Selasa, 24 Juni 2025

Ulang Tahun Sebuah Dongeng yang Lelah

 

Hanya ilustrasi. (Gambar: AI). 

Puisi

 

Ulang Tahun Sebuah Dongeng yang Lelah

Oleh: Yoss Prabu

 

Jakarta,
kau ulang tahun lagi,
ke-498 kali sudah kau tiup lilin-lilin
yang tak pernah benar-benar padam,
meski setiap tahun
yang kau doakan
justru menambah asap ke langitmu sendiri.

 

Kau tak pernah tidur, kata mereka,
padahal matamu sembab.
Tiap malam kau menyelinap ke bantal beton
dan mencoba lupa
bahwa mimpi-mimpimu sering dipotong KPR.

 

Di Lapangan Banteng,
lampu-lampu bersinar lebih terang dari nurani DPR,
sementara ondel-ondel tetap tersenyum
meski paru-parunya sudah bersatu dengan karbon.

 

Ah, Jakarta...
kau berdandan seperti pengantin yang tahu
tamu-tamunya akan datang hanya untuk nasi kotak.
Tapi tetap kau tambahkan bedak sejarahmu,
pakai lipstik batik Betawi,
dan semprotkan parfum dari kenangan Fatahillah,
yang konon datang dari masa lalu
dengan sandal jepit dan nama dari kitab Sanskerta.

 

Kau tahu, Jakarta,
seorang anak muda pernah bertanya,
"Jakarta punya batik?"
Seakan cinta hanya milik Jogja dan Pekalongan.
Tapi Pak Budi – si penjaga malam batik Palbatu –

menjawabnya dengan canting,
bukan kata-kata.
Karena kadang, menulis cinta di atas kain
lebih jujur dari mengetiknya di WhatsApp.

 

Empat ratus sembilan puluh delapan tahun, Jakarta,
kau bukan dongeng, kata Heyken.
Tapi bagaimana menjelaskan luka-luka ini
kalau bukan sebagai fiksi yang terlalu nyata?
Kau seperti ibu-ibu pasar yang digebuk inflasi,
tapi tetap tawar ikan pakai senyum dan doa.

Kau seperti mantan yang sering menyakiti,
tapi entah kenapa,
kami masih suka stalkingfeed-mu setiap pagi.

Kau pernah dijajah, disuruh jongkok oleh patung,
lalu dilupakan sejarah sendiri.
Tapi kau juga pernah disayang,
duduk bersama penyair dan sejarawan,
mencari tanggal lahirmu
seperti mencari tanggal jadian yang sempat kita hapus
karena terlalu menyakitkan.

 

Jakarta,
ulang tahunmu bukan sekadar perayaan.
Ia adalah terapi kolektif
bagi warga yang sudah menyerah
tapi tetap beli gorengan tiap sore.

Konser dan karnaval bukan pelarian.
Ia semacam meditasi,
di tengah kemacetan eksistensial
dan zebra cross yang lebih sering jadi area parkir motor.

 

Kami tahu, Jakarta,
kau keras kepala.
Kau tidak pernah minta dicintai,
tapi kami tetap datang –

terjebak, marah, mencaci,
lalu… memelukmu diam-diam dalam hati.

 

Kau adalah kota yang tidak pernah benar-benar pulih,
tapi juga tidak pernah benar-benar mati.
Seperti puisi yang tak selesai,
tapi cukup untuk membuat dada sesak dengan senyum.

 

Selamat ulang tahun, Jakarta.
Jangan terlalu bahagia.
Nanti langitmu bisa pecah,
dan kami harus bawa ember

ke pasar yang bermpur.

 

*

Jakarta, 24 Juni 2025

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

  Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).  Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...