Puisi
Kata-kata yang
Hanya Dipajang
Oleh: Yoss Prabu
Hari ini katanya Hari Sastra
Nasional,
maka kutulis sajak ini dengan gaya nasionalis
yang tetap mengkritik negara
tanpa harus diculik.
Tuan Menteri berseragam rapi
membacakan puisi Chairil Anwar
tanpa tahu "Aku" itu bukan sekadar kata
tapi luka yang menolak jadi slogan.
Di televisi, mereka membaca puisi
dengan ekspresi seperti orangyangsulit buang air besar
lalu bertepuk tangan sendiri,
seolah telah menaklukkan dunia kata
yang tak pernah mereka kunyah sepenuh jiwa.
Sastra kita, Tuan,
tidak mati, tapi sering koma.
Dirawat di ruang ICU bernama “kurikulum”,
diintubasi dengan soal pilihan ganda,
“Siapakah tokoh utama dalam novel Siti Nurbaya?”
A. Siti
B. Nurbaya
C. Siti dan Nurbaya
D. Ayahnya yang dijodohkan.
Apa kabar penyair di pelosok negeri?
Masih makan nasi pakai kata-kata?
Masih dicibir tetangga karena puisi
tak bisa dicairkan lewat ATM?
Di sudut kota, seorang wanitaparuh
baya,menulis
dengan darah haidnya sendiri
karena tinta sudah terlalu mahal
untuk hargadan tak relevan lagi untuk sebuah pengakuan.
Di desa terpencil, seorang anak
menulis sajak di daun jati,
dikirim lewat angin,
tak pernah sampai ke meja dewan juri.
Sastra, kekasihku,
engkau adalah pelacur suci. Semua ingin menidurimu,
tapi malu mengaku, telah jatuh cinta padamu.
Kau dijadikan pajangan di lemari
kementerian,
tapi diabaikan saat rakyat berbicara sastra
di tengah krisis dan kemurungan harga beras.
Sastra itu bukan hanya puisi rapi di
panggung,
tapi jeritan ibu yang kehilangan anak
karena konflik tanah adat.
Itu juga puisi, bahkan mungkin lebih jujur
daripada bait-bait yang diberi penghargaan.
Oh, kekasihku, kata.
Kita pernah bercumbu di malam senyap,
saat dunia tertidur dalam kebisingan sinetron.
Kau membisikkan absurditas eksistensi,
aku menjawab dengan tawa getir
dan secangkir kopi murah.
Kita bercinta,
tapi tak pernah punya rumah.
Kau diseret ke festival sastra yang eksklusif,
sementara aku tertinggal di pinggir
membaca puisi di warung kopi
dengan background lagu dangdut remix.
Hari ini Hari Sastra Nasional,
dan aku ingin mengucapkan selamat
kepada mereka yang menulis sastra
bukan untuk pamer,
tapi karena hidup memang terlalu getir
untuk tidak disindir.
Selamat untuk yang masih percaya
bahwa satu kalimat bisa mengguncang nurani,
bahwa novel murahan bisa lebih jujur
daripada pidato presiden.
Selamat kepada kalian,
yang jatuh cinta pada kata-kata
tanpa harus menjualnya.
Selamat, wahai penyair patah hati,
yang memilih menulis
daripada membakar rumah mantan.
Selamat, wahai penulis cerpen yang
ditolak media,
tapi masih menulis karena tak bisa tidak.
Karena menulis, bagimu,
adalah cara paling elegan untuk tidak gila.
Tapi selamat juga,
untuk kalian yang pura-pura mencintai sastra
demi proyek kebudayaan.
Selamat, semoga honornya besar
dan puisimu dibacakan oleh influencer
yang tak tahu apa itu majas metafora.
Selamat, Tuan dan Puan,
yang mengucapkan “Hari Sastra Nasional”
dengan senyum di Instagram,
lalu menghapus puisi-puisi orang kecil
dari rak-rak toko buku demi brand kosmetik.
Sastra tak pernah minta dirayakan,
ia hanya ingin dibaca.
Dihirup, dicerna, dimaki kalau perlu.
Karena sastra yang baik
tak hanya indah, tapi juga jujur.
Kadang menyakitkan,
seperti cermin pagi hari
yang menunjukkan wajahmu
tanpa filter kamera.
Jadi hari ini,
kutulis sajak ini bukan untuk dipuji
tapi untuk mengingatkan. Jangan-jangan yang mati itu bukan sastra,
tapi kita,
yang terlalu malas membacanya.
*
Jakarta, 03 Juli 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.