Tampilkan postingan dengan label aneka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aneka. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 September 2025

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

 

Hanya ilistrasi. (Gambar: AI). 

Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di kasur yang masih penuh kutu. Nyaman sebentar, gatal lagi kemudian. Reshuffle seharusnya bukan kosmetik, tapi operasi. Bukan sekadar rias wajah, tapi cuci darah. Kalau tidak, rakyat hanya diberi ilusi bahwa sesuatu berubah, padahal sebenarnya cuma ditukar nama di absen rapat.

*

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

Oleh: Yoss Prabu

 

Ada yang bilang reshuffle itu seperti putus cinta. Awalnya manis, penuh janji, tapi lama-lama jadi hambar. Bikin sakit kepala, lalu akhirnya terpaksa bilang, “Maaf, ini bukan salahmu, ini salah kinerjamu.” Bedanya, kalau pacar bisa balas dendam dengan cara update status galau di medsos, menteri yang dicopot biasanya balas dendam dengan mendirikan partai baru.

Kenapa kabinet harus di-reshuffle? Karena banyak kursi diisi bukan oleh orang yang bisa kerja, tapi oleh orang yang bisa lobi. Bayangkan, sebuah orkestra. Sang konduktor ingin memainkan simfoni Beethoven, tapi yang pegang biola malah sibuk scrolling TikTok, yang pegang trompet ngotot main dangdut, sementara yang megang drum malah sibuk ngetik status quotes motivasi. Mau jadi musik apa negara ini?

Reshuffle adalah bentuk cinta presiden kepada rakyat. Ibarat suami yang sadar istrinya mulai capek mengurus rumah, dia harus turun tangan, mencari pembantu baru. Kalau tidak, rumah tangga bisa bubar. Rakyat itu pasangan abadi kekuasaan. Dan reshuffle itu seperti bunga mawar yang dikirim diam-diam ke meja rakyat, “Tenang, Sayang. Aku masih peduli.” Meski tentu saja, banyak rakyat yang sudah kebal dengan rayuan gombal macam ini.

Tapi jangan salah. Ada sisi melankolis di sini. Setiap kali reshuffle diumumkan, wajah-wajah tegang menteri muncul di layar kaca. Mereka senyum kecut, pura-pura bilang, “Saya siap ditempatkan di mana saja.” Padahal dalam hati berbisik getir, “Asal jangan di luar kabinet, ya Tuhan.” Di balik dasi dan jas yang licin itu, ada rasa takut kehilangan jabatan. Takut kembali jadi orang biasa, takut jadi alumni kekuasaan yang hanya dipanggil di acara reuni.

Secara filosofis, reshuffle adalah pengingat bahwa kekuasaan itu fana. Tidak ada kursi yang kekal. Bahkan kursi presiden pun punya tanggal kadaluarsa, apalagi kursi menteri. Hidup adalah panggung sementara, jabatan hanyalah properti pentas. Hari ini kau duduk gagah di meja rapat, besok bisa jadi hanya penonton yang nyinyir. Dan bukankah itu keadilan semesta? Semua orang pada akhirnya di-reshuffle oleh waktu.

Namun mari kita jujur, reshuffle juga penuh drama. Media sibuk menerka siapa yang bakal tergeser, siapa yang naik. Seperti sinetron, “Akankah si Menteri X bertahan, ataukah digantikan oleh tokoh misterius yang tiba-tiba muncul dari balik tirai partai?” Rakyat pun jadi penonton setia, menunggu ending dengan popcorn politik. Bedanya, dalam sinetron biasanya ada pahlawan yang menolong. Di politik, kadang yang muncul justru villain baru dengan senyum manis.

Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di kasur yang masih penuh kutu. Nyaman sebentar, gatal lagi kemudian. Reshuffle seharusnya bukan kosmetik, tapi operasi. Bukan sekadar rias wajah, tapi cuci darah. Kalau tidak, rakyat hanya diberi ilusi bahwa sesuatu berubah, padahal sebenarnya cuma ditukar nama di absen rapat.

Dan humor terbaik selalu lahir dari ironi. Rakyat yang tiap hari susah bayar beras justru jadi penonton setia drama reshuffle, padahal dampaknya entah kapan terasa di dapur mereka. Mereka menonton dengan komentar khas warung kopi. “Yang penting jangan copot menteri favorit gue, soalnya kalau ngomong selalu lucu.”

Maka, kenapa kabinet harus di-reshuffle? Karena negara ini butuh lebih dari sekadar aktor yang jago berpose di depan kamera. Butuh pekerja, bukan sekadar penghibur. Butuh pemimpin kecil yang bisa kerja di level kementerian, bukan sekadar penyalur ambisi partai.

Pada akhirnya, reshuffle adalah bentuk cinta yang keras kepala. Seperti pasangan yang meski berkali-kali disakiti, tetap berharap, “Mungkin kalau ganti gaya rambut, dia akan lebih baik.” Rakyat pun masih percaya – atau pura-pura percaya – bahwa tiap reshuffle adalah kesempatan baru.

Apakah benar akan ada perubahan? Itu urusan lain. Tapi kalau tidak dicoba, negara ini bisa jadi rumah tangga yang berantakan: suami sibuk kampanye, istri sibuk berutang, anak-anak bingung mau makan apa. Dan kita, rakyat, hanya bisa berdoa, semoga reshuffle kali ini bukan sekadar drama, tapi benar-benar babak baru. Lalu kenapa kabinet harus di-reshuffle? Karena terlalu banyak menteri yang lebih sibuk jadi seleb medsos daripada bekerja. Ada yang hobinya bikin konten video ketawa-ketiwi, padahal rakyatnya nangis di dapur karena harga beras loncat lebih tinggi dari harga tiket Coldplay. Ada pula yang sok jadi influencer ekonomi. Tiap kali bicara, grafik di layar indah, tapi di dompet rakyat angkanya minus.

Reshuffle itu sebetulnya bukan sekadar kebutuhan, tapi darurat. Negara ini sudah seperti rumah bocor yang ditambal dengan kalender bekas. Menteri-menteri tertentu kerja seperti tukang cat. Poles permukaan biar kinclong, padahal tembok di dalamnya rapuh, siap rubuh. Dan yang lebih parah, ada yang bahkan “tidak mengerti pekerjaannya sendiri”. Menteri pertanian bingung soal pupuk, menteri pendidikan sibuk jualan jargon, menteri kesehatan sibuk bikin statement yang lebih memusingkan daripada penyakitnya.

Ada pula sisi mesranya, sih. Begini. Bakyat itu ibarat pasangan setia yang menunggu janji manis ditepati. Tapi apa yang terjadi? Presiden malah memperlakukan rakyat seperti selingkuhan murahan, dikasih janji manis tiap kali mau reshuffle, tapi setelah itu tetap balik ke pelukan partai politik. Katanya, “Demi kamu, aku akan pilih yang terbaik.” Eh, begitu diumumkan, yang masuk justru titipan sana-sini.

Jelas terasa, setiap kali wajah-wajah menteri nongol di berita menjelang reshuffle. Mereka pura-pura tegar, bilang siap diganti, padahal dalam hati ketakutan seperti anak magang yang baru sadar dia tidak bisa kerja tapi sudah terlanjur dipajang di depan bos. Ada yang sampai main lobi, ada yang sowan ke istana, ada pula yang mendadak rajin tampil di televisi, berharap rakyat ikut kampanye. “Jangan copot dia, kasihan, dia kan lucu dan imut banget.”

Tapi mari kita jujur, reshuffle seringkali cuma drama murahan. Bedanya dengan sinetron, di sini aktornya lebih mahal jasnya, lebih mewah jam tangannya, tapi lebih buruk aktingnya. Rakyat menonton, berharap ada perubahan. Tapi yang terjadi? Pindah kursi, ganti nama, tapi penyakit tetap sama, “korup, malas, dan sibuk pencitraan.”

Reshuffle itu mengingatkan kita bahwa jabatan hanyalah titipan. Tapi sayangnya, banyak pejabat yang memperlakukannya seperti harta pusaka. Mereka rela menggadaikan harga diri, akal sehat, bahkan negara, demi bertahan di kursi empuk itu. Mereka lupa, kursi menteri bukan warisan kakek mereka, melainkan amanah dari rakyat. Dan amanah, kalau dipelihara dengan kebohongan, akhirnya berubah jadi kutukan.

Rakyat sudah apatis. Mereka bilang, “Mau reshuffle atau tidak, hidup kami tetap susah.” Sama seperti pasangan yang sudah sering dibohongi, lama-lama jadi ketawa sendiri tiap kali dengar janji baru. “Katanya mau turunkan harga, katanya mau bereskan impor, katanya mau revolusi mental.” Semua tinggal katanya.

Maka, kenapa kabinet harus di-reshuffle? Karena banyak menteri yang lebih layak duduk di “kursi cadangan” ketimbang kursi kabinet. Karena kita butuh pejabat yang bisa kerja, bukan pejabat yang hanya bisa tanda tangan kontrak dengan donor politik. Karena negara ini terlalu besar untuk dijadikan ajang internship politik buat anak-anak manja partai.

Dan yang paling penting. Reshuffle adalah cermin, apakah presiden benar-benar berpihak pada rakyat, atau hanya berpihak pada partai dan oligarki. Kalau reshuffle cuma jadi operasi plastik kosmetik. Hasilnya tetap sama. Wajah kabinet mulus, tapi penyakit dalamnya tetap membusuk.

Kalau reshuffle gagal lagi, jangan kaget kalau rakyat suatu hari nanti bilang. “Sudahlah, gantian saja, bukan cuma menterinya yang direshuffle, tapi presidennya sekalian.” Karena cinta rakyat juga ada batasnya. Dan kalau rakyat sudah putus cinta, siap-siap saja. Cerai politik itu lebih pahit daripada cerai rumah tangga.

*

Jakarta, 11 September 2025.

Jumat, 05 September 2025

Monolog Seorang Penyapu Jalanan

 

Hanya ilustrasi. (Gambar: AI). 

Monolog Seorang Penyapu Jalanan

Oleh: Yoss Prabu

 

Aku bukan orator. Suaraku tak pernah menggema lewat pengeras suara, apalagi ditulis di spanduk. Aku cuma penyapu jalanan. Si penjual sapu tangan dari aspal kota. Tapi anehnya, setiap kali mahasiswa berdemo, panggungku lebih luas dari mereka: seluruh jalan raya.

Lihatlah ini. Kertas selebaran berserakan seperti daun kering yang berguguran, botol air mineral beterbangan seperti peluru plastik, dan batu-batu berceceran bagai kenangan masa lalu yang tak pernah dibereskan. Demo itu katanya demi rakyat. Pertanyaannya, rakyat yang mana? Aku rakyat, tapi setiap kali mereka selesai berteriak, aku yang jadi korban patah pinggang karena harus menyapu jejak revolusi.

Ada yang bilang, “Bang, itu kan konsekuensi demokrasi.”

Lah, kalau demokrasi identik dengan sampah, kenapa aku tidak sekalian jadi menteri lingkungan hidup saja? Toh aku lebih paham cara mengangkat sisa-sisa amarah ketimbang mereka yang hanya jago bikin janji.

Lucunya, para mahasiswa itu romantis sekali dalam berteriak. Slogannya puitis, nadanya heroik, wajahnya penuh gairah masa muda. Tapi begitu pulang, mereka tinggalkan bekas seperti mantan yang tak tahu diri. Ingatan pahit, luka hati, dan tentu saja, botol plastik bekas air mineral yang entah kapan akan terurai.

Aku menyapu sambil mendesah panjang. Kadang sapu lidi ini terasa seperti biola tua. Setiap gesekan lidi ke aspal, bunyinya serupa musik sedih. Ah, barangkali aku terlalu melankolis. Tapi bukankah setiap pekerjaan kuli selalu punya puisi terselip? Mereka menulis sajak di laptop, aku menuliskannya dengan garis-garis sapu di jalanan. Bedanya, puisiku hilang begitu kendaraan pertama lewat.

Tapi jangan kira aku cuma mengeluh. Ada juga lucunya. Pernah sekali, usai demo, aku menemukan sepatu kiri tanpa pasangannya. Sepatu kiri, sendirian di tengah aspal. Aku bayangkan si pemilik pulang dengan kaki kanan bersepatu gagah, kaki kiri nyeker malu-malu. Mungkin itulah ironi revolusi. Mereka bicara soal keadilan sosial, tapi bahkan sepatunya pun tidak adil. Satunya hilang, satunya bertahan.

Ada pula spanduk berisi kata-kata lantang, “Hapus Outsourcing! Hancurkan Penindasan!” Aku angkat spanduk itu, lalu aku pakai untuk melap keringat. Rasanya pas sekali. Penindasan mungkin jauh di istana, tapi keringatku nyata menetes di ubun-ubun.

Meski begitu, jangan salah sangka. Di balik keluhanku, aku diam-diam jatuh cinta pada kota yang berantakan ini. Jalanan penuh sampah sekalipun, tetaplah rumahku. Aspal hitam ini seperti kekasih tua yang keras, kaku, retak-retak, tapi selalu setia menunggu langkahku tiap pagi. Kadang aku berpikir, barangkali cinta sejati memang begitu. Tak pernah indah di mata orang lain, tapi aku rela setia melakukannya setiap hari. Dan bukankah hidup ini pada dasarnya kerja menyapu yang tak pernah selesai? Kita bersihkan hari ini, besok kotor lagi. Kita perbaiki hati, besok patah lagi. Kita jatuh cinta, lalu kecewa, lalu jatuh cinta lagi. Seolah-olah hidup hanyalah putaran tak berujung. Membersihkan, kotor, membersihkan lagi. Mungkin Tuhan memang sedang bercanda dengan cara itu.

Sarkastisnya, mereka yang berteriak di jalan dengan gagah seringkali kelak duduk di kursi empuk, melupakan idealisme. Sedang aku, penyapu jalan, tetap di sini. Setia bersama sampah yang jujur apa adanya. Sampah tidak pernah munafik. Ia busuk ya busuk, bau ya bau. Tidak seperti politisi yang baunya disamarkan parfum mahal.

Kadang aku iri pada mahasiswa yang bisa jatuh cinta sambil berteriak revolusi. Aku? Paling banter jatuh cinta pada pagi yang dingin, ketika sinar matahari pelan-pelan menghangatkan tubuhku. Atau pada bayangan samar seorang perempuan yang dulu lewat sambil tersenyum, entah siapa namanya, entah di mana sekarang. Ia mungkin sudah lupa padaku, tapi aku masih ingat caranya menoleh. Kenangan itu seperti plastik kresek hitam-ringan, remeh, tapi selalu menyangkut di ranting pikiranku.

Jadi kalau kau tanya aku, apa arti demo? Demo itu seperti pesta cinta yang ditinggalkan tamu dalam keadaan berantakan. Mereka pergi dengan dada membara, aku tinggal dengan sapu dan dengkul pegal. Tapi tak apa. Karena di balik keluhanku, aku belajar satu hal, revolusi sejati bukan soal teriak di jalan, melainkan berani menyapu sisa-sisa keributan dengan sabar.

Dan aku, penyapu jalanan, mungkin satu-satunya revolusioner sejati yang masih setia setiap pagi.

*

Jakarta, 05 September 2025.

 

Senin, 01 September 2025

Air Mata yang Tak Pernah Masuk Risalah Sidang

 

Hanya ilustrasi. (Gambar: AI). 

DPR didemo lagi. Rakyat teriak soal harga bahan pokok. Mereka rapat soal proyek yang bisa dibagi. Rakyat menjerit soal anak-anak putus sekolah, mereka sibuk debat siapa yang pantas menjadi ketua panitia. Ironis, bukan? Bangsa ini punya teater termegah, tapi lakonnya selalu sama. Komedi busuk dengan tiket termahal.

 

Air Mata yang Tak Pernah Masuk Risalah Sidang

Oleh: Yoss Prabu

 

Ada suara yang pecah di depan pagar tinggi itu. Suara rakyat yang berderai, yang menggeram, yang seakan tak pernah benar-benar didengar. Gedung megah bercat putih berdiri kokoh, dijaga aparat dengan tameng baja, seakan lebih layak melindungi kursi empuk daripada hati rakyat yang compang-camping.

Hari itu, DPR kembali didemo. Bukan pertama, bukan kedua, entah sudah keberapa kalinya. Tetapi setiap kali rakyat datang dengan luka di dada, setiap kali pula gedung itu hanya menutup mata. Orang-orang berteriak sampai serak, memegang poster lusuh bertuliskan harapan yang patah, sementara dari dalam sana – para wakil yang katanya “rakyat titipkan suara” – sibuk dengan agenda mereka sendiri.

Mengapa? Karena janji sudah jadi barang dagangan. Karena suara rakyat dianggap tiket masuk, bukan amanah. Karena kursi yang diduduki lebih dipandang sebagai trofi kekuasaan, bukannya tanggung jawab.

Dan pada akhirnya, partai-partai pun mulai menarik kadernya. Satu per satu, ada yang diminta mundur, ada yang “dicabut mandatnya.” Mereka bilang ini demi meredam amarah rakyat. Mereka bilang ini demi menyelamatkan nama baik partai. Tapi siapa yang sebenarnya mereka selamatkan? Nama baik partai, atau hati rakyat yang remuk?

Di depan pagar itu, ada seorang bapak tua. Rambutnya memutih, kulitnya menggelap terbakar matahari. Ia mengangkat poster dengan tangan gemetar, “Anakku mati di jalan karena kebijakanmu.” Suaranya pecah, tubuhnya ringkih. Ia menangis bukan karena kehilangan kursi, tapi karena kehilangan darah daging. Bagi dia, DPR bukan lagi rumah harapan, melainkan gedung dingin tempat keputusan-keputusan yang merampas masa depan bangsa.

Ada pula seorang ibu yang menggenggam foto anaknya. Mahasiswa yang dulu rajin turun ke jalan, kini hanya tersisa dalam bingkai. “Kalian bilang, kalian wakil rakyat. Rakyat yang mana? Karena anakku mati di jalanan menuntut kalian, bukan karena musuh asing, tapi karena kalian sendiri.” Suaranya parau, menusuk lebih tajam daripada batu yang dilemparkan ke pagar.

Mereka yang ditarik pulang dari kursi empuk DPR mungkin merasa malu, mungkin juga tidak. Tetapi rakyat hanya melihat. Darah sudah tumpah, air mata sudah terlalu membanjir. Dan penarikan itu hanyalah tambal sulam di kain yang sudah lama robek.

DPR didemo bukan karena rakyat benci tanpa sebab. Mereka didemo karena janji tidak ditepati, karena suara rakyat dianggap kentut. Karena keputusan yang lahir di ruangan ber-AC itu tidak pernah sejalan dengan jeritan di kolong-kolong jalan layang ibu kota. Plus lorong-lorong kampung.

Setiap kali rakyat datang, aparat berdiri tegak, pagar makin tinggi, senjata makin lengkap. Seakan rakyat adalah musuh yang mesti ditundukkan, padahal bukankah rakyatlah yang membayar setiap bata gedung itu, setiap kursi empuk yang diduduki?

Ada seorang mahasiswa yang menulis dengan spidol hitam di karton. “Kami hanya ingin didengar.” Kalimat sederhana, tapi entah mengapa tak pernah bisa dipahami dari balik tembok kokoh itu.

Dan di balik semua hiruk-pikuk, ada getir yang membekas. Bahwa demokrasi yang dulu diperjuangkan dengan darah, kini terasa hambar. Bahwa kursi DPR yang katanya rumah rakyat, kini lebih mirip menara gading. Bahwa wakil rakyat sering lupa, mereka hanyalah wakil. Bukan penguasa.

Maka partai-partai pun mulai sibuk menarik kader, membersihkan citra, menambal reputasi. Tapi bagi rakyat, itu semua sudah terlambat. Mereka sudah kadung kecewa, kadung percaya bahwa suara hanyalah komoditas lima tahunan.

Di jalanan itu, di bawah terik matahari dan gas air mata, rakyat masih berdiri. Mereka bukan ingin menggulingkan, mereka hanya ingin diingat. Bahwa setiap kebijakan adalah soal hidup-mati, bukan sekadar angka di kertas.

Ada tangisan, ada darah, ada pelukan di antara sesama yang luka. Mereka sadar, mungkin hari ini lagi-lagi tak didengar. Tapi mereka tetap datang, karena kalau diam, luka itu akan membusuk.

Dan gedung itu masih berdiri, megah, dingin, membisu. Sementara di luar pagar, suara rakyat terus pecah, seperti doa yang terkatung-katung di langit kelabu.

Ada hari ketika jalanan penuh suara yang pecah seperti kaca dilemparkan ke lantai. Suara rakyat. Serak, parau, teriris. Mereka berdiri di depan pagar tinggi, gedung yang dulu dinamai “rumah rakyat, tapi kini terasa seperti benteng dingin yang melindungi kursi, bukan nurani”. DPR kembali didemo. Seakan ini sudah jadi ritus tahunan. Tapi bukan tanpa alasan. Rakyat datang karena janji yang pernah dilontarkan telah membusuk di udara, karena harapan yang dulu ditanam malah diinjak-injak oleh mereka yang mengaku “wakil”.

Di tengah kerumunan itu, ada seorang bapak tua. Tangannya gemetar memegang poster, “Anakku pulang tinggal nama, karena keputusan kalian.” Ia tak menjerit. Ia hanya berdiri, tubuhnya rapuh, matanya basah. Tangisnya tidak keras, tapi justru karena lirih, ia menusuk hati siapa pun yang melihat.

Di sampingnya, seorang ibu memeluk foto anaknya yang sudah tiada. Mahasiswa yang dulu percaya pada suara rakyat, kini hanya tergantung di dinding rumah. Ia berkata dengan suara parau,

DPR diguncang, bukan oleh batu atau bom, tapi oleh tangisan. Dan partai-partai mulai menarik kadernya dari kursi yang empuk itu. Ada yang dicabut mandatnya, ada yang ditarik pulang. Katanya demi meredam amarah rakyat, demi menyelamatkan nama baik. Tapi siapa yang mereka selamatkan? Nama partai, atau hati rakyat yang sudah lama retak?

Penarikan itu terasa seperti tambal sulam di kain yang robek parah. Seperti menutup luka bernanah dengan kain putih, padahal bau busuknya tetap menyebar. Rakyat sudah terlalu sering dikhianati untuk bisa percaya pada sekadar “penarikan kader.”

Rakyat bukan ingin menggulingkan. Mereka hanya ingin diingat. Bahwa setiap kebijakan bukan sekadar angka di kertas, tapi soal hidup-mati. Bahwa harga beras bukan statistik, melainkan isi piring anak-anak mereka. Bahwa korupsi bukan sekadar kasus, melainkan sebab dari lapar yang menggigil di banyak rumah.

Mereka berdiri di jalan, berteriak, menangis, merangkul satu sama lain dalam luka. Mereka tahu, mungkin lagi-lagi suara itu akan dibungkam, dihalau dengan gas air mata, dijawab dengan tameng baja. Tapi mereka tetap datang, sebab diam hanyalah membuat luka kian membusuk lebih dalam.

Dan gedung itu masih berdiri, megah, kokoh, tapi bisu. Pagar masih menjulang, seakan membentengi segelintir orang dari lautan luka di luar sana.

Di langit yang kelabu, suara rakyat terbang seperti doa yang tak pernah sampai. Mereka tahu, harapan mungkin tak dijawab hari ini. Tapi mereka juga tahu, mereka tak bisa berhenti mengetuk, meski pintu itu selalu terkunci.

Maka tangisan di depan DPR bukan sekadar protes. Ia adalah ratapan panjang bangsa yang merasa ditinggalkan. Ia adalah air mata yang jatuh bukan hanya karena kecewa, tapi karena cinta. Cinta pada negeri yang perlahan diperlakukan asing oleh anak-anaknya sendiri.

Dan di balik setiap teriakan, ada kalimat lirih yang seakan berbisik ke dalam hati kita semua. “Apakah wakil rakyat pernah benar-benar mengingat rakyat, atau hanya mengingat kursinya?”

Lucu, ya. Gedung yang megah itu katanya “rumah rakyat. Tapi kok setiap kali rakyat datang, pintunya dikunci rapat, pagarnya dipasang kawat berduri, aparatnya berjajar seperti siap perang. Seakan-akan rakyat bukan tuan rumah, melainkan maling yang ingin merampok kursi empuk mereka.

DPR didemo lagi. Ya, wajar. Kalau bayi menangis tiap lapar, itu manusiawi. Kalau rakyat berteriak tiap perut kosong, itu super manusiawi. Yang aneh justru para wakilnya, telinga mereka seolah hanya mendengar bunyi tepuk tangan partai dan bisikan penguasa.

Rakyat teriak soal harga bahan pokok, mereka rapat soal proyek yang bisa dibagi. Rakyat menjerit soal anak-anak putus sekolah, mereka sibuk debat siapa yang pantas menjadi ketua panitia. Ironis, bukan? Bangsa ini punya teater termegah, tapi lakonnya selalu sama. Komedi busuk dengan tiket termahal.

Dan ketika amarah rakyat tak terbendung, partai buru-buru menarik kadernya dari kursi DPR. Katanya demi meredam kemarahan publik. Katanya, demi menyelamatkan marwah partai. Oh, betapa mulianya. Padahal semua orang tahu, yang mereka selamatkan bukan marwah, tapi citra jelang pemilu. Kader ditarik bukan karena salah, tapi karena sudah terlalu kentara.

Rakyat dipaksa menonton sandiwara murahan. Kader ditarik, lalu partai pura-pura suci. Padahal besok lusa, wajah baru akan duduk di kursi yang sama, melanjutkan kebiasaan lama. Sama saja. Janji di awal manis seperti madu, di tengah basi seperti nasi semalam, dan di ujung pahit seperti kopi kurang gula.

Seorang bapak di depan pagar, tangannya gemetar menulis dengan spidol di karton, “ANAKKU MATI KARENA KEBAJIKANMU”. Tapi tulisan itu tidak pernah dibacakan di sidang paripurna. Yang dibacakan hanya usulan anggaran perjalanan dinas.

Ada seorang ibu berteriak, “Wakil rakyat? Rakyat yang mana? Aku ini rakyat juga, tapi suaraku tak pernah sampai telinga kalian!” Namun di gedung itu, yang terdengar hanyalah bunyi palu sidang, tanda sepakat dalam bisu yang menyakitkan.

Rakyat menangis di jalanan, tapi tangisan itu tidak pernah masuk risalah sidang. Yang masuk hanyalah catatan siapa hadir, siapa izin, siapa absen. Seolah air mata jutaan orang lebih tak berarti daripada tanda tangan absen seorang anggota.

Dan partai-partai itu? Mereka seperti dokter gadungan. Memberi obat penenang padahal penyakitnya sudah kanker stadium akhir. Menarik kader hanyalah kosmetik, bukan penyembuhan. Rakyat tahu itu. Tapi apa daya? Suara rakyat selalu lebih pelan daripada bisikan amplop di ruang lobi.

Kalau ditanya kenapa DPR selalu didemo, jawabannya sederhana. Karena rakyat masih punya harapan, walau kecil. Orang tak akan marah kalau sudah benar-benar putus asa. Demonstrasi adalah tanda cinta terakhir. Cinta yang kecewa, cinta yang patah hati, cinta yang terkhianati. Tapi cinta juga bisa mati. Dan ketika cinta rakyat mati, jangan salahkan bila pagar itu kelak tak cukup tinggi, aparat itu tak cukup banyak, dan kursi empuk itu tak cukup kokoh untuk menahan amarah yang meluap.

Untuk sementara, partai boleh menarik kadernya, boleh cuci tangan dengan sabun retorika. Tapi noda yang sudah menghitam di hati rakyat tak akan hilang. Tak akan pernah. Luka yang ditorehkan oleh janji-janji palsu itu terlalu dalam untuk bisa diseka oleh konferensi pers.

Lucu, ya. Gedung itu disebut Dewan Perwakilan Rakyat. Tapi setiap kali rakyat datang, mereka dihalau. Setiap kali rakyat bicara, mereka dibungkam. Setiap kali rakyat menangis, mereka menutup telinga. Jadi jangan salahkan rakyat bila suatu hari nanti mereka bertanya dengan suara getir.

“Kalian sebenarnya wakil rakyat, atau wakil kursi?”

*

Jakarta, 01 September 2025.

Sabtu, 16 Agustus 2025

80 Tahun Indonesia Merdeka: Tua-tua Republik, Banyak Cerita

 

Hanya Ilustrasi. (Gambar: AI). 

Gerundelan Bang Yoss

 Ada romantika tersendiri di usia 80. Seperti pasangan lansia yang tetap bergandengan tangan walau berjalan pelan. Republik ini sudah tua, tapi daya pikatnya tak luntur. Ia tetap cantik di mata para pemudanya, tetap memesona meski dipoles dengan bedak pembangunan yang kadang terlalu tebal.

*

 80 Tahun Indonesia Merdeka: Tua-tua Republik, Banyak Cerita

Oleh: Yoss Prabu

 

Tahun ini, Republik Indonesia genap berusia 80 tahun. Angka bulat yang tidak bisa disepelekan. Delapan dekade bukan cuma urusan usia, itu adalah pertanda ketahanan. Bahwa negeri ini – meski sering oleng seperti warung kopi di pinggir rel kereta – masih berdiri tegak, entah karena semangat rakyatnya, atau karena sudah terlalu lelah untuk jatuh.

Angka 80 itu sendiri unik. Bukan angka muda yang penuh gejolak hormon, tapi juga belum terlalu renta untuk tidur jam enam sore. Delapan puluh adalah masa ketika seseorang – atau suatu bangsa – sudah cukup tua untuk disebut bijak, tapi tetap cukup waras untuk menyadari bahwa ia masih bisa belajar dari kesalahan.

Dalam hidup manusia, umur 80 adalah usia pensiun plus dua dekade bonus. Tapi dalam hidup sebuah bangsa? Ini semacam masa kontemplasi. Saatnya bertanya, sudah sejauh mana kita merdeka?

Merdeka. Dari apa?

Pertanyaan ini sering muncul tiap Agustus. Merdeka dari penjajahan? Sudah. Merdeka dari kemiskinan? Belum. Merdeka dari janji kampanye? Jelas belum. Merdeka dari grup WhatsApp keluarga yang isinya link hoaks dan video politik tidak bermutu? Kita semua masih berjuang.

Delapan puluh tahun merdeka, tapi rakyatnya masih disuruh sabar. Katanya, pembangunan butuh waktu. Masalahnya, waktu siapa? Kalau waktu pejabat, mungkin dua tahun cukup untuk pindah ibukota. Tapi kalau waktu rakyat, kadang dua generasi pun belum cukup untuk dapat air bersih.

Di usia 80 ini, kita mungkin sudah mulai mempraktikkan bentuk cinta tertinggi, sarkasme. Karena hanya bangsa yang mencintai negaranya dengan serius yang bisa tertawa getir sambil membayar pajak tinggi dan tetap antre beras subsidi.

Satu sisi kita cinta negeri ini dengan segala drama sinetronnya. Di sisi lain, kita juga tak tahan melihat korupsi berjamaah, proyek mangkrak, dan pidato kosong yang diulang-ulang tiap perayaan. Tapi toh kita tetap berdiri saat Indonesia Raya dikumandangkan, dengan dada penuh haru, dan kepala penuh tagihan.

Cinta pada tanah air memang mirip dengan pernikahan tua. Sudah tahu pasangan kita keras kepala, boros, dan kadang menyebalkan, tapi tetap saja kita setia. Mengeluh, ya. Tapi meninggalkan? Tidak.

Ada romantika tersendiri di usia 80. Seperti pasangan lansia yang tetap bergandengan tangan walau berjalan pelan. Republik ini sudah tua, tapi daya pikatnya tak luntur. Ia tetap cantik di mata para pemudanya, tetap memesona meski dipoles dengan bedak pembangunan yang kadang terlalu tebal.

Angka 80 – dalam bentuknya yang bulat – mengingatkan kita pada onde-onde. Camilan rakyat kecil, sederhana tapi mengenyangkan. Isinya kacang hijau, luarnya biji wijen. Dalamnya manis, luarnya penuh tekstur. Sama seperti Republik ini, manis dalam cita-cita, tapi bertekstur dalam pelaksanaan.

Usia 80 adalah tentang merenung. Bahwa kemerdekaan bukan hanya soal mengibarkan bendera, tapi tentang apakah setiap orang punya alasan untuk tersenyum saat menyanyikan lagu kebangsaan.

Tak perlu pidato berapi-api. Cukup dengarkan suara nenekmu yang bercerita tentang masa kecilnya mengibar bendera dari sobekan kain. Dengarkan tawa anak-anak yang berlarian di lomba makan kerupuk. Dengarkan sunyi petani yang tetap menanam, walau harga panen tak pasti.

Karena di usia 80 ini, kita tak lagi butuh janji basi, kita butuh janji yang ditepati. Tak lagi perlu simbol, tapi substansi. Bukan hanya merdeka dalam spanduk, tapi juga merdeka di meja makan dan lembar rapor anak-anak desa.

Indonesia kini 80. Usia yang tak muda, tapi juga belum terlalu uzur untuk berhenti bermimpi. Seperti orang tua yang masih gemar bercerita, negeri ini masih ingin didengar.

 

Selamat ulang tahun, Republik.

Kami mencintaimu, dengan seluruh ketidaksempurnaanmu.

 

Dan seperti cinta sejati, kami tetap tinggal,

meski kadang kecewa.

 

Merdeka.

*

Jakarta. 10 Agustus 2025.

Kamis, 14 Agustus 2025

Delapan Puluh: Cinta yang Bertahan di Ujung Usia Republik

 

Hanya ilustrasi. (Gambar: AI). 

Puisi

 

Delapan Puluh: Cinta yang Bertahan di Ujung Usia Republik

Oleh: Yoss Prabu

 

Delapan puluh tahun itu bukan usia, tapi semacam mantra

Yang dibaca dengan khidmat oleh kakek-kakek yang giginya tinggal tiga

dan oleh nenek-nenek yang masih semangat karaoke lagu  “Halo-Halo Bandung” sambil menata ulang bedak di keriputnya.

 

Usia 80 bagi Republik ini bukan sekadar angka.

Ia adalah seutas benang merah yang menjahit luka, tawa, janji, pengkhianatan, dan cinta

Delapan puluh itu, seperti pasangan tua yang masih saling menyuapi bubur

meski tangan sudah gemetar dan lidah sering salah sebut nama.

 

“Kau tahu, Nak,” kata kakekku suatu pagi, “waktu Indonesia baru umur delapan tahun, aku juga baru belajar menyukai perempuan.”

Si Cucu tertawa.

“Sekarang, Indonesia sudah 80, dan aku masih menyukai perempuan yang sama. Nenekmu.”

Nenek tertawa sinis, “Tapi kau juga masih menyukai politik. Itu yang bikin darahku naik.”

 

80 tahun Indonesia merdeka

Tapi merdeka dari apa? Dari penjajah? Ya, katanya

Tapi apakah kita sudah merdeka dari kemiskinan?

Dari kebodohan?

Dari gosip tetangga?

Dari undangan grup WA alumni yang isinya cuma jualan skincare dan hoaks tentang chip di vaksin?

 

Sinis? Tentu

Tapi bukankah cinta juga begitu?

Kita bilang, “Aku sayang kamu,” sambil menatap lesu,

“Tapi kamu tuh kebanyakan drama, tahu gak?” Jawabnya ketus.

 

Ada yang bilang, angka 80 itu bulat dan bijaksana

Seperti kue onde-onde yang diisi kacang hijau dan dilapisi kenangan masa kecil

Republik ini, di usia 80, seperti nenek-nenek yang tahu banyak tapi malas ngomong

Karena terlalu sering suaranya diabaikan

 

“Dulu,” kata nenek, “kami menari di lapangan dengan telanjang kaki,

tanpa kamera, tanpa likes, tanpa viral

Sekarang anak-anak menari pakai Tiktok,

tapi lupa makna tariannya.”

 

Mengasyikan? Tentu

Karena Republik ini masih setia berdiri walau lututnya yang sakit

Masih percaya pada pemilu, walau tiap lima tahun sering dikecewakan

Masih memasang bendera di depan rumah meski genteng bocor

Masih menyanyikan Indonesia Raya meski suara fals dan dada sesak karena cicilan

 

Di usia 80, Republik ini adalah rumah tua yang penuh lukisan

Beberapa warnanya luntur, tapi masih terlihat cantik

Kadang ada kebocoran, kadang listrik padam

tapi tetap tempat pulang

Tempat di mana bau masakan ibu dan suara ayah bersatu jadi simfoni

 

Delapan puluh tahun kemerdekaan adalah puisi panjang

yang ditulis oleh darah dan air mata

oleh asmara dan amarah

oleh mereka yang percaya

bahwa kemerdekaan bukan hanya soal mengusir penjajah

tapi soal berdamai dengan sesama

 

Dengan tetangga yang beda pilihan politik

Dengan saudara yang bawa paham beda

Dengan diri sendiri yang sering bingung,

aku ini warga negara atau hanya penonton konser kampanye?

 

Tapi aku percaya

Republik ini kuat karena ia tahu cara jatuh cinta

Berkali-kali

Pada sawah yang menguning

Pada aroma nasi goreng di pagi hari

Pada suara anak-anak menyanyikan lagu wajib dengan nada fals tapi semangat penuh

Pada mereka yang bangga memakai batik di hari Jumat

meski hatinya resah menunggu gaji cair

 

Delapan puluh bukan akhir

Ia bukan pensiun, tapi ulang tahun

Dan seperti ulang tahun yang lain,

ia butuh doa, bukan sekadar tepuk tangan,

Ia butuh harapan, bukan hanya slogan

Ia butuh cinta,

bukan hanya janji manis lima tahunan yang penuh bedak kampanye

 

Republik ini sudah delapan puluh

Tua, tapi masih manis

Seperti kopi pahit hangat yang diseduh pagi-pagi  

Tak perlu terlalu manis,

cukup hangat untuk membuat kita tetap percaya

bahwa esok masih layak untuk diperjuangkan

 

Merdeka!

Dengan segala tangis, tawa, dan cinta yang tersisa

*

Jakarta, 10 Agustus 2025

 

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

  Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).  Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...