Senin, 21 Juli 2025

Sering Dilupakan, Novelis Itu Seniman

 


Gerundelan Bang Yoss

 

Sering Dilupakan, Novelis Itu Seniman

Yoss Prabu

 

Novelis itu seniman. Titik.

Tidak perlu perdebatan. Sama seperti pelukis dengan kanvas dan kuasnya, pematung dengan batunya, dan musisi dengan not-notnya. Novelis juga menciptakan dunia dengan untaian kalimat dan imajinasinya. Bedanya, alat mereka hanyalah kata-kata, dan mari kita jujur, dan kata-kata itu murah. Siapa saja bisa merangkai kata, tapi tidak semua bisa merangkai makna. Itulah kenapa banyak orang mengira menulis novel itu gampang. Sama seperti banyak orang yang mengira bisa main gitar hanya karena bisa genjreng kunci C mayor.

Menjadi novelis berarti menggali kedalaman manusia. Ia bisa menciptakan karakter yang lebih hidup dari tetangga kita sendiri. Bahkan sering kali, karakter fiksi lebih bisa dipercaya daripada politisi. Tokoh rekaan seorang novelis punya prinsip yang jelas, jika ia jahat, maka ia konsisten jahat. Jika ia baik, ya setidaknya sampai klimaks cerita. Beda dengan dunia nyata, di mana seseorang bisa terlihat alim di pagi hari dan tersandung kasus korupsi di sore hari.

Tapi, meskipun seorang novelis adalah seniman, mereka sering lupa bahwa seni juga butuh makan. Seni bukan hanya soal ekspresi, tapi juga soal bertahan hidup. Tidak semua novelis bisa menjadi J.K. Rowling atau Haruki Murakami. Sebagian besar novelis harus rela menjadi ninja literatur, menulis di waktu senggang, mencuri waktu dari pekerjaan kantor, atau bahkan menulis di sela-sela kesibukan mengajar mata kuliah yang mereka sendiri tahu kurang diminati mahasiswa.

Ironisnya, di negeri yang menganggap membaca sebagai hobi minoritas, menjadi novelis adalah pekerjaan yang nyaris mustahil. Di banyak tempat, novelis dipandang seperti ilusi. Mereka ada, tapi keberadaannya jarang diakui.

“Kerja apa?” tanya seseorang.

“Menulis novel,” jawab seorang novelis bangga.

“Oh, maksudnya nganggur?” balas orang itu polos.

Seni tulis, seperti seni lainnya, tidak hanya membutuhkan bakat, tetapi juga ketekunan, kesabaran, dan tentu saja mental baja. Seorang novelis harus siap menghadapi kritik pedas, naskah yang ditolak penerbit, dan komentar menyakitkan seperti, “Bukunya bagus, tapi saya baca bajakannya.”

Tidak heran, jika banyak novelis yang sedikit gila. Atau, mungkin mereka sudah gila sejak sebelum bikin novel. Makanya memilih jadi novelis.

Namun, meskipun dunia sering kali kejam terhadap para novelis, mereka tetap menulis. Kenapa? Karena di balik semua ironi dan penderitaan itu, ada kebahagiaan yang hanya bisa ditemukan dalam kata-kata. Kebahagiaan ketika cerita yang mereka rangkai menemukan pembacanya, ketika karakter yang mereka ciptakan hidup dalam benak orang lain. Itu adalah keajaiban kecil yang membuat semua lelah terbayar.

Jadi, jika ada yang berkata bahwa novelis bukan seniman, tanyakan kepada mereka, “Berapa banyak dunia yang sudah mereka ciptakan?” Jika jawabannya nol, maka diamlah dalam kemenangan. Sebab, seorang novelis bisa mati miskin dan terlupakan, tapi karyanya akan tetap abadi, terselip di rak buku seseorang, suatu hari nanti, menemani malam-malam sepi dengan kata-kata yang tak pernah benar-benar mati.

*

Jakarta, 21 Juli 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

  Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).  Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...