Selasa, 24 Juni 2025

Jakarta (498 Tahun): Ulang Tahun Sebuah Dongeng yang Terlalu Nyata

 


Gerundelan Bang Yoss

 

Adolf Heyken, si sejarawan skeptis, menyebut hari jadi Jakarta itu dongeng. Tapi bukankah dongeng memang perlu?

 

Jakarta (498 Tahun): Ulang Tahun Sebuah Dongeng yang Terlalu Nyata

Oleh: Yoss Prabu

 

Jakarta, kota yang tidak pernah tidur, tapi selalu ngantuk. Hari ini, ia berulang tahun ke-498. Angka yang, kalau dipikir-pikir, bikin kita ingin bertanya,“Apakah Jakarta benar-benar setua itu, atau hanya sedang mencoba menyaingi umur dinosaurus demi diskon ulang tahun?”

Di Lapangan Banteng, panggung-panggung berdiri gagah, seolah menyangga harapan warga yang ingin menonton konser dan melupakan kredit motor yang masih empat tahun lagi. Jakarnaval menggeliat. Lampu-lampu warna-warni menyala seperti mimpi para kontraktor yang akhirnya dapat tender.

Tapi tunggu, ini lebih dari sekadar karnaval. Ini adalah opera besar kehidupan kota yang dimainkan dengan latar belakang batik Betawi, Monas bersinar, dan ondel-ondel yang tetap tersenyum meski polusi sudah mencapai level “kopi hitam tanpa gula”. Di pojok Jakarta Selatan, sehelai batik Syahbandar dijemur, bukan hanya karena matahari muncul, tapi juga agar sejarah yang terlupakan bisa kembali harum.

“Jakarta punya batik?” tanya seorang anak muda dengan ekspresi seperti baru tahu mantan pacarnya punya anak tiga.

“Iya, nak. Bukan cuma batik Jogja dan Pekalongan yang bisa dipakai waktu nikahan mantan. Ini batik Betawi. Monas bisa ada di baju, bukan cuma jadi tempat nongkrong burung dara dan janji-janji kampanye,” jawab Pak Budi dari Rumah Batik Palbatu sambil terus menggoreskan canting, seperti menulis surat cinta untuk kota yang sering bikin orang patah hati tapi tetap dirindukan.

Di tengah gegap gempita itu, sejarah berdiri diam seperti patung Coen yang sudah lama dihancurkan. Ironis, karena di tempat yang sama, dulunya berdiri seorang penjajah yang menunjuk ke bawah. Seakan berkata, “Ini punyaku.” Tapi Jakarta, seperti ibu-ibu di pasar yang ditawar terlalu sadis, tidak pernah benar-benar menyerah.

Dulu, seorang wali kota bernama Sudiro berkata, “Sudah cukup dong kita memperingati kota ini dari sudut pandang penjajah.” Lalu ia duduk bersama sejarawan, penyair, dan wartawan. Mereka menggali tanggal, mencari makna, lalu menyepakati 22 Juni 1527, hari di mana Fatahillah, yang konon Arab tapi memberi nama Sanskerta, membebaskan pelabuhan dan menamainya Jayakarta. Sebuah kemenangan yang kemudian berubah menjadi jalan macet yang kita kenal hari ini.

Adolf Heyken, si sejarawan skeptis, menyebut hari jadi Jakarta itu dongeng. Tapi bukankah dongeng memang perlu? Supaya kita bisa percaya, walau cuma sebentar, bahwa kota ini milik kita. Bukan hanya milik mereka yang bisa beli apartemen tanpa cicilan.

Empat Ratus Sembilan Puluh Delapan tahun adalah usia yang panjang, bahkan buat kota yang setiap minggunya harus ganti nama jalan. Tapi Jakarta tidak pernah tua. Ia hanya penuh kenangan, luka, tawa, dan angkot yang tak pernah lewat tepat waktu.

Dan Jakarta berdandan. Bukan untuk pesta, tapi untuk bertahan. Di balik konser, festival, dan batik sepanjang 498 meter, ada kerinduan akan kota yang bisa lebih ramah, lebih teduh, dan lebih jujur.

Jakarta adalah cinta yang keras kepala. Kita marah padanya setiap hari, tapi tak pernah benar-benar pergi.

Selamat ulang tahun, Jakarta. Jangan terlalu serius merayakannya. Nanti stres, macetnya makin parah.

*

Jakarta, 22 Juni 2025.

 

Diolah dari berbagai sumber:

 

-          https://www.metrotvnews.com/play/NxGCGEQY-ini-rangkaian-kegiatan-untuk-meriahkan-puncak-hut-ke-498-jakarta#:~:text=Puncak%20acara%20Hari%20Ulang%20Tahun,Pemerintah%20Provinsi%20(Pemprov)%20 Jakarta.

 

-          https://id.m.wikipedia.org/wiki/Penetapan_hari_jadi_Jakarta

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

  Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).  Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...