Novel
itu bayi yang lahir lewat jari. Dibesarkan dengan air mata, kopi, dan
delete-delete yang tak kunjung reda. Tapi sungguh, ada momen-momen puitis yang
membuat semuanya layak.
Bikin
Novel: Perjalanan Panjang yang Mengasyikan
Oleh: Yoss Prabu
Menulis novel itu seperti jatuh cinta sama
seseorang yang tiap pagi lupa siapa kita. Kau harus kenalan lagi dari awal. “Hai,
aku yang semalam bikin kamu menangis di bab tujuh.” Tapi si novel cengar-cengir
di pojokan halaman kosong, bilang, “Maaf, aku lupa. Kita mulai lagi dari bab
satu, ya?”
Proses menulis itu perjalanan panjang. Panjang
sekali. Kadang seperti jalan kaki dari rumah ke Mars, tanpa sepatu, hanya
ditemani kopi dan kegelisahan. Tapi herannya, kita tetap melangkah. Kenapa?
Karena ada sensasi masokis – kepuasan dari rasa sakit – yang manis dalam
menyiksa diri menggunakan kalimat. Setiap kata yang ditulis, rasanya seperti
mencabut duri dari daging sendiri, tapi sambil bilang, “Ah, enak juga, ya.”
Awalnya, kita menulis dengan semangat membara.
Waktu itu, ide datang seperti kembang api malam tahun baru. Meletup, meledak,
wah! Lalu bab tiga datang. Sunyi. Tak ada ledakan. Hanya sepi seperti tanggal
tua. Karakter-karaktermu mulai memberontak. Mereka tak mau ikut plot yang kau
rancang. Si tokoh utama malah jatuh cinta sama figuran. Si antagonis ingin ikut
bertobat. Lalu kau duduk termenung, bertanya pada layar laptop, “Aku penulis
atau cuma juru ketik ambisi orang lain?”
Tapi di balik kekacauan itu, ada hal yang
sangat romantis. Menulis novel adalah bentuk paling setia dari cinta platonis.
Kau mencintai ide yang tak bisa kau sentuh. Kau mengasuh tokoh-tokoh yang tak
akan pernah membelikanmu bunga. Tapi tetap, tiap malam kau datangi mereka, kau
tanya kabar mereka, kau tuliskan luka-luka mereka sebaik yang kau bisa. Dan
jika ada pembaca yang ikut terluka, itu kemenangan. Sebab luka yang dibagikan,
entah kenapa, terasa lebih ringan.
Novel itu bayi yang lahir lewat jari.
Dibesarkan dengan air mata, kopi, dan delete-delete yang tak kunjung reda. Tapi
sungguh, ada momen-momen puitis yang membuat semuanya layak. Ketika kau
berhasil merangkai satu paragraf yang pas. Ketika tokohmu menangis dan kau ikut
tersedu. Ketika kau menulis satu kalimat dan tahu, "Ah, ini dia. Ini akan
menusuk hati pembaca seperti mantan datang di resepsi pernikahan."
Menulis novel itu pekerjaan paling nekat yang
bisa dilakukan manusia waras. Kau menghabiskan berbulan-bulan menulis sesuatu
yang belum tentu dibaca orang. Kau kerja keras untuk menciptakan dunia baru,
padahal dunia nyata saja sering kau lupakan, tagihan listrik, tagihan PAM, tagihan
rumah dan orang tua yang bertanya, “Kerjamu apa, Nak?” lalu kau jawab,
“Menulis,” dan mereka diam sejenak lalu pelan-pelan bilang, “Tapi kerja
‘benerannya’ apa?”
Ada hari-hari di mana kau merasa novelmu adalah
sampah terindah yang pernah kau ciptakan. Ada malam-malam saat kau menatap
halaman kosong seperti menatap lubang hitam, luas, pekat, dan mengisap semua
semangat hidup. Tapi justru di situ letak filosofi menulis. Bahwa dari
kekosongan, kita menciptakan makna. Bahwa dalam kebisuan, kita membangun dunia
yang bicara lebih lantang dari hidup sehari-hari.
Menulis novel adalah perjalanan panjang yang
tidak dijanjikan akan sampai. Tapi kau terus berjalan, karena setiap langkah
adalah pembebasan. Karena menulis itu seperti mencintai hujan, basah, dingin,
kadang bikin sakit, tapi tetap ditunggu-tunggu.
Dan di akhir semua itu, kau akan berdiri sambil
memeluk naskahmu. Letih. Lapar. Bahagia. Karena kau tahu, meski novel itu belum
tentu dibaca banyak orang, tapi ia telah menyelamatkan satu jiwa. Jiwamu
sendiri.
*
Jakarta, 26 Juli 2025.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.