Sabtu, 16 Agustus 2025

Dongeng Kemerdekaan Kang Juhi dan Para Gorengan Ajaib

 


Pengantar

 

Kang Juhi, pedagang gorengan. Tinggal seorang diri, di sebuah kamar kontrakan, di pinggiran Jakarta. Namun ia bisa berada di mana saja, dan bertemu dengan siapa saja. Karena ia hanya semacam simbol yang mewakili suatu kelompok masyarakat marjinal, yang alam bawah sadarnya terkadang mengejawantah ke berbagai dimensi kehidupan. Kang Juhi mengamati lalu batinnya mengkritisi berbagai aspek kehidupan yang sering kali menyimpang menurut penalaran akal sehat Kang Juhi. Apakah penalaran batinnya bisa dipertanggungjawabkan? Perlu diskusi lebih lanjut. Karena ia hanya penjual gorengan, yang tak menarik perhatian. Dibutuhkan tatkala tak ada pilihan.

Namanya juga dongeng.

*

Dongeng Kemerdekaan Kang Juhi dan Para Gorengan Ajaib

Oleh; Yoss Prabu

 

Kang Juhi menatap wajannya yang bergolak. Malam tujuh belas Agustus, ia merasa ada sesuatu yang berbeda. Minyak goreng itu berkilau seperti bintang. Tiba-tiba, sepotong kerupuk putih melompat dari plastik.

“Aku bosan jadi cemilan lomba makan!” teriak kerupuk itu. “Dulu aku simbol perjuangan: susah digigit, susah dikunyah, tapi bikin orang tertawa. Sekarang? Aku cuma jadi konten TikTok!”

Kang Juhi menghela napas. “Kerupuk pun bisa krisis eksistensi,” gumamnya.

Tak lama, bendera merah putih di pojok kontrakan ikut bicara. Suaranya halus, tapi getir.

“Aku capek dikibarkan cuma setahun sekali. Setelah itu dilipat, dimasukkan plastik, baunya apek. Merdeka bukan sekadar berkibar di upacara, Juhi. Merdeka itu harus terasa di perutmu juga. Apa kau sudah makan layak hari ini?”

Kang Juhi terdiam. Ia ingin menjawab jujur, tapi tahu, perutnya sendiri sudah menjawab dengan bunyi “krucu, krucuk, krucuk”.

Lalu tiang bambu tempat bendera itu berdiri ikut bicara, agak romantis.

“Jangan salahkan aku, Juhi. Aku setia menopang bendera itu, walau aku sendiri sering dimakan rayap. Kau tahu? Kemerdekaan itu seperti cinta, harus kuat menahan angin, meski pelan-pelan lapuk di dalam.”

Kang Juhi nyengir pahit. “Aku malah iri sama kau, Tiang. Kau punya pasangan abadi, bendera. Aku? Hanya ditemani wajan gosong dan hutang kontrakan.”

Bakwan gosong di wajan pun protes. “Hei, jangan remehkan kami! Kami ini saksi sejarah. Dari zaman perjuangan, rakyat kecil bertahan hidup dengan gorengan. Kami ini simbol ketabahan. Kalau negara krisis, yang pertama dicari rakyat adalah kami!”

“Aku setuju,” kata gorengan tempe dengan nada filosofis. “Merdeka itu bukan hanya bebas dari penjajah asing, tapi juga bebas dari rasa lapar. Dan kami, gorengan ini, meski sering dihina sebagai makanan kelas bawah, justru yang paling demokratis. Semua bisa makan kami, pejabat atau kuli bangunan. Semua makan.”

Kang Juhi menepuk jidat. “Astaga, aku dikelilingi para filsuf gorengan!”

Tiba-tiba kerupuk yang tadi protes mulai menangis. “Tapi kenapa, Kang, meski kita gorengan selalu ada, nasib penjualnya tetap sengsara? Di mana letak merdeka itu kalau hidup sekadar numpang lewat di minyak panas?”

Suasana hening. Bahkan angin malam pun terasa melankolis.

Di luar kontrakan, anak-anak kampung sedang latihan paduan suara. Suaranya fals, tapi semangat. Mereka bernyanyi “Hari Merdeka” sambil tertawa-tawa, tak peduli liriknya belepotan.

Bendera tiba-tiba bicara lagi, kali ini lebih puitis.

“Lihatlah anak-anak itu, Juhi. Mereka belum tahu utang negara, belum tahu harga beras, tapi mereka bernyanyi seolah esok dunia akan baik-baik saja. Itulah kemerdekaan yang sesungguhnya. Masih bisa tertawa meski hidup belum tentu adil.”

Kang Juhi menatap bendera itu lama-lama, lalu bergumam lirih, “Mungkin benar. Merdeka bukan janji pemerintah, bukan slogan partai, tapi keberanian untuk tetap hidup. Meski perih.”

Bakwan gosong tiba-tiba tersenyum getir. “Merdeka itu seperti aku. Meski gosong, tetap ada yang mau memakan. Meski pahit, tetap bisa mengenyangkan.”

Kang Juhi tertawa kecil. “Dasar konyol! Tapi aku suka filsafatmu.”

Ia lalu mengambil bakwan gosong itu, mengangkatnya tinggi-tinggi seperti mengangkat matahari kecil.

“Selamat ulang tahun, tanah air,” katanya. “Meski kau sering gosong, meski asin tak seimbang, aku tetap cinta. Karena cintaku padamu tak bisa direbus, apalagi dihangatkan ulang. Ia cuma bisa digoreng sekali, langsung habis. Harus langsung habis.”

Lalu ia gigit bakwan itu. Rasanya pahit, renyah, getir, hangat. Semua campur jadi satu. Seperti Indonesia itu sendiri.

Dan malam itu, di kontrakan kecil, Kang Juhi merasa dirinya bukan hanya pedagang gorengan. Ia merasa bagian dari dongeng besar bernama kemerdekaan, yang kadang lucu, kadang menyedihkan, kadang romantis, kadang absurd. Tapi tetap layak ditelan, meski bikin seret di tenggorokan.

*

Jakarta, 16 Agustus 2025.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

  Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).  Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...