Tampilkan postingan dengan label Belajar Nulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belajar Nulis. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Agustus 2025

Modal Menulis: Antara Kopi, Luka, dan Laptop yang Tak Meledak

 

Hanya ilustrasi. (Gambar: AI). 

Waktu adalah bahan bakar utama penulis. Sayangnya, banyak dari kita menggunakannya untuk scroll TikTok sampai jempol kram. Kalau kamu tipe yang bangun siang, lalu nulis sambil ngemil biskuit kadaluarsa, ini saatnya tobat. Gunakan kalender, jurnal, alarm, atau kalau perlu post-it ditempel di cermin. “WOY, NULIS!” Kembalilah ke jalan yang benar.

 

Modal Menulis: Antara Kopi, Luka, dan Laptop yang Tak Meledak

Oleh: Yoss Prabu

 

Menjadi penulis itu mirip banget sama jatuh cinta. Menguras waktu, menghabiskan energi, bikin deg-degan, dan kadang – ya ampun – nyakitin hati. Tapi entah kenapa, kita tetap mau mengulangnya lagi dan lagi. Tahun boleh berganti, kalender boleh lecek sampai tulisannya pudar, tapi obsesi menulis itu nggak pernah pensiun.

Jadi, wahai penulis malang tapi nekat, ini bukan sekadar nasihat. Ini doa. Supaya langkahmu nggak cuma ngetik sambil galau, tapi juga penuh kebahagiaan. Dan sedikit waras.

Kita sering dengar mitos, “Menulis itu murah, nggak perlu modal.” Betul! Kalau nulisnya pakai batok kelapa dan arang. Tapi di dunia modern, kalau perangkatmu cuma kuat buat ngetik lima kata lalu freeze sambil berkata “Not Responding”, kamu bisa trauma seumur hidup.

Nggak perlu beli laptop seharga motor atau MacBook yang bisa bikin cicilan sampai cucu. Asal cukup kuat buat menahan beban tab riset absurd seperti “Apakah ninja bisa makan bakso?” atau “Berapa lama singa bisa tahan nggak ngedip?” Sudah cukup. Ingat, kehilangan 3.000 kata gara-gara komputer nge-hang rasanya lebih nyesek daripada ditinggal pas lagi sayang-sayangnya.

Penulis sejati adalah makhluk belajar abadi. Dunia memang buku terbuka, tapi kadang halamannya penuh coretan spidol anak TK. Jadi? Ya. Kita tetap butuh bimbingan.

Mau ikut kuliah menulis? Boleh. Kelas daring? Mangga atuh, sok. Beli buku tentang menulis? Wajib. Karena meskipun kamu merasa bakatmu setara Pramoedya atau Ernest Miller Hemingway, tetap saja kadang kamu butuh orang lain untuk menatap matamu dan berkata, “Bro, kalimat ini jelek banget.”  Jangan gengsi. Bahkan Shakespeare kalau hidup sekarang mungkin ikut webinar “How to Survive Writing Block with Bubble Tea.”

Waktu adalah bahan bakar utama penulis. Sayangnya, banyak dari kita menggunakannya untuk scroll TikTok sampai jempol kram. Kalau kamu tipe yang bangun siang, lalu nulis sambil ngemil biskuit kadaluarsa, ini saatnya tobat. Gunakan kalender, jurnal, alarm, atau kalau perlu post-it ditempel di cermin. “WOY, NULIS!” Kembalilah ke jalan yang benar.

Intinya, temukan sistem yang bikin kamu benar-benar menulis, bukan cuma memikirkan betapa pengen nulisnya kamu.

Siapa bilang penulis harus hidup sendiri di gua? Bahkan, kesepian pun sering kali butuh partner ngobrol.

Gabunglah dengan komunitas menulis. Bisa di forum online, grup WhatsApp, atau nongkrong di warteg sambil ngopi dan berdebat kenapa karakter cerita harus mati di bab 7.

Percaya deh, ide terbaik sering muncul dari obrolan receh jam dua pagi, seperti, “Gimana kalau tokohnya ternyata alien penyuka seblak dan gorengan basi?”

Kalau kamu menunggu inspirasi datang, siap-siap ketemu di hari kiamat. Menulis itu bukan soal mood, tapi soal disiplin.

Pilih waktumu. Pagi, tengah malam, atau di sela-sela teriakan anak dan tagihan listrik. Nggak perlu muluk. Satu paragraf pun oke. Bahkan satu kalimat jelek lebih baik daripada sejuta ide yang cuma nongkrong di kepala.

Di balik semua itu, penulis sejati nggak cuma investasi uang atau waktu. Tapi juga keberanian. Keberanian untuk gagal. Untuk membaca tulisan sendiri dan berkata, “Astaga, ini sampah,” lalu tetap melanjutkan. Untuk menerima kritik tanpa nangis di kamar mandi. Untuk tetap mengetik meski hidup sedang berantakan.

Karena pada akhirnya, penulis adalah mereka yang tetap menulis saat dunia menyuruhnya diam. Dan walau profesi ini kadang terasa seperti pilihan aneh, percayalah, dunia butuh kisahmu. Ceritamu. Bahkan cerita paling konyol sekali pun.

*

Jakarta, 14 Juli 2025

 

Sabtu, 26 Juli 2025

Bikin Novel: Perjalanan Panjang yang Mengasyikan

 


Novel itu bayi yang lahir lewat jari. Dibesarkan dengan air mata, kopi, dan delete-delete yang tak kunjung reda. Tapi sungguh, ada momen-momen puitis yang membuat semuanya layak.

 

Bikin Novel: Perjalanan Panjang yang Mengasyikan

Oleh: Yoss Prabu

 

Menulis novel itu seperti jatuh cinta sama seseorang yang tiap pagi lupa siapa kita. Kau harus kenalan lagi dari awal. “Hai, aku yang semalam bikin kamu menangis di bab tujuh.” Tapi si novel cengar-cengir di pojokan halaman kosong, bilang, “Maaf, aku lupa. Kita mulai lagi dari bab satu, ya?”

Proses menulis itu perjalanan panjang. Panjang sekali. Kadang seperti jalan kaki dari rumah ke Mars, tanpa sepatu, hanya ditemani kopi dan kegelisahan. Tapi herannya, kita tetap melangkah. Kenapa? Karena ada sensasi masokis – kepuasan dari rasa sakit – yang manis dalam menyiksa diri menggunakan kalimat. Setiap kata yang ditulis, rasanya seperti mencabut duri dari daging sendiri, tapi sambil bilang, “Ah, enak juga, ya.”

Awalnya, kita menulis dengan semangat membara. Waktu itu, ide datang seperti kembang api malam tahun baru. Meletup, meledak, wah! Lalu bab tiga datang. Sunyi. Tak ada ledakan. Hanya sepi seperti tanggal tua. Karakter-karaktermu mulai memberontak. Mereka tak mau ikut plot yang kau rancang. Si tokoh utama malah jatuh cinta sama figuran. Si antagonis ingin ikut bertobat. Lalu kau duduk termenung, bertanya pada layar laptop, “Aku penulis atau cuma juru ketik ambisi orang lain?”

Tapi di balik kekacauan itu, ada hal yang sangat romantis. Menulis novel adalah bentuk paling setia dari cinta platonis. Kau mencintai ide yang tak bisa kau sentuh. Kau mengasuh tokoh-tokoh yang tak akan pernah membelikanmu bunga. Tapi tetap, tiap malam kau datangi mereka, kau tanya kabar mereka, kau tuliskan luka-luka mereka sebaik yang kau bisa. Dan jika ada pembaca yang ikut terluka, itu kemenangan. Sebab luka yang dibagikan, entah kenapa, terasa lebih ringan.

Novel itu bayi yang lahir lewat jari. Dibesarkan dengan air mata, kopi, dan delete-delete yang tak kunjung reda. Tapi sungguh, ada momen-momen puitis yang membuat semuanya layak. Ketika kau berhasil merangkai satu paragraf yang pas. Ketika tokohmu menangis dan kau ikut tersedu. Ketika kau menulis satu kalimat dan tahu, "Ah, ini dia. Ini akan menusuk hati pembaca seperti mantan datang di resepsi pernikahan."

Menulis novel itu pekerjaan paling nekat yang bisa dilakukan manusia waras. Kau menghabiskan berbulan-bulan menulis sesuatu yang belum tentu dibaca orang. Kau kerja keras untuk menciptakan dunia baru, padahal dunia nyata saja sering kau lupakan, tagihan listrik, tagihan PAM, tagihan rumah dan orang tua yang bertanya, “Kerjamu apa, Nak?” lalu kau jawab, “Menulis,” dan mereka diam sejenak lalu pelan-pelan bilang, “Tapi kerja ‘benerannya’ apa?”

Ada hari-hari di mana kau merasa novelmu adalah sampah terindah yang pernah kau ciptakan. Ada malam-malam saat kau menatap halaman kosong seperti menatap lubang hitam, luas, pekat, dan mengisap semua semangat hidup. Tapi justru di situ letak filosofi menulis. Bahwa dari kekosongan, kita menciptakan makna. Bahwa dalam kebisuan, kita membangun dunia yang bicara lebih lantang dari hidup sehari-hari.

Menulis novel adalah perjalanan panjang yang tidak dijanjikan akan sampai. Tapi kau terus berjalan, karena setiap langkah adalah pembebasan. Karena menulis itu seperti mencintai hujan, basah, dingin, kadang bikin sakit, tapi tetap ditunggu-tunggu.

Dan di akhir semua itu, kau akan berdiri sambil memeluk naskahmu. Letih. Lapar. Bahagia. Karena kau tahu, meski novel itu belum tentu dibaca banyak orang, tapi ia telah menyelamatkan satu jiwa. Jiwamu sendiri.

*

Jakarta, 26 Juli 2025.

 

Sabtu, 25 Januari 2025

Penulis, Pengarang, dan Pencatat Itu Beda

Penulis, Pengarang, dan Pencatat Itu Beda Yoss Prabu Dalam dunia literasi, kita sering mendengar istilah "penulis", "pengarang", dan "pencatat". Meski ketiganya berhubungan dengan kegiatan menulis, masing-masing memiliki karakteristik dan peran yang berbeda. Ini penjelasan perbedaan ketiganya agar kita lebih memahami peran dan fungsi mereka dalam menghasilkan sebuah karya. Penulis adalah seseorang yang menghasilkan karya tulis dengan tujuan tertentu, baik itu informatif, persuasif, atau hiburan. Fokus utama seorang penulis terletak pada kemampuan teknis menulis, seperti struktur kalimat, tata bahasa, dan penyampaian pesan. Contoh profesi yang sering disebut sebagai penulis adalah jurnalis, blogger, atau content writer. Mereka menulis berdasarkan fakta, penelitian, atau kebutuhan audiens tertentu. Seorang penulis biasanya bekerja di bawah kerangka tertentu, misalnya menulis berita, artikel, atau naskah yang disesuaikan dengan permintaan klien atau target pasar. Pengarang sering dikaitkan dengan seseorang yang menciptakan karya tulis bersifat orisinal dan imajinatif, seperti novel, cerpen, puisi, atau skenario film. Fokus utama seorang pengarang adalah menciptakan cerita atau gagasan yang baru. Dalam hal ini, pengarang tidak hanya menulis, tetapi juga mengembangkan plot, karakter, dan pesan moral dalam karyanya. Pengarang juga memiliki kebebasan dalam berkarya. Mereka tidak terikat pada fakta atau data seperti penulis, melainkan mengekspresikan pemikiran atau imajinasi mereka. Contoh pengarang terkenal adalah Pramoedya Ananta Toer dan Andrea Hirata, yang karyanya sarat dengan makna dan nilai seni. Sementara pencatat adalah orang yang bertugas mendokumentasikan informasi atau peristiwa dengan rinci dan akurat. Peran pencatat sering ditemukan dalam rapat, diskusi, atau penelitian, di mana tugas mereka adalah mencatat segala sesuatu yang terjadi atau disampaikan. Berbeda dengan penulis dan pengarang, pencatat lebih berfokus pada objektivitas dan akurasi. Mereka tidak menambahkan opini atau interpretasi pribadi ke dalam catatan mereka. Pekerjaan pencatat sering ditemukan pada posisi notulen, sekretaris, atau asisten peneliti. Jadi beda sekali antara penulis, pengarang dan pencatat. Karena penulis bertujuan menyampaikan informasi, pengarang menciptakan cerita, sedangkan pencatat mendokumentasikan informasi. Itu sebabnya, pengarang memiliki kebebasan tertinggi, diikuti oleh penulis. Sementara pencatat harus mengikuti fakta tanpa interpretasi. Dalam hal ini, konteks karya penulis sering menghasilkan karya praktis, pengarang fokus pada karya seni, dan pencatat bekerja dalam lingkup formal. Jadi, meskipun penulis, pengarang, dan pencatat memiliki ketrampilan dan keterkaitan dalam dunia tulis-menulis, peran dan fungsi mereka sangat berbeda. Penulis fokus pada penyampaian informasi, pengarang menciptakan karya orisinal, dan pencatat bertugas mendokumentasikan secara akurat. Memahami perbedaan ini membantu kita mengapresiasi setiap profesi dan kontribusinya terhadap dunia literasi. Begitu, ya.

Minggu, 19 April 2020

CARA MENULIS NOVEL BAGI PEMULA

Tulisan ini saya buat ketika saya menjadi anggota dari sebuah grup WA yang admin-nya secara kurang ajar mendaulat saya untuk menjadi narasumber. Mereka meminta saya untuk membuat makalah tentang: Bagaimana Menulis Novel Bagi Pemula. Namun saya pun merasa tidak enak hati untuk menolak. Jadi, saya kabulkan permohonan itu dan inilah tulisannya.  

CARA MENULIS NOVEL BAGI PEMULA

Sebelum kita mulai, terlebih dahulu saya ingin bernarsis ria tentang saya. Perkenalkan nama saya Yoss Prabu. Aktivis teater (tadinya). Pernah mempunyai grup teater dan melatih hingga beberapa tahun. Tidak ada perkembangan positif lalu beralih kegiatan. Menjadi jurnalis pada 2 (dua) majalah yang nggak ngetop. Yaitu majalah Detektif Romantika (majalah hukum dan kriminal) dan majalah Lengsuir (majalah tentang hal-hal gaib dan berbau klenik). Seputar dunia perdukunan, begitu kira-kira. Namun akibat pengelolaannya yang buruk, kedua majalah itu pun gulung tikar. Nah, dari situlah bakat menulis saya terpupuk. 

Saya tidak pernah belajar bahasa Indonesia secara formal, seluruhnya autodidak. Itu karena saya senang membaca. Berawal dari majalah anak-anak, berlanjut ke majalah remaja. Majalah-majalah itu hingga sekarang masih eksis. Lalu, ketika meningkat memasuki usia dewasa, saya pun memulai membaca secara serius. Artinya, mulai selektif. Tidak asal sekedar membaca. Sebuah majalah politik yang pernah dibredel pemerintah namun berhasil terbit kembali, menjadi bacaan utama saya ketika itu. Lalu ditambah dengan membaca koran harian berskala nasional, yang saya anggap nyaris sempurna dalam hal penyajian bahasanya. Nah, dari kedua media cetak itulah saya belajar, belajar tentang bahasa. Dari majalah - enak dibaca dan perlu - itu saya belajar tentang jurnalisme sastra, dari koran harian saya belajar tentang: menulis yang baik dan benar. Saya yakin, semuanya paham tentang kedua media cetak itu. Selebihnya, saya belajar dari internet. 

Begitulah, saya terus membaca. Pun membaca novel-novel best seller karya pengarang ternama. Kebanyakan pengarang luar yang karya-karyanya meledak dipasaran dan banyak difilmkan. Sehingga membuat keinginan lain untuk menjadi pengarang kian menggebu. Dengan asumsi, toh, saya pernah menjadi jurnalis merangkap anggota redaktur. Di luar negeri, redaktur disebut editor. Manusia yang berhak menentukan, apakah sebuah tulisan dapat dimuat di media atau tidak. Malah saya lebih sering berbuat "gila", dengan menerima sebuah tulisan berita yang sedemikian amburadulnya dari seorang reporter muda, hanya atas dasar kasihan. Lalu meraciknya menjadi sebuah tulisan yang layak dibaca. 

Dari semua aktivitas itu, saya menganggap diri saya bisa menulis. Di situlah letak narsismenya saya. Maka saya pun terus menulis. Dan saya memilih, menulis novel. 

Lalu ketika ada pertanyaan, bagaimana menulis novel, khususnya bagi pemula? 
Bagi saya itu hal mudah, awali saja dahulu dengan keinginan menulis. Keinginan yang kuat. Sebab menulis tanpa bekal itu semua - terutama menulis novel - kamu hanya akan kelelahan di tengah jalan. Dan akhirnya menyerah. 
Sekarang, kita telaah dulu, "Apa itu novel?" 

Baik. Saya kutip pernyataan Tante Wiki (Wikipedia). Novel adalah karangan prosa yang panjang. Mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang di sekelilingnya, dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku. Penulis novel disebut novelis. 

Novel, digambarkan memiliki "sejarah yang berkelanjutan dan komprehensif selama sekitar dua ribu tahun". Pandangan ini melihat novel berawal dari Yunani dan Romawi Klasik, abad pertengahan, awal roman modern. 
Dalam novel, "peristiwa-peristiwanya adalah rentetan peristiwa biasa dalam kehidupan manusia dan keadaan masyarakat saat itu". 

Tetapi, banyak roman, termasuk roman-roman historis karya Scott, Wuthering Heights karya Emily Brontë dan Moby-Dick karya Herman Melville, sering juga disebut novel. 

Atau dengan kata lain, novel adalah narasi fiksi yang panjang. Yang menceritakan pengalaman manusia secara lebih dekat. Dan novel di era modern biasanya menggunakan gaya prosa sastra dan pengembangan novel bentuk prosa tersebut saat ini telah didukung dengan inovasi-inovasi dalam dunia percetakan dan diperkenalkannya kertas murah pada abad ke-15. 

Sementara panjang sebuah novel masih menjadi perdebatan, menjadi hal penting karena kebanyakan penghargaan sastra menggunakan panjang, sebagai kriteria dalam sistem penilaian. Namun bagi kebanyakan penerbit, apalagi di Indonesia, naskah novel harus di atas 150 halaman. Format A4, dengan besar huruf 12%, Time New Roman, jenis hurufnya. Sudah menjadi ketentuan baku. Kalau kurang, belum layak disebut novel. Kalau lebih? Bikin saja 2 (dua) jilid. Beres. 
Jadi bagi kamu yang ingin menulis novel, apa yang harus dilakukan? Jawabannya, mulailah menulis. Akan tetapi tentunya, kamu juga harus menentukan temanya terlebih dahulu. Baru setelah itu membuat sinopsis. 

Nah, satu-satu dulu. Apa itu tema? Juga menurut Tante Wiki, tema merupakan suatu gagasan pokok atau ide pikiran tentang suatu hal. Tema sangat dianjurkan karena merupakan fondasi dari sebuah tulisan. Tema merupakan hal paling utama yang akan dilirik oleh para pembaca. Jika temanya menarik, maka akan memberikan nilai lebih pada tulisan tersebut. Baru setelah itu membuat sinopsis. 

Lalu apa itu sinopsis. Ini saya kutip dari sebuah situs: Sinopsis merupakan ringkasan cerita dari sebuah novel atau gambaran isi dari suatu cerita secara garis besarnya. Jadi, buatlah sinopsis. 
Setelah sinopsis jadi, simpanlah untuk dijadikan pegangan. Karena membuat novel merupakan sebuah perjalanan panjang yang melelahkan. Membutuhkan kekuatan, ketelitian, ketabahan dan kesabaran. Butuh daya tahan luar biasa. Kalau tidak, akan berisiko menjadi jomblo awet. Lho? Naskahnya, maksudnya. 
Baik kita lanjutkan. 

Setelah bayangan cerita terkumpul di benak, pertama-tama buatlah alur cerita. Atau biasa disebut outline atau kerangka cerita. Outline adalah struktur dari cerita yang akan ditulis. Bisa pula dikatakan skema, atau draft atau konsep. 
Namun ada baiknya kita buat dulu para tokohnya. Siapa saja yang akan berperan dalam cerita yang akan kamu buat. Kalau saya membuatnya seperti ini. Misal. 
- Nuniek (misal): tokoh utama. Seorang anak dari keluarga kelas menengah. Beruntung bisa kuliah. Lalu tambahkan tokoh lain. Ayahnya, Mamahnya, adik atau kakaknya. Terserah, sesuaikan saja menurut cerita. 

Lalu kemungkinan ada tetangga, teman, dosen, sopir angkot atau lain-lainnya. Terserah pengarang. 
Baru setelah itu buat susunan kerangka cerita. Pertama-tama, bagi alur cerita dalam tiga bagian. Dapat pula disebut bab. Mulai dari yang termudah. Gunakan tiga bab saja. Itu standarnya. Berisi: pembukaan, isi cerita dan terakhir penutup. Yang paling baik, 30% untuk pembukaan, 40% isi dan 30% penutup. Itu sekedar acuan. Pada praktiknya, terserah kepada pengarang itu sendiri. 

Sekarang kita buat per adegan. Ini untuk memudahkan perbaikan apabila ada yang harus direnovasi atau direhabilitasi. Diperbaiki maksudnya. Misal seperti ini. 
1. Nuniek (sang tokoh utama) baru bangun tidur. Dan ia langsung membuat rencana hari ini. Kemudian ceritakan bagaimana Nuniek membuat rencana (entah itu melalui imajinasi) atau tindakan langsung. Misalnya, dengan masih telentang di tempat tidur, ia menyusun rencana. Bisa dalam imajinasi, bisa pula melalui gumaman. 

"Oh, ya. Hari ini aku harus ke toko buku. Ada buku yang harus kubeli. Materi buku itu sangat cocok untuk membuat naskah novel. Yang telah lama kususun dan kurencanakan." Begitu, misalnya. 
Atau melalui tindakan langsung. 
Nuniek terkejut ketika ia membuka matanya dan langsung tersadar bahwa ia harus ke toko buku secepatnya. Tak ada waktu untuk mandi pagi, demikian gumamnya. Maka dengan hanya menggosok gigi dan membasuh tubuh ala kadarnya, Nuniek segera mengganti pakaian dan langsung bergegas menuju halaman rumah. Melupakan sarapan paginya yang telah tersedia di meja makan, dan berlagak tidak mendengar ketika mamahnya berteriak-teriak memanggil. Nuniek melesat dengan motor bebeknya membelah kepadatan lalu lintas yang memusingkan. Begitu kira-kira. 

Buat itu satu setengah halaman. (Saya melakukan seperti itu. Karena terbiasa membuat naskah berita. Padat, ringkas dan langsung ke tujuan. Ketika saya menjadi redaktur). 

Adegan ke-2, misalnya. Nuniek sedang berada di toko buku. Atau Nuniek kesal karena diajak ngobrol sama mamahnya. Atau, ia baru tersadar kalau terlalu lama membuat rencana di tempat tidur. Dan empat jam ia belum melakukan apa pun. 
Yang ke-3 dan seterusnya. Apabila satu adegan butuh satu setengah halaman, berapa adegan yang diperlukan untuk 150 halaman. Ya tinggal dibagi saja. 150 dibagi 1,5 = 100. Jadi kamu harus membuat 100 adegan untuk memenuhi kuota standar halaman naskah novel. Itu kalkulasi kasar. Pada perjalanannya semuanya akan berubah. Artinya, adegan satu hingga 10 misalnya, kamu bisa konsisten 1,5 halaman dalam menulis. Namun, bisa pula terjadi, ini kalau mood sedang gencar, kamu bisa membuat satu adegan 2 hingga tiga halaman. Kemungkinan yang terjadi, kamu akan menulis lebih dari 150 halaman. Keren, kan? Tidak apa-apa. Menulis saja dulu. Tambahan lain, apabila kamu telah berhasil menyelesaikan satu bab dengan 30 adegan misalnya, maka pada bab ke-2 nomor adegan tinggal lanjutkan menjadi 31. Dan seterusnya. 
Lalu susun hingga cerita berakhir. Dan berhentilah ketika halaman naskah telah melebihi 150. 

Setelah itu? Endap naskah 2 atau tiga hari. Ketika naskah dibuka 3 hari kemudian maka kamu akan melihat naskah secara obyektif. Akan melihat dari sudut pandang orang lain. Kurang lebihnya akan terlihat jelas. Jadi, jangan ragu untuk memperbaiki. 
Mudah, kan?! 

Namun. Adakalanya, kita sebagai pengarang yang notabene juga manusia, sesekali suka mengalami apa yang namanya kebuntuan imajinasi. Istilah kerennya, writer’s block. 
Molly Cochran, penulis trilogi novel The Forever King, mengatakan bahwa writer’s block bisa muncul karena 5 (lima) sebab. 
Antara lain: 
-    Tidak ada inspirasi. Dengan kata lain kamu tidak tahu apa yang harus kamu tulis. 
-    Keragu-raguan. Kamu tahu apa yang ingin kamu tulis, tapi bingung bagaimana cara menyampaikannya.
-    Perfeksionisme. Kamu terlalu khawatir akan kualitas tulisanmu, sehingga terus-menerus merevisi tanpa menulis hal baru.
-    Opini orang. Kamu takut para pembaca akan mengkritisi karyamu, atau tidak menyukainya.
-    Performa. Meski kamu merasa ide tulisanmu bagus, kamu takut ide tersebut tidak bisa menghasilkan uang. 
Jadi bila sudah demikian, apa yang harus dilakukan. 
Masih menurut Molly Cochran, lakukanlah hal di bawah ini. 
 
Freewriting (menulis bebas)
Ini cara yang cukup banyak direkomendasikan oleh sesama penulis, juga merupakan cara yang saya sendiri sukai. Bila kamu merasa kesulitan menulis sebuah cerita, tinggalkan cerita itu dan pergilah menulis hal lain untuk sementara. 

Lupakan kualitas. Lupakan tanda baca, EYD atau PUEBI, dan segala aturan lainnya. Tulis apa saja yang kamu pikirkan, agar imajinasimu kembali segar. Dengan menulis sebebas-bebasnya, kamu akan kembali merasakan kesenangan dalam menulis. 
 
Membuat kerangka (outline)
Memikul sebuah ide besar bisa membuat otakmu lelah. Lebih baik kamu memecahnya menjadi potongan-potongan kecil, dan mengembangkannya dari sana. Selain membuat topik itu lebih mudah diproses, kamu sekaligus juga membuat referensi agar isi tulisanmu konsisten.
 
Membaca Buku
Ya, tulisan orang lain adalah sumber inspirasi yang berharga. Bila kamu bingung tentang apa yang harus kamu tulis, kamu bisa membaca buku dengan topik serupa. Tapi ingat, mengambil inspirasi tidak sama dengan menyontek.
Membaca buku akan memancing aliran imajinasimu 
 
Hilangkan Gangguan
Tutup browser internetmu. Matikan smartphone. Pergi ke tempat yang jauh dari keramaian. Meski kecil, gangguan-gangguan yang menumpuk dalam jumlah banyak dapat mengganggu konsentrasimu.
 
Masih banyak lagi cara-cara yang bisa kamu gunakan untuk melawan writer’s block, tapi semua cara ini akhirnya akan berujung pada satu hal: tetap menulis.
Writer’s block tidak akan hilang bila kamu hanya diam dan menunggu inspirasi. Kamu harus terus menulis, meski itu sesuatu yang tidak nyambung, tidak bagus, dan tidak layak jual.
 
Cara mengalahkan writer’s block adalah dengan menulis.
Barangkali apabila terus menulis, ketika idemu mampat akan membuatmu merasa kurang percaya diri. Tapi sesungguhnya, menulis sesuatu yang jelek itu jauh lebih baik daripada tidak menulis sama sekali. Lagi pula bila tulisanmu jelek, kamu tinggal melakukan revisi nantinya. Jadi jangan takut menulis.
Writer’s block bukan sesuatu yang perlu ditakuti. Setiap penulis, mulai dari yang sudah best seller sampai yang baru belajar, bisa mengalaminya. Perbedaannya, penulis profesional akan berjuang mengalahkannya, sementara penulis amatir hanya bisa diam tak berdaya. 
Di atas itu menurut para penulis profesional. Kalau menurut saya - satu dua nyaris sama dengan para penulis kampiun itu. Pertama cobalah jalan-jalan. Cari tempat yang membuat pikiran kamu terbuka dan kembali segar. Jalan-jalan nemuin mantan, lalu mengenang masa lalu. Lho? Bukan. Nggak. Jangan! Nanti malah jadi kacau. Ujung-ujungnya malah gak nulis-nulis. 
Jalan-jalan, cari udara segar dan suasana baru. Ke mal, bisa. Ke bioskop, mungkin. Coba saja. Kalau saya, menonton film yang saya sukai bisa membuat adrenalin kembali menggelegak dan kepinginnya buru-buru kembali ke laptop. 

Membaca buku. Salah satu pilihan, yang dapat membuat inspirasi kembali hinggap di kepala. Kalau kamu sedang membuat novel, cobalah membeli satu novel best seller dari pengarang ternama, yang genrenya sama dengan cerita yang sedang kamu tulis. Saya yakin, sebelum isi novel itu habis kamu lalap, inspirasi sudah keburu muncul. 

Atau hal lain yang tidak kalah mujarab sebagai obat, cobalah berolah raga. Lari pagi, jalan cepat atau latihan silat, misalnya, kenapa tidak lakukan saja. Oke? 
Bagaimana denganmu? Apakah kamu siap menjadi penulis profesional? Maka mulailah menulis. 
 
Jakarta, 19 April 2020
Yoss Prabu 

Senin, 04 Juni 2018

TIPS MENULIS CEPAT

TIPS MENULIS CEPAT

Dalam dunia penulisan, ada tulisan yang bsa memakan waktu yang lama, dengan riset yang lama pula, namun ada kalanya kita dituntut untuk bisa menghasilkan tulisan dalam waktu singkat. Bisa karena deadline yang mengejar, ikut kompetisi dengan waktu pengumpulan naskah yang mepet dan berbagai alasan lainnya.


Di satu sisi, kepepet bisa membuat otak “terpaksa” kreatif atau dikenal dengan istilah The Power of Kepepet, di sisi lainnya, otak bisa mampet saat dipaksa mengeluarkan ide untuk terus menulis dan alih-alih mengeluarkan adrenalin untuk semangat malahan panik akan menghampiri yang ujung-ujungnya membuat tak satu pun kata yang keluar.
Tetapi kita bisa melatih diri kita untuk terbiasa menulis dalam kondisi apapun, tanpa atau dengan deadline, dalam waktu singkat dan tetap menghasilkan tulisan yang mengalir, alami dan tetap bermuatan. Beberapa tips dari Smart Writer berikut bisa dilakukan untuk tetap bisa berkarya dengan hasil sesuai yang diharapkan dan dalam waktu yang singkat.
1. Fokus dan Konsentrasi
Saat akan menulis, niatkan untuk menyelesaikan tulisan, tingkatkan fokus dan konsentrasi dan abaikan gangguan terutama untuk melihat telepon genggam, mendengarkan televisi, atau mengingat tugas dan kewajiban di luar tugas menulis termasuk keinginan untuk melihat jam.  Konsentrasi pada tulisan akan membantu untuk menyelesaikan tulisan dengan cepat karena otak akan terfokus dan memanggil semua informasi yang berkaitan untuk penyelesaian tulisan.
2. Biasakan memanfaatkan waktu di luar waktu menulis untuk membaca efektif dan mengamati lingkungan dengan detil di berbagai tempat
Banyak penulis yang membutuhkan waktu riset lebih lama daripada menuangkan tulisannya. Bahkan jika tidak punya deadline untuk menulis, tetap harus banyak membaca. Membaca juga akan membangkitkan keinginan untuk terus menulis dan menjaga tetap dekat dengan dunia tulisan. Utamakan membaca tulisan yang berkualitas. Tidak usah membaca tulisan-tulisan yang hanya menghabiskan energi.
Selain itu, biasakan untuk melakukan pengamatan dengan detil terutama pada saat harus menunggu, dalam antrean, kemacetan dan sebagainya. Detil ini akan sangat dibutuhkan saat menggunakan deskripsi pada tulisan.
3. Latih diri untuk menerima informasi sambil mengerjakan hal lain
Kita tidak selalu bisa membaca, melakukan riset dengan waktu khusus. Ada banyak hal yang harus dikerjakan, sementara informasi berseliweran di sekitar kita. Maka tetap latih otak untuk dapat mendapatkan informasi setiap harinya, abaikan hal – hal negatif dan fokuslah pada informasi yang membangun intelektualitas. 
4. Gambarkan ide untuk tulisan di luar waktu penulisan
Saat ada deadline menulis dan telah mengetahui temanya, maka segera susun kerangka serta ide untuk tulisan dari awal sampai akhir, cukup kerangka dasar sementara detilnya pada saat mengeksekusi ide menjadi tulisan.
5. Menulis Tanpa Jeda
Saatnya  menuangkan ide menjadi tulisan, maka tulis saja tanpa memikirkan kesalahan ejaan, huruf yang salah atau kalimat yang tidak efektif. Lakukan dengan cepat seolah sedang berbicara dengan seseorang. Ide akan mengalir bahkan lebih cepat dari kemampuan mengetikkan ide tersebut. Tetap pertahankan kecepatan penulisan dan usahakan jangan sampai ada jeda dan stag pada saat menulis cepat ini.
6. Latih diri untuk mengedit dalam waktu singkat
Setelah menulis, ambil jeda sejenak dan segera lakukan pengeditan. Latih diri untuk bisa mengedit dengan cepat. Mengedit cepat juga berhubungan dari pengetahuan yang luas tentang kosakata dan kemampuan untuk membaca dengan efektif. Sambil mengedit, pastikan bahwa telah memenuhi syarat dan aturan penulisan seperti jenis huruf, ukuran huruf, margin, jenis kertas, jumlah karakter, jumlah kata dan sebagainya.
7. Jaga kesehatan tubuh terutama mata
Semua hal di atas akan sia-sia jika tubuh terutama mata sakit. Lakukan olahraga ringan, bekerjalah pada tempat dengan pencahayaan cukup, konsumsi makanan dengan gizi seimbang, termasuk menjaga kesehatan pikiran. Isi otak dengan hal-hal positif yang mendukung kreativitas dan jaga niat menulis untuk berbagi hal-hal positif.
8. Ciptakan situasi yang mendukung
Banyak penulis memiliki tempat kerja khusus,  meja khusus di ruang khusus yang mengingatkannya untuk menulis. Bagaimanapun, menciptakan tempat dan suasana itu, pastikan mendapatkan sirkulasi udara yang baik agar otak tetap bisa mendapat suplai oksigen yang baik. Pastikan juga temperatur yang sesuai, tidak terlalu panas, tidak lembab dan bebas gangguan hewan seperti nyamuk atau sejenisnya.
Menulis adalah sebuah proses kreatif yang menuntut pelakunya untuk kreatif agar ide-ide segar bisa terus keluar. Musuh terbesar bagi seorang penulis adalah dirinya sendiri. Bagaimana para penulis bisa terus memaksa diri untuk selalu belajar, untuk selalu membaca, tidak lelah mencari informasi, mengolahnya menjadi tulisan menarik dan menyajikannya menjadi sebuah karya seni yang bisa dinikmati pembaca bagai seorang chef professional bahkan dalam waktu singkat sekalipun adalah keahlian yang bisa dibiasakan dan bisa dipelajari.
Terbiasa menulis cepat dalam waktu singkat juga akan menaikkan adrenalin untuk terus terpacu menulis karena melihat hasil akan mendatangkan kepuasan dan memancing untuk lebih intens lagi berkarya. Sementara kemandekan dan membiarkan sebuah ide tergeletak tanpa eksekusi dan mati hanya akan membangkitkan kemalasan yang ujung-ujungnya akan mematikan kreativitas itu sendiri.
Mari menulis sekarang juga, lakukan dengan cepat, dalam waktu singkat dan dapatkan kebahagiaan melihat hasilnya melalui tulisan cerdas dan cantik yang tersaji untuk para pembaca tulisan di mana pun mereka berada.

Senin, 27 Januari 2014

Pengetahuan sejarah film sangat penting II

 

Sebagai admin, saya ingin berbagi kembali tulisan Joe Gievano  – penulis skenario/sutradara film – tentang pentingnya pengetahuan sejarah film.

Sebelumnya, Joe Gievano pernah memberikan link untuk 100 greatest films list dari American Film Institute. Kali ini beliau mau memberikan list 100 non-english greatest films ever made dari Empire magazine.

Selasa, 21 Januari 2014

Membuat Screenplay dengan Celtx

Bagi yang tertarik dengan penulisan naskah film, bisa mencoba aplikasi yang bernama Celtx. Sebab, Celtx merupakan aplikasi yang dapat membantu menyelesaikan proses pra-produksi. Dari mulai menulis naskah, hingga pembuatan jadwal produksi. Aplikasi ini sangat berguna bagi para pekerja profesional, namun juga untuk yang sedang belajar bidang penulisan ini.
Dalam penulisan naskah, Celtx sudah dilengkapi dengan berbagai kebutuhan format tulisan, seperti: scene heading, action, character, dialog, transition, shot, dll. Jadi tidak perlu repot mengatur format sendiri. Celtx juga menyediakan tempat untuk catatan (scratchpad), index card untuk mengatur plot, dan detil kategori yang berguna nanti saat kita melakukan breakdown naskah. Detil tersebut melingkupi: aktor, character, location, property, sound, set dressing, dll.

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

  Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).  Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...