Jakarta. Di balik wajah lelah dan napas yang kependekan karena debu, ada semangat ngeyel untuk menolak kalah. Jakarta bukan kota yang manja. Ia tak perlu ruang estetika Instagramable untuk terlihat cantik. Cukup warteg yang tak pernah tutup, tukang tambal ban yang juga bisa jadi psikolog dadakan, dan obrolan receh di warung kopi – padahal warteg juga sih – tentang politik, cinta, dan sinetron.
Jakarta Tertawa
Meski Dunia Pada Ribut
Oleh: Yoss
Prabu
Di sebuah sudut
Jakarta, tempat angkot tak pernah benar-benar berhenti dan klakson menjadi
simfoni harian, warga-warga kota ini merayakan ulang tahun kotanya yang ke-498
(atau berapa pun yang benar, siapa peduli angka, yang penting masih hidup).
Jakarta, kota yang katanya tak pernah tidur. Padahal, sering ketiduran saat
macet panjang di depan lampu merah yang hobi rusak.
Pagi itu, embun
turun malu-malu. Bukan karena romantis, tapi karena polusi. Tapi siapa yang
peduli? Di sebuah gang, dari sebuah kampung, ibu-ibu berkain batik dan
bapak-bapak berkaos oblong sudah berjoget poco-poco, seperti menertawakan dunia
yang sedang kebakaran jenggot. Harga-harga naik? Listrik sering mati? DPR ribut
melulu? Ah, nanti juga adem lagi, kata mereka sambil tertawa sambil
ngos-ngosan, karena lutut tak lagi sekuat zaman reformasi.
“Jakarta itu
kayak mantan yang nyebelin. Susah dilupain,” ujar Bang Komar, penjual kerak
telor yang sudah tiga dekade mangkal di belakang halte busway. Dekat PRJ.
“Kadang nyakitin, kadang manis. Tapi tiap tahun ultahnya, kita tetap rayain.”
“Cinta tuh gitu,
Mar,” sahut Bu Nur, penjual es doger yang kalau tertawa bisa bikin orang lupa
cicilan. “Meski banyak drama, tetap kita bela. Jakarta kan rumah. Meski bocor,
tetap kita tempatin.”
Orang Jakarta
memang aneh, dalam arti yang penuh cinta. Di tengah kabar dunia yang makin
seram – perang, krisis iklim, seleb bikin podcast tentang perpisahan yang nggak
penting – mereka masih bisa cekikikan saat ikit lomba di pinggir kampung. Entah
lomba apa. Yang penting tertawa walau tidak ada yang lucu. Ada balon warna-warni
tergantung di antara kabel listrik yang semrawut, seperti harapan yang nekat
bergantung di tempat yang salah.
Tapi ya
begitulah Jakarta. Di balik wajah lelah dan napas yang kependekan karena debu,
ada semangat ngeyel untuk menolak kalah. Jakarta bukan kota yang manja. Ia tak
perlu ruang estetika Instagramable untuk terlihat cantik. Cukup warteg yang tak
pernah tutup, tukang tambal ban yang juga bisa jadi psikolog dadakan, dan
obrolan receh di warung kopi – padahal warteg juga sih – tentang politik, cinta,
dan sinetron.
Romantis? Oh,
sangat. Coba saja lihat pasangan lansia yang masih duduk berdua di sebuah taman,
berbagi seplastik cilok sambil memandang genangan air yang dipantulkan matahari.
“Ini romantis,
Mak,” kata si kakek. “Mirip film Korea.”
“Korea dari
mana? Itu genangan got,” jawab si nenek. Tapi ia tetap duduk, tetap menggenggam
tangan suaminya, tetap tertawa kecil. Karena cinta di Jakarta tak perlu latar
salju. Cukup musim hujan dan payung sobek.
Filosofis?
Tentu. Coba tanya sama tukang ojek pangkalan.
“Hidup itu
kayak Jakarta,” ujar Bang Oji, sambil menyalakan rokok. “Macet, sumpek, tapi
tetap jalan. Nggak ada pilihan. Kalau nunggu dunia tenang baru mau bahagia, ya
sampai kiamat juga nggak ada senyum.”
Hari itu,
langit Jakarta mengguratkan lukisan murahan yang suka ada di pinggiran jalan.
Yang melukiskan, entah mendung entah polusi. Tapi anak-anak masih berlarian,
ibu-ibu masih arisan, bapak-bapak masih menertawakan harga cabai seperti
lelucon receh. Ada yang menyanyikan lagu Betawi dengan suara sumbang. Tapi tetap
indah karena dinyanyikan dengan jujur.
Dan di malam
hari, saat kembang api meledak di langit (meski semua tahu uangnya bisa buat
subsidi beras), semua mendongak dan lupa pada luka-luka kecil kehidupan.
Sejenak, mereka tak memikirkan tagihan, presiden, atau notifikasi utang di
aplikasi pinjaman online.
Jakarta ulang
tahun. Dunia boleh ribut. Tapi warga Jakarta? Mereka menari. Mereka tertawa.
Mereka mencintai kotanya dengan cara paling indah, dengan menerima segala
kekacauan sebagai bagian dari puisi hidup.
Karena di kota
ini, tertawa adalah bentuk perlawanan. Dan cinta? Cinta adalah kemampuan untuk
tetap merayakan, bahkan saat dunia tak memberi alasan.
Selamat ulang
tahun, Jakarta. Tetap semrawut, tetap dicinta.
*
Jakarta,
22 Juni 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.