Hanya Ilustrasi. (Gambar: AI).
Gerundelan Bang Yoss
*
Oleh: Yoss Prabu
Tahun ini, Republik Indonesia
genap berusia 80 tahun. Angka bulat yang tidak bisa disepelekan. Delapan dekade
bukan cuma urusan usia, itu adalah pertanda ketahanan. Bahwa negeri ini – meski
sering oleng seperti warung kopi di pinggir rel kereta – masih berdiri tegak,
entah karena semangat rakyatnya, atau karena sudah terlalu lelah untuk jatuh.
Angka 80 itu sendiri unik.
Bukan angka muda yang penuh gejolak hormon, tapi juga belum terlalu renta untuk
tidur jam enam sore. Delapan puluh adalah masa ketika seseorang – atau suatu
bangsa – sudah cukup tua untuk disebut bijak, tapi tetap cukup waras untuk
menyadari bahwa ia masih bisa belajar dari kesalahan.
Dalam hidup manusia, umur 80
adalah usia pensiun plus dua dekade bonus. Tapi dalam hidup sebuah bangsa? Ini
semacam masa kontemplasi. Saatnya bertanya, sudah sejauh mana kita merdeka?
Merdeka. Dari apa?
Pertanyaan ini sering muncul
tiap Agustus. Merdeka dari penjajahan? Sudah. Merdeka dari kemiskinan? Belum.
Merdeka dari janji kampanye? Jelas belum. Merdeka dari grup WhatsApp keluarga
yang isinya link hoaks dan video politik tidak bermutu? Kita semua masih
berjuang.
Delapan puluh tahun merdeka,
tapi rakyatnya masih disuruh sabar. Katanya, pembangunan butuh waktu.
Masalahnya, waktu siapa? Kalau waktu pejabat, mungkin dua tahun cukup untuk
pindah ibukota. Tapi kalau waktu rakyat, kadang dua generasi pun belum cukup
untuk dapat air bersih.
Di usia 80 ini, kita mungkin
sudah mulai mempraktikkan bentuk cinta tertinggi, sarkasme. Karena hanya bangsa
yang mencintai negaranya dengan serius yang bisa tertawa getir sambil membayar
pajak tinggi dan tetap antre beras subsidi.
Satu sisi kita cinta negeri
ini dengan segala drama sinetronnya. Di sisi lain, kita juga tak tahan melihat
korupsi berjamaah, proyek mangkrak, dan pidato kosong yang diulang-ulang tiap
perayaan. Tapi toh kita tetap berdiri saat Indonesia Raya dikumandangkan,
dengan dada penuh haru, dan kepala penuh tagihan.
Cinta pada tanah air memang
mirip dengan pernikahan tua. Sudah tahu pasangan kita keras kepala, boros, dan
kadang menyebalkan, tapi tetap saja kita setia. Mengeluh, ya. Tapi
meninggalkan? Tidak.
Ada romantika tersendiri di
usia 80. Seperti pasangan lansia yang tetap bergandengan tangan walau berjalan
pelan. Republik ini sudah tua, tapi daya pikatnya tak luntur. Ia tetap cantik
di mata para pemudanya, tetap memesona meski dipoles dengan bedak pembangunan
yang kadang terlalu tebal.
Angka 80 – dalam bentuknya
yang bulat – mengingatkan kita pada onde-onde. Camilan rakyat kecil, sederhana
tapi mengenyangkan. Isinya kacang hijau, luarnya biji wijen. Dalamnya manis,
luarnya penuh tekstur. Sama seperti Republik ini, manis dalam cita-cita, tapi
bertekstur dalam pelaksanaan.
Usia 80 adalah tentang
merenung. Bahwa kemerdekaan bukan hanya soal mengibarkan bendera, tapi tentang
apakah setiap orang punya alasan untuk tersenyum saat menyanyikan lagu
kebangsaan.
Tak perlu pidato berapi-api.
Cukup dengarkan suara nenekmu yang bercerita tentang masa kecilnya mengibar
bendera dari sobekan kain. Dengarkan tawa anak-anak yang berlarian di lomba
makan kerupuk. Dengarkan sunyi petani yang tetap menanam, walau harga panen tak
pasti.
Karena di usia 80 ini, kita
tak lagi butuh janji basi, kita butuh janji yang ditepati. Tak lagi perlu
simbol, tapi substansi. Bukan hanya merdeka dalam spanduk, tapi juga merdeka di
meja makan dan lembar rapor anak-anak desa.
Indonesia kini 80. Usia yang
tak muda, tapi juga belum terlalu uzur untuk berhenti bermimpi. Seperti orang
tua yang masih gemar bercerita, negeri ini masih ingin didengar.
Selamat ulang tahun,
Republik.
Kami mencintaimu, dengan
seluruh ketidaksempurnaanmu.
Dan seperti cinta sejati,
kami tetap tinggal,
meski kadang kecewa.
Merdeka.
*
Jakarta.
10 Agustus 2025.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.