Gerundelan
Bang Yoss
Kalau suatu hari aku berhenti menulis, itu bukan karena aku tak
bahagia lagi. Tapi mungkin karena aku sudah terlalu bahagia, sampai tak perlu
menulis untuk mengingatkan diri sendiri bahwa aku masih hidup. Belum gila
betulan. Atau minimal, tidak lagi punya laptop. Atau, kemungkinan lain. Aku
sedang sibuk ngitung royalti.
Dan untuk yang terakhir itu, aku
akan berkata, “Alhamdulillah banget.”
Menulis: Usaha Santai Menuju Bahagia
Oleh:
Yoss Prabu
Aku
menulis karena katanya itu jalan menuju kelegaan batin. Sebuah cara untuk
memuntahkan segala yang tak bisa disampaikan dalam obrolan warung kopi, atau
yang terlalu rumit untuk diketik dalam kolom komentar medsos. Menulis adalah
terapi gratis bagi jiwa yang tak sanggup bayar psikolog tapi tetap ingin merasa
waras. Atau minimal, terlihat waras.
Katanya,
menulis bisa membawa kita pada kebahagiaan. Aku percaya. Karena bagaimana bisa
tidak bahagia saat berhasil merangkai kalimat puitis yang membuat orang
mengernyit dan berkata, "Wah, dalam banget, padahal gue gak ngerti."
Itu kan pujian terselubung. Sejenis kebahagiaan pas-pasan tapi bisa kredit.
Tapi,
ayo kita jujur, kalau tulisan kita sampai mendatangkan uang, itu bukan cuma
kebahagiaan. Itu mukjizat. Itu seperti menemukan cinta sejati di kolom komentar
medsos. Tidak mustahil, tapi mari kita bilang..., langka.
Aku
menulis karena hidup sering kali terlalu sunyi untuk tidak dibicarakan. Dalam
diamnya malam, ketika suara nyamuk lebih meriah dari notifikasi WhatsApp,
menulis menjadi bentuk percakapan satu arah yang tidak menyela. Kalimat demi kalimat
yang kutulis adalah teman-teman imajiner yang tidak menghakimi, tidak
meninggalkan ‘read’ doang, dan tidak bertanya, "Kontrakan sudah nunggak 2
bulan, Pak? Kapan mau dibayar?"
Dan,
oh, betapa menulis bisa begitu romantis. Bukan cuma tentang kisah cinta dua
insan yang saling pandang lalu bertanya, “Mau nulis bareng di warteg?” Tapi
juga tentang cinta pada kata. Pada bunyi. Pada keindahan kalimat yang
melengkung halus seperti senyuman tipis dari sang pelayan.
Kadang,
menulis itu semacam rindu yang tak tersalurkan. Rindu pada masa lalu, pada
versi diri kita yang lebih muda, lebih polos, dan belum tahu bahwa dewasa itu
ternyata isinya tagihan dan ekspektasi yang tak kunjung lunas. Menulis
mengingatkan kita bahwa kita pernah punya mimpi, bahkan jika mimpi itu sekarang
berubah bentuk jadi utang.
Kalau
ditanya kenapa aku menulis, aku bisa jawab pakai bahasa puitis, "Karena
dunia terlalu sempit bila hanya dipahami lewat ucapan." Tapi sejujurnya.
Aku menulis karena tidak semua isi kepala bisa dibicarakan tanpa membuat orang
di sekitarku menghindar pelan-pelan.
Menulis
jadi satu-satunya tempat di mana absurditas dipeluk, kegelisahan dipahami, dan
kebodohan bisa diedit. Coba lakukan itu dalam hidup nyata. Salah ngomong
sekali, eh, viral. Tapi kalau salah tulis? Tinggal backspace. Luar biasa betapa damainya hidup dalam dunia fiksi yang
bisa kita kontrol.
Namun,
jangan salah. Ada pula saat ketika menulis jadi ladang perjuangan. Aku duduk
menatap layar kosong selama tiga jam, berdebat dengan kursor yang berkedip seolah
berkata, "Yakin mau jadi penulis? Yakin?" Kursor itu menyebalkan. Dia
tak pernah berkata ‘kamu bisa’, hanya berkedip pasif-agresif seperti mantan
yang masih menyimpan dendam.
Kadang
aku berpikir, menulis adalah satu-satunya hal yang tetap kulakukan bahkan saat
dunia rasanya ambruk. Ketika cinta kandas, ketika rekening tinggal seratus dua
ribu, ketika mimpi terasa seperti promo online yang kadaluarsa. Aku masih
menulis.
Bukan
karena aku kuat, tapi karena tidak menulis terasa lebih menyakitkan. Menulis
memberiku ruang untuk menangis diam-diam, menyelipkan duka dalam metafora,
menyimpan kesepian dalam baris-baris kalimat yang terlihat tenang namun
sebenarnya menjerit.
Dan meski
begitu, tetap saja aku berharap... ada pembaca. Setidaknya satu. Seseorang yang
membaca dan berkata, “Saya mengerti apa yang kamu rasakan.” Itu cukup. Lebih
dari cukup. Itu validasi yang bahkan tak bisa diberikan oleh algoritma media
sosial.
Tapi...,
kalau kemudian ada penerbit yang tertarik, atau klien yang bilang, "Saya
mau bayar segini buat tulisan ini," maka aku akan langsung berdiri,
mengambil air wudu, dan sujud syukur. Karena walaupun menulis lahir dari cinta,
tak ada salahnya cinta itu menghasilkan uang. Bukankah cinta yang sehat adalah
yang bisa membuat bertahan hidup.
Ada
orang yang menulis untuk ketenaran. Ada yang menulis karena deadline. Aku? Aku menulis karena ingin
bahagia. Dan kadang bahagia itu sederhana, menyelesaikan satu tulisan tanpa membenci
diri sendiri. Tapi, kalau bisa bahagia sambil dapat transferan, ya itu baru
namanya nirwana literasi.
Aku
tahu, uang bukan segalanya. Tapi segalanya – termasuk waktu menulis – butuh
uang. Bayangkan ingin menulis puisi panjang tentang cinta, tapi mulut kecut karena
belum merokok. Akhirnya puisinya berubah jadi.
“Kau
seperti mi instan. Murah, cepat, tapi membekasnya lama.”
Puitis,
kan? Tapi juga lapar.
Menulis
mengajarkanku untuk terus jujur, bahkan pada bagian-bagian diriku yang tak
ingin kulihat. Ia menelanjangiku, bukan secara cabul, tapi secara eksistensial.
Di balik setiap kalimat, tersembunyi pengakuan bahwa, aku rapuh. Bahwa aku
takut. Bahwa aku berharap. Tapi juga
bahwa, aku masih hidup.
Dan
selama aku masih bisa menulis, aku tahu aku belum menyerah. Aku mungkin
terengah-engah, tapi belum mati. Karena menulis adalah bentuk paling sunyi dari
perjuangan yang penuh harapan.
Jadi
kalau kau bertanya, “Apa tujuanmu menulis?”
Aku
akan bilang, “Untuk mencari kebahagiaan. Yang sederhana. Yang jujur. Yang
mungkin. Dan..., kalau bisa, yang bisa dibayar.”
Karena
pada akhirnya, tak ada yang lebih romantis dari kalimat ini, “Tulisanmu bagus.
Mau saya bayar berapa?”
Itu
bukan cuma validasi. Itu cinta sejati. Dan tentu saja..., Alhamdulillah banget.
Kadang
aku bertanya pada diri sendiri. Apa benar aku menulis untuk bahagia? Atau
jangan-jangan, aku menulis karena terlalu takut untuk diam.
Diam
itu berbahaya. Dalam diam, pikiran bisa tumbuh seperti jamur di dinding rumah
kontrakan. Liar, lembap, dan menjijikkan. Pikiran-pikiran itu perlu jalan
keluar. Jadi aku tulis saja. Apa pun. Tentang hidup. Tentang cinta yang tak
selesai. Tentang token listrik yang lebih cepat habis. Semua.
Tapi
ya, jangan salah sangka. Aku menulis karena bukan ingin jadi pahlawan literasi.
Aku tidak ingin jadi penyelamat bahasa atau pelestari budaya sastra. Aku bahkan
tak tahu cara tepat mengeja “kulturalisasi” tanpa mengeceknya tiga kali di
Google.
Aku
menulis karena hidup terlalu absurd untuk diterima begitu saja. Dan menulis
membuat absurditas itu terasa logis. Atau setidaknya, menghibur. Seperti
bilang, “Aku tidak gagal, aku hanya sedang berada dalam fase ‘plot twist’.”
Lebih menyenangkan, bukan?
Dulu
aku berpikir, menulis itu seperti menciptakan dunia. Kini aku tahu, menulis itu
seperti menggali lubang di tanah hati kita sendiri. Kadang kita menemukan emas.
Kadang hanya batu bata bekas bangunan patah hati yang belum dibersihkan. Tapi
menggali tetap menggali. Karena ada sesuatu di dalam sana yang terus memanggil.
Dan
anehnya, dunia pun ikut berubah saat kita menulis. Bukan karena tulisan kita
mengubah dunia – jangan mimpi sejauh itu, honey – tapi karena menulis mengubah
cara kita memandang dunia. Hal sepele seperti tumpukan baju kotor bisa menjadi
metafora tentang hidup. “Lihatlah, semakin lama ditunda, semakin bau.” Seperti
masalah pribadi, bukan?
Bahkan
kesepian pun jadi bahan bakar. “Aku pernah duduk di warung kopi, sendirian,
menatap pasangan yang tertawa-tawa seperti iklan pasta gigi. Alih-alih cemburu,
aku malah menulis.”
“Mereka
tertawa keras, seperti tak pernah menyimpan luka. Tapi aku tahu, semua orang
menyembunyikan sesuatu, bahkan senyuman.”
Cukup
satu kalimat itu, dan aku merasa... , tidak terlalu sendirian lagi.
Orang
bilang menulis itu kerja sunyi. Benar. Tapi sunyi bukan berarti sepi. Ada riuh
dalam kepala saat menulis. Ada debat panas antara logika dan perasaan, antara
idealisme dan deadline, antara "ini terlalu personal" dan
"justru ini yang jujur."
Kadang
aku ingin menulis tentang hal-hal dalam yang membuatku takut. Ketakutan akan
masa depan. Takut yang membaca akan tersenyum sinis, sambil menggerutu, “Huh, copy paste.” Takut tentang malam-malam
yang terasa seperti black hole – lubang
hitam. Tapi lalu muncul pikiran, “Siapa yang peduli? Emang gue pikirin.”
Dan
itulah jebakan pertama bagi penulis. Mengira harus menyenangkan semua orang.
Padahal tidak. Tugas menulis bukan memuaskan semua kepala. Tugas menulis adalah
memuaskan satu hati. Milik kita sendiri. Dan kalau ada orang lain yang
tersentuh? Nah, itu bonus. Seperti dapat sambel ekstra di warteg tanpa diminta.
Lalu
bagaimana dengan uang?
Ah,
uang. Uang itu... bagaimana ya, kawan? Ia bukan musuh menulis. Tapi juga bukan
alasan utama. Ia seperti sahabat lama yang kalau datang, disambut gembira. Tapi
kalau lama tak bertemu, ya... biarkan saja. Toh, kita masih tetap hidup. Dengan
sedikit sedih, tentu saja.
Aku
tidak ingin jadi penulis yang pahit dengan dunia. Tapi aku juga tak mau jadi
naif. Menulis butuh waktu. Butuh energi. Dan semua itu, di dunia nyata ini,
tidak gratis. Kita bisa saja menyebut tulisan sebagai persembahan jiwa, tapi
coba bilang begitu ke pemilik rumah kontrakan. Bagi yang masih mengontrak,
tentunya. Mereka tidak akan menerima “persembahan jiwa”. Mereka maunya transferan.
Jadi
ketika ada yang mau membayar untuk tulisan, aku tak merasa bersalah. Aku
bahagia. Dan aku bersyukur. Bukan karena uangnya besar. Tapi karena, seseorang
menghargai jerih payah kita. Jerih payah seorang pengarang atau penulis.
Sesuatu yang lahir dari hati, mendapat tempat di dunia nyata. Itu bukan sekadar
honor, itu bentuk cinta.
Lucunya,
semakin aku menulis, semakin aku sadar bahwa tujuan itu tak pernah tunggal.
Menulis memang untuk kebahagiaan. Tapi juga untuk bertahan. Untuk berbagi.
Untuk mencatat. Untuk menertawakan hidup, agar kita tidak tenggelam dalam
keseriusannya.
Karena
hidup ini memang lucu, kalau kita cukup berani melihatnya begitu. Lihat saja, kita
diajarkan sejak kecil untuk jujur, tapi dunia kerja mengajarkan kita menyusun
CV dengan kalimat hiperbola. Kita disuruh rajin menabung, tapi inflasi membuat
tabungan seperti es batu di atas wajan panas. Kita dibilang jangan bergantung
pada orang lain, tapi disuruh percaya pada sistem. Sistem apa? Entahlah.
Di
sinilah menulis berperan, sebagai ruang untuk berkelakar dengan kenyataan.
Bercanda dengan luka. Bercengkerama dengan absurditas. Menulis membuat kita
bisa berkata, “Aku paham ini sinting, tapi setidaknya aku bisa
menertawakannya.”
Dan
ketika malam tiba, ketika tidak ada lagi yang bisa kita lakukan selain mencoba
tidur meski pikiran masih penuh, menulis hadir seperti selimut tua yang bolong
tapi hangat. Tak sempurna. Tapi cukup.
Karena
menulis, bagiku, adalah cara mencintai dunia meski ia tak selalu membalas. Dan
bukankah itu cinta yang paling murni? Cinta yang tak berharap kembali, tapi
tetap memberi. Seperti tulisan yang kau kirim ke semesta, berharap nyasar ke
hati seseorang yang tepat.
Jadi,
kalau suatu hari aku berhenti menulis, itu bukan karena aku tak bahagia lagi.
Tapi mungkin karena aku sudah terlalu bahagia, sampai tak perlu menulis untuk
mengingatkan diri sendiri bahwa aku masih hidup. Belum gila betulan. Atau
minimal, tidak lagi punya laptop.
Atau,
kemungkinan lain. Aku sedang sibuk ngitung royalti.
Dan
untuk yang terakhir itu, aku akan berkata, “Alhamdulillah banget.”
Tapi
jangan salah sangka dulu. Aku bukan orang suci yang menulis demi kebaikan dunia
semata. Aku bukan penulis jenis "literatur untuk perubahan sosial"
yang kutipan-kutipannya sering dipakai untuk caption TikTok. Aku juga bukan
pencerah generasi, aku bahkan masih salah eja "privilege" kalau nulis
buru-buru.
Aku
menulis karena kalau tidak, kepalaku bisa meledak. (Segitunya!) Seperti masak
air yang kelamaan ditinggal tanpa dimatikan kompornya. Panas. Mendidih. Dan
kering. Berdesakan ide, rasa, keresahan, dan entah apa lagi.
Menulis
jadi seperti kentut. Buang gas. Tertahan terlalu lama, bisa bikin sesak.
Dikeluarkan, rasanya lega. Dan kalau beruntung, ada orang yang berkata, “Wah,
kentutmu puitis juga, ya.” Itu pujian yang aneh, tapi aku terima dengan terharu.
Ada
kalanya, menulis adalah cara merayakan kekacauan. Sebab hidup, seberapa pun
kita coba atur, tetap saja suka bikin kejutan. Kita rencanakan jadi sarjana – eh,
malah jadi content creator. Kita
targetkan nikah usia 25. Eh, malah jadi pengamat pernikahan orang lain dari
balik layar HP.
Menulis
jadi semacam sabuk pengaman saat hidup tiba-tiba belok tajam tanpa memberi
lampu sein. Dan di tengah guncangan itu, kita menulis, agar tak sepenuhnya
mental.
Aku
menulis karena ingin merasa bahwa aku tidak sedang diam. Bahwa meski tubuhku
tak ke mana-mana, pikiranku menjelajah. Kadang ke masa lalu. Kadang ke masa
depan. Kadang ke Utopia di mana semua orang membaca dan tidak ada yang ngeluh,
“Kok tulisannya panjang sekali, sih?”
Maaf,
tulisan ini memang panjang. Tapi begitulah, kalau ingin hidup panjang. Dan kita
harus membicarakannya sesekali, meskipun hanya untuk tertawa di sela air mata.
Sedih? Bukan. Karena kelilipan.
Dan
berbicara soal air mata, mari kita akui satu hal yang menyakitkan. Tapi penting.
Sebab, sebagian besar dari kita menulis karena luka.
Ada
luka yang kita sembunyikan di balik metafora. Ada trauma yang kita bubuhi humor
agar tak terlalu kelihatan pahitnya. Kita menyamarkan kesepian menjadi kalimat
yang manis. Kita menipu diri sendiri dengan harapan-harapan fiktif, hanya
supaya hidup terasa sedikit bisa ditanggung.
Siapa
tahu, di ujung sana, ada pembaca yang membaca lalu diam-diam berkata, “Kok aku
banget, ya?”
Dan
di situlah keajaiban menulis terjadi. Saat tulisan kita, yang awalnya hanya
niat terapi diri, berubah menjadi pelukan bagi orang lain. Saat orang merasa
ditemani, padahal kita sendiri sedang mencoba bertahan.
Lucu,
ya. Mudah-mudahan lucu. Betapa, kesunyian bisa menular jadi kehangatan.
Kadang
saya membayangkan, bagaimana kalau cucu saya bertanya, “Kakek nulis buat apa,
sih?”
Mungkin
saya akan jawab begini, “Kakek nulis karena itu satu-satunya hal yang bisa
dilakukan tanpa merasa harus menang. Karena di dunia ini, hampir semua hal seperti
perlombaan. Sekolah, kerja, cinta, bekerja di perusahaan. Tapi menulis? Itu
satu-satunya tempat di mana kamu bisa kalah tapi tetap utuh. Bisa jatuh, tapi
tetap indah.”
Dan
semoga mereka paham. Kalau pun tidak, semoga mereka baca tulisan ini suatu hari
nanti. Dan dia tahu bahwa kakeknya pernah menulis, bukan untuk dunia. Tapi
untuk jiwanya sendiri.
Menulis
juga membuat saya belajar tentang let go.
Biarkan pergi.
Karena
setelah tulisan selesai, ia bukan lagi milik kita. Ia akan dibaca, ditafsirkan,
disalahpahami, bahkan dicibir. Huh! Copy
paste. Tapi itu bagian dari perjalanan. Kita tak bisa menuntut semua
pembaca mencintai tulisan kita. Seperti kita juga tidak bisa memaksa seseorang
mencintai kita hanya karena kita baik dan tulus.
Kadang
yang mereka cari bukan kejujuran, tapi sensasi. Bukan makna, tapi kata-kata
untuk menyentil. Bullshit Ya,
sudahlah. Kita tetap menulis. Karena cinta tidak selalu butuh dibalas.
Tapi
sekali lagi – kalau bisa dibayar, ya... kita tetap sujud syukur, dong.
Menulis
adalah bentuk setia yang paling janggal. Karena ia tak selalu memberimu hadiah
langsung. Tapi ia menumbuhkanmu. Perlahan. Diam-diam. Seperti benih yang lama
tak tumbuh, tapi akhirnya muncul tunas di hari kamu nyaris menyerah.
Itulah
sebabnya menulis tidak pernah benar-benar bisa ditinggalkan. Bahkan saat kau
lelah. Bahkan saat kau kecewa. Bahkan saat tulisanmu tak dibaca siapa-siapa.
Karena menulis, seperti cinta yang dewasa, ia tidak menuntut pamrih, tapi
selalu ada ketika dibutuhkan. Dan pada akhirnya, ia bukan cuma media. Ia menjadi
rumah. Tempat pulang. Tempat kau bisa jadi dirimu yang paling jujur, paling
utuh, paling... kamu.
Jadi,
mari kita simpulkan sebelum tulisan ini semakin menjulur seperti benang kusut
yang tidak ingin diurai.
Aku
menulis karena aku ingin bahagia. Aku menulis karena aku ingin sembuh. Aku
menulis karena aku ingin diingat. Aku menulis karena kadang, hanya itulah cara
untuk tidak merasa hancur sepenuhnya. Dan kalau dari semua itu, ada yang
membayar... Itu bukan hanya rezeki. Itu validasi dari semesta. Itu semacam
bunga tabungan atas segala luka yang pernah dibagikan.
Sangat,
sangat Alhamdulillah.
*
Jakarta,
28 Juli 2025.