Jakarta, Cintaku yang Macet dan Kebanjiran
Oleh: Yoss
Prabu
Jakarta. Kota yang katanya tak pernah tidur. Tapi siapa bilang? Jakarta tidur, Bang. Tidur sambil ngorok, sambil sesekali batuk karena polusi, dan mimpi buruk soal banjir yang datang tiap musim hujan. Tapi ya, seperti kekasih yang keras kepala, kita tetap mencintainya. Karena Jakarta, seperti cinta pertama yang menyakitkan, tapi tak pernah bisa benar-benar dilupakan.
Di pagi hari,
Jakarta menyambutmu dengan pelukan hangat, dari knalpot motor dan suara klakson
yang lebih galak dari pemilik kontrakan ketika nagih uang kontrakan. Matahari
belum lagi sempat menguap, tapi jalanan sudah padat. Mobil merayap seperti
harapan rakyat jelata yang menunggu perubahan. Orang-orang berdesakan di KRL,
di TransJakarta, di hati orang yang tidak mencintainya kembali.
Jakarta adalah
kota dengan dua wajah. Di satu sisi, gedung pencakar langit menjulang, angkuh,
mewah, dingin, dan penuh rapat penting yang sebenarnya bisa lewat Zoom. Di sisi
lain, ada warteg dengan sayur lodeh yang lebih jujur daripada janji kampanye.
Juga di sisi lainnya lagi, brunch di SCBD. Di sisi yang berbeda, ibu-ibu
menyuapi anaknya di pinggir kali yang aromanya bisa bikin iman goyah.
Romantis? Ah,
tentu. Di Jakarta, romantis itu ketika kau rela boncengin pacarmu dari Tebet ke
Palmerah naik motor tua, berdua menembus kemacetan dan angin kotor. Bukan candle light dinner, tapi nasi uduk di
pinggir jalan yang disantap sambil membicarakan masa depan yang tak pasti. Di
Jakarta, cinta diuji bukan dengan godaan atau orang ketiga, tapi dengan macet,
hujan deras, dan saldo rekening yang menipis seperti rambut politisi senior.
Tapi jangan
salah. Jakarta mengajarkan kesabaran. Anda belajar mencintai meski setiap hari
dilukai. Belajar tersenyum saat digilas sistem. Belajar menyeberang tanpa zebra
cross dan tanpa kepastian hidup. Jakarta itu seperti puisi Chairil Anwar yang
disalin pakai ballpoint – kasar, penuh luka, tapi jujur apa adanya.
Ada sesuatu
yang filosofis dari orang-orang yang tinggal di Jakarta, yang tetap bangun pagi
meski tahu hidup ini tidak adil. Mereka berangkat kerja bukan karena cinta pada
pekerjaan, tapi karena tagihan yang datang tanpa belas kasihan. Mereka mengeluh
di medsos, lalu kembali kerja seperti pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka tahu,
hidup bukan soal bahagia, tapi soal bertahan. Dan Jakarta, kota metropolitan,
adalah medan perang tempat kita semua akan jadi veteran kehidupan.
Tapi, Jakarta
juga tahu cara membuat Anda rindu. Malam hari di bawah cahaya kuning lampu
jalan, ketika hujan baru saja reda, dan suara radio tua memutar lagu lawas Koes
Plus, Anda bisa merasa, sejenak saja, bahwa segalanya akan baik-baik saja. Bau
aspal basah dan gorengan di pinggir jalan jadi semacam pengingat bahwa bahagia
itu sederhana. Bahwa hidup tak harus selalu menang. Yang penting asal masih
bisa pulang.
Kadang Jakarta
terasa seperti puisi yang tak pernah selesai. Penuh coretan, salah ketik, dan
revisi yang tak kunjung kelar. Tapi justru di situlah keindahannya. Ia hidup.
Ia berantakan. Ia manusiawi.
Dan meski saya
tahu, suatu hari mungkin saya akan meninggalkan Jakarta – entah karena lelah,
atau karena akhirnya mampu beli rumah di luar kota – saya tahu hati saya akan
tetap tinggal. Di antara suara klakson, di antara obrolan warung kopi, di
antara kenangan tentangmu yang dulu pernah bersandar di pundakku tengah malam, di
bangku trotoar depan Bank Indonesia. Menunggu buskota.
Jakarta, Anda
adalah pujaan yang tak sempurna. Tapi siapa sih yang masih jatuh cinta pada
kesempurnaan?
Tidak. Kita
jatuh cinta pada yang membuat kita marah, tertawa, menangis, lalu tetap
kembali. Karena seperti semua hubungan yang berarti, Jakarta bukan tentang
bahagia. Ia tentang bertahan bersama.
Selamat ulang
tahun yang ke-498, Jakarta. Kau sudah tua. Nyaris setengah abad. Kota penuh
paradoks, tapi juga penuh harapan. Semoga di usiamu yang kian jompo, tidak
hanya gedungmu yang menjulang, tapi juga hatimu yang membesar, untuk wargamu
yang lelah tapi setia. Tetaplah hidup, gaduh, dan menggoda, seperti cinta yang
tak pernah benar-benar bisa ditinggalkan.
Sekali lagi.
Selamat ulang
tahun Jakarta. Di tengah hiruk-pikuk dan kemacetan, kamu tetap kota yang sabar
menyaksikan dunia saling memusuhi sambil kamu sendiri mencoba berdamai dengan
banjir, birokrasi, dan nostalgia.
Tetaplah jadi
kota yang mengajarkan. Meski ribut, hidup harus terus jalan. Karena bahkan di
tengah konflik dunia, kita masih bisa duduk, menulis, tertawa, dan berharap.
*
Jakarta, 20 Juni 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.