Gerundelan
Bang Yoss
Sering Dilupakan, Novelis Itu
Seniman
Yoss Prabu
Novelis itu seniman. Titik.
Tidak perlu perdebatan. Sama seperti
pelukis dengan kanvas dan kuasnya, pematung dengan batunya, dan musisi dengan
not-notnya. Novelis juga menciptakan dunia dengan untaian kalimat dan
imajinasinya. Bedanya, alat mereka hanyalah kata-kata, dan mari kita jujur, dan
kata-kata itu murah. Siapa saja bisa merangkai kata, tapi tidak semua bisa
merangkai makna. Itulah kenapa banyak orang mengira menulis novel itu gampang.
Sama seperti banyak orang yang mengira bisa main gitar hanya karena bisa
genjreng kunci C mayor.
Menjadi novelis berarti menggali
kedalaman manusia. Ia bisa menciptakan karakter yang lebih hidup dari tetangga
kita sendiri. Bahkan sering kali, karakter fiksi lebih bisa dipercaya daripada
politisi. Tokoh rekaan seorang novelis punya prinsip yang jelas, jika ia jahat,
maka ia konsisten jahat. Jika ia baik, ya setidaknya sampai klimaks cerita.
Beda dengan dunia nyata, di mana seseorang bisa terlihat alim di pagi hari dan
tersandung kasus korupsi di sore hari.
Tapi, meskipun seorang novelis adalah
seniman, mereka sering lupa bahwa seni juga butuh makan. Seni bukan hanya soal
ekspresi, tapi juga soal bertahan hidup. Tidak semua novelis bisa menjadi J.K.
Rowling atau Haruki Murakami. Sebagian besar novelis harus rela menjadi ninja
literatur, menulis di waktu senggang, mencuri waktu dari pekerjaan kantor, atau
bahkan menulis di sela-sela kesibukan mengajar mata kuliah yang mereka sendiri
tahu kurang diminati mahasiswa.
Ironisnya, di negeri yang menganggap
membaca sebagai hobi minoritas, menjadi novelis adalah pekerjaan yang nyaris
mustahil. Di banyak tempat, novelis dipandang seperti ilusi. Mereka ada, tapi
keberadaannya jarang diakui.
“Kerja apa?” tanya seseorang.
“Menulis novel,” jawab seorang novelis
bangga.
“Oh, maksudnya nganggur?” balas orang
itu polos.
Seni tulis, seperti seni lainnya, tidak
hanya membutuhkan bakat, tetapi juga ketekunan, kesabaran, dan tentu saja mental
baja. Seorang novelis harus siap menghadapi kritik pedas, naskah yang ditolak
penerbit, dan komentar menyakitkan seperti, “Bukunya bagus, tapi saya baca
bajakannya.”
Tidak heran, jika banyak novelis yang
sedikit gila. Atau, mungkin mereka sudah gila sejak sebelum bikin novel. Makanya
memilih jadi novelis.
Namun, meskipun dunia sering kali kejam
terhadap para novelis, mereka tetap menulis. Kenapa? Karena di balik semua
ironi dan penderitaan itu, ada kebahagiaan yang hanya bisa ditemukan dalam
kata-kata. Kebahagiaan ketika cerita yang mereka rangkai menemukan pembacanya,
ketika karakter yang mereka ciptakan hidup dalam benak orang lain. Itu adalah
keajaiban kecil yang membuat semua lelah terbayar.
Jadi, jika ada yang berkata bahwa
novelis bukan seniman, tanyakan kepada mereka, “Berapa banyak dunia yang sudah
mereka ciptakan?” Jika jawabannya nol, maka diamlah dalam kemenangan. Sebab,
seorang novelis bisa mati miskin dan terlupakan, tapi karyanya akan tetap
abadi, terselip di rak buku seseorang, suatu hari nanti, menemani malam-malam
sepi dengan kata-kata yang tak pernah benar-benar mati.
*
Jakarta, 21 Juli 2025
