Rabu, 23 Juli 2025

Indonesia Kuat Jika Anak Tak Lagi Berbohong Saat Disuruh Tersenyum

 


Puisi

 

Indonesia Kuat Jika Anak Tak Lagi Berbohong Saat Disuruh Tersenyum

Oleh: Yoss Prabu

 

Hari ini katanya Hari Anak Nasional

Anak-anak disuruh senyum lebar, padahal giginya ompong separuh

Bendera warna-warni dikibarkan di aula sekolah

Sementara gizi buruk masih bertengger di dapur-dapur sempit dengan atap bocor

 

Anak-anak kita menyanyikan lagu tentang masa depan

Padahal masa kini saja belum mereka genggam

Tapi mereka tetap tertawa

Karena memang itulah modal awal jadi hebat

Kemampuan tertawa di tengah yang pahit

 

Apa kabar, Nak, hari ini kau disebut "hebat"

Besok, saat kau protes, mungkin kau disebut "nakal"

Dan lusa, saat kau tak ikut lomba mewarnai di kampung

Kau dianggap tak punya semangat nasional

 

Kau tahu, Nak

Menjadi anak di negeri ini seperti ikut audisi tanpa juri yang jujur

Yang juara bukan yang paling pintar

Tapi yang tahu bagaimana membungkuk saat difoto bersama pejabat

 

Tapi jangan patah hati, wahai generasi pijakan pagi

Kau lahir dari peluh yang tak malu mengering di tanah yang lelah

Kau tumbuh di antara kontradiksi

Dijanjikan laptop, dikasih tugas TikTok

Dijanjikan pendidikan gratis, tapi uang bangunan masih minta disetor di rapat RT

 

Tapi ingatlah, Nak

Bukan berarti kau lemah

Justru di sini

Di antara kekurangan dan kekisruhan

Anak-anak belajar menjadi bijak sebelum waktunya

 

Kau hebat bukan karena piagam penghargaan

Tapi karena mampu bertanya

“Kenapa Ibu menangis saat listrik padam?”

“Kenapa Ayah tak pulang sejak proyeknya dibatalkan?”

Pertanyaan-pertanyaan itulah fondasi kekuatanmu

 

Kau hebat karena masih bisa tidur

Meski dapur hanya menyuguhkan air gula

Kau kuat karena tetap sekolah

Meski sepatumu lebih banyak tambalan ketimbang sol aslinya

 

Dan di sisi lain negeri

Anak-anak kota duduk di ruang ber-AC

Diajar bahwa keberhasilan adalah IPK dan bahasa asing

Tapi tak satu pun dari mereka ditanya

“Apakah kau bahagia menjadi anak?”

 

Begitulah negara kita

Kadang lupa bahwa hebat bukan soal statistik

Melainkan keberanian untuk tumbuh

Di antara kebohongan yang dibungkus pidato motivasi

 

Maka, mari rayakan Hari Anak Nasional

Bukan dengan panggung boneka atau balon udara

Tapi dengan mendengarkan suara mereka yang tidak sempat ikut lomba

Yang memilih menimba air, bukan ilmu

Yang lebih akrab dengan cangkul daripada buku

 

Mari rayakan

Dengan membuat negeri ini benar-benar layak tumbuh

Di mana anak tidak cuma jadi objek kampanye

Tapi subjek kehidupan

 

Anak hebat bukan anak yang selalu menurut

Tapi yang berani mempertanyakan kenapa dunia ini tak adil

Dan Indonesia kuat bukan karena jargon spanduk

Tapi karena setiap anak – dari Sabang sampai Merauke 

Punya ruang untuk tumbuh

Tanpa takut ditertawakan karena mimpi mereka terlalu besar

 

Jadi, Nak

Teruslah tumbuh

Tertawalah saat dunia pura-pura peduli

Menangislah jika memang perlu

Tapi jangan pernah berhenti berharap

Karena masa depan negeri ini

Adalah puisi panjang yang sedang kau tulis hari ini

Dengan coretan sederhana

Tapi penuh nyawa

 

Selamat Hari Anak Nasional

Anak Hebat, Indonesia (semoga benar-benar) Kuat.

*

Jakarta, 23 Juli 2025 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

  Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).  Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...