Puisi
Sastra di Tengah Riuh Kota yang Bising
Oleh: Yoss Prabu
Aku menulis ini
di trotoar yang retak,
di antara deru motor dan pekik manusia yang lupa rasanya jadi manusia.
Mereka bilang sastra itu anggun,
tapi aku lebih sering menemukannya di kubangan jalan berlumpur,
di warung kopi yang menggigil menahan tanya.
Katanya sastra itu suara hati. Suara nurani.
Tapi siapa yang punya hati. Siapa yang masih punya nurani hari ini?
Mereka sibuk memekikkan jargon,
menjual kata-kata di pasar malam,
diskon semangat lima puluh persen,
“Beli dua, dapat puisi gratis.”
Ah, kemanusiaan,
terlalu sering jadi kutipan di spanduk seminar,
padahal yang mereka cari hanya tepuk tangan,
bukan perjuangan.
Filosofi kita tenggelam di kolam kapitalisme,
kata-kata dikemas dalam kardus industri,
dikirim kilat ke influencer demi like yang palsu.
Dan di tengah keramaian ini,
aku menulis bukan untuk menjadi pahlawan,
tapi untuk menolak lupa
bahwa, sastra adalah rumah bagi mereka yang terpinggirkan,
yang dipaksa diam oleh tirani modal,
yang kata-katanya dirampas oleh birokrasi
dan diasingkan di sudut kolom opini.
Cemooh ini bukan kebencian,
tapi pengingat pahit,
bahwa kata-kata yang mulia seringkali
dibungkus plastik,
dijual murah,
dan dibuang ke tong sampah kebudayaan.
Padahal, sastra seharusnya jadi senjata,
bukan sekadar tempelan estetik di dinding Status Facebook.
Murung?
Ya, aku menangisi kata-kata yang dibunuh,
aku meratapi puisi yang dicincang,
aku berkabung untuk kemanusiaan yang direduksi jadi trendingtopic.
Tapi di tengah tangis itu,
aku tetap menyalakan lampu kecil di hati,
karena sastra Indonesia harus bangkit,
harus melawan,
harus menjadi ruang bagi mereka yang tak punya ruang.
Maka mari kita menulis,
bukan untuk sekadar menjadi terkenal,
tetapi untuk membangunkan nurani yang tertidur.
Bukan untuk memanjakan ego,
tetapi untuk menegakkan kemanusiaan di setiap bait.
Karena sastra bukan hanya keindahan,
tapi juga perlawanan,melawan keserakahan.. Melawan kebodohan,
dan menolak jadi penonton di negeri yang kian lupa pada dirinya sendiri.
Jadi, mari kita rangkai kata demi kata,
seperti doa,
seperti peluru,
seperti cinta yang tak pernah mati.
Sastra Indonesia,
adalah rumah bagi mereka yang tak pernah menyerah
pada kebisingan,
pada ketidakadilan,
dan pada kehampaan yang terlalu sering mengaku “kemajuan.”
*
Jakarta,
08 Juni 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.