Di Selasar kita bisa berdiskusi. Ramai-ramai atau sendiri. Boleh. Sambil minum kopi, merenung atau hanya sekedar berimajinasi, juga boleh. Atau sambil bermimpi dan masturbasi. Pun boleh-boleh saja. Terserah! Silakan saja. Suka-suka.
Minggu, 23 Maret 2025
Melodi Pulang Kampung
Sebuah cerpen
Langit Jakarta berwarna abu-abu. Suara gitar sederhana menggema di antara hiruk-pikuk kendaraan. Adit, seorang pengamen jalanan. 24 tahun. Memainkan sebuah lagu lama yang acap diminta orang-orang di persimpangan jalan. Namun, pikirannya jauh melayang, menuju sebuah desa kecil di Jawa Tengah. Tempat keluarganya tinggal.
Melodi Pulang Kampung
Yoss Prabu
Hari ini, Adit kembali dihantui rasa rindu yang berat.
Pemuda sudah tiga tahun di Jakarta, mencari rezeki untuk membantu keluarganya di kampung. Namun, pandemi dan ekonomi yang tidak menentu membuat tabungannya habis. Ia hanya bisa membayangkan wajah bapak dan ibunya yang menua dan adik kecilnya yang kini tumbuh tanpa dirinya. Idulfitri tinggal beberapa hari lagi. Dan pulang kampung seolah menjadi sesuatu yang mustahil.
Sore hari, di persimpangan jalan. Di salah satu pojokan Jakarta. Adit menyanyikan lagu-lagu berirama galau. Hujan baru saja reda, dan aroma aspal basah bercampur dengan harum gorengan pedagang kaki lima. Menerjang sengit ujung hidungnya yang agak pesek. Ketika sudut pandangannya melihat seorang perempuan duduk di halte bus. Memakai jibab dan membawa tas besar. Dia tampak berbeda dari orang-orang yang berlalu-lalang.
"Maaf, Mas. Sini," perempuan itu memanggil ketika Adit selesai menyanyi.
Adit menghentikan permainannya dan menoleh. "Iya, Mbak?"
"Suaramu bagus. Aku suka lagunya. Boleh aku minta satu lagu?" tanyanya dengan senyum kecil. Ada yang aneh dengan senyum itu.
Adit mengangguk. "Boleh. Lagu apa?"
"‘Mungkin Nanti’ dari Ariel," jawabnya dengan suara pelan.
Adit tersenyum tipis. Lagu itu selalu membuat hatinya bagai disayat-sayat. Tapi dia menyanyikannya juga dengan penuh perasaan. Perempuan itu mendengarkan dengan saksama, sesekali menyeka air matanya yang jatuh. Ketika Adit selesai, dia memberikan uang lima ribu rupiah.
"Terima kasih, Mas. Kamu menyanyi dengan sangat baik," ucapnya tulus. Suaranya lirih.
"Terima kasih juga, Mbak. Nama saya Adit, kalau boleh tahu nama Mbak siapa?" tanyanya dengan sopan.
Perempuan itu ragu sejenak sebelum menjawab, "Dina."
Ternyata percakapan singkat itu menjadi awal perkenalan mereka.
Dina, seperti Adit, juga sedang berada di titik sulit dalam hidupnya. Ia baru saja keluar dari pekerjaannya sebagai staf administrasi dan sedang mencari tempat baru untuk memulai lagi. Ia dikeluarkan dengan alasan kontraknya habis. Padahal, banyak juga perusahaan yang mengurangi karyawan menjelang Idulfitri. Dan Dina hanya pasrah tanpa banyak komentar.
Hari-hari berikutnya, Dina sering mampir ke tempat Adit manggung di jalan. Ternyata, dia tinggal di kos sederhana tidak jauh dari sana. Mereka sering berbagi cerita tentang kampung halaman masing-masing. Dina berasal dari Magelang, sementara Adit dari Purwokerto. Keduanya berbagi kerinduan yang sama. Sama-sama ingin pulang ke rumah tetapi terhalang oleh keadaan.
"Kamu pernah merasa kalau dunia ini terlalu keras untuk kita?" tanya Dina suatu malam ketika mereka duduk di pinggir jalan, berbagi sebungkus nasi uduk plus gorengan bakwan.
Adit mengangguk. "Sering. Tapi, aku percaya kalau kita tetap berusaha, pasti ada jalan."
Dina tersenyum lemah. "Aku ingin percaya itu."
Lama-kelamaan, Adit mulai menyadari bahwa perasaan hangat mengalir setiap kali dia bersama Dina. Kehadirannya membawa sedikit kebahagiaan di tengah kehidupannya yang serba sulit. Namun, Adit merasa tidak pantas. Dia hanya seorang pengamen jalanan, sementara Dina tampak seperti seseorang yang bisa mendapatkan kehidupan lebih baik.
Suatu malam, Adit memberanikan diri bercerita kepada Dina tentang keinginannya untuk pulang kampung. "Aku rindu ibu, Din. Sudah tiga tahun aku tidak melihatnya. Tapi aku tidak punya cukup uang untuk ongkos."
Dina terdiam, menatap gitar tua Adit yang sudah mulai kusam. "Apa kamu tidak pernah mencoba menabung?"
"Aku mencoba. Tapi hasilnya selalu habis untuk biaya hidup di sini. Aku bahkan pernah berpuasa beberapa hari agar uangku cukup, tapi tetap saja gagal," jawabnya jujur.
Dina tergerak mendengar cerita Adit. "Kalau kamu ingin pulang, kita cari cara bersama-sama. Mungkin aku bisa bantu."
Adit terkejut sekaligus tersentuh. "Kenapa kamu mau membantu aku? Kita kan baru kenal."
Dina hanya tersenyum kecil. "Karena aku tahu rasanya ingin pulang tapi tidak bisa."
Dina punya ide untuk membantu Adit mengumpulkan uang. Mereka akan membuat pertunjukan kecil di taman kota, memanfaatkan akhir pekan yang biasanya ramai. Dina akan membantu mempromosikan acara itu melalui teman-temannya, sementara Adit akan tampil menyanyi.
Dengan semangat baru, Adit dan Dina bekerja sama. Dina mendesain poster sederhana dan membagikannya di media sosial, sementara Adit berlatih menyanyikan lagu-lagu yang lebih populer. Mereka bahkan membuat kotak donasi dengan tulisan “Bantu Adit Pulang Kampung”.
Hari pertunjukan tiba, dan taman kota dipenuhi orang-orang yang penasaran. Dina berdiri di antara kerumunan, tersenyum bangga melihat Adit menyanyi dengan penuh semangat. Beberapa orang mulai memasukkan uang ke dalam kotak donasi. Meski hasilnya belum cukup besar, Adit merasa ada harapan.
Namun, lebih dari uang yang terkumpul, Adit menyadari sesuatu yang lebih penting. Dina telah menjadi alasan baru baginya untuk tetap bertahan. Dia sungguh merasa telah jatuh cinta.
Di penghujung malam, setelah menghitung uang donasi, Adit dan Dina duduk di tepi sungai kecil di dekat taman. Hasilnya cukup untuk membeli satu tiket bus ke Purwokerto.
"Dina, aku nggak tahu bagaimana cara berterima kasih padamu. Kamu sudah melakukan banyak hal untukku," kata Adit dengan suara pelan.
Dina tersenyum. "Aku senang bisa membantu. Itu saja sudah cukup buatku."
Hening sejenak. Adit menarik napas dalam-dalam. "Dina, aku punya sesuatu yang ingin kukatakan. Mungkin ini aneh, tapi... aku rasa aku mulai menyukaimu."
Dina terkejut, wajahnya memerah. "Adit... aku..."
"Aku tahu aku bukan siapa-siapa," lanjut Adit cepat. "Aku cuma pengamen jalanan yang bahkan nggak punya cukup uang untuk pulang kampung. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku sangat menghargai dan menghormati kamu."
Dina tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca. "Adit, kamu tahu kenapa aku ingin membantu kamu? Karena aku juga merasa hal yang sama."
Keduanya terdiam, membiarkan perasaan mereka mengalir tanpa kata-kata.
Dan, dari uang hasil konser Adit, Dina menawarkan untuk membelikan tiket bus. Hanya untuk Adit.
Namun, Adit menolak. "Aku nggak mau pergi sendiri, Dina. Aku ingin kamu ikut."
Dina tertegun.
"Kita bisa pergi beberapa hari, bareng-bareng. Kamu juga rindu kampung, kan? Kita bergantian pulang kampung. Kita ke rumah orangtuamu dulu, baru kemudian ke rumah orangtuaku." Kata Adit tersenyum, penuh harap.
Akhirnya, mereka memutuskan untuk pulang bersama, meski hanya sebentar. Dengan sisa uang yang ada, mereka membeli tiket dan memulai perjalanan ke Jawa Tengah.
Setelah bertemu dengan keluarga Dina, yang disambut dangan penuh suka cita. Lalu Adit pulang sediri ke kampung halamannya. Setiba di rumahnya, pelukan keluarganya adalah hadiah terbaik yang pernah ia terima.
Meski hanya beberapa hari, perjalanan itu mempererat hubungan mereka. Dina dan Adit berjanji akan saling mendukung, apa pun yang terjadi. Di bawah langit desa yang penuh bintang, Adit menengadah sambil berbisik, "Terima kasih, Tuhan. Kau telah mengirimi aku seorang bidadari cantik, yang menjadi alasanku untuk terus berjuang. Dan kini aku tahu bahwa harapan selalu ada."
Adit tersenyum sendirian.
Jakarta, 20 Maret 2025.
*
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal
Hanya ilistrasi. (Gambar: AI). Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...
-
Selamat Pagi Kusibak kabut yang menggantung. Kutatap pagi yang redup. Lembapnya terasa segar di sela rintik yang malu-malu. ...
-
Tulisan ini saya buat ketika saya menjadi anggota dari sebuah grup WA yang admin-nya secara kurang ajar mendaulat saya untuk menjadi narasum...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.