Kamis, 26 Juni 2025

Betawi dan Jakarta, Bagaikan Nasi Uduk dengan Asinan

 


Betawi dan Jakarta, Bagaikan Nasi Uduk dengan Asinan

Oleh: Yoss Prabu

 

Betawi dan Jakarta. Itu sama. Tapi tak serupa.

Banyak orang mengira Betawi adalah Jakarta. Padahal, meski saling bersinggungan, keduanya tidak sama. Ibarat tubuh dan jiwa, mereka saling melengkapi, tapi tak bisa disamakan.

Kota Jakarta adalah ibu kota negara (meskipun sedang dalam proses pindah ke Ibu Kota Nusantara). Ia adalah wilayah administratif, penuh gedung pencakar langit, jalan tol, dan kemacetan yang legendaris. Luasnya sekitar 662 km² dan terbagi menjadi lima kota administrasi dan satu kabupaten (Kepulauan Seribu).

Jakarta adalah tempat orang datang untuk bekerja, sekolah, berobat, atau mengejar mimpi, dari Aceh sampai Papua. Ia kota sibuk, keras, dan penuh persaingan.

Betawi adalah suku dan budaya lokal yang mendiami wilayah Jakarta dan sekitarnya. Orang Betawi adalah keturunan dari berbagai etnis yang sudah bercampur sejak masa kolonial. Melayu, Arab, Tionghoa, Jawa, Sunda, Bugis, hingga Eropa. Maka, budaya Betawi pun jadi campuran unik, kaya, jenaka, dan berwarna.

Kalau Jakarta adalah panggungnya, maka Betawi adalah lakon lamanya.

Jakarta bisa berubah tiap dekade. Tapi Betawi tetap menempel di hati mereka yang pernah mencicipi kerak telor sambil mendengarkan gambang kromong di pinggir jalan.

Betawi makin terpinggirkan di tanahnya sendiri. Banyak kampung Betawi berubah jadi apartemen, tanah-tanah warisan dijual, anak-anak muda lebih kenal TikTok daripada Tanjidor. Tapi semangatnya belum padam.

Lewat festival, teater, komunitas budaya, bahkan lewat sinetron dan YouTube, Betawi terus berusaha bicara,

"Gue masih ada, Bro. Walau Jakarta makin kaku, gue tetep bisa bikin lo ketawa sambil mikir."

Jadi. Jakarta adalah tempat. Betawi adalah jiwa.

Kalau Jakarta itu panggung dunia modern, Betawi adalah cerita lama yang membuat kita pulang. Mereka tidak sama, tapi tak bisa dipisahkan.

Atau kalau pakai logika Betawi,

"Jakarta itu nasi, Betawi itu sambelnya. Tanpa Betawi, Jakarta hambar. Tapi kalau Cuma sambelnya doang, lu kagak kenyang."

Orang bilang Jakarta itu keras. Tapi orang Betawi bilang: "Ah, elu aje yang kagak bisa ngelenongin hidup!"

Karena bagi orang Betawi, hidup itu seperti main lenong, kadang jadi si baik, kadang jadi si jahat, tapi yang penting penonton ketawa dan pemainnya tidak lupa teks.

Mari kita mulai dari Ondel-ondel, boneka raksasa dengan mata melotot seperti mertua baru bangun tidur. Ia bukan cuma properti karnaval atau spotselfie turis, tapi penjaga kampung. Ia menari di tengah keramaian, menggertak dengan diam, seperti bilang: “Gue gede bukan buat nakut-nakutin, tapi buat ngingetin. Jangan lupa siapa lu.”

Lalu ada lenong. Komedi panggung yang bisa bikin kita ketawa sampai keluar air mata, sambil dalam hati nyeletuk, "Wah, ini mah gue banget." Bahasa Betawinya nyeleneh, kadang nyelekit, kadang romantis.

"Neng, kalau cinta itu ibarat soto Betawi, elu kuah santannya, gue empalnya."

Bukan gombal murahan. Ini filsafat dapur bercampur rindu.

Kalau lenong adalah tawa, maka tari topeng Betawi adalah rahasia yang bergerak. Penari menari sambil menyembunyikan wajahnya. Karena hidup, kata orang tua Betawi, tidak semua bisa kautampilkan. Terkadang, senyum kau tuh seperti topeng. Di baliknya ada utang listrik dan gorengan basi.

Di pojok panggung budaya, gambang kromong main pelan-pelan. Musik ini seperti nostalgia, merdu, tapi sedikit sendu. Alat musiknya tua, tapi suaranya selalu baru. Seperti kakek-nenek yang tiap malam Minggu masih pacaran di teras sambil minum bir pletok – bukan buat mabuk, tapi buat menghangatkan kenangan.

Tapi Betawi juga punya otot. Jangan main-main sama Maen Pukulan. Ini bukan tinju emak-emak rebutan diskon, ini seni bela diri. Gerakannya cepat, penuh makna. Seperti cara orang tua kita menyelipkan nasihat di balik sindiran,

"Lu sih enak, sekarang mau makan tinggal ojek online. Dulu mah, bawa nasi uduk naik sepeda, digoyang dikit langsung jadi bubur."

Tradisi Palang Pintu juga begitu. Silat, pantun, dan ayat suci dibaur jadi upacara pernikahan. Karena cinta bukan sekadar “I love you” ala sinetron, tapi harus disetujui oleh adat, dilawan dulu sama jawara, baru disahkan pak ustaz.

Nyorog juga menyentuh. Anak muda bawa makanan ke orang tua. Bukan cuma tradisi, tapi pengingat, jangan cuma kirim emoji salam di WA, kadang elu harus kirim semur jengkol juga. Itu baru beradab.

Dan kalau lu denger orang Betawi bilang “bikin rume”, itu bukan soal tukang bangunan doang. Itu soal niat, doa, dan gotong royong. Rumah bukan sekadar tembok dan atap, tapi tempat di mana tawa, tangis, dan sambal terasi saling berdempetan.

Soal makan, Betawi tidak main-main. Kerak telor itu puisi gurih yang dibacakan di atas wajan panas. Soto Betawi? Campuran santan dan susu yang bikin lidah galau tapi bahagia.
Dan asinan Betawi itu seperti kehidupan, asam, pedas, segar, terkadang membuat sesak napas, tapi tidak pernah membosankan.

Betawi bukan sekadar budaya. Ia cara pandang. Ia bisa konyol tapi tetap berakar, bisa puitis walau bahasanya ceplas-ceplos, bisa romantis tanpa bunga, cukup semangkuk soto dan sepotong pantun.

"Kalau sayang bilang sayang, jangan nunggu mati lampu."

"Kalau rindu bilang rindu, jangan pura-pura nanya kabar doang."

Karena hidup, kata orang Betawi, bukan soal cari kaya. Tapi soal punya cerita yang bisa ditertawakan bareng. Di warung kopi. Di panggung lenong. Atau di pelaminan, waktu palang pintu dibuka, dan hati ikut terbuka.

Betawi itu. Seperti ketawa yang penuh makna.

Seperti cinta yang tidak pakai syarat.

Seperti rumah yang selalu menunggu, dengan nasi uduk, asinan dan cerita lama yang tak pernah basi.

*

Jakarta, 24 Juni 2025

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

  Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).  Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...