Kamis, 14 Agustus 2025

Delapan Puluh: Cinta yang Bertahan di Ujung Usia Republik

 

Hanya ilustrasi. (Gambar: AI). 

Puisi

 

Delapan Puluh: Cinta yang Bertahan di Ujung Usia Republik

Oleh: Yoss Prabu

 

Delapan puluh tahun itu bukan usia, tapi semacam mantra

Yang dibaca dengan khidmat oleh kakek-kakek yang giginya tinggal tiga

dan oleh nenek-nenek yang masih semangat karaoke lagu  “Halo-Halo Bandung” sambil menata ulang bedak di keriputnya.

 

Usia 80 bagi Republik ini bukan sekadar angka.

Ia adalah seutas benang merah yang menjahit luka, tawa, janji, pengkhianatan, dan cinta

Delapan puluh itu, seperti pasangan tua yang masih saling menyuapi bubur

meski tangan sudah gemetar dan lidah sering salah sebut nama.

 

“Kau tahu, Nak,” kata kakekku suatu pagi, “waktu Indonesia baru umur delapan tahun, aku juga baru belajar menyukai perempuan.”

Si Cucu tertawa.

“Sekarang, Indonesia sudah 80, dan aku masih menyukai perempuan yang sama. Nenekmu.”

Nenek tertawa sinis, “Tapi kau juga masih menyukai politik. Itu yang bikin darahku naik.”

 

80 tahun Indonesia merdeka

Tapi merdeka dari apa? Dari penjajah? Ya, katanya

Tapi apakah kita sudah merdeka dari kemiskinan?

Dari kebodohan?

Dari gosip tetangga?

Dari undangan grup WA alumni yang isinya cuma jualan skincare dan hoaks tentang chip di vaksin?

 

Sinis? Tentu

Tapi bukankah cinta juga begitu?

Kita bilang, “Aku sayang kamu,” sambil menatap lesu,

“Tapi kamu tuh kebanyakan drama, tahu gak?” Jawabnya ketus.

 

Ada yang bilang, angka 80 itu bulat dan bijaksana

Seperti kue onde-onde yang diisi kacang hijau dan dilapisi kenangan masa kecil

Republik ini, di usia 80, seperti nenek-nenek yang tahu banyak tapi malas ngomong

Karena terlalu sering suaranya diabaikan

 

“Dulu,” kata nenek, “kami menari di lapangan dengan telanjang kaki,

tanpa kamera, tanpa likes, tanpa viral

Sekarang anak-anak menari pakai Tiktok,

tapi lupa makna tariannya.”

 

Mengasyikan? Tentu

Karena Republik ini masih setia berdiri walau lututnya yang sakit

Masih percaya pada pemilu, walau tiap lima tahun sering dikecewakan

Masih memasang bendera di depan rumah meski genteng bocor

Masih menyanyikan Indonesia Raya meski suara fals dan dada sesak karena cicilan

 

Di usia 80, Republik ini adalah rumah tua yang penuh lukisan

Beberapa warnanya luntur, tapi masih terlihat cantik

Kadang ada kebocoran, kadang listrik padam

tapi tetap tempat pulang

Tempat di mana bau masakan ibu dan suara ayah bersatu jadi simfoni

 

Delapan puluh tahun kemerdekaan adalah puisi panjang

yang ditulis oleh darah dan air mata

oleh asmara dan amarah

oleh mereka yang percaya

bahwa kemerdekaan bukan hanya soal mengusir penjajah

tapi soal berdamai dengan sesama

 

Dengan tetangga yang beda pilihan politik

Dengan saudara yang bawa paham beda

Dengan diri sendiri yang sering bingung,

aku ini warga negara atau hanya penonton konser kampanye?

 

Tapi aku percaya

Republik ini kuat karena ia tahu cara jatuh cinta

Berkali-kali

Pada sawah yang menguning

Pada aroma nasi goreng di pagi hari

Pada suara anak-anak menyanyikan lagu wajib dengan nada fals tapi semangat penuh

Pada mereka yang bangga memakai batik di hari Jumat

meski hatinya resah menunggu gaji cair

 

Delapan puluh bukan akhir

Ia bukan pensiun, tapi ulang tahun

Dan seperti ulang tahun yang lain,

ia butuh doa, bukan sekadar tepuk tangan,

Ia butuh harapan, bukan hanya slogan

Ia butuh cinta,

bukan hanya janji manis lima tahunan yang penuh bedak kampanye

 

Republik ini sudah delapan puluh

Tua, tapi masih manis

Seperti kopi pahit hangat yang diseduh pagi-pagi  

Tak perlu terlalu manis,

cukup hangat untuk membuat kita tetap percaya

bahwa esok masih layak untuk diperjuangkan

 

Merdeka!

Dengan segala tangis, tawa, dan cinta yang tersisa

*

Jakarta, 10 Agustus 2025

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

  Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).  Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...