Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Maret 2025

Melodi Pulang Kampung

Sebuah cerpen Langit Jakarta berwarna abu-abu. Suara gitar sederhana menggema di antara hiruk-pikuk kendaraan. Adit, seorang pengamen jalanan. 24 tahun. Memainkan sebuah lagu lama yang acap diminta orang-orang di persimpangan jalan. Namun, pikirannya jauh melayang, menuju sebuah desa kecil di Jawa Tengah. Tempat keluarganya tinggal. Melodi Pulang Kampung Yoss Prabu Hari ini, Adit kembali dihantui rasa rindu yang berat. Pemuda sudah tiga tahun di Jakarta, mencari rezeki untuk membantu keluarganya di kampung. Namun, pandemi dan ekonomi yang tidak menentu membuat tabungannya habis. Ia hanya bisa membayangkan wajah bapak dan ibunya yang menua dan adik kecilnya yang kini tumbuh tanpa dirinya. Idulfitri tinggal beberapa hari lagi. Dan pulang kampung seolah menjadi sesuatu yang mustahil. Sore hari, di persimpangan jalan. Di salah satu pojokan Jakarta. Adit menyanyikan lagu-lagu berirama galau. Hujan baru saja reda, dan aroma aspal basah bercampur dengan harum gorengan pedagang kaki lima. Menerjang sengit ujung hidungnya yang agak pesek. Ketika sudut pandangannya melihat seorang perempuan duduk di halte bus. Memakai jibab dan membawa tas besar. Dia tampak berbeda dari orang-orang yang berlalu-lalang. "Maaf, Mas. Sini," perempuan itu memanggil ketika Adit selesai menyanyi. Adit menghentikan permainannya dan menoleh. "Iya, Mbak?" "Suaramu bagus. Aku suka lagunya. Boleh aku minta satu lagu?" tanyanya dengan senyum kecil. Ada yang aneh dengan senyum itu. Adit mengangguk. "Boleh. Lagu apa?" "‘Mungkin Nanti’ dari Ariel," jawabnya dengan suara pelan. Adit tersenyum tipis. Lagu itu selalu membuat hatinya bagai disayat-sayat. Tapi dia menyanyikannya juga dengan penuh perasaan. Perempuan itu mendengarkan dengan saksama, sesekali menyeka air matanya yang jatuh. Ketika Adit selesai, dia memberikan uang lima ribu rupiah. "Terima kasih, Mas. Kamu menyanyi dengan sangat baik," ucapnya tulus. Suaranya lirih. "Terima kasih juga, Mbak. Nama saya Adit, kalau boleh tahu nama Mbak siapa?" tanyanya dengan sopan. Perempuan itu ragu sejenak sebelum menjawab, "Dina." Ternyata percakapan singkat itu menjadi awal perkenalan mereka. Dina, seperti Adit, juga sedang berada di titik sulit dalam hidupnya. Ia baru saja keluar dari pekerjaannya sebagai staf administrasi dan sedang mencari tempat baru untuk memulai lagi. Ia dikeluarkan dengan alasan kontraknya habis. Padahal, banyak juga perusahaan yang mengurangi karyawan menjelang Idulfitri. Dan Dina hanya pasrah tanpa banyak komentar. Hari-hari berikutnya, Dina sering mampir ke tempat Adit manggung di jalan. Ternyata, dia tinggal di kos sederhana tidak jauh dari sana. Mereka sering berbagi cerita tentang kampung halaman masing-masing. Dina berasal dari Magelang, sementara Adit dari Purwokerto. Keduanya berbagi kerinduan yang sama. Sama-sama ingin pulang ke rumah tetapi terhalang oleh keadaan. "Kamu pernah merasa kalau dunia ini terlalu keras untuk kita?" tanya Dina suatu malam ketika mereka duduk di pinggir jalan, berbagi sebungkus nasi uduk plus gorengan bakwan. Adit mengangguk. "Sering. Tapi, aku percaya kalau kita tetap berusaha, pasti ada jalan." Dina tersenyum lemah. "Aku ingin percaya itu." Lama-kelamaan, Adit mulai menyadari bahwa perasaan hangat mengalir setiap kali dia bersama Dina. Kehadirannya membawa sedikit kebahagiaan di tengah kehidupannya yang serba sulit. Namun, Adit merasa tidak pantas. Dia hanya seorang pengamen jalanan, sementara Dina tampak seperti seseorang yang bisa mendapatkan kehidupan lebih baik. Suatu malam, Adit memberanikan diri bercerita kepada Dina tentang keinginannya untuk pulang kampung. "Aku rindu ibu, Din. Sudah tiga tahun aku tidak melihatnya. Tapi aku tidak punya cukup uang untuk ongkos." Dina terdiam, menatap gitar tua Adit yang sudah mulai kusam. "Apa kamu tidak pernah mencoba menabung?" "Aku mencoba. Tapi hasilnya selalu habis untuk biaya hidup di sini. Aku bahkan pernah berpuasa beberapa hari agar uangku cukup, tapi tetap saja gagal," jawabnya jujur. Dina tergerak mendengar cerita Adit. "Kalau kamu ingin pulang, kita cari cara bersama-sama. Mungkin aku bisa bantu." Adit terkejut sekaligus tersentuh. "Kenapa kamu mau membantu aku? Kita kan baru kenal." Dina hanya tersenyum kecil. "Karena aku tahu rasanya ingin pulang tapi tidak bisa." Dina punya ide untuk membantu Adit mengumpulkan uang. Mereka akan membuat pertunjukan kecil di taman kota, memanfaatkan akhir pekan yang biasanya ramai. Dina akan membantu mempromosikan acara itu melalui teman-temannya, sementara Adit akan tampil menyanyi. Dengan semangat baru, Adit dan Dina bekerja sama. Dina mendesain poster sederhana dan membagikannya di media sosial, sementara Adit berlatih menyanyikan lagu-lagu yang lebih populer. Mereka bahkan membuat kotak donasi dengan tulisan “Bantu Adit Pulang Kampung”. Hari pertunjukan tiba, dan taman kota dipenuhi orang-orang yang penasaran. Dina berdiri di antara kerumunan, tersenyum bangga melihat Adit menyanyi dengan penuh semangat. Beberapa orang mulai memasukkan uang ke dalam kotak donasi. Meski hasilnya belum cukup besar, Adit merasa ada harapan. Namun, lebih dari uang yang terkumpul, Adit menyadari sesuatu yang lebih penting. Dina telah menjadi alasan baru baginya untuk tetap bertahan. Dia sungguh merasa telah jatuh cinta. Di penghujung malam, setelah menghitung uang donasi, Adit dan Dina duduk di tepi sungai kecil di dekat taman. Hasilnya cukup untuk membeli satu tiket bus ke Purwokerto. "Dina, aku nggak tahu bagaimana cara berterima kasih padamu. Kamu sudah melakukan banyak hal untukku," kata Adit dengan suara pelan. Dina tersenyum. "Aku senang bisa membantu. Itu saja sudah cukup buatku." Hening sejenak. Adit menarik napas dalam-dalam. "Dina, aku punya sesuatu yang ingin kukatakan. Mungkin ini aneh, tapi... aku rasa aku mulai menyukaimu." Dina terkejut, wajahnya memerah. "Adit... aku..." "Aku tahu aku bukan siapa-siapa," lanjut Adit cepat. "Aku cuma pengamen jalanan yang bahkan nggak punya cukup uang untuk pulang kampung. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku sangat menghargai dan menghormati kamu." Dina tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca. "Adit, kamu tahu kenapa aku ingin membantu kamu? Karena aku juga merasa hal yang sama." Keduanya terdiam, membiarkan perasaan mereka mengalir tanpa kata-kata. Dan, dari uang hasil konser Adit, Dina menawarkan untuk membelikan tiket bus. Hanya untuk Adit. Namun, Adit menolak. "Aku nggak mau pergi sendiri, Dina. Aku ingin kamu ikut." Dina tertegun. "Kita bisa pergi beberapa hari, bareng-bareng. Kamu juga rindu kampung, kan? Kita bergantian pulang kampung. Kita ke rumah orangtuamu dulu, baru kemudian ke rumah orangtuaku." Kata Adit tersenyum, penuh harap. Akhirnya, mereka memutuskan untuk pulang bersama, meski hanya sebentar. Dengan sisa uang yang ada, mereka membeli tiket dan memulai perjalanan ke Jawa Tengah. Setelah bertemu dengan keluarga Dina, yang disambut dangan penuh suka cita. Lalu Adit pulang sediri ke kampung halamannya. Setiba di rumahnya, pelukan keluarganya adalah hadiah terbaik yang pernah ia terima. Meski hanya beberapa hari, perjalanan itu mempererat hubungan mereka. Dina dan Adit berjanji akan saling mendukung, apa pun yang terjadi. Di bawah langit desa yang penuh bintang, Adit menengadah sambil berbisik, "Terima kasih, Tuhan. Kau telah mengirimi aku seorang bidadari cantik, yang menjadi alasanku untuk terus berjuang. Dan kini aku tahu bahwa harapan selalu ada." Adit tersenyum sendirian. Jakarta, 20 Maret 2025. *

Sabtu, 22 Maret 2025

Kiriman Gambar Kepala Babi

Kiriman Gambar Kepala Babi Sebuah Satire di Pagi Bulan nan Suci Yoss Prabu Biar pun mendung. Tagi itu cerah. Matahari masih malu-malu untuk menampakkan diri di balik langit biru yang terselubung kabut tipis. Seolah memberikan harapan baru di bulan suci Ramadhan. Saya baru saja selesai melaksanakan sahur-sebentar lagi waktunya untuk melaksanakan shalat Subuh. Dingin pagi itu menembus jaket tebal yang kupakai. Dan keheningan wilayah di mana saya berdomisili, masih terasa. Suara adzan Subuh terdengar melalui pengeras suara, untuk menyambut hari baru. Saya baru saja akan melangkah ke musholah, telepon genggam bergetar, mengingatkan saya akan pesan masuk. Saya membuka layar ponsel, dan mata saya langsung tertuju pada sebuah pesan yang datang dari pengirim yang tidak dikenal. Judul pesan itu hanya bertuliskan satu kata: "Kado." "Selamat Hari Puisi Dunia dan Kebebasan Pers! Semoga hidupmu selalu penuh inspirasi," tulis pengirim itu. Dahi saya mengernyit. Hari Puisi Dunia? Kebebasan Pers? Terus terang, saya tidak begitu paham mengenai keduanya. Namun, saya tahu satu hal. Saya hidup di dunia yang penuh dengan sindiran, satire, dan hal-hal yang kadang terasa lebih absurd daripada cerita fiksi. Apa yang dia maksud dengan pesan ini? Kembali dahi ini mengernyit. Lalu, saya membuka lampiran pesan tersebut. Hati ini berdebar. Di layar ponselku, tersaji sebuah gambar-sebuah kepala babi tergeletak dengan sangat jelas. Babi itu tampak sangat hidup, meskipun sudah terpisah dari tubuhnya. Matanya yang tajam dan penuh teka-teki seolah menatap saya, seolah mencoba menyampaikan pesan yang tidak bisa dimengerti. Bau busuk hampir tercium dari gambar tersebut, meskipun hanya digital. Saya hanya bisa tertawa kering, atau lebih tepatnya, tertawa kecewa. Seketika, pikiran saya berlarian. Saya seorang Muslim yang taat, yang menghindari babi karena sudah jelas itu haram dalam agama. Mengapa seseorang mengirimi saya gambar kepala babi, pada pagi yang penuh berkah di bulan Ramadhan? Dan lebih parahnya lagi, kenapa pada saat perayaan yang katanya berkaitan dengan kebebasan berpendapat dan puisi? Saya termenung sejenak. Ah, mungkin ini sebuah sindiran. Mungkin ini adalah cara seseorang untuk merayakan kebebasan ekspresi, atau lebih tepatnya, kebebasan mereka untuk mengolok-olok keyakinan orang lain. "Begitulah dunia," pikirku. "Di balik kebebasan ada banyak ketidaktahuan." Namun, saya mencoba untuk tetap tenang. Saya mengingat pesan dalam Al-Qur'an yang mengajarkan, untuk bersabar dalam menghadapi ujian. Setiap ujian. Kepala babi itu, meskipun mengganggu, bukanlah ancaman nyata. Yang lebih penting adalah bagaimana saya menyikapi hal itu. Saya lalu membalas pesan tersebut dengan nada sarkastik, mungkin sedikit humoris, agar tidak terlarut dalam rasa marah. "Terima kasih atas kirimannya. Sungguh, hadiah yang sangat... kreatif. Saya akan pertimbangkan untuk mencicipi hidangan yang lebih berbahan dasar halal di pagi Ramadhan ini." Kujeda sejenak dan melanjutkan untuk membaca pesan yang lebih panjang. Ternyata, pengirim itu menyertakan sebuah catatan. “Ini adalah sindiran untuk dunia yang kadang tidak menghormati perbedaan. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa kebebasan itu sering kali datang dengan cara yang tak terduga.” Saya tertawa getir. Apakah ini berarti? Sebuah sindiran tentang kebebasan yang tidak mengenal batas? Kebebasan yang bisa menginjak-injak perasaan orang lain demi sebuah "keberanian" dalam berpendapat? Di dunia ini, kebebasan sering disalahartikan. Beberapa orang merasa bahwa kebebasan berpendapat memberi mereka hak untuk merendahkan atau bahkan menyerang keyakinan orang lain. Hari Puisi Dunia yang dimaksudkan untuk merayakan ekspresi dan kreativitas, malah berubah menjadi sebuah ajang untuk membuktikan betapa bebasnya mereka dalam menyakiti perasaan orang lain. Saya memutuskan untuk melanjutkan rutinitas. Beranjak dari tempat duduk, saya pergi menuju ruang shalat. Saya tidak jadi ke musholah. Makanan sahur tadi masih terasa di perut, sepertinya mulai terasa pudar. Saya mengingatkan diri untuk tetap bersyukur, meski dunia sering kali tampak lucu dengan cara yang tidak biasa. Terkadang, hidup ini memang penuh dengan paradoks yang tidak mudah dipahami. Saya melaksanakan shalat Subuh dengan khusyuk, berdoa agar Allah memberi petunjuk dalam segala hal. Hari ini adalah hari yang penuh makna. Puisi dunia yang dirayakan dengan kebebasan ekspresi, namun tanpa batas. Bagaimana bisa kebebasan dan penghormatan berjalan berdampingan jika mereka yang bebas tidak memahami kedalaman makna di balik kebebasan itu sendiri? Usai shalat, saya duduk sebentar dan merenung. Tiba-tiba, suara ponsel kembali berbunyi lagi. Sebuah pesan masuk, kali ini dari teman lama saya. Ia menulis, "Bro, baca ini, dunia memang aneh. Mereka yang bicara soal kebebasan malah menindas kita yang ingin hidup sesuai keyakinan. Jangan biarkan gambar itu merusak pikiranmu. Ingat, itu hanya sebuah 'keberanian' yang salah alamat." Saya tersenyum pahit. Teman saya selalu tahu bagaimana cara menghibur dengan kata-kata yang penuh filosofi. Dia benar. Dunia ini memang aneh, kadang lucu, kadang menyedihkan. Kebebasan yang seharusnya membawa kedamaian, malah sering kali berakhir dengan kebingungan. Namun, saya juga sadar. Meski hidup penuh dengan sindiran, kebebasan yang tidak terukur, dan puisi-puisi yang ditulis dengan kata-kata pedas, saya tetap punya keyakinan. Saya tetap memiliki agama yang memandu hidup, dan hal itu yang membuat saya tegar menghadapi segala yang datang. Lalu saya merenung sambil berpikir. Mungkin di luar sana, kebebasan memang harus dihormati. Tetapi, kebebasan tanpa rasa hormat adalah kebebasan yang membebani, yang menyakitkan. Jadi, saya memutuskan untuk tidak membiarkan kepala babi itu merusak hari. Saya akan menanggapinya dengan tertawa, dan mungkin suatu saat, saya akan memnuat tulisan tentang kebebasan, atau membuat puisi yang tidak merendahkan siapa pun, namun penuh dengan penghormatan. Karena pada akhirnya, kebebasan sejati adalah kebebasan yang memilih untuk tidak menyakiti orang lain. Jakarta, 22 Maret 2025 *

Minggu, 26 Januari 2014

Nasi Bungkus Buat Ngadiman

Oleh: Yoss Prabu

Mendung menggantung di Kota Bandung. Sementara angin kian gencar menebar dingin. Rintik hujan satu dua mulai terasa. Bercampur dengan debu, menerjang ke segala penjuru.

Aku masih bergeming, mematung di etalase toko elektronik. Tertahan oleh sebuah tayangan dari pesawat televisi yang dinyalakan empunya toko. Terpampang pada layar kaca, gambar demi gambar tentang kehidupan masa lalu dari salah satu mantan petinggi negeri ini. Tentang keharuman nama dan berbagai prestasi yang pernah disandangnya.

Andai saja suatu sengatan tak menendang indera penciumanku, niscaya aku masih akan berlama-lama mematung meski terpaan gerimis mulai membasahi pakaian. Seorang gelandangan tua yang menjadi sumber kekacauan, kini tengah berdiri di sampingku. Hanya beberapa jengkal saja jaraknya. Sehingga membuat para pejalan kaki membatalkan niat untuk turut berteduh. Kukira, kehadiran lelaki tua yang tiba-tiba itu hanya sekedar ikut numpang berteduh. Sebab sekilas, kelihatannya ia acuh tak acuh dengan apa yang ada di layar kaca. Namun ketika kulirik tanpa sadar, nampak matanya memicing seolah ia ingin melihat lebih jelas lagi tampang sosok yang begitu dominan memenuhi layar kaca. Lalu gerahamnya mengeras.

Merasa terganggu dengan aroma tak sedap, aku beringsut hendak menyingkir. Tetapi urung ketika ia terdengar menggumam. Sangat jelas meski perlahan.

“Paeh siah*. Akhirnya modar juga dia.” Ucapannya datar seolah terlontar begitu saja. Tapi bagi pendengaranku, gumaman itu terasa tajam. Seperti ada sesuatu yang terpendam sekian lama. Mengingat tokoh yang sedang dalam penayangan itu, bukan orang sembarang dan punya citra buruk bagi sebagian masyarakat bangsa ini. Aku terhenyak sejenak. Sebab ungkapan itu meluncur dari mulut seseorang yang jauh untuk dikatakan sepadan dibandingkan orang yang ada di pesawat televisi.

“Siapa yang mati, Pak?” Kudekati dan kusapa lelaki tua itu. Ia kaget, barangkali tak mengira kalau gumamannya sampai terdengar telingaku. Jangankan menyahut malahan ia menjauh. Tapi gerutuannya masih terus berhamburan, seiring tangannya yang sibuk memunguti sampah plastik bekas air mineral, yang basah terkena air hujan. Gerimis yang berhamburan tertiup angin tak menghalanginya untuk mengoreki tempat sampah. Mengambil sesuatu lalu memasukkannya pada karung yang menggelayut di punggungnya yang bungkuk.

Kutaksir usia lelaki itu mendekati 70-an tahun. Tubuhnya kurus, kulitnya kering. Dipastikan kurang gizi dan terlalu sering kena sengat matahari. Namun gerakannya masih nampak lincah. Bola matanya yang memutih terkena katarak, ternyata masih cukup lumayan untuk dapat melihat botol dan gelas-gelas plastik. Ia begitu serius memulung hingga tak sadar kalau aku mengikuti langkahnya.

Tiba di pinggiran alun-alun, lelaki tua itu berhenti. Ia sandarkan punggungnya di bawah pohon rindang. Di tempat ini gerimis agak berkurang. Bibirnya masih terus menggerutu, terkadang malahan mengumpat. Membuat aku yakin, gerutu dan umpatan telah menjadi pekerjaan keduanya selain memulung. Sebab terdengar begitu fasih, bagai telah dihapal puluhan tahun.

Perlahan kudekati dan kusodorkan sebatang rokok. Ia terlihat ragu. Namun akhirnya ia mengambil juga sebatang. Kusorongkan geretan, ujung rokok pun menyala. Ia menghisapnya dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan nikmat. Angin menerpa asap menyibak guratan pada wajah yang kian mengkerut.

“Saya Barna, Bapak siapa?” sapaku basa-basi. Ia tak langsung menjawab. Hanya menoleh dan lama menatapku. Menimbang-nimbang, menarik napas. Dihimpun semua sisa kekuatannya. Saat merasa yakin, ia pun menjawab.

“Saya bukan siapa-siapa. Bukan siapa-siapa lagi. Setan itu telah menghancurkan semuanya, keluarga, pekerjaan, dan harga diri. Bahkan masa depan. Hingga nama pun, saya telah bersumpah untuk tak lagi mengingatnya. Lebih baik mati bila nama itu terucap lagi,” ia berhenti sejenak, menikmati nikotin meresap ke dalam kerongkongannya. Lalu lanjutnya, “Orang-orang memanggil saya Pak Tua.”

Kalimat demi kalimat penuh tekanan, meluncur dari bibirmya yang kering. Separuh tertutup kumis putih. Terasa ada gumpalan dendam yang lama mengkristal. Mulutnya komat-kamit mencoba menguntai sebuah kisah. Yang lama tak terungkap. Yang menjadi rahasia pribadinya.

Tuturnya, dia tidak berasal dari kota ini. Tempat kelahirannya terpencil, di suatu sudut Pulau Jawa belahan timur. Yang pernah menjadi saksi, di mana manusia dapat hilang begitu saja. Di mana suara tak lagi didengar. Tak boleh sembarang ucap. Sebab setiap kali dianggap salah, maka esoknya hanya tinggal sepenggal nama yang kembali ke keluarga. Manusianya hilang entah di mana. Tak perlu bertanya pada rumput yang bergoyang. Tanya saja pada Tuhan, beliau pasti tahu.

“Ketika ditangkap. Saya sudah bilang berulangkali, kalau saya bukan Ngadimin tapi Ngadiman,” sejenak ia kaget atas apa yang diucapkannya barusan. Sebab ia telah bersumpah untuk tidak mengucapkan nama itu lagi. Pandangannya sejenak liar. Terlihat gelisah. Seolah mencari-cari sesuatu. Ketika menyadari hanya ada aku di sampingnya, ia pun kembali tenang. Pandangannya kembali beralih pada ujung rokok yang meninggalkan abu panjang. Menarik napas dalam, sedikit mendesah. Menjentik dengan jari, lalu bercerita kembali.

“Ah......., kenapa saya ucapkan lagi nama itu. Padahal saya telah bersumpah, tak akan lagi mengingatnya,” Pak Tua mendesah. Namun keraguan sudah tak terasa pada kalimat berikutnya. “Saya bukan Ngadimin, tapi Ngadiman. Namun entah kenapa para keroco keparat itu seperti tak lagi punya telinga. Mentang-mentang punya bedil, datang diam-diam lalu menangkap seenaknya.” Ia berhenti lagi. Menyalakan rokok berikutnya yang kusodorkan.

Aku tak bereaksi. Menunggu kalimat berikutnya yang akan terucap.

“Semua penduduk tahu, di dusun itu hanya ada Ngadiman. Entah kenapa pula semua jadi bebal, sinting. Dasar bego! Bahkan aparat desa pun jadi ikut-ikutan edan. Dengan alasan salah ketik mereka dengan mudahnya mengganti huruf a menjadi i. Lalu dengan enteng pula berkata, yang tengah dicari memang Ngadiman. Sontoloyo!!”

Pak Tua semakin terbenam dalam nikotin dari asap rokok yang dihurupnya. Terbenam dalam pikirannya. Jauh menerawang.

“Lalu saya dibawa ke balai desa. Di sana, telah banyak yang mengalami nasib serupa. Tuduhan yang ditimpakan pun beragam. Dari berniat menggulingkan pemerintahan yang sah, hingga berkomplot untuk merencanakan pembunuhan para jenderal. Dan bla bla bla lain yang segudang banyaknya. Asssu...!, boro-boro untuk mengurusi begituan, sekedar cari makan saja susah.”

Aku terus menyimak. Menyimak dalam diam.

Sebagai orang desa yang hanya tahu cangkul dan parang, Ngadiman tak mengerti tentang apa yang dituduhkan. Ia bingung setiap kali pertanyaan dilontarkan dari orang-orang yang menangkapnya. Akibatnya, setiap hari, setiap jam gebukan pun kian akrab dengan tubuhnya, dengan wajahnya. Pendengarannya jadi terganggu akibat popor senapan yang rajin menciumi tengkuknya. Semua itu untuk sebuah pengakuan. Yang tak juga terucap dari bibir Ngadiman.

Tak mempan dengan kekerasan, seorang perwira membujuk. Apabila ia menandatangani surat pengakuan sebagai anggota partai terlarang maka siksaan akan dihentikan, begitu katanya. Keteguhan Ngadiman pun lumer. Namun ternyata ia salah. Sang perwira ingkar dari sapta marga dan dengan hina menjilati ludahnya sendiri. Siksaan tak pernah berhenti, malahan duabelas tahun menjadi orang buangan. Satu tahun di Salemba, dua tahun di Nusakambangan. Sementara sisanya di Pulau Buru. Tanpa pernah sekali pun, mencicipi kursi pesakitan pengadilan.

“Anak saya empat, yang pertama barangkali saat ini sudah seumurmu. Tapi entah di mana dia. Di mana pula ketiga adik dan ibunya,” terasa benar ada kerinduan yang menumpuk.

“Awal delapan puluhan,” Ngadiman melanjutkan. “Saya pulang dari Pulau Buru. Tapi persoalan masih berlanjut. Cap yang ditorehkan sebagai anggota partai terlarang masih terus melekat dan sulit dihilangkan. Jangankan dapat mencari nafkah dengan bebas. Hanya untuk menjadi pemulung saja, setiap orang yang pernah mengenali saya akan tak henti-hentinya meludah setiap kali bertemu. Akhirnya saya berkelana, dari satu kota ke kota lain. Mengusung harapan demi harapan, agar dapat berkumpul kembali dengan keluarga.” Ngadiman diam meski bibirnya masih terlihat bergerak-gerak. Kujelajahi setiap mili wajahnya untuk mendapat keyakinan kalau Ngadiman tidak hanya sekedar mengumbar bualan.

Angin kembali bertiup dan tampias gerimis menyiprat wajah Ngadiman. Daun-daun kering bergoyang. Rontok dan berterbangan. Lalu berserakan, hingga ke jalanan. Ngadiman sudah kembali tenang. Kretek telah habis enam batang dan dengusannya mulai berkurang. Namun tatapannya masih tetap tajam, meski tak seliar pertama berjumpa.

“Lalu siapa yang mati itu, Pak Tua?” Aku kembali memancing.

“Orang itu......, orang itu. Yang berita kematiannya tadi ada di tivi. Yang selama tigapuluh tahun lebih beronani dengan kekuasaannya.” Ia mulai lagi memaki. Tapi dengan seulas senyum pahit agak sinis. Entah kenapa pula aku ikut terhanyut dalam kisah getir Ngadiman. Yang terus menyeret dendam pada setiap pengembaraannya.

Tapi aku yakin, Pak Tua ini tak sendirian. Ratusan, barangkali ribuan orang sepertinya telah menjadi korban. Dari seuntai sejarah yang tak tercatat. Ada yang kemudian pulang lalu kembali berkumpul dengan keluarganya. Berusaha hidup normal, melupakan masa lalu, memandang cerah masa depan. Namun juga tak bisa dipungkiri, banyak yang hidupnya terlunta-lunta. Berkelana ke setiap kota. Menjadi orang asing di negerinya sendiri.

Seperti yang dialami Ngadiman ini. Ia memilih kembali ke desa asalnya, walau ia sendiri tahu keluarganya telah lama tak ada lagi di sana. Kemudian luntang-lantung membawa dendam bercampur dengan rongsokan dalam karung yang menggelayut di punggungnya.

Hari telah merambat menggapai petang. Sementara mendung masih terus mengambang.

“Tapi Pak, yang Bapak saksikan tadi di televisi, itu telah lama terjadi,” kujelaskan padanya, tentang peristiwa yang tadi ia saksikan. Ia kaget dan menatapku lama sekali. Seolah mencari kebenaran di setiap sudut wajahku.

“Jadi setan itu sudah lama mati?” Aku kembali menggangguk. Wajahnya mulai terlihat gembira.

“Ia tentu mati dengan meninggalkan banyak persoalan,” ucapnya. Bagai terlontar begitu saja. Aku hanya tersenyum kecut. Dan baru sadar, kalau perutku belum terisi apa pun sejak siang tadi. Tentunya Pak Tua ini juga mengalami hal sama. Maka aku pamit untuk mencari makanan. Ia tak bereaksi. Aku beranjak meninggalkannya sendirianan. Celakanya, tak ada warung makanan di sekitar alun-alun hingga terpaksa harus mencari ke tempat yang agak jauh.

Hanya sekitar duapuluh menit aku berlalu. Namun ternyata dalam waktu sesingkat itu, apapun bisa terjadi. Ketika aku kembali, terlihat kerumunan manusia di tepi jalan dekat alun-alun. Aku menyeruak, dan di tengah-tengah kerumunan itu terlihat Ngadiman tergeletak dengan kepala berlumuran darah. Napasnya tersengal-sengal, tatapannya nanar. Pandangannya mengitari kerumunan manusia yang kian berdatangan. Ia mencari-cari sesuatu. Lalu tersenyum saat yang dicarinya muncul. Tangannya bergerak-gerak menggapai.

Dengan sigap aku mendekat. Berjongkok, dan kurebahkan kepalanya di pangkuan.

“Kenapa...., kenapa Pak Tua ini?” Aku bertanya pada semua orang.

“Ia tertabrak angkot,” jawab seseorang dari arah belakang. Kutolehkan kepalaku.

“Ia seperti terburu-buru jadi tidak melihat ada angkot lewat,” jawab seseorang lagi dari samping kiri. Aku menoleh ke arahnya.

“Lagian nyebrang kok enggak lihat-lihat.”

“Makanya tengok kiri kanan dulu kalau nyebrang.”

“Sudah tua kok keluyuran sendirian.”

Berbagai komentar saling susul. Dari segala arah. Berbaur dengan bising kendaraan yang terhenti akibat terhalang massa. Beberapa turun lalu melihat. Ada juga yang sekedar menurunkan kaca jendela, lalu bertanya pada orang di dekatnya. Yang ditanya menggeleng. Atau menyahut sekenanya. Jalanan menjadi macet. Klakson bersahutan. Yang berada di kejauhan, berlari-lari mendekat. Menyeruak kerumuan. Yang menghalangi tetap bergeming. Yang penasaran memaksa masuk. Suasana jadi semrawut. Lalu lintas apalagi. Beberapa berteriak menyuruh memanggil polisi. Yang diteriaki tak jelas siapa. Malahan celingukan saling tatap. Satu dua mengangkat bahu. Yang lainnya meraba-raba saku. Tak ada hp. Tak bisa memanggil polisi. Lalu kembali memandangi Pak Tua.

“Hanya kamu yang tahu kisah ini, saya tidak pernah cerita pada siapa pun sebelumnya. Saya....., saya....., saya bukan komunis,” suara Ngadiman tersendat. Tak dapat melanjutkan kata-katanya. Kepalanya terkulai lemas. Ia menghembuskan napas terakhirnya di atas pangkuanku. Kupandangi wajah Ngadiman. Tenang, damai, tak ada lagi dendam yang telah dibawanya berkelana selama puluhan tahun. Kurebahkan kepalanya di atas aspal keras. Plastik hitam berisi rokok dan dua nasi bungkus yang sekiranya hendak kumakan bersama Ngadiman, kugeletakkan begitu saja. Hilang sudah selera makanku.

Ngadiman nan malang. Puluhan tahun berkelana untuk mencari keluarganya, ternyata harus berakhir dijagal angkot sialan yang supirnya kabur entah kemana. Ketika polisi datang, massa pun menyeruak. Ngadiman mati apakah karena ia melanggar sumpahnya? Entahlah. Tapi yang pasti hujan mulai terasa rintiknya. Mendengung di telingaku perkataan mendiang ibu beberapa tahun silam.

“Ibu kangen pada bapakmu….., masih hidupkah dia di Pulau Buru.”

Kupandangi langit kelabu. Namun tak ada jawaban di sana.

Sekian.

Jakarta, 2013

*Paeh siah: Mati kau (bhs Sunda-Jawa Barat)

Jumat, 14 Juni 2013

Imah............

Ini cerpen. Silahkan dicicipi.

Imah..........
Oleh: Yoss Prabu

Puncak, Bogor. Tengah malam. Dingin menusuk tulang. Halimun mengambang membatasi jarak pandang.

Jalan raya hanya dilewati satu dua kendaraan bermotor. Sepi. Malam ini bukan malam di mana orang-orang menghabiskan liburan akhir pekannya. Akan berbeda sekali dengan apa yang terjadi bila pada malam-malam akhir pekan. Andai saja tak ada kendaraan lewat, maka kesunyian kian terasa melingkupi daerah itu. Warung-warung kaki lima yang berjejer di tepian jalan raya, sepi pengunjung. Hanya beberapa saja yang dikunjungi pasangan muda-mudi, berbisik-bisik diantara pemilik warung yang menungguinya dengan terkantuk-kantuk.

Har menaikkan krah jaketnya dan menarik resluiting rapat-rapat untuk mengurangi sengatan dingin. Pikirannya sedang gundah. Sore tadi, ia baru saja mendamprat habis-habisan anak gadis tunggalnya yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Pasalnya, anak bungsu yang selama ini selalu ia perlakukan bagai bayi kecil nan rapuh itu kedapatan pulang dalam keadaan mabuk. Masuk rumah sambil cekikikan dengan seorang pemuda sebayanya.

Sebagai seorang eksekutif sebuah bank swasta dengan segala macam kesibukannya, Har jarang pulang ke rumah. Ia selalu menginap di hotel. Hanya tadi ada sesuatu yang harus dia ambil maka ia pulang sebentar. Dan anak gadisnya tak menyangka itu. Baru setengah jam Har mengaduk-aduk ruang kerja untuk mencari arsip-arsip yang dia perlukan, anak gadisnya pulang dengan mulut semerbak alkohol. Akibatnya, Har berang bukan main. Ia memarahi bayi kesayangannya, menempeleng sekali, menyuruhnya naik ke kamar atas. Lalu mengusir kasar si pemuda krempeng yang terbirit-birit melarikan diri. Terjatuh sekali di pintu gerbang, selanjutnya ngacir dengan motor bebeknya.

Semenjak isterinya meninggal lima tahun lalu, Har merasa seluruh tanggung jawab keluarga berada di tangannya. Sementara posisi eksekutifnya di kantor menuntut sebuah tanggung jawab besar, terkadang membawa pengaruh buruk pada egonya. Persoalan di kantor menjadi campur-aduk dengan di rumah. Semua penghuni rumah lebih sering dianggap bawahannya termasuk anak-anaknya sendiri. Jangan tanya soal pembantu, paling lama bertahan hanya dua atau tiga bulan saja. Bahkan para isteri kedua anak lelakinya, yang semula menetap seatap, memilih ngacir lalu mengontrak rumah sepetak di pinggiran kota.

Fikri dan Bagas memang telah berkeluarga, mereka telah menamatkan studinya masing-masing di luar negeri sebelum ibunya meninggal. Lalu menikahi gadis pilihannya masing-masing dan menetap bersama di perumahan “Mertua Indah”. Namun menghadapi sikap Har yang lebih sering otoriter, para menantu itupun satu persatu undur diri dan memilih ngontrak rumah di perkampungan kumuh.

“Terserah apa mau kalian, saya hanya ingin yang terbaik bagi keluarga ini,” demikian Har pada suatu ketika. Namun yang terbaik bagi Har, ternyata perlu direnungkan ulang bagi para menantunya. Di rumah besar milik Har, mereka tak usah lagi berpikir tentang uang belanja. Har sudah mengaturnya. Uang hasil kerja anak-anaknya dianjurkan untuk ditabung. Soal keperluan makan dan biaya sekolah anak-anak tinggal lapor mertua, dijamin beres. Tetapi Har lupa, sebagai manusia mereka juga merasa punya hak privacy. Dimana, ada hal-hal tertentu yang Har tidak boleh tahu. Tidak perlu mencampuri. Dan celakanya Har selalu ingin mencampuri segala macam hal, akibatnya ya, itu tadi. Pemberontakan kecil-kecilan pun mulai meletup. Pertama Bagas memboyong anak isterinya untuk hidup terpisah dengan alasan ingin mandiri. Hanya berselang dua bulan, Fikri pun menyusul. Alasannya, hanya mengamini sikap kakaknya. Tinggal Har dan Novi, anak bungsunya yang perempuan. 

Mungkin karena waktu itu masih SMP, ia tak banyak ulah. Nunut saja apa kata ayahnya.
Namun seiring perjalanan waktu, sikap si bungsu pun mulai berubah. Yang Har tak sadari, ternyata Novi memiliki watak yang sama dengan dirinya. Sama-sama kepala batu. Sikap menurutnya selama ini hanya mengendapkan rasa perlawanan yang semakin lama semakin membesar. Di depan Har, Novi terlihat bagai gadis rapuh yang selalu butuh perlindungan. Akibatnya, apapun yang diinginkan Novi selalu dikabulkan tanpa harus diminta dua kali.
Dan Har baru tadi menyadari kekeliruannya selama ini. Bayi kecil yang selama ini selalu manja di pangkuannya, ternyata bisa juga mabuk berat hingga harus menggelendoti pundak seorang pemuda ceking yang diakui Novi sebagai pacarnya.

Har menatap jauh menembus kabut, menerobos rimbunan daun teh, melingkar di lereng bukit lalu menukik menghujam jurang nan curam. Ia tarik napas dalam-dalam, dijejali paru-parunya dengan oksigen lembab pegunungan. Kepalanya terasa agak ringan, pikiran pun mulai jernih. Sejernih sayup alunan irama jaipongan dari radio pemilik warung.    
“Sendirian Oom?” tiba-tiba ada alunan jernih lain yang menyelusup ke telinganya. Har tersentak. Menoleh. Seorang perempuan manis sebaya Novi menegurnya dengan genit. Kegenitan yang terlihat agak dipaksakan.

Har terhenyak dari lamunannya. Gelagapan, hingga belum tahu harus menjawab apa. Setengah kesadarannya masih mengambang di antara halimun. Dari dua jam lalu ia memang mematung sendirian di tepian jurang yang dipenuhi tumbuhan teh.

“Boleh ditemani? Sepertinya Oom perlu teman,” serasa ada nada paksaan agar Har tak menolak tawarannya. Asap rokok filter bercampur kabut terhembus dari bibirnya manakala ia berkata-kata. Har masih terpaku, berpikir menentukan sikap. Melayani perempuan yang belum dikenalnya atau biarkan semua mengalir, lalu biarkan waktu yang akan menentukan. Perempuan itu kembali menghisap rokoknya. Dari caranya menghisap lalu menjepit rokok di sela-sela jari nan lentik, Har sadar kalau perempuan ini tidak pernah merokok sepanjang hidupnya. Rokok yang terselip di bibir merekah itu lebih mirip benda asing yang tiba-tiba muncul begitu saja.

“Oh….., tentu,” meluncur juga perkataan dari bibir Har.
Perempuan itu melangkah ke tepian jurang, memandangi perkebunan teh lalu kembali menoleh ke arah Har.

“Apa yang sejak tadi Oom perhatikan,” ia tersenyum. Har diam. Perempuan itu akhirnya tersadar bahwa pertanyaan barusan tak semestinya ia dilontarkan. Seseorang yang mematung hingga ratusan menit dengan tak peduli pada lingkungan sekitar, tentunya tengah dilanda gejolak batin.

Walau berpenampilan sederhana gadis itu cukup manis di mata Har. Berhidung bangir dengan rambut terurai hingga ke bahu. Posturnya sedikit pendek dibanding Novi, mungkin sekitar seratus enam puluh duaan meter. Kulitnya agak gelap, hitam manis. Har menduga pastinya wanita ini sejenis wanita malam yang tengah mencari mangsa. Namun bila menilik dari parasnya, Har tak menolak untuk dimangsa. Ditelan hidup-hidup pun dia mau.

“Di sini dingin sekali ya Oom, bagaimana kalau kita ngobrol-ngobrol di mobil. Mobil Oom yang itu kan?” Suaranya lembut, selembut angin yang mengibas rambut nan terurai itu. Namun di kuping Har terasa ada getaran aneh saat gadis itu berkata-kata, yang memang baru terdengar beberapa patah saja. Andai wanita ini berprofesi seperti yang dipikirkan Har, tentunya wanita ini belum profesional. Atau hanya sekedar iseng saja untuk menjauhi kepenatan keluarga. Sama seperti Har. 

“Boleh. Ya, yang itu,” Har menunjuk pada BMW keluaran terakhir.

“Oom gak bawa supir kan, nyetir sendiri.”

Har kembali memperhatikan wajah manis itu. Dalam hatinya ia menggerutu, sejak kapan gadis ini memperhatikannya hingga tahu kalau ia memang sendirian. Namun yang keluar dari mulutnya malahan, “Supirku sedang pulang kampung menjenguk isterinya yang baru melahirkan anak pertamanya, katanya sih kembar.”

Si Gadis tersenyum, ia tahu kalau si Oom ini agak kikuk, sekikuk dirinya. Tetapi ia sendiri tak perlu jawaban seperti itu. Apa pedulinya. Baginya uang si Oom lebih bernilai ketimbang basa-basi membosankan.

Har yang tengah dilanda gundah namun kesepian itu, rupanya memang sangat perlu teman untuk curhat. Dan perempuan sederhana ini langsung memikat hatinya tanpa ada keinginan untuk menolak. Sudah lama ia nyaris tak pernah ngobrol-ngobrol dengan seorang perempuan dalam suasana santai. Kalaupun ada banyak wanita yang terus mengalir untuk diajak bicara setiap harinya, itu hanya untuk kebutuhan bisnis kantor semata. Formil dan serba tergesa-gesa.

“Saya ada vila di sekitar sini, mau kau kuajak ke sana?” ajak Har sopan dengan keyakinan kuat bahwa wanita ini akan jauh sekali untuk menolak.

“Kenapa tidak, Oom,” gadis itu menyahut sambil tersenyum. Sebaris senyum dingin yang tak pernah tuntas. Har merasa aneh, setiap kali ia menawarkan keramahan setiap kali pula ia disambut dengan keramahan yang dibuat-buat. Serasa ada ganjalan.

Perempuan itu ngintil di belakang Har lalu naik ke mobil saat Har membukakan pintu. Ia duduk di jok empuk dengan kikuk. Sesaat mobil bergerak perlahan, perempuan itu kemudian menoleh ke arah kaca mobil memandangi warung-warung pinggir jalan yang semakin menjauh. Dan semakin jauh pula tatapan perempuan cantik itu merambah ke kekosongan. Ke hamparan kebun-kebun teh, ke arah kelap-kelip lampu-lampu vila di puncak hingga lereng-lereng gunung. Bagai ribuan kunang-kunang kuning di kegelapan malam.

Sejenak Har lupa pada pekerjaannya yang menumpuk, lupa pada Novi yang habis ditempelengnya. Lupa pada pacar Novi yang tadi ngacir terbirit-birit. Juga lupa karena belum bertanya nama perempuan yang duduk di sebelahnya. Har menoleh. Perempuan itu masih memandang keluar, menembus kaca jendela, menunggangi kabut di puncak pegunungan.

“Oh ya, siapa namamu. Saya Har, Haryanto,” Har memperkenalkan diri. Terasa aneh juga bagi Har, soalnya tadi perempuan ini yang mendatangi Har. Sekarang malah ia yang mendahului.

Perempuan itu agak terkejut lalu cepat-cepat menutupinya dengan seulas senyum. “Saya Imah, Oom.”

Nama yang sederhana, sesederhana dandanan dan sikapnya. Tidak berusaha untuk menutupinya dengan merobah menjadi Ina, misalnya. Atau Sherly, atau Melly, atau…. ah, pokoknya banyak lagi ribuan nama yang bisa dia pinjam hanya untuk sekedar gagah-gagahan. Biar dibilang gadis modern, seperti kebanyakan gadis-gadis perkotaan. Nama kota, namun tingkah lakunya terkadang lebih kampungan daripada gadis kampung itu sendiri.

Har yakin perempuan ini bukan berasal dari kota, terdengar dari perbendaharaan bahasa Indonesia yang pas-pasan bercampur dengan dialek sunda yang mendayu-dayu. Yang menunjukkan bahwa perempuan ini hanyalah perempuan pribumi biasa. Apakah perempuan ini penduduk sekitar sini, atau datang dari jauh bersama teman-teman seprofesi, yang telah lebih dahulu dapat “sewa”.

Belum terjawab uneg-uneg Har, mobil keburu sampai di vila yang di tuju. Har memanggil penjaga vila melalui hp-nya. Hanya butuh waktu lima menit, si Mamang – begitu Har memanggilnya – penjaga vila setengah tua itu muncul dengan terseok-seok membukakan gerbang vila. Ia rupanya sedang pulas saat bunyi telepon mengusiknya. Kesadarannya belum pulih benar ketika tangannya membuka gembok dicampur dengan perasaan heran karena bosnya datang dengan mendadak untuk menginap. Kini lebih heran lagi karena bosnya turun dengan seorang perempuan sepantaran Novi. Tadi dia kira itu Novi.

Tapi sebagai penjaga vila yang baik, yang telah mengabdi hampir dua puluh tahun, si Mamang tahu diri untuk tidak bertanya panjang lebar termasuk tentang perempuan yang berjalan gontai di sisi bosnya.

“Saya rapikan dulu kamarnya, Gan. Agak berantakan, habis Agan jarang menginap ke sini,” tutur si Mamang tersipu-sipu tak berani menatap langsung, tapi sedikit melirik pada Imah. Har hanya mengangguk acuh tak acuh.

Har mengajak Imah ke ruang tengah vila. Di sana ada satu set bangku sofa untuk bersantai juga terlihat semacam bar dengan beberapa botol minuman asing berjejer pada rak di dinding belakang bar.

“Tentunya kamu kedinginan sekali bukan, minum ini untuk menghangatkan badan,” ujar Har sambil menyodorkan setengah gelas minuman. Imah inginnya menolak. Meski perempuan kampung ia toh tahu kalau itu memabukkan. Tapi ia lalu menyodorkan tangannya sambil meringis, tetap berusaha bersikap sewajar mungkin.

Perasaan gundah yang tengah melanda Har ditambah beban pekerjaan kantor yang tiada habisnya, membuat Har menumpahkan semua itu ke hadapan Imah yang mendengarkannya dengan tekun. Hanya sesekali Imah berkomentar, selebihnya berupa ribuan anggukan. Dan entah berapa puluh tegukan pula minuman beralkohol itu masuk ke perut Har dan Imah.

Di ujung cerita panjang Har dan diambang kesadaran mereka berdua yang semakin menipis, Imah pun ngomong dengan tanpa ragu.

“Saya sedang kesulitan uang, Oom. Mak saya sedang sakit dan perlu banyak biaya.”

“Ha…ha…ha, tidak usah khawatir. Berapa biaya yang kamu butuhkan.” Har tertawa terbahak-bahak. Jelas, Har telah mabuk. Bablas semua persoalan dari isi kepalanya. Tak meleset jauh dugaan Har sejak semula, kalau perempuan ini memang tengah butuh duit. Mana ada perempuan yang mau mendekati seorang lelaki di tengah hawa dinginnya puncak lalu bersedia diajak ke dalam vila, kalau bukan demi uang.

Dan malam itu, kelaki-lakian Har yang sempat membeku sejak lima tahun lampau, kembali mencair, mendidih dan menggelora. Meski lima tahun tak pernah menyentuh perempuan ditambah lagi dalam keadaan mabuk, tetap tidak membuat Har lupa bagaimana ia harus menjadi laki-laki kembali. Kamar yang tadi telah dirapikan si Mamang sekejap berubah berantakan lalu menjadi saksi bisu bagaimana Har yang mabuk dan bernapsu menelusuri seluruh lekukan tubuh Imah.

Namun yang terlupakan oleh Har adalah bagaimana Imah agak menjerit ketika memulai dan merintih sepanjang permainan gila yang disuguhkan Har. Ada genangan bening pada mata Imah yang terus tercurah hingga menjelang ayam berkokok. Har memang tidak lupa, di sela-sela mabuk dan kepuasannya, ia menumpahkan seluruh isi dompet dan menyerahkannya pada Imah. Berlanjut dengan dengkuran penuh kenikmatan.

Har terbangun saat menjelang matahari berada di atas kepala. Masih terasa pusing, ia turun dari tempat tidur. Imah sudah tak ada di sisinya. Sebagai penggantinya, ada bercakan merah di atas kain sprei. Langsung hilang pusing Har. Ia memeriksa isi dompet, kosong. Hanya berisi kartu tanda pengenal dan beberapa kartu kredit yang tak beringsut dari tempatnya. Ia ingat, dompet itu hanya berisi uang tiga ratus ribu dan telah diserahkannya semalam pada Imah.

Har meraba bercakan merah, menggosok-gosokan dengan kedua jarinya. Ia tersentak.
“Astaga, perempuan itu masih perawan.”

Har merenung, “Imah, perempuan desa yang lugu, ia jual keperawanannya demi orangtuanya yang tengah sakit. Hanya tiga ratus ribu. Begitu nistanya aku, begitu egoisnya aku.” Ada sesal yang menggayut di pundak Har.

Tapi apa mau dikata, perempuan itu telah terbang jauh, kembali ke habitatnya di sebuah dusun yang entah dimana letaknya. Ingin sekali Har menyusul Imah, menemui orangtuanya, meminangnya untuk dia peristeri, sebagai bentuk pertanggungjawaban dari seorang laki-laki.
Perempuan desa nan lugu itu telah berhasil memporak-porandakan keteguhan yang selama ini dipertahankan Har untuk tidak menikah lagi hingga akhir hayat. Tapi dimana Imah, di mana dusunnya?

Sekian.

Jakarta, 2012

                                               
                            
                                                           

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

  Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).  Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...