Gerundelan
Bang Yoss
Di sebuah sudut taman kota, ada seorang bocah bernama Yeni.
Usianya delapan, tubuhnya lima, mimpinya tiga belas. Setiap pagi dia bantu
ibunya jualan lontong sayur, lalu sorenya duduk di pojok musholla sambil
mencoret-coret kertas.
Anak-Anak
yang Tumbuh dari Luka
Oleh:
Yoss Prabu
Selamat
Hari Anak Nasional. Di televisi, para pejabat berseragam rapi menyapa anak-anak
sambil memeluk boneka. Kamera menyorot wajah mungil penuh senyum. Lalu, zoom
out, kelihatan gapura bertuliskan “Anak Hebat, Indonesia Kuat.” Di belakangnya,
ada anak-anak betulan. Bukan dari iklan susu atau lomba mewarnai, tapi dari
kampung-kampung dan kolong jembatan yang tidak dicetak dalam brosur
kementerian.
Anak-anak
itu tidak sempat ikut upacara. Mereka sibuk jualan tisu di perempatan, memulung
botol plastik demi sesuap mi rebus, atau menenangkan adik yang nangis karena
susu tinggal angan.
Tapi
jangan salah. Mereka hebat. Mereka yang belajar alfabet dari huruf bekas
bungkus rokok. Yang tahu perbedaan “hujan berkah” dan “hujan bikin lapak
hanyut.” Yang tahu rasanya lapar dan tetap bisa tertawa.
Dan
ironisnya, itu tetap sebuah kehebatan, meski tidak dicetak di baliho atau modul
pembelajaran.
Di
sebuah sudut taman kota, ada seorang bocah bernama Yeni. Usianya delapan,
tubuhnya lima, mimpinya tiga belas. Setiap pagi dia bantu ibunya jualan lontong
sayur, lalu sorenya duduk di pojok musholla sambil mencoret-coret kertas.
“Aku
mau jadi astronot,” katanya.
“Kenapa?”
tanya temannya.
“Biar
bisa kabur kalau bumi tambah nggak ramah.”
Puitis?
Ya!
Tapi
juga sedih.
Karena
mimpi anak-anak kini lebih banyak soal “keluar dari kenyataan”, daripada
memperbaikinya.
Hari
Anak Nasional. Katanya, saatnya mendengar suara anak. Tapi siapa yang mendengar
suara anak-anak yang tidak punya ponsel pintar? Yang tidak bisa unggah aspirasi
ke TikTok? Yang tidak punya akun, karena bahkan akta kelahiran saja tidak ada?
Anak-anak yang protes dengan diam. Yang menulis puisi dengan air mata. Yang
menyanyi lewat suara tangis di tengah malam karena perut belum kenyang.
Di
panggung perayaan nasional, seorang menteri bicara soal “pembangunan karakter
dan digitalisasi anak bangsa.”
Tepuk
tangan bergemuruh. Kamera merekam. Sementara di luar pagar acara, seorang anak
SD menggigil karena tak punya seragam lengkap dan tadi diusir dari kelas.
Namanya Suci. Ironi dari sistem yang suci di atas kertas, tapi dicabik-cabik di
realita.
Lantas.
Apa makna anak hebat di negeri ini? Apakah dia yang menang olimpiade robot,
atau yang bisa jaga adiknya sambil bantu ibunya jadi buruh cuci? Atau. Apakah
dia yang hapal Pancasila, atau yang sabar saat listrik padam dan belum makan
sejak pagi?
Anak-anak
Indonesia tidak butuh perayaan satu hari. Mereka butuh jaminan hari esok.
“Anak
hebat, Indonesia kuat.”
Kalimat
itu bagus di spanduk. Tapi lebih bagus lagi kalau ia hidup di dapur, di ruang
kelas, di Puskesmas, di kolong rumah-rumah warga.
Karena
kekuatan bukan sekadar slogan. Ia tumbuh dari gizi, dari kasih sayang, dari
pendidikan yang tidak pilih kasih, dari ruang bermain yang tidak harus bayar
tiket masuk. Dari negara yang tidak sibuk mengajari anak “berprestasi”, tapi
lupa mengajari diri sendiri soal, “berperikemanusiaan.”
Tapi
tenang, anak-anak kita tetap kuat. Mereka masih bisa tertawa meski tontonannya
bukan kartun, tapi kelakuan orang dewasa yang memalukan. Mereka masih bisa
bermimpi, walau mimpi itu sering kali dipotong oleh tagihan listrik dan harga
sembako.
Mereka
masih menyimpan Indonesia di matanya. Negeri yang katanya kaya raya, tapi
sering lupa membagikan kekayaan itu dengan adil.
Selamat
Hari Anak Nasional.
Untuk
semua anak yang hebat bukan karena diaju-ajukan, tapi karena bertahan meski
dilupakan. Karena sesungguhnya, “Indonesia kuat bukan karena punya anak-anak
yang sempurna,” tapi karena punya anak-anak yang tetap baik, di tengah dunia
yang terlalu sering abai.
*
Jakarta,
22 Juli 2025.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.