Senin, 28 Juli 2025

Menulis: Usaha Santai Menuju Bahagia

 


Gerundelan Bang Yoss

 

Kalau suatu hari aku berhenti menulis, itu bukan karena aku tak bahagia lagi. Tapi mungkin karena aku sudah terlalu bahagia, sampai tak perlu menulis untuk mengingatkan diri sendiri bahwa aku masih hidup. Belum gila betulan. Atau minimal, tidak lagi punya laptop. Atau, kemungkinan lain. Aku sedang sibuk ngitung royalti.

Dan untuk yang terakhir itu, aku akan berkata, “Alhamdulillah banget.”

 

Menulis: Usaha Santai Menuju Bahagia

Oleh: Yoss Prabu

 

Aku menulis karena katanya itu jalan menuju kelegaan batin. Sebuah cara untuk memuntahkan segala yang tak bisa disampaikan dalam obrolan warung kopi, atau yang terlalu rumit untuk diketik dalam kolom komentar medsos. Menulis adalah terapi gratis bagi jiwa yang tak sanggup bayar psikolog tapi tetap ingin merasa waras. Atau minimal, terlihat waras.

Katanya, menulis bisa membawa kita pada kebahagiaan. Aku percaya. Karena bagaimana bisa tidak bahagia saat berhasil merangkai kalimat puitis yang membuat orang mengernyit dan berkata, "Wah, dalam banget, padahal gue gak ngerti." Itu kan pujian terselubung. Sejenis kebahagiaan pas-pasan tapi bisa kredit.

Tapi, ayo kita jujur, kalau tulisan kita sampai mendatangkan uang, itu bukan cuma kebahagiaan. Itu mukjizat. Itu seperti menemukan cinta sejati di kolom komentar medsos. Tidak mustahil, tapi mari kita bilang..., langka.

Aku menulis karena hidup sering kali terlalu sunyi untuk tidak dibicarakan. Dalam diamnya malam, ketika suara nyamuk lebih meriah dari notifikasi WhatsApp, menulis menjadi bentuk percakapan satu arah yang tidak menyela. Kalimat demi kalimat yang kutulis adalah teman-teman imajiner yang tidak menghakimi, tidak meninggalkan ‘read’ doang, dan tidak bertanya, "Kontrakan sudah nunggak 2 bulan, Pak? Kapan mau dibayar?"

Dan, oh, betapa menulis bisa begitu romantis. Bukan cuma tentang kisah cinta dua insan yang saling pandang lalu bertanya, “Mau nulis bareng di warteg?” Tapi juga tentang cinta pada kata. Pada bunyi. Pada keindahan kalimat yang melengkung halus seperti senyuman tipis dari sang pelayan.

Kadang, menulis itu semacam rindu yang tak tersalurkan. Rindu pada masa lalu, pada versi diri kita yang lebih muda, lebih polos, dan belum tahu bahwa dewasa itu ternyata isinya tagihan dan ekspektasi yang tak kunjung lunas. Menulis mengingatkan kita bahwa kita pernah punya mimpi, bahkan jika mimpi itu sekarang berubah bentuk jadi utang.

Kalau ditanya kenapa aku menulis, aku bisa jawab pakai bahasa puitis, "Karena dunia terlalu sempit bila hanya dipahami lewat ucapan." Tapi sejujurnya. Aku menulis karena tidak semua isi kepala bisa dibicarakan tanpa membuat orang di sekitarku menghindar pelan-pelan.

Menulis jadi satu-satunya tempat di mana absurditas dipeluk, kegelisahan dipahami, dan kebodohan bisa diedit. Coba lakukan itu dalam hidup nyata. Salah ngomong sekali, eh, viral. Tapi kalau salah tulis? Tinggal backspace. Luar biasa betapa damainya hidup dalam dunia fiksi yang bisa kita kontrol.

Namun, jangan salah. Ada pula saat ketika menulis jadi ladang perjuangan. Aku duduk menatap layar kosong selama tiga jam, berdebat dengan kursor yang berkedip seolah berkata, "Yakin mau jadi penulis? Yakin?" Kursor itu menyebalkan. Dia tak pernah berkata ‘kamu bisa’, hanya berkedip pasif-agresif seperti mantan yang masih menyimpan dendam.

Kadang aku berpikir, menulis adalah satu-satunya hal yang tetap kulakukan bahkan saat dunia rasanya ambruk. Ketika cinta kandas, ketika rekening tinggal seratus dua ribu, ketika mimpi terasa seperti promo online yang kadaluarsa. Aku masih menulis.

Bukan karena aku kuat, tapi karena tidak menulis terasa lebih menyakitkan. Menulis memberiku ruang untuk menangis diam-diam, menyelipkan duka dalam metafora, menyimpan kesepian dalam baris-baris kalimat yang terlihat tenang namun sebenarnya menjerit.

Dan meski begitu, tetap saja aku berharap... ada pembaca. Setidaknya satu. Seseorang yang membaca dan berkata, “Saya mengerti apa yang kamu rasakan.” Itu cukup. Lebih dari cukup. Itu validasi yang bahkan tak bisa diberikan oleh algoritma media sosial.

Tapi..., kalau kemudian ada penerbit yang tertarik, atau klien yang bilang, "Saya mau bayar segini buat tulisan ini," maka aku akan langsung berdiri, mengambil air wudu, dan sujud syukur. Karena walaupun menulis lahir dari cinta, tak ada salahnya cinta itu menghasilkan uang. Bukankah cinta yang sehat adalah yang bisa membuat bertahan hidup.

Ada orang yang menulis untuk ketenaran. Ada yang menulis karena deadline. Aku? Aku menulis karena ingin bahagia. Dan kadang bahagia itu sederhana, menyelesaikan satu tulisan tanpa membenci diri sendiri. Tapi, kalau bisa bahagia sambil dapat transferan, ya itu baru namanya nirwana literasi.

Aku tahu, uang bukan segalanya. Tapi segalanya – termasuk waktu menulis – butuh uang. Bayangkan ingin menulis puisi panjang tentang cinta, tapi mulut kecut karena belum merokok. Akhirnya puisinya berubah jadi.

“Kau seperti mi instan. Murah, cepat, tapi membekasnya lama.”

Puitis, kan? Tapi juga lapar.

Menulis mengajarkanku untuk terus jujur, bahkan pada bagian-bagian diriku yang tak ingin kulihat. Ia menelanjangiku, bukan secara cabul, tapi secara eksistensial. Di balik setiap kalimat, tersembunyi pengakuan bahwa, aku rapuh. Bahwa aku takut. Bahwa aku berharap.  Tapi juga bahwa, aku masih hidup.

Dan selama aku masih bisa menulis, aku tahu aku belum menyerah. Aku mungkin terengah-engah, tapi belum mati. Karena menulis adalah bentuk paling sunyi dari perjuangan yang penuh harapan.

Jadi kalau kau bertanya, “Apa tujuanmu menulis?” 

Aku akan bilang, “Untuk mencari kebahagiaan. Yang sederhana. Yang jujur. Yang mungkin. Dan..., kalau bisa, yang bisa dibayar.”

Karena pada akhirnya, tak ada yang lebih romantis dari kalimat ini, “Tulisanmu bagus. Mau saya bayar berapa?”

Itu bukan cuma validasi. Itu cinta sejati. Dan tentu saja..., Alhamdulillah banget.

Kadang aku bertanya pada diri sendiri. Apa benar aku menulis untuk bahagia? Atau jangan-jangan, aku menulis karena terlalu takut untuk diam.

Diam itu berbahaya. Dalam diam, pikiran bisa tumbuh seperti jamur di dinding rumah kontrakan. Liar, lembap, dan menjijikkan. Pikiran-pikiran itu perlu jalan keluar. Jadi aku tulis saja. Apa pun. Tentang hidup. Tentang cinta yang tak selesai. Tentang token listrik yang lebih cepat habis. Semua.

Tapi ya, jangan salah sangka. Aku menulis karena bukan ingin jadi pahlawan literasi. Aku tidak ingin jadi penyelamat bahasa atau pelestari budaya sastra. Aku bahkan tak tahu cara tepat mengeja “kulturalisasi” tanpa mengeceknya tiga kali di Google.

Aku menulis karena hidup terlalu absurd untuk diterima begitu saja. Dan menulis membuat absurditas itu terasa logis. Atau setidaknya, menghibur. Seperti bilang, “Aku tidak gagal, aku hanya sedang berada dalam fase ‘plot twist’.” Lebih menyenangkan, bukan?

Dulu aku berpikir, menulis itu seperti menciptakan dunia. Kini aku tahu, menulis itu seperti menggali lubang di tanah hati kita sendiri. Kadang kita menemukan emas. Kadang hanya batu bata bekas bangunan patah hati yang belum dibersihkan. Tapi menggali tetap menggali. Karena ada sesuatu di dalam sana yang terus memanggil.

Dan anehnya, dunia pun ikut berubah saat kita menulis. Bukan karena tulisan kita mengubah dunia – jangan mimpi sejauh itu, honey – tapi karena menulis mengubah cara kita memandang dunia. Hal sepele seperti tumpukan baju kotor bisa menjadi metafora tentang hidup. “Lihatlah, semakin lama ditunda, semakin bau.” Seperti masalah pribadi, bukan?

Bahkan kesepian pun jadi bahan bakar. “Aku pernah duduk di warung kopi, sendirian, menatap pasangan yang tertawa-tawa seperti iklan pasta gigi. Alih-alih cemburu, aku malah menulis.”  

“Mereka tertawa keras, seperti tak pernah menyimpan luka. Tapi aku tahu, semua orang menyembunyikan sesuatu, bahkan senyuman.”

Cukup satu kalimat itu, dan aku merasa... , tidak terlalu sendirian lagi.

Orang bilang menulis itu kerja sunyi. Benar. Tapi sunyi bukan berarti sepi. Ada riuh dalam kepala saat menulis. Ada debat panas antara logika dan perasaan, antara idealisme dan deadline, antara "ini terlalu personal" dan "justru ini yang jujur."

Kadang aku ingin menulis tentang hal-hal dalam yang membuatku takut. Ketakutan akan masa depan. Takut yang membaca akan tersenyum sinis, sambil menggerutu, “Huh, copy paste.” Takut tentang malam-malam yang terasa seperti black hole – lubang hitam. Tapi lalu muncul pikiran, “Siapa yang peduli? Emang gue pikirin.”

Dan itulah jebakan pertama bagi penulis. Mengira harus menyenangkan semua orang. Padahal tidak. Tugas menulis bukan memuaskan semua kepala. Tugas menulis adalah memuaskan satu hati. Milik kita sendiri. Dan kalau ada orang lain yang tersentuh? Nah, itu bonus. Seperti dapat sambel ekstra di warteg tanpa diminta.

Lalu bagaimana dengan uang? 

Ah, uang. Uang itu... bagaimana ya, kawan? Ia bukan musuh menulis. Tapi juga bukan alasan utama. Ia seperti sahabat lama yang kalau datang, disambut gembira. Tapi kalau lama tak bertemu, ya... biarkan saja. Toh, kita masih tetap hidup. Dengan sedikit sedih, tentu saja.

Aku tidak ingin jadi penulis yang pahit dengan dunia. Tapi aku juga tak mau jadi naif. Menulis butuh waktu. Butuh energi. Dan semua itu, di dunia nyata ini, tidak gratis. Kita bisa saja menyebut tulisan sebagai persembahan jiwa, tapi coba bilang begitu ke pemilik rumah kontrakan. Bagi yang masih mengontrak, tentunya. Mereka tidak akan menerima “persembahan jiwa”. Mereka maunya transferan.

Jadi ketika ada yang mau membayar untuk tulisan, aku tak merasa bersalah. Aku bahagia. Dan aku bersyukur. Bukan karena uangnya besar. Tapi karena, seseorang menghargai jerih payah kita. Jerih payah seorang pengarang atau penulis. Sesuatu yang lahir dari hati, mendapat tempat di dunia nyata. Itu bukan sekadar honor, itu bentuk cinta.

Lucunya, semakin aku menulis, semakin aku sadar bahwa tujuan itu tak pernah tunggal. Menulis memang untuk kebahagiaan. Tapi juga untuk bertahan. Untuk berbagi. Untuk mencatat. Untuk menertawakan hidup, agar kita tidak tenggelam dalam keseriusannya.

Karena hidup ini memang lucu, kalau kita cukup berani melihatnya begitu. Lihat saja, kita diajarkan sejak kecil untuk jujur, tapi dunia kerja mengajarkan kita menyusun CV dengan kalimat hiperbola. Kita disuruh rajin menabung, tapi inflasi membuat tabungan seperti es batu di atas wajan panas. Kita dibilang jangan bergantung pada orang lain, tapi disuruh percaya pada sistem. Sistem apa? Entahlah.

Di sinilah menulis berperan, sebagai ruang untuk berkelakar dengan kenyataan. Bercanda dengan luka. Bercengkerama dengan absurditas. Menulis membuat kita bisa berkata, “Aku paham ini sinting, tapi setidaknya aku bisa menertawakannya.”

Dan ketika malam tiba, ketika tidak ada lagi yang bisa kita lakukan selain mencoba tidur meski pikiran masih penuh, menulis hadir seperti selimut tua yang bolong tapi hangat. Tak sempurna. Tapi cukup.

Karena menulis, bagiku, adalah cara mencintai dunia meski ia tak selalu membalas. Dan bukankah itu cinta yang paling murni? Cinta yang tak berharap kembali, tapi tetap memberi. Seperti tulisan yang kau kirim ke semesta, berharap nyasar ke hati seseorang yang tepat.

Jadi, kalau suatu hari aku berhenti menulis, itu bukan karena aku tak bahagia lagi. Tapi mungkin karena aku sudah terlalu bahagia, sampai tak perlu menulis untuk mengingatkan diri sendiri bahwa aku masih hidup. Belum gila betulan. Atau minimal, tidak lagi punya laptop.

Atau, kemungkinan lain. Aku sedang sibuk ngitung royalti.

Dan untuk yang terakhir itu, aku akan berkata, “Alhamdulillah banget.”

Tapi jangan salah sangka dulu. Aku bukan orang suci yang menulis demi kebaikan dunia semata. Aku bukan penulis jenis "literatur untuk perubahan sosial" yang kutipan-kutipannya sering dipakai untuk caption TikTok. Aku juga bukan pencerah generasi, aku bahkan masih salah eja "privilege" kalau nulis buru-buru.

Aku menulis karena kalau tidak, kepalaku bisa meledak. (Segitunya!) Seperti masak air yang kelamaan ditinggal tanpa dimatikan kompornya. Panas. Mendidih. Dan kering. Berdesakan ide, rasa, keresahan, dan entah apa lagi.

Menulis jadi seperti kentut. Buang gas. Tertahan terlalu lama, bisa bikin sesak. Dikeluarkan, rasanya lega. Dan kalau beruntung, ada orang yang berkata, “Wah, kentutmu puitis juga, ya.” Itu pujian yang aneh, tapi aku terima dengan terharu.

Ada kalanya, menulis adalah cara merayakan kekacauan. Sebab hidup, seberapa pun kita coba atur, tetap saja suka bikin kejutan. Kita rencanakan jadi sarjana – eh, malah jadi content creator. Kita targetkan nikah usia 25. Eh, malah jadi pengamat pernikahan orang lain dari balik layar HP.

Menulis jadi semacam sabuk pengaman saat hidup tiba-tiba belok tajam tanpa memberi lampu sein. Dan di tengah guncangan itu, kita menulis, agar tak sepenuhnya mental.

Aku menulis karena ingin merasa bahwa aku tidak sedang diam. Bahwa meski tubuhku tak ke mana-mana, pikiranku menjelajah. Kadang ke masa lalu. Kadang ke masa depan. Kadang ke Utopia di mana semua orang membaca dan tidak ada yang ngeluh, “Kok tulisannya panjang sekali, sih?”

Maaf, tulisan ini memang panjang. Tapi begitulah, kalau ingin hidup panjang. Dan kita harus membicarakannya sesekali, meskipun hanya untuk tertawa di sela air mata. Sedih? Bukan. Karena kelilipan.

Dan berbicara soal air mata, mari kita akui satu hal yang menyakitkan. Tapi penting. Sebab, sebagian besar dari kita menulis karena luka.

Ada luka yang kita sembunyikan di balik metafora. Ada trauma yang kita bubuhi humor agar tak terlalu kelihatan pahitnya. Kita menyamarkan kesepian menjadi kalimat yang manis. Kita menipu diri sendiri dengan harapan-harapan fiktif, hanya supaya hidup terasa sedikit bisa ditanggung.

Siapa tahu, di ujung sana, ada pembaca yang membaca lalu diam-diam berkata, “Kok aku banget, ya?”

Dan di situlah keajaiban menulis terjadi. Saat tulisan kita, yang awalnya hanya niat terapi diri, berubah menjadi pelukan bagi orang lain. Saat orang merasa ditemani, padahal kita sendiri sedang mencoba bertahan.

Lucu, ya. Mudah-mudahan lucu. Betapa, kesunyian bisa menular jadi kehangatan.

Kadang saya membayangkan, bagaimana kalau cucu saya bertanya, “Kakek nulis buat apa, sih?”

Mungkin saya akan jawab begini, “Kakek nulis karena itu satu-satunya hal yang bisa dilakukan tanpa merasa harus menang. Karena di dunia ini, hampir semua hal seperti perlombaan. Sekolah, kerja, cinta, bekerja di perusahaan. Tapi menulis? Itu satu-satunya tempat di mana kamu bisa kalah tapi tetap utuh. Bisa jatuh, tapi tetap indah.”

Dan semoga mereka paham. Kalau pun tidak, semoga mereka baca tulisan ini suatu hari nanti. Dan dia tahu bahwa kakeknya pernah menulis, bukan untuk dunia. Tapi untuk jiwanya sendiri.

Menulis juga membuat saya belajar tentang let go. Biarkan pergi.

Karena setelah tulisan selesai, ia bukan lagi milik kita. Ia akan dibaca, ditafsirkan, disalahpahami, bahkan dicibir. Huh! Copy paste. Tapi itu bagian dari perjalanan. Kita tak bisa menuntut semua pembaca mencintai tulisan kita. Seperti kita juga tidak bisa memaksa seseorang mencintai kita hanya karena kita baik dan tulus.

Kadang yang mereka cari bukan kejujuran, tapi sensasi. Bukan makna, tapi kata-kata untuk menyentil. Bullshit Ya, sudahlah. Kita tetap menulis. Karena cinta tidak selalu butuh dibalas.

Tapi sekali lagi – kalau bisa dibayar, ya... kita tetap sujud syukur, dong.

Menulis adalah bentuk setia yang paling janggal. Karena ia tak selalu memberimu hadiah langsung. Tapi ia menumbuhkanmu. Perlahan. Diam-diam. Seperti benih yang lama tak tumbuh, tapi akhirnya muncul tunas di hari kamu nyaris menyerah.

Itulah sebabnya menulis tidak pernah benar-benar bisa ditinggalkan. Bahkan saat kau lelah. Bahkan saat kau kecewa. Bahkan saat tulisanmu tak dibaca siapa-siapa. Karena menulis, seperti cinta yang dewasa, ia tidak menuntut pamrih, tapi selalu ada ketika dibutuhkan. Dan pada akhirnya, ia bukan cuma media. Ia menjadi rumah. Tempat pulang. Tempat kau bisa jadi dirimu yang paling jujur, paling utuh, paling... kamu.

Jadi, mari kita simpulkan sebelum tulisan ini semakin menjulur seperti benang kusut yang tidak ingin diurai.

Aku menulis karena aku ingin bahagia. Aku menulis karena aku ingin sembuh. Aku menulis karena aku ingin diingat. Aku menulis karena kadang, hanya itulah cara untuk tidak merasa hancur sepenuhnya. Dan kalau dari semua itu, ada yang membayar... Itu bukan hanya rezeki. Itu validasi dari semesta. Itu semacam bunga tabungan atas segala luka yang pernah dibagikan.

Sangat, sangat Alhamdulillah.

*

Jakarta, 28 Juli 2025.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

  Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).  Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...