Jumat, 01 Agustus 2025

Menulismu di Tengah Dunia yang Tak Membaca

 


Menulismu di Tengah Dunia yang Tak Membaca

Oleh: Yoss Prabu

 

Aku hanyalah pena di tangan waktu,

menulis rindu di lembaran senyummu.

Dan bukankah waktu itu sendiri adalah penyair paling pendiam?

Ia tidak pernah bersajak keras, tapi meninggalkan bekas

pada kulit, pada ingatan, dan pada orang-orang yang

tak pernah kembali.

 

Dalam ruang sunyi bernama malam,

aku belajar bahwa mencintai seseorang

adalah pekerjaan paling rumit seorang penulis.

Kita menulis puisi, tapi tidak pernah selesai.

Karena setiap senyum kekasih,

setiap tarikan napasnya,

adalah paragraf baru yang belum sempat diberi judul.

 

Dalam detak sunyi malam yang puitis,

Kutitipkan cinta dalam bahasa yang manis.

 

Mereka bilang cinta adalah metafora,

tetapi aku tahu cinta adalah naskah kasar

yang terus direvisi,

oleh jarak, oleh waktu, oleh luka,

dan oleh harapan yang kadang terlalu muluk.

 

Bahasa adalah tempat persembunyian paling jujur bagi seorang penyair.

Aku tidak menulis namamu, tapi kamu tahu

kapan kamu muncul di jeda-jeda itu.

Seperti bayang-bayang yang tidak pernah aku tolak.

Karena engkau, kasih, adalah matahari

yang menghangatkan sejuknya hati ini,

dan bulan,

yang menuntunku pulang ketika dunia terasa terlalu gaduh

untuk ditinggali.

 

Namun juga bulan di malam kelam,

Menuntunku pulang dalam pelukan malam.

 

Menulis cinta bukan perkara indah.

Ia lebih sering menyakitkan.

Karena saat kutuliskan namamu,

aku tahu:

tidak semua puisi akan dibalas,

tidak semua rasa menemukan muaranya.

Tapi tetap kutulis.

Bukan hanya kiasan yang kutitipkan,

tapi nyawa di tiap keabadian.

 

Penyair selalu berada di antara dua kutub:

keindahan dan kehampaan.

Dan dalam setiap baris cinta,

ada kematian kecil,

entah mati rasa,

entah mati harapan,

atau mati perlahan oleh kenangan yang tak juga sembuh.

 

Cintaku padamu adalah sajak abadi,

Tak lekang waktu, tak habis dikaji.

 

Aku menulis bukan untuk dunia.

Bukan untuk dikutip di seminar sastra,

atau dijadikan kutipan indah di kartu ucapan.

Aku menulis untukmu.

Karena hanya kamu

yang bisa mengerti makna dari koma yang kutaruh setelah kata “rindu”.

 

Wahai sayang, kau tahu rahasianya?

Aku menulis bukan untuk dunia.

Tetapi untukmu, pelipur duka.

 

Barangkali inilah takdirku,

menjadi penyair dari cinta yang tidak selesai,

dan kamu, pembaca diam yang tidak pernah bosan menjadi inspirasi.

Biarkan aku mengukir cinta di antara takdir,

karena hanya padamulah puisi ini bermuara.

 

Sebab hanya padamu, puisi ini bermuara,

Kekasihku, cinta takkan pernah sirna.

 

Di Jakarta yang penuh kebisingan ini,

aku tetap menulis.

Bukan untuk merayakan cinta,

tetapi untuk mengenangnya,

agar suatu hari nanti,

jika aku hilang dari hidupmu,

namaku masih bisa kau temukan

di antara huruf-huruf yang pernah mencintaimu lebih dulu

daripada siapa pun.

 

Jakarta, 26 November 2024

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

  Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).  Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...