Kamis, 24 Juli 2025

Anak-Anak yang Tumbuh dari Luka

 




Gerundelan Bang Yoss

 

Di sebuah sudut taman kota, ada seorang bocah bernama Yeni. Usianya delapan, tubuhnya lima, mimpinya tiga belas. Setiap pagi dia bantu ibunya jualan lontong sayur, lalu sorenya duduk di pojok musholla sambil mencoret-coret kertas.

 

Anak-Anak yang Tumbuh dari Luka

Oleh: Yoss Prabu

 

Selamat Hari Anak Nasional. Di televisi, para pejabat berseragam rapi menyapa anak-anak sambil memeluk boneka. Kamera menyorot wajah mungil penuh senyum. Lalu, zoom out, kelihatan gapura bertuliskan “Anak Hebat, Indonesia Kuat.” Di belakangnya, ada anak-anak betulan. Bukan dari iklan susu atau lomba mewarnai, tapi dari kampung-kampung dan kolong jembatan yang tidak dicetak dalam brosur kementerian.

Anak-anak itu tidak sempat ikut upacara. Mereka sibuk jualan tisu di perempatan, memulung botol plastik demi sesuap mi rebus, atau menenangkan adik yang nangis karena susu tinggal angan.

Tapi jangan salah. Mereka hebat. Mereka yang belajar alfabet dari huruf bekas bungkus rokok. Yang tahu perbedaan “hujan berkah” dan “hujan bikin lapak hanyut.” Yang tahu rasanya lapar dan tetap bisa tertawa.

Dan ironisnya, itu tetap sebuah kehebatan, meski tidak dicetak di baliho atau modul pembelajaran.

Di sebuah sudut taman kota, ada seorang bocah bernama Yeni. Usianya delapan, tubuhnya lima, mimpinya tiga belas. Setiap pagi dia bantu ibunya jualan lontong sayur, lalu sorenya duduk di pojok musholla sambil mencoret-coret kertas.

“Aku mau jadi astronot,” katanya.

“Kenapa?” tanya temannya.

“Biar bisa kabur kalau bumi tambah nggak ramah.”

Puitis? Ya!

Tapi juga sedih.

Karena mimpi anak-anak kini lebih banyak soal “keluar dari kenyataan”, daripada memperbaikinya.

Hari Anak Nasional. Katanya, saatnya mendengar suara anak. Tapi siapa yang mendengar suara anak-anak yang tidak punya ponsel pintar? Yang tidak bisa unggah aspirasi ke TikTok? Yang tidak punya akun, karena bahkan akta kelahiran saja tidak ada? Anak-anak yang protes dengan diam. Yang menulis puisi dengan air mata. Yang menyanyi lewat suara tangis di tengah malam karena perut belum kenyang.

Di panggung perayaan nasional, seorang menteri bicara soal “pembangunan karakter dan digitalisasi anak bangsa.”

Tepuk tangan bergemuruh. Kamera merekam. Sementara di luar pagar acara, seorang anak SD menggigil karena tak punya seragam lengkap dan tadi diusir dari kelas. Namanya Suci. Ironi dari sistem yang suci di atas kertas, tapi dicabik-cabik di realita.

Lantas. Apa makna anak hebat di negeri ini? Apakah dia yang menang olimpiade robot, atau yang bisa jaga adiknya sambil bantu ibunya jadi buruh cuci? Atau. Apakah dia yang hapal Pancasila, atau yang sabar saat listrik padam dan belum makan sejak pagi?

Anak-anak Indonesia tidak butuh perayaan satu hari. Mereka butuh jaminan hari esok.

“Anak hebat, Indonesia kuat.”

Kalimat itu bagus di spanduk. Tapi lebih bagus lagi kalau ia hidup di dapur, di ruang kelas, di Puskesmas, di kolong rumah-rumah warga.

Karena kekuatan bukan sekadar slogan. Ia tumbuh dari gizi, dari kasih sayang, dari pendidikan yang tidak pilih kasih, dari ruang bermain yang tidak harus bayar tiket masuk. Dari negara yang tidak sibuk mengajari anak “berprestasi”, tapi lupa mengajari diri sendiri soal, “berperikemanusiaan.”

Tapi tenang, anak-anak kita tetap kuat. Mereka masih bisa tertawa meski tontonannya bukan kartun, tapi kelakuan orang dewasa yang memalukan. Mereka masih bisa bermimpi, walau mimpi itu sering kali dipotong oleh tagihan listrik dan harga sembako.

Mereka masih menyimpan Indonesia di matanya. Negeri yang katanya kaya raya, tapi sering lupa membagikan kekayaan itu dengan adil.

Selamat Hari Anak Nasional.

Untuk semua anak yang hebat bukan karena diaju-ajukan, tapi karena bertahan meski dilupakan. Karena sesungguhnya, “Indonesia kuat bukan karena punya anak-anak yang sempurna,” tapi karena punya anak-anak yang tetap baik, di tengah dunia yang terlalu sering abai.

*

Jakarta, 22 Juli 2025.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

  Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).  Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...