Puisi
Delapan Puluh: Cinta yang
Bertahan di Ujung Usia Republik
Oleh: Yoss Prabu
Delapan puluh tahun itu bukan usia, tapi semacam mantra
Yang dibaca dengan khidmat oleh kakek-kakek yang giginya tinggal
tiga
dan oleh nenek-nenek yang masih semangat karaoke lagu “Halo-Halo Bandung” sambil menata ulang bedak
di keriputnya.
Usia 80 bagi Republik ini bukan sekadar angka.
Ia adalah seutas benang merah yang menjahit luka, tawa, janji,
pengkhianatan, dan cinta
Delapan puluh itu, seperti pasangan tua yang masih saling menyuapi
bubur
meski tangan sudah gemetar dan lidah sering salah sebut nama.
“Kau tahu, Nak,” kata kakekku suatu pagi, “waktu Indonesia baru
umur delapan tahun, aku juga baru belajar menyukai perempuan.”
Si Cucu tertawa.
“Sekarang, Indonesia sudah 80, dan aku masih menyukai perempuan
yang sama. Nenekmu.”
Nenek tertawa sinis, “Tapi kau juga masih menyukai politik. Itu
yang bikin darahku naik.”
80 tahun Indonesia merdeka
Tapi merdeka dari apa? Dari penjajah? Ya, katanya
Tapi apakah kita sudah merdeka dari kemiskinan?
Dari kebodohan?
Dari gosip tetangga?
Dari undangan grup WA alumni yang isinya cuma jualan skincare dan
hoaks tentang chip di vaksin?
Sinis? Tentu
Tapi bukankah cinta juga begitu?
Kita bilang, “Aku sayang kamu,” sambil menatap lesu,
“Tapi kamu tuh kebanyakan drama, tahu gak?” Jawabnya ketus.
Ada yang bilang, angka 80 itu bulat dan bijaksana
Seperti kue onde-onde yang diisi kacang hijau dan dilapisi kenangan
masa kecil
Republik ini, di usia 80, seperti nenek-nenek yang tahu banyak tapi
malas ngomong
Karena terlalu sering suaranya diabaikan
“Dulu,” kata nenek, “kami menari di lapangan dengan telanjang kaki,
tanpa kamera, tanpa likes, tanpa viral
Sekarang anak-anak menari pakai Tiktok,
tapi lupa makna tariannya.”
Mengasyikan? Tentu
Karena Republik ini masih setia berdiri walau lututnya yang sakit
Masih percaya pada pemilu, walau tiap lima tahun sering dikecewakan
Masih memasang bendera di depan rumah meski genteng bocor
Masih menyanyikan Indonesia Raya meski suara fals dan dada sesak
karena cicilan
Di usia 80, Republik ini adalah rumah tua yang penuh lukisan
Beberapa warnanya luntur, tapi masih terlihat cantik
Kadang ada kebocoran, kadang listrik padam
tapi tetap tempat pulang
Tempat di mana bau masakan ibu dan suara ayah bersatu jadi simfoni
Delapan puluh tahun kemerdekaan adalah puisi panjang
yang ditulis oleh darah dan air mata
oleh asmara dan amarah
oleh mereka yang percaya
bahwa kemerdekaan bukan hanya soal mengusir penjajah
tapi soal berdamai dengan sesama
Dengan tetangga yang beda pilihan politik
Dengan saudara yang bawa paham beda
Dengan diri sendiri yang sering bingung,
aku ini warga negara atau hanya penonton konser kampanye?
Tapi aku percaya
Republik ini kuat karena ia tahu cara jatuh cinta
Berkali-kali
Pada sawah yang menguning
Pada aroma nasi goreng di pagi hari
Pada suara anak-anak menyanyikan lagu wajib dengan nada fals tapi
semangat penuh
Pada mereka yang bangga memakai batik di hari Jumat
meski hatinya resah menunggu gaji cair
Delapan puluh bukan akhir
Ia bukan pensiun, tapi ulang tahun
Dan seperti ulang tahun yang lain,
ia butuh doa, bukan sekadar tepuk tangan,
Ia butuh harapan, bukan hanya slogan
Ia butuh cinta,
bukan hanya janji manis lima tahunan yang penuh bedak kampanye
Republik ini sudah delapan puluh
Tua, tapi masih manis
Seperti kopi pahit hangat yang diseduh pagi-pagi
Tak perlu terlalu manis,
cukup hangat untuk membuat kita tetap percaya
bahwa esok masih layak untuk diperjuangkan
Merdeka!
Dengan segala tangis, tawa, dan cinta yang tersisa
*
Jakarta, 10 Agustus 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.