Puisi
Manusia
Sinis, Spesies yang Selalu Siap Menyalahkan
Oleh: Yoss Prabu
Di sebuah zaman di mana kopi lebih jujur dari
janji kampanye,
hiduplah satu spesies unik.
Manusia sinis.
Yang jika tersenyum, itu biasanya karena ada
orang lain yang terpeleset.
Bukan karena mereka jahat.
Oh, tidak.
Mereka hanya terlalu paham realita,
hingga lupa bahwa harapan bukan hanya bahan
meme motivasi
dari akun medsos yang pakai font Comic Sans.
Mereka lahir dari rahim kekecewaan kolektif,
dibesarkan oleh sinetron, tugas kelompok, dan
pemilu yang itu-itu lagi.
Mereka tidak menangis saat bayi.
Mereka mencibir.
Katanya, “Ini dunia? Kok warnanya standar
banget.”
Sejak kecil mereka sudah tahu,
Pinokio itu suka bohong, dan hidungnya akan
memanjang.
Guru kadang juga suka ngarang,
dan kalau dosen bilang, “Saya cuma kasih tugas
ringan”,
itu adalah awal dari penderitaan semester
panjang.
Manusia sinis tidak menyalahkan cuaca,
mereka menyalahkan orang yang bawa payung tapi
tidak mengajaknya bareng.
Mereka tidak membenci cinta. Mereka hanya
curiga,
karena katanya, yang bilang 'aku akan selalu
ada'
biasanya hanya kuat sampai cicilan ketiga.
Pernah juga, ada satu manusia sinis mencoba
romantis.
Ia menulis puisi untuk kekasihnya.
“Kau seperti wi-fi publik,
semua bisa akses,
tapi sinyalnya jelek saat dibutuhkan.”
Ia ditampar.
Lalu dia bilang, “Itu juga bagian dari cinta.
Kekerasan yang jujur.”
Manusia sinis percaya bahwa positif thinking
adalah propaganda kalangan yoga
yang hidupnya disubsidi orang tua.
Mereka bangun pagi bukan karena semangat,
tapi karena kucing tetangga buang air di teras
mereka.
Namun, jangan salah.
Dalam hatinya yang berlapis sarkasme dan humor
gelap,
terselip juga doa, yang aneh bentuknya.
“Tuhan, jangan bikin aku baik.
Cukup bikin aku tahan melihat dunia ini tanpa
meledak.”
Karena mereka tahu,
jadi sinis bukan soal benci,
tapi cara bertahan hidup
di dunia yang terlalu sering menjual harapan
dalam bungkus diskon
dan kasih sayang dalam bentuk konten.
*
Catatan dari Penyair:
Jika Anda tersinggung, berarti puisi ini tepat
sasaran.
Kalau tidak,
mungkin Anda manusia sinis juga.
Atau sudah mati rasa sejak zaman Orde Baru.
Tertanda,
Penulis puisi yang juga sinis,
tapi diam-diam suka pelangi
(walau katanya itu cuma trik cahaya).
*
Jakarta, 03 Agustus 2025.


