Di Selasar kita bisa berdiskusi. Ramai-ramai atau sendiri. Boleh. Sambil minum kopi, merenung atau hanya sekedar berimajinasi, juga boleh. Atau sambil bermimpi dan masturbasi. Pun boleh-boleh saja. Terserah! Silakan saja. Suka-suka.
Tampilkan postingan dengan label Monolog. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Monolog. Tampilkan semua postingan
Jumat, 11 April 2025
Krisis & Cinta
Yoss Prabu versi AI
Naskah Monolog
Krisis & Cinta
Karya: Yoss Prabu
Babak I
Sebuah Tragedi Ekonomis
Naskah monolog panggung. Gaya penyampaiannya mengalir seperti stand-up comedy, tapi dengan nuansa teaterikal. Cocok dibawakan satu orang di spotlight, sendirian di atas panggung, dengan ekspresi yang berubah-ubah sesuai emosi.
(Lampu sorot menyala. Seorang tokoh berdiri sendiri di tengah panggung, mengenakan pakaian kasual. Wajahnya bingung-bingung optimis. Ia membuka suara setelah hening sejenak).
TOKOH:
Apa itu krisis ekonomi?
(Pause. Menatap langit-langit seolah bertanya ke Tuhan).
Itu..., ketika Anda sadar isi dompet Anda lebih sepi dari hati mantan yang sekarang sudah menikah.
(Melangkah pelan ke kanan, menghela napas).
Krisis itu datang..., seperti mantan yang tidak diundang, pas hidup lagi tenang-tenangnya. Anda sudah bahagia, gaji aman, cicilan lancar, makan masih ada daging, ayam lebih sering. Hidup masih ada harapan... Tiba-tiba..., jebret! Harga-harga naik. Gaji beku. Dompet kering. Dan Anda..., mulai berpikir untuk makan mi instan..., pakai topping air mata.
(Tertawa sendiri.)
(Berpindah posisi).
Tapi, eh, krisis itu romantis juga lho. Sumpah. Cinta diuji bukan sewaktu Anda bisa ajak dia makan malam mewah..., tapi ketika kalian bareng-bareng sedang ngirit. Nasi setengah bungkus, cuma pakai kuah sayur, ditambah sepotong tempe goreng. Tapi dengan penuh cinta. Luber, malahan.
(Menatap penonton, lembut).
Anda tahu, dia sangat mencintai Anda. Dengan sungguh-sungguh... Kalau dia masih mau makan tahu isi goreng bareng Anda, sambil bilang, “Sayang, ini lebih sehat ketimbang steak, lho.”
(Sambil mengelus perut).
Padahal Anda cuma punya uang sepuluh ribu.
(Dengan gaya sok bijak, melipat tangan).
Krisis juga filosofis, bro. Ia mengajarkan kita bahwa....., angka di rekening itu sifatnya fana. Yang abadi adalah cicilan. Dan kenangan sewaktu Anda beli cappuccino sachetan tiap sore.... Tapi sekarang, cuma tinggal kopi hitam sachet, dengan rasa pahit yang tak pernah selesai.
(Gaya meledak, dramatis).
Kita semua sedang hidup dalam sinetron kolosal. Yang berjudulnya "Cinta dalam Bayang-bayang Inflasi!"
(Langkah cepat ke depan panggung).
Krisis juga sarkastis, lho? Di TV, pejabat bilang, “Masyarakat harus lebih bijak kelola keuangan.”
Padahal dia punya rumah tiga, mobil lima, dan kita....., kita baru bisa beli telur, itu pun kalau ada promo Buy 1 Get 1 Free.
(Mimik mengejek. Tertawa pedih).
Mereka bilang, “Ayo dukung UMKM!” Kita bingung. UMKM? Uang Makan Kurang Maksimal?
(Beat).
Kita gak malas. Bukan malas. Kita cuma hemat. Kita bukan nggak mau jajan, cuma uangnya udah habis.
(Kembali melankolis. Pandangan sendu).
Tapi, krisis juga..., puitis. Karena di tengah semua ini..., ada momen-momen kecil yang indah. Seperti ketika Anda duduk di warung kopi, uang tinggal enam ribu, tapi ada teman yang bilang, “Udahlah, bro. Sini..., gue traktir roti bakar.”
Itu cinta, bos.
(Kepal tangan, penuh semangat).
Dan justru di masa krisis, kita menemukan makna bahwa, manusia bisa adaptif, seperti bunglon. Atau kayak dompet, yang tiba-tiba bisa ngilang isinya tanpa jejak.
(Beat. Jalan pelan).
Banyak dari kita jadi tukang jualan online. Tiba-tiba bisa bikin risoles, jadi barista dadakan, jadi motivator Instagram...
Padahal..., itu semua hanya karena satu alasan. Bertahan hidup.
(Duduk di bangku).
(Nada suara mengecil, merenung).
Krisis itu..., seperti ujian dari semesta. Kita tidak oernah tahu jawabannya. Tidak dikasih kisi-kisi. Kerangka dasar yang berisi kriteria soal-soal yang akan disusun. Tapi tetap harus ikut. Dan pas kita gagal? Ya, sudah. Disuruh coba lagi. Tanpa ada kegiatan perbaikan. Tapi, kita kan manusia. Kita bisa gagal. Sambil tertawa. Karena apa lagi yang bisa kita lakukan?
(Mendadak semangat).
Kita bikin lelucon. Kita bercanda. Kita bahas politik sambil mengeluh harga minyak. Kita saling olok-olok nasib..., biar gak gila. Karena dalam tawa..., ada kekuatan buat terus melangkah. Dan kalaupun dunia ini runtuh..., selama masih ada teman yang mau berbagi gorengan. Masih ada cinta yang tahan sama dompet kosong, dan masih ada Anda yang bisa berdiri, meski sempoyongan... Berarti, kita belum kalah.
(Berdiri tegak. Tatapan tajam ke penonton).
Jadi, kalau ada yang bertanya, “Apa itu krisis ekonomi?” Jawab saja. Itu..., saat dompet kosong, tapi hati masih bisa tertawa. Itu, saat kita tidak punya banyak, tapi tetap bisa berbagi. Itu..., saat kita jatuh, tapi tetap berani bilang. Gue nggak sendiri. Kita semua lagi jatuh bareng. Dan kita bakal bangkit. Bareng-baremg.
FADE OUT
babak II
Saldo Menipis, Senyum Manis Pun Terkikis
(Lampu menyala kembali. Tokoh berdiri, sekarang memegang gelas kopi kertas—kosong).
TOKOH:
Krisis ekonomi juga..., bisa bikin Anda jadi puitis.
Contoh: Saldo menipis, senyum manis terkikis.
Dompet menangis, dan hidup pun apatis.
(Pause. Menatap gelas kopi).
Ini kopi? Isinya cuma kenangan. Kemarin masih cappuccino... sekarang cuma bekas busa impian.
Dulu.... saya nongkrong tiap malam. Sekarang? Nongkrong di depan warung sambil nunggu cashback dari aplikasi ojek online.
(Melangkah ke kiri).
(Lirih).
Saya mulai merasa..., bahwa hidup ini sebenarnya cuma dua hal. Menunggu gajian. Menunggu gajian berikutnya.
Dan di antara dua titik itu..., kita belajar menjadi manusia.
(Beat).
Pernah tidak, sih? Anda merasakan absurd-nya hidup. saat Anda sedang di kasir. Dan kasirnya yang cantik itu bilang, “Maaf, saldo Anda tidak cukup.” Dan Anda... sambil senyum, bilang, “Oh, saya pakai yang satunya lagi, ya…” Padahal Anda tahu. Yang satunya juga sama…, kering. Tapi Anda..., tetap mencoba. Nekat. Karena kita hidup..., atas dasar harapan.
(Pause).
(Jalan pelan-pelan).
Krisis itu membuat semua jadi paradoks. Kita kerja lebih keras..., untuk membeli lebih sedikit.
(Senyum dipaksakan. Lalu menatap penonton, seperti menyampaikan rahasia).
Kita punya lebih banyak akses..., tapi isi cuma sampah. Kita makin canggih..., tapi kita makin terjepit.
(Mendadak menggebu).
Pernah tidak, Anda hitung pengeluaran seminggu terakhir? Saya pernah. Dan kesimpulannya? Saya... harus minta maaf ke diri sendiri.
(Menunduk. Suara kecil).
“Maaf, ya. Anda harus hidup seperti ini. Tapi kita harus tetap jalan. Karena... tidak ada pilihan lain.”
(Senyum dipaksakam).
Tapi lucunya, ya... walau hidup begini... kita tetap bisa saling jatuh cinta.
(Berdiri tegak. Gaya dramatis. Beat. Suasana mulai menghangat).
Ya! Jatuh cinta! Karena manusia itu... bodoh tapi romantis. Indah. Walau Anda sedang ngirit, tapi tetap bisa jatuh cinta sama orang yang mau diajak ke warung kumuh. Walau Anda cuma bisa traktir es teh tawar, tapi tetap bisa berharap dia bilang, “Aku nggak butuh yang mewah, asal kamu jujur. Dan kamu tersenyum. Padahal, semua orang waras tahu..., kamu itu miskin.
(Tertawa. Berharap penonton juga ikut tertawa).
Cinta itu memang tidak butuh alasan. Tapi dia juga gak ngerti diskon.
(Beat. Suasana mulai menghangat).
Tapi, yang paling menggelikan adalah, betapa kuatnya kita berpura-pura. Kita pura-pura bahagia. Pura-pura stabil. Pura-pura paham saham. Padahal, untuk beli gorengan pun masih perlu pertimbangan ulang. Kita update status, “Grate ful for to day,” bersyukur atas hari ini, sambil nyari kode promo Grab Food.
Kita bikin story, “hidup untuk saat ini.” Kita hidup di zaman absurd, saudara-saudara...
(Tersenyum).
Lalu menatap tajam ke penonton.
Tapi mungkin..., absurditas inilah yang bikin kita masih waras. Karena, krisis bukan cuma soal ekonomi. Tapi soal eksistensi.
babak III
Promo, Pura-pura, dan Pertanyaan-pertanyaan Eksistensial
(Tokoh kini duduk di bangku kayu, gelas kopinya sudah dia letakkan di lantai. Ia membuka dompet kosong dan menatapnya seperti membuka kitab suci masa depan).
TOKOH:
Ini dompet saya...
(Sambil membukanya lebar-lebar ke arah penonton).
Lihat isinya? Hampa. Cuma ada KTP, kartu BPJS, satu kertas struk Indomart... dan selembar foto mantan. Itu pun buram, karena kehujanan waktu saya nekat nyari wifi gratis di taman.
(Penonton tertawa)
(Ia berdiri pelan-pelan, memainkan dompet).
Dompet ini... adalah cerminan hidup saya. Bentuknya lumayan. Kulit sintetis. Dalamnya? Retak-retak dan penuh luka.
(Diam sejenak. Tiba-tiba ceria).
Tapi..., saya belajar mencintainya. Karena di sinilah.... tempat semua keputusan besar diambil. Bayar warteg? Lihat dompet dulu. Ikut reunian? Lihat dompet dulu. Si Dia ngajak nonton? Pasrah sama takdir.
(Tertawa sendiri. Lalu dengan semangat baru).
Tapi jangan salah, sekarang saya jago berburu diskon! Saya bisa tahu jam berapa aplikasi merah kasih voucher cash back. Saya hafal kode promo yang bisa dipakai lima kali dengan akun berbeda. Saya..., sekarang hidup bukan berdasarkan waktu, tapi berdasarkan flash sale. Kalau ada suara notifikasi dari Shopee, saya refleks lebih cepat dari pemadam kebakaran.
(Terdiam. Suara berubah sedikit melankolis).
Tapi pernah tidak, Anda meerasa... Di tengah semua itu...., Anda lelah? Lelah pura-pura bahagia. Lelah menghitung uang sampai ke detik terakhir. Lelah..., pura-pura mampu, biar tidak dikasihani.
(Senyum kecil. Lalu menatap jauh ke satu titik).
Kadang saya iri sama anak kecil. Mereka menangis, langsung dikasih susu. Saya? Nangis. Eh, malah disuruh cari kerja tambahan. Anak kecil nendang bola, kena kaca tetangga, pecah. Orang bilang, “Namanya juga anak-anak.” Saya salah narik uang di ATM? Langsung dianggap..., gagal finansial.
(Hening sejenak. Gaya agak filosofis).
Tapi itulah hidup. Kita diajarkan, untuk bertahan. Bukan untuk menang. Bukan untuk jadi hebat. Cuma bertahan.
(Tiba-tiba gaya jadi seperti orator revolusi).
Bangun pagi, bertahan dari godaan rebahan. Bekerja, bertahan dari keinginan untuk mengundurkan diri setiap hari. Makan, bertahan dari godaan keinginan nasinya nambah. Cinta, bertahan dari kenyataan bahwa dia lebih sayang sama cowok yang punya motor gede dan punya tabungan BCA.
(Tertawa getir. Nadanya kembali lembut).
Saya sering mikir... Apa ya... makna hidup ini? Kalau ujung-ujungnya cuma mikirin uang, bayar tagihan, cicilan, isi pulsa, isi ulang galon, isi ulang emosi... Apa kita ini makhluk ekonomi? Atau... budak sistem?
(Pause).
(Lalu berkata pelan).
Tapi lalu... saya lihat ibu saya. Dia gak pernah ikut seminar finansial. Gak punya aplikasi budgeting. Tapi dia bisa bikin uang 50 ribu cukup buat makan satu keluarga. Dan dia selalu bilang, “Yang penting cukup. Gak usah gengsi. Hidup itu bukan lomba gaya-gayaan.”
(Gaya bangga, meniru ibunya).
“Orang kaya belum tentu bahagia. Tapi orang yang bahagia... selalu merasa kaya.
(Senyum tulus. Penonton diam).
Jadi... mungkin, krisis ekonomi ini bukan hanya tentang seberapa banyak yang kita punya. Tapi seberapa kuat kita bertahan. Dan seberapa sering kita... mau saling bantu.
(Senyap sejenak. Lalu dia berjalan ke tengah panggung, lebih dekat ke penonton).
Karena saya percaya... Di tengah krisis pun, manusia masih bisa memberi. Ngasih senyum. Ngasih waktu. Ngasih telinga buat dengar curhat. Ngasih sedikit empati di tengah pasar yang gaduh. Dan di situ... ada semacam harapan. Bahwa meski dunia jungkir balik, kita masih bisa jadi manusia.
babak IV
Mimpi Diskon dan Cinta Bertahan Hidup
(Tokoh berdiri sambil menatap langit-langit spanggung seakan sedang melihat bintang-bintang. Tapi jelas... di atas sana cuma atap panggung dan lampu).
TOKOH:
Waktu kecil... saya punya mimpi. Saya mau jadi pilot. Karena pilot dapat keliling dunia... dan punya seragam keren. Sekarang? Saya keliling dunia...... lewat Google Maps. Pakai seragam? Ya, seragam rumah, kaos oblong dan celana kolor sobek sedikit, di pantat.
(Beat. Jalan ke kiri panggung).
Tapi mimpi itu lucu ya. Dulu kita bermimpi jadi bintang. Sekarang? Kita bermimpi... diskonan Indomaret 50%, buat minyak goreng!
(Tertawa. Penonton juga).
Dulu, impian itu sesuatu yang jauh, besar, dramatis. Sekarang, impian itu sederhana. Ya Allah..., semoga besok tanggal muda. Semoga token listrik gak abis tengah malam nanti. Semoga pas masukin kode voucher... gak expired. Krisis ekonomi itu, mengubah mimpi. Bukan mematikan. Cuma, menyesuaikan resolusi.
(Duduk di lantai).
(Lalu berbicara pelan).
Cinta juga, berubah. Dulu cinta itu bunga, puisi dan kejutan romantis. Sekarang? Cinta adalah, bagi dua ongkos kirim. Cinta adalah, sabar waktu pasangannya ngeluh soal pekerjaan. Cinta adalah, tetap saling peluk walau kontrakan bocor. Dan kipas angin cuma muter doang.
(Pause. Tatap kosong ke depan).
Saya pernah suka seseorang. Yang bilang, dia gak butuh yang mewah. Tapi, setiap chat-nya isinya link Shopee dan Tokopedia. Dan saya? Cuma bisa buka. Lihat.
Dan menutup aplikasi sambil berkata. Gue cinta lo. Tapi kartu debit gue enggak.
(Tertawa tipis).
Tapi cinta sejati itu bukan soal harta. Cinta sejati itu, waktu Anda sakit dan dia bertanya. Mau saya buatkan teh hangat, tidak? Walaupun ternyata, tehnya cuma teh celup bekas dua hari lalu. Tapi niatnya..., itu yang hangat. Itu yang mahal.
(Beat).
(Berdiri lagi, lebih tegas).
Dan Anda tahu tidak? Di tengah semua itu, ada satu hal yang luar biasa. Kita jadi kreatif! Krisis membuat kita inovatif. Jualan online, jadi admin, ngonten, buka preorder nasi kucing, buka jasa joki skripsi, nyari cuan dari review Shopee. Kita bisa jadi content reator. Padahal, dulunya cuma niat curhat. Kita jadi marketing digital. Padahal cuma mau promosi gorengan buatan Mak. Kita jadi financial planner. Buat nyari tahu kenapa saldo hilang padahal baru gajian dua hari lalu.
(Pause. Gaya seperti motivator).
Krisis itu bukan akhir, teman-teman. Tapi awal dari sebuah kreativitas yang dipaksa!
(Gaya berubah sarkastis).
Dan, dari semua itu. Saya belajar tentang satu hal. Sistem ekonomi global itu seperti hubungan toxic. Kita terus disuruh percaya, padahal dia yang menghisap kita pelan-pelan. Harga naik? Dibilang karena kondisi dunia. Upah stagnan? Dibilang karena belum waktunya. Kita capek? Disuruh bersyukur. Padahal kita sudah bersyukur sejak pendaringan kosong teru semenjak dua bulan lalu.
(Beat. Suara jadi berat dan melankolis).
Tapi ya... Kita masih tetap hidup. Tetap bekerja. Tetap jatuh cinta. Tetap tertawa, walau receh. Dan itu, adalah bentuk perlawanan paling halus. Karena mungkin saja, kebahagiaan di tengah krisis itu, adalah bentuk revolusi paling damai.
(Senyum kecil. Menatap langit-langit lagi).
Dan kalau yang bertanya. Apa cita-cita kamu sekarang? Maka akan saya jawab. Saya ingin hidup tanpa harus mikir sisa pulsa, tanpa harus nunggu flash sale. Tanpa harus bilang, nanti aja. Pas teman mengajak ngopi. Saya ingin hidup dengan ringan. Enteng-enteng saja. Tapi kalau tiak bisa juga, ya udah. Saya tetap akan tertawa. Tertawa bersama kalian saja. Karena, kalau hidup ini tidak bisa jadi ringan. Ya, minimal kita bisa menertawakannya.
(Lampu mulai meredup sedikit. Musik lembut mulai masuk pelan).
Dan sampai hari itu datang, saya akan terus berjalan. Dengan dompet kosong. Dengan perut setengah isi. Tapi hati, setidaknya masih bisa memberi. Memberi tawa. Mmemberi cerita. Juga memberi harapan. Dan cinta. Yang tidak pakai ongkir.
(Tirai perlahan turun. Musik mengalun pelan).
babak V
Tentang Bertahan dan Menertawakan
(Tokoh duduk di bangku tinggi, seperti sedang duduk di bar kecil, lampu sorot hanya satu. Tangannya memainkan sendok plastik, seperti sedang memainkan nasib).
TOKOH:
Mereka bilang, Ekonomi akan segera pulih. Saya percaya. Padahal nggak. Mantan bakal balikan. Bisa jadi, ya. Tapi..., jangan terlalu berharap.
(Beat. Lempar sendok ke kantong jaket).
Krisis ini mengajarkan saya satu hal penting. Bahwa hidup bukan tentang menang.
Bukan tentang jadi orang kaya, viral, sukses di usia 25. Hidup, adalah tentang bertahan. Dan menertawakan betapa lucunya perjuangan itu.
(Sambil berdiri).
(Gestur seperti bercerita pada anak cucu).
Bayangkan... Di masa depan, saya akan cerita ke cucu saya. Nak, dulu kakek pernah beli cabai pakai sistem barter. Kakek kasih senyum, tuker sama 3 biji cabai rawit. Dulu kakek belajar matematika dari dasar. Dari mulai menghitung ongkos kirim. Dan dulu, kakek jatuh cinta sama perempuan yang mau diajak makan di warteg, dan tetap senyum walau kakek pesennya cuma nasi saja, pake sayur, kuahnya saja. Lauknya, cukup tempe goreng.
(Menatap penonton, perlahan).
Krisis itu, memperlihatkan siapa kita sebenarnya. Siapa yang tetap bertahan, siapa yang mulai hilang. Siapa yang berani jujur, siapa yang jago pura-pura kuat. Kadang saya heran. Kita itu mengeluh capek, tapi tetap bekerja. Ngakunya males hidup, tapi tetap bangun pagi. Itu bukan kelemahan. Itu kekuatan yang..., gimana gitu. Sungguh absurd! Tapi nyata. Jangan bantah!
(Melangkah pelan, mendekati tepi panggung).
Kita ini, saya maksudnnya. Adalah generasi yang......., bisa bercanda soal kesehatan. Sambil sesenggukan di kamar. Bisa bikin status motivasi di Instagram... Padahal ngetiknya, dengan pulsa boleh ngutang sama tetangga. Tapi masih bisa bilang. Tidak apa-apa, kok. Padahal tadi pagi makan cuma biskuit sisa Lebaran.
(Ketawa sendiri. Mudah-mudan penonton juga ikut tertawa).
Tapi itu yang bikin saya bangga jadi manusia zaman sekarang. Kita begitu fleksibel. Lentur. Tidak mudah patah.
(Tiba-tiba jadi lirih. Mendalam.)
Saya tahu rasanya, menghadapi pemilik kontrakan. Kok seperti menghadapi nasional. Saya tahu rasanya. Menolak ajakan nongkrong. Bukan karena sibuk, tapi karena tidak punya ongkos. Saya tahu rasanya. Memperhatikan gebetan story-an sama cowok lain, sambil mikir. Mungkin dia lebih layak. Dia punya mobil. Meski cicilannya belum lunas. Saya tahu. Sementara saya? Saya punya optimisme. Tapi, ya... terkadang itu juga tidak cukup, sih?
(Menunduk. Diam.)
Tapi saya juga tahu rasanya. Tertawa bersama teman, sampai lupa isi dompet sudah ludes. Dapet diskon mi instan dan merasa hidup bergairah kembali. Nemu duit 2 ribu di kantong celana, udak hampir hancur karena bekas dicuci. Dan seolah-olah Tuhan tersenyum sambil berkata, “Tenang. Kamu belum tamat.”
(Senyum kecil. Lalu menatap ke arah penonton).
Dan yang paling penting. Saya tahu rasanya, dicintai bukan karena saldo. Tapi karena ketulusan. Walau itu jarang. Tapi itu nyata. Sangat nyata.
(Sorot lampu mulai meredup).
Jadi, kalau malam ini Anda pulang dan masih merasa sendirian. Ingat! Anda tidak sendiri. Kita semua sama. Sama-sama bingung. Sama-sama berjuang.
Sama-sama..., masih mencoba waras di dunia yang makin gila ini. Dan kalau hidup memang terlalu berat. Tertawalah. Tertawa itu bukan lari, ya? Tapi istirahat. Tertawalah. Karena dunia ini sudah cukup kacau tanpa Anda ikut murung. Tertawalah... Karena kalau tidak, nanti Anda lupa bahwa.
(Agak ditekan).
Anda masih hidup.
(Berjalan ke tengah panggung).
(Senyum).
Dan selama Anda masih bisa ketawa, Selama Anda masih bisa bercerita. Selama Anda masih bisa bilang, “Gue kuat,” Walau cuma buat nutupin tangisan... Itu berarti Anda menang. Bukan di soal ekonomi. Bukan juga di persoalan status sosial. Tapi......, di humanity. Kemanusiaan.
(Lampu perlahan padam. Fade Out. Tapi suara tokoh masih terdengar terakhir kali).
TOKOH (vo):
Dan kalau suatu hari kita bertemu, jangan lupa tegur saya, ya? Bawa bekal, kalau bisa. Karena saya pasti masih krisis...
(BLACK OUT. TIRAI TURUN).
TAMAT
Jakarta, 09 April 2025.
Langganan:
Komentar (Atom)
Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal
Hanya ilistrasi. (Gambar: AI). Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...
-
Selamat Pagi Kusibak kabut yang menggantung. Kutatap pagi yang redup. Lembapnya terasa segar di sela rintik yang malu-malu. ...
-
Tulisan ini saya buat ketika saya menjadi anggota dari sebuah grup WA yang admin-nya secara kurang ajar mendaulat saya untuk menjadi narasum...
