Betawi dan Jakarta,
Bagaikan Nasi Uduk dengan Asinan
Oleh: Yoss
Prabu
Betawi dan
Jakarta. Itu sama. Tapi tak serupa.
Banyak orang
mengira Betawi adalah Jakarta. Padahal, meski saling bersinggungan, keduanya
tidak sama. Ibarat tubuh dan jiwa, mereka saling melengkapi, tapi tak bisa
disamakan.
Kota Jakarta
adalah ibu kota negara (meskipun sedang dalam proses pindah ke Ibu Kota
Nusantara). Ia adalah wilayah administratif, penuh gedung pencakar langit,
jalan tol, dan kemacetan yang legendaris. Luasnya sekitar 662 km² dan terbagi
menjadi lima kota administrasi dan satu kabupaten (Kepulauan Seribu).
Jakarta adalah
tempat orang datang untuk bekerja, sekolah, berobat, atau mengejar mimpi, dari
Aceh sampai Papua. Ia kota sibuk, keras, dan penuh persaingan.
Betawi adalah
suku dan budaya lokal yang mendiami wilayah Jakarta dan sekitarnya. Orang
Betawi adalah keturunan dari berbagai etnis yang sudah bercampur sejak masa
kolonial. Melayu, Arab, Tionghoa, Jawa, Sunda, Bugis, hingga Eropa. Maka,
budaya Betawi pun jadi campuran unik, kaya, jenaka, dan berwarna.
Kalau Jakarta
adalah panggungnya, maka Betawi adalah lakon lamanya.
Jakarta bisa
berubah tiap dekade. Tapi Betawi tetap menempel di hati mereka yang pernah
mencicipi kerak telor sambil mendengarkan gambang kromong di pinggir jalan.
Betawi makin
terpinggirkan di tanahnya sendiri. Banyak kampung Betawi berubah jadi
apartemen, tanah-tanah warisan dijual, anak-anak muda lebih kenal TikTok
daripada Tanjidor. Tapi semangatnya belum padam.
Lewat festival,
teater, komunitas budaya, bahkan lewat sinetron dan YouTube, Betawi terus
berusaha bicara,
"Gue masih
ada, Bro. Walau Jakarta makin kaku, gue tetep bisa bikin lo ketawa sambil
mikir."
Jadi. Jakarta
adalah tempat. Betawi adalah jiwa.
Kalau Jakarta
itu panggung dunia modern, Betawi adalah cerita lama yang membuat kita pulang. Mereka
tidak sama, tapi tak bisa dipisahkan.
Atau kalau
pakai logika Betawi,
"Jakarta
itu nasi, Betawi itu sambelnya. Tanpa Betawi, Jakarta hambar. Tapi kalau Cuma sambelnya
doang, lu kagak kenyang."
Orang bilang
Jakarta itu keras. Tapi orang Betawi bilang: "Ah, elu aje yang kagak bisa ngelenongin
hidup!"
Karena bagi
orang Betawi, hidup itu seperti main lenong, kadang jadi si baik, kadang jadi
si jahat, tapi yang penting penonton ketawa dan pemainnya tidak lupa teks.
Mari kita mulai
dari Ondel-ondel, boneka raksasa dengan mata melotot seperti mertua baru bangun
tidur. Ia bukan cuma properti karnaval atau spotselfie turis, tapi penjaga
kampung. Ia menari di tengah keramaian, menggertak dengan diam, seperti bilang:
“Gue gede bukan buat nakut-nakutin, tapi buat ngingetin. Jangan lupa siapa lu.”
Lalu ada
lenong. Komedi panggung yang bisa bikin kita ketawa sampai keluar air mata,
sambil dalam hati nyeletuk, "Wah, ini mah gue banget." Bahasa
Betawinya nyeleneh, kadang nyelekit, kadang romantis.
"Neng,
kalau cinta itu ibarat soto Betawi, elu kuah santannya, gue empalnya."
Bukan gombal
murahan. Ini filsafat dapur bercampur rindu.
Kalau lenong
adalah tawa, maka tari topeng Betawi adalah rahasia yang bergerak. Penari
menari sambil menyembunyikan wajahnya. Karena hidup, kata orang tua Betawi, tidak
semua bisa kautampilkan. Terkadang, senyum kau tuh seperti topeng. Di baliknya
ada utang listrik dan gorengan basi.
Di pojok
panggung budaya, gambang kromong main pelan-pelan. Musik ini seperti nostalgia,
merdu, tapi sedikit sendu. Alat musiknya tua, tapi suaranya selalu baru.
Seperti kakek-nenek yang tiap malam Minggu masih pacaran di teras sambil minum
bir pletok – bukan buat mabuk, tapi buat menghangatkan kenangan.
Tapi Betawi
juga punya otot. Jangan main-main sama Maen Pukulan. Ini bukan tinju emak-emak
rebutan diskon, ini seni bela diri. Gerakannya cepat, penuh makna. Seperti cara
orang tua kita menyelipkan nasihat di balik sindiran,
"Lu sih
enak, sekarang mau makan tinggal ojek online. Dulu mah, bawa nasi uduk naik
sepeda, digoyang dikit langsung jadi bubur."
Tradisi Palang
Pintu juga begitu. Silat, pantun, dan ayat suci dibaur jadi upacara pernikahan.
Karena cinta bukan sekadar “I love you” ala sinetron, tapi harus disetujui oleh
adat, dilawan dulu sama jawara, baru disahkan pak ustaz.
Nyorog juga
menyentuh. Anak muda bawa makanan ke orang tua. Bukan cuma tradisi, tapi
pengingat, jangan cuma kirim emoji salam di WA, kadang elu harus kirim semur
jengkol juga. Itu baru beradab.
Dan kalau lu
denger orang Betawi bilang “bikin rume”, itu bukan soal tukang bangunan doang.
Itu soal niat, doa, dan gotong royong. Rumah bukan sekadar tembok dan atap,
tapi tempat di mana tawa, tangis, dan sambal terasi saling berdempetan.
Soal makan,
Betawi tidak main-main. Kerak telor itu puisi gurih yang dibacakan di atas
wajan panas. Soto Betawi? Campuran santan dan susu yang bikin lidah galau tapi
bahagia.
Dan asinan Betawi itu seperti kehidupan, asam, pedas, segar, terkadang membuat sesak
napas, tapi tidak pernah membosankan.
Betawi bukan
sekadar budaya. Ia cara pandang. Ia bisa konyol tapi tetap berakar, bisa puitis
walau bahasanya ceplas-ceplos, bisa romantis tanpa bunga, cukup semangkuk soto
dan sepotong pantun.
"Kalau
sayang bilang sayang, jangan nunggu mati lampu."
"Kalau
rindu bilang rindu, jangan pura-pura nanya kabar doang."
Karena hidup,
kata orang Betawi, bukan soal cari kaya. Tapi soal punya cerita yang bisa
ditertawakan bareng. Di warung kopi. Di panggung lenong. Atau di pelaminan,
waktu palang pintu dibuka, dan hati ikut terbuka.
Betawi itu. Seperti
ketawa yang penuh makna.
Seperti cinta
yang tidak pakai syarat.
Seperti rumah
yang selalu menunggu, dengan nasi uduk, asinan dan cerita lama yang tak pernah
basi.
*
Jakarta,
24 Juni 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.