Hanya ilustrasi. (Gambar: AI).
Hijrah itu bukan sekadar pindah alamat. Nabi Muhammad SAW, tak sedang mencari suasana baru di kota lain karena bosan dengan Mekkah. Hijrah adalah lompatan sejarah dari ketakutan menuju harapan. Dari tekanan menjadi keberanian. Dari gelap menuju cahaya. Dan kita? Kita berhijrah dari satu versi diri ke versi lain yang (semoga) sedikit lebih baik. Atau minimal tidak lebih buruk.
Sebuah Catatan
Penuh Nyinyir, Harap, dan Doa di Ujung Muharram
Oleh: Yoss
Prabu
Hari ini, bulan
melengkung manis di langit malam. Seperti senyuman seorang ibu yang
menyembunyikan letihnya, menyambut anaknya pulang di ambang pintu waktu.
Selamat datang, 1 Muharram 1447 H. Tahun baru Islam – tanpa terompet, tanpa
kembang api, tanpa resolusi sok visioner yang biasanya hanya bertahan sampai
siang keesokan harinya.
Di sudut rumah
yang sunyi, kita menyambutmu dengan sesuatu yang lebih jujur, diam. Bukan
karena tidak peduli, tapi karena sedang berpikir keras. Tentang hijrah. Tentang
waktu. Tentang kenapa tahun baru ini jatuh di tengah minggu dan malah jadi hari
libur nasional. Terima kasih SKB Tiga Menteri, kalian pahlawan tanpa tanda
jasa. Setidaknya kita bisa tidur lebih lama dan pura-pura merenung lebih dalam.
Tapi mari kita
serius sebentar.
Hijrah itu
bukan sekadar pindah alamat. Nabi Muhammad SAW, tak sedang mencari suasana baru
di kota lain karena bosan dengan Mekkah. Hijrah adalah lompatan sejarah dari
ketakutan menuju harapan. Dari tekanan menjadi keberanian. Dari gelap menuju
cahaya. Dan kita? Kita berhijrah dari satu versi diri ke versi lain yang
(semoga) sedikit lebih baik. Atau minimal tidak lebih buruk.
Tahun baru ini
tidak mewajibkan salat khusus. Tidak ada tradisi yang memaksakan kita untuk
berdiri di lapangan sambil memakai baju seragam. Tapi mungkin, justru karena
itu, Allah ingin kita duduk diam. Menoleh ke dalam. Menghitung luka dan syukur
yang kita simpan sepanjang tahun lalu.
Kita ingat betapa
banyak yang kita salahkan. Cuaca, atasan, pasangan, ekonomi, bahkan takdir. Tapi
seberapa sering kita bertanya pada diri sendiri, "Sudahkah aku layak jadi
manusia yang dirindukan langit?"
Tahun lalu,
mungkin kita terlalu sering membuka notifikasi dan terlalu jarang membuka
Al-Qur'an. Terlalu sering update story,
tapi lupa memperbarui cerita hidup dengan amal baik. Terlalu sering menilai orang lain kafir, tapi
lupa mengevaluasi apakah diri sendiri sudah benar-benar beriman.
Lucunya, kita
ini kadang lebih taat pada reminder HP daripada adzan. Lebih percaya zodiac
daripada Qadarullah. Lebih percaya dukun TikTok daripada hadits Nabi. Duhai
hati, kapan kau mau benar-benar hijrah?
Tapi sudahlah,
ini bukan ruang untuk menghakimi. Ini ruang untuk menghela napas. Untuk
berkata, "Ya Allah, aku tahu aku belum pantas. Tapi aku masih di sini, mengetuk
pintu-Mu, meski tangan ini penuh dosa."
Satu Muharram
adalah undangan tanpa amplop emas. Allah mengajak kita untuk pulang. Untuk
mengingat bahwa waktu tidak menunggu. Kalender Hijriah itu unik, ia berjalan
mundur dari kalender masehi. Seakan-akan ia ingin berkata, "Waktumu di
dunia semakin sedikit. Gunakanlah baik-baik."
Ada satu
keindahan dalam Muharram yang kadang luput, bulan ini suci. Setiap amal
dilipatgandakan. Termasuk amal-amal kecil, senyum, sabar, maaf yang susah
dilontarkan, dan zikir lirih di malam yang sepi. Bahkan diam yang penuh
kesadaran pun bisa jadi ibadah, asal niatnya lurus.
Dan ada satu
puasa bernama Asyura, yang mengandung berkah dan sejarah. Sebuah pengingat
bahwa Musa dulu diselamatkan. Bahwa laut terbelah bukan untuk drama, tapi untuk
menyampaikan pesan, tidak ada jalan buntu bagi yang percaya.
Maka mari kita
mulai tahun ini bukan dengan perayaan besar, tapi dengan tekad kecil yang
sungguh-sungguh. Mari kita bersihkan ruang hati dari iri, dari benci, dari
cinta dunia yang terlalu lengket. Mari kita isi dengan doa-doa tulus dan
harapan baru, semoga tahun ini lebih ringan, lebih ikhlas, lebih dekat
dengan-Nya.
Dan jangan
lupa, bershalawatlah.
Sebab di tengah
zaman yang serba cepat ini, shalawat adalah jeda paling indah yang bisa kita
berikan pada jiwa kita yang sering kelelahan.
Selamat Tahun
Baru Hijriah. Semoga kita semua benar-benar berhijrah, walau perlahan. Asal
istiqamah.
*
Diolah
dari berbagai sumber:
-
https://www.islamic-relief.org.uk/resources/islamic-calendar/muharram/1st-muharram-islamic-new-year/
Jakarta, 27
Juni 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.