Minggu, 10 Agustus 2025

Modal Menulis: Antara Kopi, Luka, dan Laptop yang Tak Meledak

 

Hanya ilustrasi. (Gambar: AI). 

Waktu adalah bahan bakar utama penulis. Sayangnya, banyak dari kita menggunakannya untuk scroll TikTok sampai jempol kram. Kalau kamu tipe yang bangun siang, lalu nulis sambil ngemil biskuit kadaluarsa, ini saatnya tobat. Gunakan kalender, jurnal, alarm, atau kalau perlu post-it ditempel di cermin. “WOY, NULIS!” Kembalilah ke jalan yang benar.

 

Modal Menulis: Antara Kopi, Luka, dan Laptop yang Tak Meledak

Oleh: Yoss Prabu

 

Menjadi penulis itu mirip banget sama jatuh cinta. Menguras waktu, menghabiskan energi, bikin deg-degan, dan kadang – ya ampun – nyakitin hati. Tapi entah kenapa, kita tetap mau mengulangnya lagi dan lagi. Tahun boleh berganti, kalender boleh lecek sampai tulisannya pudar, tapi obsesi menulis itu nggak pernah pensiun.

Jadi, wahai penulis malang tapi nekat, ini bukan sekadar nasihat. Ini doa. Supaya langkahmu nggak cuma ngetik sambil galau, tapi juga penuh kebahagiaan. Dan sedikit waras.

Kita sering dengar mitos, “Menulis itu murah, nggak perlu modal.” Betul! Kalau nulisnya pakai batok kelapa dan arang. Tapi di dunia modern, kalau perangkatmu cuma kuat buat ngetik lima kata lalu freeze sambil berkata “Not Responding”, kamu bisa trauma seumur hidup.

Nggak perlu beli laptop seharga motor atau MacBook yang bisa bikin cicilan sampai cucu. Asal cukup kuat buat menahan beban tab riset absurd seperti “Apakah ninja bisa makan bakso?” atau “Berapa lama singa bisa tahan nggak ngedip?” Sudah cukup. Ingat, kehilangan 3.000 kata gara-gara komputer nge-hang rasanya lebih nyesek daripada ditinggal pas lagi sayang-sayangnya.

Penulis sejati adalah makhluk belajar abadi. Dunia memang buku terbuka, tapi kadang halamannya penuh coretan spidol anak TK. Jadi? Ya. Kita tetap butuh bimbingan.

Mau ikut kuliah menulis? Boleh. Kelas daring? Mangga atuh, sok. Beli buku tentang menulis? Wajib. Karena meskipun kamu merasa bakatmu setara Pramoedya atau Ernest Miller Hemingway, tetap saja kadang kamu butuh orang lain untuk menatap matamu dan berkata, “Bro, kalimat ini jelek banget.”  Jangan gengsi. Bahkan Shakespeare kalau hidup sekarang mungkin ikut webinar “How to Survive Writing Block with Bubble Tea.”

Waktu adalah bahan bakar utama penulis. Sayangnya, banyak dari kita menggunakannya untuk scroll TikTok sampai jempol kram. Kalau kamu tipe yang bangun siang, lalu nulis sambil ngemil biskuit kadaluarsa, ini saatnya tobat. Gunakan kalender, jurnal, alarm, atau kalau perlu post-it ditempel di cermin. “WOY, NULIS!” Kembalilah ke jalan yang benar.

Intinya, temukan sistem yang bikin kamu benar-benar menulis, bukan cuma memikirkan betapa pengen nulisnya kamu.

Siapa bilang penulis harus hidup sendiri di gua? Bahkan, kesepian pun sering kali butuh partner ngobrol.

Gabunglah dengan komunitas menulis. Bisa di forum online, grup WhatsApp, atau nongkrong di warteg sambil ngopi dan berdebat kenapa karakter cerita harus mati di bab 7.

Percaya deh, ide terbaik sering muncul dari obrolan receh jam dua pagi, seperti, “Gimana kalau tokohnya ternyata alien penyuka seblak dan gorengan basi?”

Kalau kamu menunggu inspirasi datang, siap-siap ketemu di hari kiamat. Menulis itu bukan soal mood, tapi soal disiplin.

Pilih waktumu. Pagi, tengah malam, atau di sela-sela teriakan anak dan tagihan listrik. Nggak perlu muluk. Satu paragraf pun oke. Bahkan satu kalimat jelek lebih baik daripada sejuta ide yang cuma nongkrong di kepala.

Di balik semua itu, penulis sejati nggak cuma investasi uang atau waktu. Tapi juga keberanian. Keberanian untuk gagal. Untuk membaca tulisan sendiri dan berkata, “Astaga, ini sampah,” lalu tetap melanjutkan. Untuk menerima kritik tanpa nangis di kamar mandi. Untuk tetap mengetik meski hidup sedang berantakan.

Karena pada akhirnya, penulis adalah mereka yang tetap menulis saat dunia menyuruhnya diam. Dan walau profesi ini kadang terasa seperti pilihan aneh, percayalah, dunia butuh kisahmu. Ceritamu. Bahkan cerita paling konyol sekali pun.

*

Jakarta, 14 Juli 2025

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

  Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).  Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...