Gerundelan Bang Yoss
Adolf
Heyken, si sejarawan skeptis, menyebut hari jadi Jakarta itu dongeng. Tapi
bukankah dongeng memang perlu?
Jakarta (498
Tahun): Ulang Tahun Sebuah Dongeng yang Terlalu Nyata
Oleh: Yoss
Prabu
Jakarta, kota
yang tidak pernah tidur, tapi selalu ngantuk. Hari ini, ia berulang tahun
ke-498. Angka yang, kalau dipikir-pikir, bikin kita ingin bertanya,“Apakah
Jakarta benar-benar setua itu, atau hanya sedang mencoba menyaingi umur
dinosaurus demi diskon ulang tahun?”
Di Lapangan
Banteng, panggung-panggung berdiri gagah, seolah menyangga harapan warga yang
ingin menonton konser dan melupakan kredit motor yang masih empat tahun lagi.
Jakarnaval menggeliat. Lampu-lampu warna-warni menyala seperti mimpi para
kontraktor yang akhirnya dapat tender.
Tapi tunggu,
ini lebih dari sekadar karnaval. Ini adalah opera besar kehidupan kota yang
dimainkan dengan latar belakang batik Betawi, Monas bersinar, dan ondel-ondel
yang tetap tersenyum meski polusi sudah mencapai level “kopi hitam tanpa gula”.
Di pojok Jakarta Selatan, sehelai batik Syahbandar dijemur, bukan hanya karena
matahari muncul, tapi juga agar sejarah yang terlupakan bisa kembali harum.
“Jakarta punya
batik?” tanya seorang anak muda dengan ekspresi seperti baru tahu mantan
pacarnya punya anak tiga.
“Iya, nak.
Bukan cuma batik Jogja dan Pekalongan yang bisa dipakai waktu nikahan mantan.
Ini batik Betawi. Monas bisa ada di baju, bukan cuma jadi tempat nongkrong
burung dara dan janji-janji kampanye,” jawab Pak Budi dari Rumah Batik Palbatu
sambil terus menggoreskan canting, seperti menulis surat cinta untuk kota yang
sering bikin orang patah hati tapi tetap dirindukan.
Di tengah gegap
gempita itu, sejarah berdiri diam seperti patung Coen yang sudah lama
dihancurkan. Ironis, karena di tempat yang sama, dulunya berdiri seorang
penjajah yang menunjuk ke bawah. Seakan berkata, “Ini punyaku.” Tapi Jakarta,
seperti ibu-ibu di pasar yang ditawar terlalu sadis, tidak pernah benar-benar
menyerah.
Dulu, seorang
wali kota bernama Sudiro berkata, “Sudah cukup dong kita memperingati kota ini
dari sudut pandang penjajah.” Lalu ia duduk bersama sejarawan, penyair, dan
wartawan. Mereka menggali tanggal, mencari makna, lalu menyepakati 22 Juni 1527,
hari di mana Fatahillah, yang konon Arab tapi memberi nama Sanskerta,
membebaskan pelabuhan dan menamainya Jayakarta. Sebuah kemenangan yang kemudian
berubah menjadi jalan macet yang kita kenal hari ini.
Adolf Heyken,
si sejarawan skeptis, menyebut hari jadi Jakarta itu dongeng. Tapi bukankah
dongeng memang perlu? Supaya kita bisa percaya, walau cuma sebentar, bahwa kota
ini milik kita. Bukan hanya milik mereka yang bisa beli apartemen tanpa
cicilan.
Empat Ratus Sembilan
Puluh Delapan tahun adalah usia yang panjang, bahkan buat kota yang setiap
minggunya harus ganti nama jalan. Tapi Jakarta tidak pernah tua. Ia hanya penuh
kenangan, luka, tawa, dan angkot yang tak pernah lewat tepat waktu.
Dan Jakarta
berdandan. Bukan untuk pesta, tapi untuk bertahan. Di balik konser, festival,
dan batik sepanjang 498 meter, ada kerinduan akan kota yang bisa lebih ramah,
lebih teduh, dan lebih jujur.
Jakarta adalah
cinta yang keras kepala. Kita marah padanya setiap hari, tapi tak pernah
benar-benar pergi.
Selamat ulang
tahun, Jakarta. Jangan terlalu serius merayakannya. Nanti stres, macetnya makin
parah.
*
Jakarta, 22
Juni 2025.
Diolah dari
berbagai sumber:
-
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Penetapan_hari_jadi_Jakarta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.