Terus Menulis Meski Pendaringan Kosong
Oleh: Yoss Prabu
Aku menulis karena aku lapar.
Bukan lapar pujian. Tapi benar-benar lapar.
Lapar nasi.
Pendaringan kosong, warung tutup.
Utang di warteg sudah lebih tebal
dari buku puisi yang kuterbitkan sendiri.
Ironi memang, menulis tentang kemiskinan dengan pena pinjaman.
Tapi hei,
bukankah penderitaan memang lahan basah para sastrawan?
Orang-orang kaya menulis tentang cinta segitiga di Italia,
aku menulis tentang perut segitiga yang tidak pernah kenyang.
Mereka menulis di vila,
aku menulis di angkot sambil pura-pura tidur biar gak ditarik
ongkos.
Puitis? Sangat.
Tragis? Iya.
Sialan? Sudah pasti.
Tapi aku tetap menulis.
Karena kalau aku berhenti,
siapa yang akan menuliskan semua kegilaan ini?
Siapa yang akan mencatat bahwa
aku pernah makan nasi putih dan garam
lalu menulis cerpen tentang cinta yang tak direstui.
Bukan oleh orang tua, tapi oleh dompet?
Siapa yang akan membuat puisi
tentang angin malam
yang masuk dari celah genteng rumah kontrakan
dan menampar pipi dengan lebih mesra daripada kekasih?
Aku menulis karena aku jatuh cinta.
Bukan pada seseorang, itu sudah lewat.
Tapi pada kata-kata yang tidak pernah menagih bayaran.
Cinta jenis ini tidak mengajak makan di kafe,
tidak minta dibelikan seblak dan tahu goreng isi.
Tapi ia menepuk bahuku
saat aku hampir gila dan berkata,
Tulislah. Tertawakan penderitaanmu.
Setidaknya satu dari kalian harus kalah,
dan biarkan itu bukan kau.
Ada romantika dalam kemiskinan yang tidak bisa dijelaskan.
Ada keintiman antara lapar dan tinta.
Ada dialog batin yang hanya muncul ketika perut keroncongan
dan pikiran mulai mendengar bisikan-bisikan puitis
dari dewa-dewa fiksi.
Salah satunya pernah bilang padaku,
“Kau boleh miskin, tapi jangan bodoh.
Kau boleh lapar, tapi jangan bungkam.”
Lalu ia kabur, meninggalkan nota utang warteg.
Menulis saat kenyang itu biasa.
Menulis saat lapar, itu perjuangan.
Itu spiritual. Itu mistik. Itu religius.
Itu seperti menyalakan lilin di tengah hujan badai sambil teriak,
“Aku masih hidup dan aku masih punya kisah!”
Kadang, aku berpikir,
menulis itu seperti merawat luka dengan tinta.
Bukan untuk menyembuhkan,
tapi agar luka itu menjadi indah saat dipamerkan.
Orang-orang akan baca dan berkata,
“Aduh, kok sedih banget sih tulisannya...”
Dan aku cuma senyum sambil mikir,
“Lah, emang kamu pikir aku lagi bahagia, Mbak?”
Tapi aku tidak marah.
Aku hanya muak pada dunia yang berpikir
bahwa berkarya harus dibayar kontan.
Padahal sebagian dari kita menulis
karena kalau tidak, kita mati.
Mati secara mental, mati secara eksistensi.
Dan kadang, lebih baik dompet kosong daripada jiwa kosong.
Ada romantika dalam terus menulis
meski pendaringan kosong.
Karena di situ kau tahu, ini bukan soal uang, ini soal bertahan.
Soal melawan dunia dengan kalimat.
Soal menertawakan kemiskinan dengan gaya bahasa.
Soal hidup seadanya tapi menulis seakan dunia sedang dalam genggaman.
Aku mungkin lapar, tapi aku tidak kalah.
Aku mungkin kehabisan beras, tapi belum kehabisan cerita.
Karena selama aku bisa menulis, aku masih bisa meracik satu jenis nasi,
nasi-nasi kata yang bisa mengenyangkan jiwa. Walau tubuh tetap mengerang.
Dan jika nanti tulisanku dibaca seseorang di masa depan.
Semoga ia tahu.
Ada yang pernah menulis dalam keadaan lapar.
Bukan untuk dikenang.
Tapi agar dunia tahu.
Kemiskinan bisa mencuri segalanya, kecuali keberanian untuk terus menulis.
*
Jakarta, 14 Juli 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.