Hanya ilustrasi. (Gambar: AI).
Waktu adalah bahan bakar utama penulis. Sayangnya, banyak dari kita
menggunakannya untuk scroll TikTok sampai jempol kram. Kalau kamu tipe yang
bangun siang, lalu nulis sambil ngemil biskuit kadaluarsa, ini saatnya tobat.
Gunakan kalender, jurnal, alarm, atau kalau perlu post-it ditempel di cermin. “WOY, NULIS!” Kembalilah ke jalan yang
benar.
Modal
Menulis: Antara Kopi, Luka, dan Laptop yang Tak Meledak
Oleh:
Yoss Prabu
Menjadi
penulis itu mirip banget sama jatuh cinta. Menguras waktu, menghabiskan energi,
bikin deg-degan, dan kadang – ya ampun – nyakitin hati. Tapi entah kenapa, kita
tetap mau mengulangnya lagi dan lagi. Tahun boleh berganti, kalender boleh
lecek sampai tulisannya pudar, tapi obsesi menulis itu nggak pernah pensiun.
Jadi,
wahai penulis malang tapi nekat, ini bukan sekadar nasihat. Ini doa. Supaya
langkahmu nggak cuma ngetik sambil galau, tapi juga penuh kebahagiaan. Dan
sedikit waras.
Kita
sering dengar mitos, “Menulis itu murah, nggak perlu modal.” Betul! Kalau
nulisnya pakai batok kelapa dan arang. Tapi di dunia modern, kalau perangkatmu
cuma kuat buat ngetik lima kata lalu freeze sambil berkata “Not Responding”, kamu
bisa trauma seumur hidup.
Nggak
perlu beli laptop seharga motor atau MacBook yang bisa bikin cicilan sampai
cucu. Asal cukup kuat buat menahan beban tab riset absurd seperti “Apakah ninja
bisa makan bakso?” atau “Berapa lama singa bisa tahan nggak ngedip?” Sudah
cukup. Ingat, kehilangan 3.000 kata gara-gara komputer nge-hang rasanya lebih
nyesek daripada ditinggal pas lagi sayang-sayangnya.
Penulis
sejati adalah makhluk belajar abadi. Dunia memang buku terbuka, tapi kadang
halamannya penuh coretan spidol anak TK. Jadi? Ya. Kita tetap butuh bimbingan.
Mau ikut kuliah menulis? Boleh. Kelas daring? Mangga atuh, sok. Beli buku tentang
menulis? Wajib. Karena meskipun kamu merasa bakatmu setara Pramoedya atau Ernest
Miller Hemingway, tetap saja kadang kamu butuh orang lain untuk
menatap matamu dan berkata, “Bro, kalimat ini jelek banget.” Jangan gengsi. Bahkan Shakespeare kalau hidup
sekarang mungkin ikut webinar “How to Survive Writing Block with Bubble Tea.”
Waktu adalah bahan bakar utama penulis.
Sayangnya, banyak dari kita menggunakannya untuk scroll TikTok sampai jempol
kram. Kalau kamu tipe yang bangun siang, lalu nulis sambil ngemil biskuit
kadaluarsa, ini saatnya tobat. Gunakan kalender, jurnal, alarm, atau kalau perlu
post-it ditempel di cermin. “WOY,
NULIS!” Kembalilah ke jalan yang benar.
Intinya,
temukan sistem yang bikin kamu benar-benar menulis, bukan cuma memikirkan
betapa pengen nulisnya kamu.
Siapa
bilang penulis harus hidup sendiri di gua? Bahkan, kesepian pun sering kali
butuh partner ngobrol.
Gabunglah
dengan komunitas menulis. Bisa di forum online,
grup WhatsApp, atau nongkrong di warteg sambil ngopi dan berdebat kenapa
karakter cerita harus mati di bab 7.
Percaya
deh, ide terbaik sering muncul dari obrolan receh jam dua pagi, seperti,
“Gimana kalau tokohnya ternyata alien penyuka seblak dan gorengan basi?”
Kalau
kamu menunggu inspirasi datang, siap-siap ketemu di hari kiamat. Menulis itu
bukan soal mood, tapi soal disiplin.
Pilih
waktumu. Pagi, tengah malam, atau di sela-sela teriakan anak dan tagihan
listrik. Nggak perlu muluk. Satu paragraf pun oke. Bahkan satu kalimat jelek
lebih baik daripada sejuta ide yang cuma nongkrong di kepala.
Di balik
semua itu, penulis sejati nggak cuma investasi uang atau waktu. Tapi juga
keberanian. Keberanian untuk gagal. Untuk membaca tulisan sendiri dan berkata,
“Astaga, ini sampah,” lalu tetap melanjutkan. Untuk menerima kritik tanpa
nangis di kamar mandi. Untuk tetap mengetik meski hidup sedang berantakan.
Karena
pada akhirnya, penulis adalah mereka yang tetap menulis saat dunia menyuruhnya
diam. Dan walau profesi ini kadang terasa seperti pilihan aneh, percayalah, dunia
butuh kisahmu. Ceritamu. Bahkan cerita paling konyol sekali pun.
*
Jakarta,
14 Juli 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.