Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Agustus 2025

Manusia Sinis, Spesies yang Selalu Siap Menyalahkan

 




Puisi

 

Manusia Sinis, Spesies yang Selalu Siap Menyalahkan

Oleh: Yoss Prabu

 

Di sebuah zaman di mana kopi lebih jujur dari janji kampanye,

hiduplah satu spesies unik.

Manusia sinis.

Yang jika tersenyum, itu biasanya karena ada orang lain yang terpeleset.

Bukan karena mereka jahat.

Oh, tidak.

Mereka hanya terlalu paham realita,

hingga lupa bahwa harapan bukan hanya bahan meme motivasi

dari akun medsos yang pakai font Comic Sans.

 

Mereka lahir dari rahim kekecewaan kolektif,

dibesarkan oleh sinetron, tugas kelompok, dan pemilu yang itu-itu lagi.

Mereka tidak menangis saat bayi.

Mereka mencibir.

Katanya, “Ini dunia? Kok warnanya standar banget.”

 

Sejak kecil mereka sudah tahu,

Pinokio itu suka bohong, dan hidungnya akan memanjang.

Guru kadang juga suka ngarang,

dan kalau dosen bilang, “Saya cuma kasih tugas ringan”,

itu adalah awal dari penderitaan semester panjang.

 

Manusia sinis tidak menyalahkan cuaca,

mereka menyalahkan orang yang bawa payung tapi tidak mengajaknya bareng.

Mereka tidak membenci cinta. Mereka hanya curiga,

karena katanya, yang bilang 'aku akan selalu ada'

biasanya hanya kuat sampai cicilan ketiga.

 

Pernah juga, ada satu manusia sinis mencoba romantis.

Ia menulis puisi untuk kekasihnya.

 

“Kau seperti wi-fi publik,

semua bisa akses,

tapi sinyalnya jelek saat dibutuhkan.”

 

Ia ditampar.

Lalu dia bilang, “Itu juga bagian dari cinta. Kekerasan yang jujur.”

 

Manusia sinis percaya bahwa positif thinking

adalah propaganda kalangan yoga

yang hidupnya disubsidi orang tua.

Mereka bangun pagi bukan karena semangat,

tapi karena kucing tetangga buang air di teras mereka.

 

Namun, jangan salah.

Dalam hatinya yang berlapis sarkasme dan humor gelap,

terselip juga doa, yang aneh bentuknya.

 

“Tuhan, jangan bikin aku baik.

Cukup bikin aku tahan melihat dunia ini tanpa meledak.”

 

Karena mereka tahu,

jadi sinis bukan soal benci,

tapi cara bertahan hidup

di dunia yang terlalu sering menjual harapan dalam bungkus diskon

dan kasih sayang dalam bentuk konten.

*

Catatan dari Penyair:

Jika Anda tersinggung, berarti puisi ini tepat sasaran.

Kalau tidak,

mungkin Anda manusia sinis juga.

Atau sudah mati rasa sejak zaman Orde Baru.

 

Tertanda,

Penulis puisi yang juga sinis,

tapi diam-diam suka pelangi

(walau katanya itu cuma trik cahaya).

*

Jakarta, 03 Agustus 2025.

Jumat, 01 Agustus 2025

Menulismu di Tengah Dunia yang Tak Membaca

 


Menulismu di Tengah Dunia yang Tak Membaca

Oleh: Yoss Prabu

 

Aku hanyalah pena di tangan waktu,

menulis rindu di lembaran senyummu.

Dan bukankah waktu itu sendiri adalah penyair paling pendiam?

Ia tidak pernah bersajak keras, tapi meninggalkan bekas

pada kulit, pada ingatan, dan pada orang-orang yang

tak pernah kembali.

 

Dalam ruang sunyi bernama malam,

aku belajar bahwa mencintai seseorang

adalah pekerjaan paling rumit seorang penulis.

Kita menulis puisi, tapi tidak pernah selesai.

Karena setiap senyum kekasih,

setiap tarikan napasnya,

adalah paragraf baru yang belum sempat diberi judul.

 

Dalam detak sunyi malam yang puitis,

Kutitipkan cinta dalam bahasa yang manis.

 

Mereka bilang cinta adalah metafora,

tetapi aku tahu cinta adalah naskah kasar

yang terus direvisi,

oleh jarak, oleh waktu, oleh luka,

dan oleh harapan yang kadang terlalu muluk.

 

Bahasa adalah tempat persembunyian paling jujur bagi seorang penyair.

Aku tidak menulis namamu, tapi kamu tahu

kapan kamu muncul di jeda-jeda itu.

Seperti bayang-bayang yang tidak pernah aku tolak.

Karena engkau, kasih, adalah matahari

yang menghangatkan sejuknya hati ini,

dan bulan,

yang menuntunku pulang ketika dunia terasa terlalu gaduh

untuk ditinggali.

 

Namun juga bulan di malam kelam,

Menuntunku pulang dalam pelukan malam.

 

Menulis cinta bukan perkara indah.

Ia lebih sering menyakitkan.

Karena saat kutuliskan namamu,

aku tahu:

tidak semua puisi akan dibalas,

tidak semua rasa menemukan muaranya.

Tapi tetap kutulis.

Bukan hanya kiasan yang kutitipkan,

tapi nyawa di tiap keabadian.

 

Penyair selalu berada di antara dua kutub:

keindahan dan kehampaan.

Dan dalam setiap baris cinta,

ada kematian kecil,

entah mati rasa,

entah mati harapan,

atau mati perlahan oleh kenangan yang tak juga sembuh.

 

Cintaku padamu adalah sajak abadi,

Tak lekang waktu, tak habis dikaji.

 

Aku menulis bukan untuk dunia.

Bukan untuk dikutip di seminar sastra,

atau dijadikan kutipan indah di kartu ucapan.

Aku menulis untukmu.

Karena hanya kamu

yang bisa mengerti makna dari koma yang kutaruh setelah kata “rindu”.

 

Wahai sayang, kau tahu rahasianya?

Aku menulis bukan untuk dunia.

Tetapi untukmu, pelipur duka.

 

Barangkali inilah takdirku,

menjadi penyair dari cinta yang tidak selesai,

dan kamu, pembaca diam yang tidak pernah bosan menjadi inspirasi.

Biarkan aku mengukir cinta di antara takdir,

karena hanya padamulah puisi ini bermuara.

 

Sebab hanya padamu, puisi ini bermuara,

Kekasihku, cinta takkan pernah sirna.

 

Di Jakarta yang penuh kebisingan ini,

aku tetap menulis.

Bukan untuk merayakan cinta,

tetapi untuk mengenangnya,

agar suatu hari nanti,

jika aku hilang dari hidupmu,

namaku masih bisa kau temukan

di antara huruf-huruf yang pernah mencintaimu lebih dulu

daripada siapa pun.

 

Jakarta, 26 November 2024

 

Kamis, 24 Juli 2025

Indonesia Kuat Jika Anak Tak Lagi Berbohong Saat Disuruh Tersenyum

 


Puisi

 

Indonesia Kuat Jika Anak Tak Lagi Berbohong Saat Disuruh Tersenyum

Oleh: Yoss Prabu

 

Hari ini, Hari Anak Nasional, katanya  

Anak-anak disuruh senyum lebar, padahal giginya ompong

Dan separuh berlubang

Bendera warna-warni dikibarkan di aula sekolah

Sementara gizi buruk masih bertengger di dapur-dapur sempit dengan atap bocor

 

Anak-anak kita menyanyikan lagu tentang masa depan

Padahal masa kini saja belum juga mereka genggam

Tapi mereka tetap tertawa

Karena memang itulah modal awal jadi hebat

Kemampuan tertawa di tengah yang pahit

 

Apa kabar, Nak, hari ini kau disebut "hebat"

Besok, saat kau protes, mungkin kau disebut "nakal"

Dan lusa, saat kau tak ikut lomba mewarnai di kampung

Kau dianggap tak punya semangat nasional

 

Kau tahu, Nak

Menjadi anak di negeri ini seperti ikut audisi tanpa juri yang jujur

Yang juara bukan yang paling pintar

Tapi yang tahu bagaimana membungkuk saat difoto bersama pejabat

 

Tapi jangan patah hati, wahai generasi pijakan pagi

Kau lahir dari peluh yang tak malu mengering di tanah yang lelah

Kau tumbuh di antara kontradiksi

Dijanjikan laptop, dikasih tugas TikTok

Dijanjikan pendidikan gratis, tapi uang bangunan masih minta disetor di rapat RT

 

Tapi ingatlah, Nak

Bukan berarti kau lemah

Justru di sini

Di antara kekurangan dan kekisruhan

Anak-anak belajar menjadi bijak sebelum waktunya

 

Kau hebat bukan karena piagam penghargaan

Tapi karena mampu bertanya

“Kenapa Ibu menangis saat listrik padam?”

“Kenapa Ayah tak pulang sejak proyeknya dibatalkan?”

Pertanyaan-pertanyaan itulah fondasi kekuatanmu

 

Kau hebat karena masih bisa tidur

Meski dapur hanya menyuguhkan air gula

Kau kuat karena tetap sekolah

Meski sepatumu lebih banyak tambalan ketimbang sol aslinya

 

Dan di sisi lain negeri

Anak-anak kota duduk di ruang ber-AC

Diajar bahwa keberhasilan adalah IPK dan bahasa asing

Tapi tak satu pun dari mereka ditanya

“Apakah kau bahagia menjadi anak?”

 

Begitulah negara kita

Kadang lupa bahwa hebat bukan soal statistik

Melainkan keberanian untuk tumbuh

Di antara kebohongan yang dibungkus pidato motivasi

 

Maka, mari rayakan Hari Anak Nasional

Bukan dengan panggung boneka atau balon udara

Tapi dengan mendengarkan suara mereka yang tidak sempat ikut lomba

Yang memilih menimba air, bukan ilmu

Yang lebih akrab dengan cangkul daripada buku

 

Mari rayakan

Dengan membuat negeri ini benar-benar layak tumbuh

Di mana anak tidak cuma jadi objek kampanye

Tapi subjek kehidupan

 

Anak hebat bukan anak yang selalu menurut

Tapi yang berani mempertanyakan kenapa dunia ini tak adil

Dan Indonesia kuat bukan karena jargon spanduk

Tapi karena setiap anak – dari Sabang sampai Merauke –

Punya ruang untuk tumbuh

Tanpa takut ditertawakan karena mimpi mereka terlalu besar

 

Jadi, Nak

Teruslah tumbuh

Tertawalah saat dunia pura-pura peduli

Menangislah jika memang perlu

Tapi jangan pernah berhenti berharap

Karena masa depan negeri ini

Adalah puisi panjang yang sedang kau tulis hari ini

Dengan coretan sederhana

Tapi penuh nyawa

 

Selamat Hari Anak Nasional

Anak Hebat, Indonesia (semoga benar-benar) Kuat.

*

Jakarta, 23 Juli 2025 

 

 

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

  Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).  Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...