Puisi
Indonesia Kuat Jika Anak Tak Lagi Berbohong
Saat Disuruh Tersenyum
Oleh:
Yoss Prabu
Hari ini,
Hari Anak Nasional, katanya
Anak-anak
disuruh senyum lebar, padahal giginya ompong
Dan separuh
berlubang
Bendera
warna-warni dikibarkan di aula sekolah
Sementara
gizi buruk masih bertengger di dapur-dapur sempit dengan atap bocor
Anak-anak
kita menyanyikan lagu tentang masa depan
Padahal
masa kini saja belum juga mereka genggam
Tapi
mereka tetap tertawa
Karena
memang itulah modal awal jadi hebat
Kemampuan
tertawa di tengah yang pahit
Apa
kabar, Nak, hari ini kau disebut "hebat"
Besok,
saat kau protes, mungkin kau disebut "nakal"
Dan
lusa, saat kau tak ikut lomba mewarnai di kampung
Kau
dianggap tak punya semangat nasional
Kau
tahu, Nak
Menjadi
anak di negeri ini seperti ikut audisi tanpa juri yang jujur
Yang
juara bukan yang paling pintar
Tapi
yang tahu bagaimana membungkuk saat difoto bersama pejabat
Tapi
jangan patah hati, wahai generasi pijakan pagi
Kau
lahir dari peluh yang tak malu mengering di tanah yang lelah
Kau
tumbuh di antara kontradiksi
Dijanjikan
laptop, dikasih tugas TikTok
Dijanjikan
pendidikan gratis, tapi uang bangunan masih minta disetor di rapat RT
Tapi
ingatlah, Nak
Bukan
berarti kau lemah
Justru
di sini
Di
antara kekurangan dan kekisruhan
Anak-anak
belajar menjadi bijak sebelum waktunya
Kau
hebat bukan karena piagam penghargaan
Tapi
karena mampu bertanya
“Kenapa
Ibu menangis saat listrik padam?”
“Kenapa
Ayah tak pulang sejak proyeknya dibatalkan?”
Pertanyaan-pertanyaan
itulah fondasi kekuatanmu
Kau
hebat karena masih bisa tidur
Meski
dapur hanya menyuguhkan air gula
Kau kuat
karena tetap sekolah
Meski
sepatumu lebih banyak tambalan ketimbang sol aslinya
Dan di
sisi lain negeri
Anak-anak
kota duduk di ruang ber-AC
Diajar
bahwa keberhasilan adalah IPK dan bahasa asing
Tapi tak
satu pun dari mereka ditanya
“Apakah
kau bahagia menjadi anak?”
Begitulah
negara kita
Kadang
lupa bahwa hebat bukan soal statistik
Melainkan
keberanian untuk tumbuh
Di
antara kebohongan yang dibungkus pidato motivasi
Maka,
mari rayakan Hari Anak Nasional
Bukan
dengan panggung boneka atau balon udara
Tapi
dengan mendengarkan suara mereka yang tidak sempat ikut lomba
Yang
memilih menimba air, bukan ilmu
Yang
lebih akrab dengan cangkul daripada buku
Mari
rayakan
Dengan
membuat negeri ini benar-benar layak tumbuh
Di mana
anak tidak cuma jadi objek kampanye
Tapi
subjek kehidupan
Anak
hebat bukan anak yang selalu menurut
Tapi
yang berani mempertanyakan kenapa dunia ini tak adil
Dan
Indonesia kuat bukan karena jargon spanduk
Tapi
karena setiap anak – dari Sabang sampai Merauke –
Punya
ruang untuk tumbuh
Tanpa
takut ditertawakan karena mimpi mereka terlalu besar
Jadi,
Nak
Teruslah
tumbuh
Tertawalah
saat dunia pura-pura peduli
Menangislah
jika memang perlu
Tapi
jangan pernah berhenti berharap
Karena
masa depan negeri ini
Adalah
puisi panjang yang sedang kau tulis hari ini
Dengan
coretan sederhana
Tapi
penuh nyawa
Selamat
Hari Anak Nasional
Anak
Hebat, Indonesia (semoga benar-benar) Kuat.
*
Jakarta,
23 Juli 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.