Sabtu, 16 Agustus 2025

80 Tahun Indonesia Merdeka: Tua-tua Republik, Banyak Cerita

 

Hanya Ilustrasi. (Gambar: AI). 

Gerundelan Bang Yoss

 Ada romantika tersendiri di usia 80. Seperti pasangan lansia yang tetap bergandengan tangan walau berjalan pelan. Republik ini sudah tua, tapi daya pikatnya tak luntur. Ia tetap cantik di mata para pemudanya, tetap memesona meski dipoles dengan bedak pembangunan yang kadang terlalu tebal.

*

 80 Tahun Indonesia Merdeka: Tua-tua Republik, Banyak Cerita

Oleh: Yoss Prabu

 

Tahun ini, Republik Indonesia genap berusia 80 tahun. Angka bulat yang tidak bisa disepelekan. Delapan dekade bukan cuma urusan usia, itu adalah pertanda ketahanan. Bahwa negeri ini – meski sering oleng seperti warung kopi di pinggir rel kereta – masih berdiri tegak, entah karena semangat rakyatnya, atau karena sudah terlalu lelah untuk jatuh.

Angka 80 itu sendiri unik. Bukan angka muda yang penuh gejolak hormon, tapi juga belum terlalu renta untuk tidur jam enam sore. Delapan puluh adalah masa ketika seseorang – atau suatu bangsa – sudah cukup tua untuk disebut bijak, tapi tetap cukup waras untuk menyadari bahwa ia masih bisa belajar dari kesalahan.

Dalam hidup manusia, umur 80 adalah usia pensiun plus dua dekade bonus. Tapi dalam hidup sebuah bangsa? Ini semacam masa kontemplasi. Saatnya bertanya, sudah sejauh mana kita merdeka?

Merdeka. Dari apa?

Pertanyaan ini sering muncul tiap Agustus. Merdeka dari penjajahan? Sudah. Merdeka dari kemiskinan? Belum. Merdeka dari janji kampanye? Jelas belum. Merdeka dari grup WhatsApp keluarga yang isinya link hoaks dan video politik tidak bermutu? Kita semua masih berjuang.

Delapan puluh tahun merdeka, tapi rakyatnya masih disuruh sabar. Katanya, pembangunan butuh waktu. Masalahnya, waktu siapa? Kalau waktu pejabat, mungkin dua tahun cukup untuk pindah ibukota. Tapi kalau waktu rakyat, kadang dua generasi pun belum cukup untuk dapat air bersih.

Di usia 80 ini, kita mungkin sudah mulai mempraktikkan bentuk cinta tertinggi, sarkasme. Karena hanya bangsa yang mencintai negaranya dengan serius yang bisa tertawa getir sambil membayar pajak tinggi dan tetap antre beras subsidi.

Satu sisi kita cinta negeri ini dengan segala drama sinetronnya. Di sisi lain, kita juga tak tahan melihat korupsi berjamaah, proyek mangkrak, dan pidato kosong yang diulang-ulang tiap perayaan. Tapi toh kita tetap berdiri saat Indonesia Raya dikumandangkan, dengan dada penuh haru, dan kepala penuh tagihan.

Cinta pada tanah air memang mirip dengan pernikahan tua. Sudah tahu pasangan kita keras kepala, boros, dan kadang menyebalkan, tapi tetap saja kita setia. Mengeluh, ya. Tapi meninggalkan? Tidak.

Ada romantika tersendiri di usia 80. Seperti pasangan lansia yang tetap bergandengan tangan walau berjalan pelan. Republik ini sudah tua, tapi daya pikatnya tak luntur. Ia tetap cantik di mata para pemudanya, tetap memesona meski dipoles dengan bedak pembangunan yang kadang terlalu tebal.

Angka 80 – dalam bentuknya yang bulat – mengingatkan kita pada onde-onde. Camilan rakyat kecil, sederhana tapi mengenyangkan. Isinya kacang hijau, luarnya biji wijen. Dalamnya manis, luarnya penuh tekstur. Sama seperti Republik ini, manis dalam cita-cita, tapi bertekstur dalam pelaksanaan.

Usia 80 adalah tentang merenung. Bahwa kemerdekaan bukan hanya soal mengibarkan bendera, tapi tentang apakah setiap orang punya alasan untuk tersenyum saat menyanyikan lagu kebangsaan.

Tak perlu pidato berapi-api. Cukup dengarkan suara nenekmu yang bercerita tentang masa kecilnya mengibar bendera dari sobekan kain. Dengarkan tawa anak-anak yang berlarian di lomba makan kerupuk. Dengarkan sunyi petani yang tetap menanam, walau harga panen tak pasti.

Karena di usia 80 ini, kita tak lagi butuh janji basi, kita butuh janji yang ditepati. Tak lagi perlu simbol, tapi substansi. Bukan hanya merdeka dalam spanduk, tapi juga merdeka di meja makan dan lembar rapor anak-anak desa.

Indonesia kini 80. Usia yang tak muda, tapi juga belum terlalu uzur untuk berhenti bermimpi. Seperti orang tua yang masih gemar bercerita, negeri ini masih ingin didengar.

 

Selamat ulang tahun, Republik.

Kami mencintaimu, dengan seluruh ketidaksempurnaanmu.

 

Dan seperti cinta sejati, kami tetap tinggal,

meski kadang kecewa.

 

Merdeka.

*

Jakarta. 10 Agustus 2025.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

  Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).  Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...