Puisi
Saat Diam Lebih Tajam daripada Kata
Oleh: Yoss Prabu
Pernahkah kau kalah bicara,
bukan karena salah,
tapi karena tak sempat menyusun peluru dari kata?
Mereka bicara keras,
aku belajar diam yang tajam.
Menjatuhkan argumen tak harus merobohkan manusia,
cukup bawa logika mereka
ke jurang yang mereka gali sendiri.
“Semua bebas lakukan apa pun.”
“Termasuk mencuri? Membunuh?”
Kadang satu pertanyaan cukup
untuk membuat gagah berubah jadi kikuk.
“Itu tak adil!”
“Adil itu... apa, menurutmu?”
Ketika kata diminta menjelaskan dirinya,
banyak orang tersesat di kamus ciptaannya sendiri.
Dan jika mereka bersandar pada opini,
aku kirim sepotong data
yang kecil, tapi tajam seperti sindiran Tuhan.
“Orang sukses tak kuliah!”
“World Bank bilang 85% justru lulusan universitas.”
Kontradiksi?
Ah, itu seni mereka menampar diri sendiri
dengan pernyataan yang lupa dikontrol.
“Selalu jujur!”
Tapi barusan bilang bohong itu kadang perlu?
Dan saat mereka kehabisan senjata,
aku pindahkan medan,
dari aturan ke kemanusiaan,
dari debat ke nurani.
Menang bukan soal suara,
tapi soal siapa yang pikirannya paling bening,
dan hatinya tak sibuk ingin menang.
Kadang, diam yang tersenyum
adalah pukulan paling sopan
yang tak pernah dimaafkan.
*
Jakarta, 28 Juni 2025
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.