Pengantar
Kang Juhi, pedagang gorengan. Tinggal seorang diri, di sebuah
kamar kontrakan, di pinggiran Jakarta. Namun ia bisa berada di mana saja, dan
bertemu dengan siapa saja. Karena ia hanya semacam simbol yang mewakili suatu
kelompok masyarakat marjinal, yang alam bawah sadarnya terkadang mengejawantah
ke berbagai dimensi kehidupan. Kang Juhi mengamati lalu batinnya mengkritisi
berbagai aspek kehidupan yang sering kali menyimpang menurut penalaran akal
sehat Kang Juhi. Apakah penalaran batinnya bisa dipertanggungjawabkan? Perlu
diskusi lebih lanjut. Karena ia hanya penjual gorengan, yang tak menarik
perhatian. Dibutuhkan tatkala tak ada pilihan.
Namanya juga dongeng.
*
Dongeng
Kemerdekaan Kang Juhi dan Para Gorengan Ajaib
Oleh; Yoss Prabu
Kang Juhi menatap wajannya yang bergolak. Malam
tujuh belas Agustus, ia merasa ada sesuatu yang berbeda. Minyak goreng itu
berkilau seperti bintang. Tiba-tiba, sepotong kerupuk putih melompat dari
plastik.
“Aku bosan jadi cemilan lomba makan!” teriak
kerupuk itu. “Dulu aku simbol perjuangan: susah digigit, susah dikunyah, tapi
bikin orang tertawa. Sekarang? Aku cuma jadi konten TikTok!”
Kang Juhi menghela napas. “Kerupuk pun bisa
krisis eksistensi,” gumamnya.
Tak lama, bendera merah putih di pojok
kontrakan ikut bicara. Suaranya halus, tapi getir.
“Aku capek dikibarkan cuma setahun sekali.
Setelah itu dilipat, dimasukkan plastik, baunya apek. Merdeka bukan sekadar
berkibar di upacara, Juhi. Merdeka itu harus terasa di perutmu juga. Apa kau
sudah makan layak hari ini?”
Kang Juhi terdiam. Ia ingin menjawab jujur,
tapi tahu, perutnya sendiri sudah menjawab dengan bunyi “krucu, krucuk, krucuk”.
Lalu tiang bambu tempat bendera itu berdiri
ikut bicara, agak romantis.
“Jangan salahkan aku, Juhi. Aku setia menopang
bendera itu, walau aku sendiri sering dimakan rayap. Kau tahu? Kemerdekaan itu
seperti cinta, harus kuat menahan angin, meski pelan-pelan lapuk di dalam.”
Kang Juhi nyengir pahit. “Aku malah iri sama
kau, Tiang. Kau punya pasangan abadi, bendera. Aku? Hanya ditemani wajan gosong
dan hutang kontrakan.”
Bakwan gosong di wajan pun protes. “Hei, jangan
remehkan kami! Kami ini saksi sejarah. Dari zaman perjuangan, rakyat kecil
bertahan hidup dengan gorengan. Kami ini simbol ketabahan. Kalau negara krisis,
yang pertama dicari rakyat adalah kami!”
“Aku setuju,” kata gorengan tempe dengan nada
filosofis. “Merdeka itu bukan hanya bebas dari penjajah asing, tapi juga bebas
dari rasa lapar. Dan kami, gorengan ini, meski sering dihina sebagai makanan
kelas bawah, justru yang paling demokratis. Semua bisa makan kami, pejabat atau
kuli bangunan. Semua makan.”
Kang Juhi menepuk jidat. “Astaga, aku
dikelilingi para filsuf gorengan!”
Tiba-tiba kerupuk yang tadi protes mulai
menangis. “Tapi kenapa, Kang, meski kita gorengan selalu ada, nasib penjualnya
tetap sengsara? Di mana letak merdeka itu kalau hidup sekadar numpang lewat di
minyak panas?”
Suasana hening. Bahkan angin malam pun terasa
melankolis.
Di luar kontrakan, anak-anak kampung sedang
latihan paduan suara. Suaranya fals, tapi semangat. Mereka bernyanyi “Hari
Merdeka” sambil tertawa-tawa, tak peduli liriknya belepotan.
Bendera tiba-tiba bicara lagi, kali ini lebih
puitis.
“Lihatlah anak-anak itu, Juhi. Mereka belum
tahu utang negara, belum tahu harga beras, tapi mereka bernyanyi seolah esok
dunia akan baik-baik saja. Itulah kemerdekaan yang sesungguhnya. Masih bisa
tertawa meski hidup belum tentu adil.”
Kang Juhi menatap bendera itu lama-lama, lalu
bergumam lirih, “Mungkin benar. Merdeka bukan janji pemerintah, bukan slogan
partai, tapi keberanian untuk tetap hidup. Meski perih.”
Bakwan gosong tiba-tiba tersenyum getir.
“Merdeka itu seperti aku. Meski gosong, tetap ada yang mau memakan. Meski
pahit, tetap bisa mengenyangkan.”
Kang Juhi tertawa kecil. “Dasar konyol! Tapi
aku suka filsafatmu.”
Ia lalu mengambil bakwan gosong itu,
mengangkatnya tinggi-tinggi seperti mengangkat matahari kecil.
“Selamat ulang tahun, tanah air,” katanya.
“Meski kau sering gosong, meski asin tak seimbang, aku tetap cinta. Karena
cintaku padamu tak bisa direbus, apalagi dihangatkan ulang. Ia cuma bisa
digoreng sekali, langsung habis. Harus langsung habis.”
Lalu ia gigit bakwan itu. Rasanya pahit,
renyah, getir, hangat. Semua campur jadi satu. Seperti Indonesia itu sendiri.
Dan malam itu, di kontrakan kecil, Kang Juhi
merasa dirinya bukan hanya pedagang gorengan. Ia merasa bagian dari dongeng
besar bernama kemerdekaan, yang kadang lucu, kadang menyedihkan, kadang
romantis, kadang absurd. Tapi tetap layak ditelan, meski bikin seret di
tenggorokan.
*
Jakarta, 16 Agustus 2025.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.