menulis. Ada debat panas antara logika dan perasaan, antara idealisme dan deadline, antara "ini terlalu personal" dan "justru ini yang jujur."

Kadang aku ingin menulis tentang hal-hal dalam yang membuatku takut. Ketakutan akan masa depan. Takut yang membaca akan tersenyum sinis, sambil menggerutu, “Huh, copy paste.” Takut tentang malam-malam yang terasa seperti black hole – lubang hitam. Tapi lalu muncul pikiran, “Siapa yang peduli? Emang gue pikirin.”

Dan itulah jebakan pertama bagi penulis. Mengira harus menyenangkan semua orang. Padahal tidak. Tugas menulis bukan memuaskan semua kepala. Tugas menulis adalah memuaskan satu hati. Milik kita sendiri. Dan kalau ada orang lain yang tersentuh? Nah, itu bonus. Seperti dapat sambel ekstra di warteg tanpa diminta.

Lalu bagaimana dengan uang? 

Ah, uang. Uang itu... bagaimana ya, kawan? Ia bukan musuh menulis. Tapi juga bukan alasan utama. Ia seperti sahabat lama yang kalau datang, disambut gembira. Tapi kalau lama tak bertemu, ya... biarkan saja. Toh, kita masih tetap hidup. Dengan sedikit sedih, tentu saja.

Aku tidak ingin jadi penulis yang pahit dengan dunia. Tapi aku juga tak mau jadi naif. Menulis butuh waktu. Butuh energi. Dan semua itu, di dunia nyata ini, tidak gratis. Kita bisa saja menyebut tulisan sebagai persembahan jiwa, tapi coba bilang begitu ke pemilik rumah kontrakan. Bagi yang masih mengontrak, tentunya. Mereka tidak akan menerima “persembahan jiwa”. Mereka maunya transferan.

Jadi ketika ada yang mau membayar untuk tulisan, aku tak merasa bersalah. Aku bahagia. Dan aku bersyukur. Bukan karena uangnya besar. Tapi karena, seseorang menghargai jerih payah kita. Jerih payah seorang pengarang atau penulis. Sesuatu yang lahir dari hati, mendapat tempat di dunia nyata. Itu bukan sekadar honor, itu bentuk cinta.

Lucunya, semakin aku menulis, semakin aku sadar bahwa tujuan itu tak pernah tunggal. Menulis memang untuk kebahagiaan. Tapi juga untuk bertahan. Untuk berbagi. Untuk mencatat. Untuk menertawakan hidup, agar kita tidak tenggelam dalam keseriusannya.

Karena hidup ini memang lucu, kalau kita cukup berani melihatnya begitu. Lihat saja, kita diajarkan sejak kecil untuk jujur, tapi dunia kerja mengajarkan kita menyusun CV dengan kalimat hiperbola. Kita disuruh rajin menabung, tapi inflasi membuat tabungan seperti es batu di atas wajan panas. Kita dibilang jangan bergantung pada orang lain, tapi disuruh percaya pada sistem. Sistem apa? Entahlah.

Di sinilah menulis berperan, sebagai ruang untuk berkelakar dengan kenyataan. Bercanda dengan luka. Bercengkerama dengan absurditas. Menulis membuat kita bisa berkata, “Aku paham ini sinting, tapi setidaknya aku bisa menertawakannya.”

Dan ketika malam tiba, ketika tidak ada lagi yang bisa kita lakukan selain mencoba tidur meski pikiran masih penuh, menulis hadir seperti selimut tua yang bolong tapi hangat. Tak sempurna. Tapi cukup.

Karena menulis, bagiku, adalah cara mencintai dunia meski ia tak selalu membalas. Dan bukankah itu cinta yang paling murni? Cinta yang tak berharap kembali, tapi tetap memberi. Seperti tulisan yang kau kirim ke semesta, berharap nyasar ke hati seseorang yang tepat.

Jadi, kalau suatu hari aku berhenti menulis, itu bukan karena aku tak bahagia lagi. Tapi mungkin karena aku sudah terlalu bahagia, sampai tak perlu menulis untuk mengingatkan diri sendiri bahwa aku masih hidup. Belum gila betulan. Atau minimal, tidak lagi punya laptop.

Atau, kemungkinan lain. Aku sedang sibuk ngitung royalti.

Dan untuk yang terakhir itu, aku akan berkata, “Alhamdulillah banget.”

Tapi jangan salah sangka dulu. Aku bukan orang suci yang menulis demi kebaikan dunia semata. Aku bukan penulis jenis "literatur untuk perubahan sosial" yang kutipan-kutipannya sering dipakai untuk caption TikTok. Aku juga bukan pencerah generasi, aku bahkan masih salah eja "privilege" kalau nulis buru-buru.

Aku menulis karena kalau tidak, kepalaku bisa meledak. (Segitunya!) Seperti masak air yang kelamaan ditinggal tanpa dimatikan kompornya. Panas. Mendidih. Dan kering. Berdesakan ide, rasa, keresahan, dan entah apa lagi.

Menulis jadi seperti kentut. Buang gas. Tertahan terlalu lama, bisa bikin sesak. Dikeluarkan, rasanya lega. Dan kalau beruntung, ada orang yang berkata, “Wah, kentutmu puitis juga, ya.” Itu pujian yang aneh, tapi aku terima dengan terharu.

Ada kalanya, menulis adalah cara merayakan kekacauan. Sebab hidup, seberapa pun kita coba atur, tetap saja suka bikin kejutan. Kita rencanakan jadi sarjana – eh, malah jadi content creator. Kita targetkan nikah usia 25. Eh, malah jadi pengamat pernikahan orang lain dari balik layar HP.

Menulis jadi semacam sabuk pengaman saat hidup tiba-tiba belok tajam tanpa memberi lampu sein. Dan di tengah guncangan itu, kita menulis, agar tak sepenuhnya mental.

Aku menulis karena ingin merasa bahwa aku tidak sedang diam. Bahwa meski tubuhku tak ke mana-mana, pikiranku menjelajah. Kadang ke masa lalu. Kadang ke masa depan. Kadang ke Utopia di mana semua orang membaca dan tidak ada yang ngeluh, “Kok tulisannya panjang sekali, sih?”

Maaf, tulisan ini memang panjang. Tapi begitulah, kalau ingin hidup panjang. Dan kita harus membicarakannya sesekali, meskipun hanya untuk tertawa di sela air mata. Sedih? Bukan. Karena kelilipan.

Dan berbicara soal air mata, mari kita akui satu hal yang menyakitkan. Tapi penting. Sebab, sebagian besar dari kita menulis karena luka.

Ada luka yang kita sembunyikan di balik metafora. Ada trauma yang kita bubuhi humor agar tak terlalu kelihatan pahitnya. Kita menyamarkan kesepian menjadi kalimat yang manis. Kita menipu diri sendiri dengan harapan-harapan fiktif, hanya supaya hidup terasa sedikit bisa ditanggung.

Siapa tahu, di ujung sana, ada pembaca yang membaca lalu diam-diam berkata, “Kok aku banget, ya?”

Dan di situlah keajaiban menulis terjadi. Saat tulisan kita, yang awalnya hanya niat terapi diri, berubah menjadi pelukan bagi orang lain. Saat orang merasa ditemani, padahal kita sendiri sedang mencoba bertahan.

Lucu, ya. Mudah-mudahan lucu. Betapa, kesunyian bisa menular jadi kehangatan.

Kadang saya membayangkan, bagaimana kalau cucu saya bertanya, “Kakek nulis buat apa, sih?”

Mungkin saya akan jawab begini, “Kakek nulis karena itu satu-satunya hal yang bisa dilakukan tanpa merasa harus menang. Karena di dunia ini, hampir semua hal seperti perlombaan. Sekolah, kerja, cinta, bekerja di perusahaan. Tapi menulis? Itu satu-satunya tempat di mana kamu bisa kalah tapi tetap utuh. Bisa jatuh, tapi tetap indah.”

Dan semoga mereka paham. Kalau pun tidak, semoga mereka baca tulisan ini suatu hari nanti. Dan dia tahu bahwa kakeknya pernah menulis, bukan untuk dunia. Tapi untuk jiwanya sendiri.

Menulis juga membuat saya belajar tentang let go. Biarkan pergi.

Karena setelah tulisan selesai, ia bukan lagi milik kita. Ia akan dibaca, ditafsirkan, disalahpahami, bahkan dicibir. Huh! Copy paste. Tapi itu bagian dari perjalanan. Kita tak bisa menuntut semua pembaca mencintai tulisan kita. Seperti kita juga tidak bisa memaksa seseorang mencintai kita hanya karena kita baik dan tulus.

Kadang yang mereka cari bukan kejujuran, tapi sensasi. Bukan makna, tapi kata-kata untuk menyentil. Bullshit Ya, sudahlah. Kita tetap menulis. Karena cinta tidak selalu butuh dibalas.

Tapi sekali lagi – kalau bisa dibayar, ya... kita tetap sujud syukur, dong.

Menulis adalah bentuk setia yang paling janggal. Karena ia tak selalu memberimu hadiah langsung. Tapi ia menumbuhkanmu. Perlahan. Diam-diam. Seperti benih yang lama tak tumbuh, tapi akhirnya muncul tunas di hari kamu nyaris menyerah.

Itulah sebabnya menulis tidak pernah benar-benar bisa ditinggalkan. Bahkan saat kau lelah. Bahkan saat kau kecewa. Bahkan saat tulisanmu tak dibaca siapa-siapa. Karena menulis, seperti cinta yang dewasa, ia tidak menuntut pamrih, tapi selalu ada ketika dibutuhkan. Dan pada akhirnya, ia bukan cuma media. Ia menjadi rumah. Tempat pulang. Tempat kau bisa jadi dirimu yang paling jujur, paling utuh, paling... kamu.

Jadi, mari kita simpulkan sebelum tulisan ini semakin menjulur seperti benang kusut yang tidak ingin diurai.

Aku menulis karena aku ingin bahagia. Aku menulis karena aku ingin sembuh. Aku menulis karena aku ingin diingat. Aku menulis karena kadang, hanya itulah cara untuk tidak merasa hancur sepenuhnya. Dan kalau dari semua itu, ada yang membayar... Itu bukan hanya rezeki. Itu validasi dari semesta. Itu semacam bunga tabungan atas segala luka yang pernah dibagikan.

Sangat, sangat Alhamdulillah.

*

Jakarta, 28 Juli 2025.

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

  Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).  Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...