Menulismu di Tengah Dunia yang Tak Membaca
Oleh: Yoss
Prabu
Aku
hanyalah pena di tangan waktu,
menulis
rindu di lembaran senyummu.
Dan
bukankah waktu itu sendiri adalah penyair paling pendiam?
Ia tidak
pernah bersajak keras, tapi meninggalkan bekas
pada
kulit, pada ingatan, dan pada orang-orang yang
tak
pernah kembali.
Dalam
ruang sunyi bernama malam,
aku
belajar bahwa mencintai seseorang
adalah
pekerjaan paling rumit seorang penulis.
Kita
menulis puisi, tapi tidak pernah selesai.
Karena
setiap senyum kekasih,
setiap
tarikan napasnya,
adalah
paragraf baru yang belum sempat diberi judul.
Dalam
detak sunyi malam yang puitis,
Kutitipkan
cinta dalam bahasa yang manis.
Mereka
bilang cinta adalah metafora,
tetapi
aku tahu cinta adalah naskah kasar
yang
terus direvisi,
oleh
jarak, oleh waktu, oleh luka,
dan oleh
harapan yang kadang terlalu muluk.
Bahasa
adalah tempat persembunyian paling jujur bagi seorang penyair.
Aku
tidak menulis namamu, tapi kamu tahu
kapan
kamu muncul di jeda-jeda itu.
Seperti
bayang-bayang yang tidak pernah aku tolak.
Karena
engkau, kasih, adalah matahari
yang
menghangatkan sejuknya hati ini,
dan
bulan,
yang
menuntunku pulang ketika dunia terasa terlalu gaduh
untuk
ditinggali.
Namun
juga bulan di malam kelam,
Menuntunku
pulang dalam pelukan malam.
Menulis
cinta bukan perkara indah.
Ia lebih
sering menyakitkan.
Karena
saat kutuliskan namamu,
aku
tahu:
tidak
semua puisi akan dibalas,
tidak
semua rasa menemukan muaranya.
Tapi
tetap kutulis.
Bukan
hanya kiasan yang kutitipkan,
tapi
nyawa di tiap keabadian.
Penyair
selalu berada di antara dua kutub:
keindahan
dan kehampaan.
Dan
dalam setiap baris cinta,
ada kematian
kecil,
entah
mati rasa,
entah
mati harapan,
atau
mati perlahan oleh kenangan yang tak juga sembuh.
Cintaku
padamu adalah sajak abadi,
Tak
lekang waktu, tak habis dikaji.
Aku
menulis bukan untuk dunia.
Bukan
untuk dikutip di seminar sastra,
atau
dijadikan kutipan indah di kartu ucapan.
Aku
menulis untukmu.
Karena
hanya kamu
yang
bisa mengerti makna dari koma yang kutaruh setelah kata “rindu”.
Wahai
sayang, kau tahu rahasianya?
Aku
menulis bukan untuk dunia.
Tetapi
untukmu, pelipur duka.
Barangkali
inilah takdirku,
menjadi
penyair dari cinta yang tidak selesai,
dan
kamu, pembaca diam yang tidak pernah bosan menjadi inspirasi.
Biarkan
aku mengukir cinta di antara takdir,
karena
hanya padamulah puisi ini bermuara.
Sebab
hanya padamu, puisi ini bermuara,
Kekasihku,
cinta takkan pernah sirna.
Di
Jakarta yang penuh kebisingan ini,
aku
tetap menulis.
Bukan
untuk merayakan cinta,
tetapi
untuk mengenangnya,
agar
suatu hari nanti,
jika aku
hilang dari hidupmu,
namaku
masih bisa kau temukan
di
antara huruf-huruf yang pernah mencintaimu lebih dulu
daripada
siapa pun.
Jakarta,
26 November 2024

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.