Di Selasar kita bisa berdiskusi. Ramai-ramai atau sendiri. Boleh. Sambil minum kopi, merenung atau hanya sekedar berimajinasi, juga boleh. Atau sambil bermimpi dan masturbasi. Pun boleh-boleh saja. Terserah! Silakan saja. Suka-suka.
Sabtu, 22 Maret 2025
Kiriman Gambar Kepala Babi
Kiriman Gambar Kepala Babi
Sebuah Satire di Pagi Bulan nan Suci
Yoss Prabu
Biar pun mendung. Tagi itu cerah. Matahari masih malu-malu untuk menampakkan diri di balik langit biru yang terselubung kabut tipis. Seolah memberikan harapan baru di bulan suci Ramadhan. Saya baru saja selesai melaksanakan sahur-sebentar lagi waktunya untuk melaksanakan shalat Subuh. Dingin pagi itu menembus jaket tebal yang kupakai. Dan keheningan wilayah di mana saya berdomisili, masih terasa. Suara adzan Subuh terdengar melalui pengeras suara, untuk menyambut hari baru. Saya baru saja akan melangkah ke musholah, telepon genggam bergetar, mengingatkan saya akan pesan masuk.
Saya membuka layar ponsel, dan mata saya langsung tertuju pada sebuah pesan yang datang dari pengirim yang tidak dikenal. Judul pesan itu hanya bertuliskan satu kata: "Kado."
"Selamat Hari Puisi Dunia dan Kebebasan Pers! Semoga hidupmu selalu penuh inspirasi," tulis pengirim itu.
Dahi saya mengernyit. Hari Puisi Dunia? Kebebasan Pers? Terus terang, saya tidak begitu paham mengenai keduanya. Namun, saya tahu satu hal. Saya hidup di dunia yang penuh dengan sindiran, satire, dan hal-hal yang kadang terasa lebih absurd daripada cerita fiksi. Apa yang dia maksud dengan pesan ini? Kembali dahi ini mengernyit. Lalu, saya membuka lampiran pesan tersebut.
Hati ini berdebar. Di layar ponselku, tersaji sebuah gambar-sebuah kepala babi tergeletak dengan sangat jelas. Babi itu tampak sangat hidup, meskipun sudah terpisah dari tubuhnya. Matanya yang tajam dan penuh teka-teki seolah menatap saya, seolah mencoba menyampaikan pesan yang tidak bisa dimengerti. Bau busuk hampir tercium dari gambar tersebut, meskipun hanya digital. Saya hanya bisa tertawa kering, atau lebih tepatnya, tertawa kecewa.
Seketika, pikiran saya berlarian. Saya seorang Muslim yang taat, yang menghindari babi karena sudah jelas itu haram dalam agama. Mengapa seseorang mengirimi saya gambar kepala babi, pada pagi yang penuh berkah di bulan Ramadhan? Dan lebih parahnya lagi, kenapa pada saat perayaan yang katanya berkaitan dengan kebebasan berpendapat dan puisi?
Saya termenung sejenak. Ah, mungkin ini sebuah sindiran. Mungkin ini adalah cara seseorang untuk merayakan kebebasan ekspresi, atau lebih tepatnya, kebebasan mereka untuk mengolok-olok keyakinan orang lain.
"Begitulah dunia," pikirku. "Di balik kebebasan ada banyak ketidaktahuan."
Namun, saya mencoba untuk tetap tenang. Saya mengingat pesan dalam Al-Qur'an yang mengajarkan, untuk bersabar dalam menghadapi ujian. Setiap ujian. Kepala babi itu, meskipun mengganggu, bukanlah ancaman nyata. Yang lebih penting adalah bagaimana saya menyikapi hal itu.
Saya lalu membalas pesan tersebut dengan nada sarkastik, mungkin sedikit humoris, agar tidak terlarut dalam rasa marah. "Terima kasih atas kirimannya. Sungguh, hadiah yang sangat... kreatif. Saya akan pertimbangkan untuk mencicipi hidangan yang lebih berbahan dasar halal di pagi Ramadhan ini."
Kujeda sejenak dan melanjutkan untuk membaca pesan yang lebih panjang. Ternyata, pengirim itu menyertakan sebuah catatan. “Ini adalah sindiran untuk dunia yang kadang tidak menghormati perbedaan. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa kebebasan itu sering kali datang dengan cara yang tak terduga.”
Saya tertawa getir. Apakah ini berarti? Sebuah sindiran tentang kebebasan yang tidak mengenal batas? Kebebasan yang bisa menginjak-injak perasaan orang lain demi sebuah "keberanian" dalam berpendapat?
Di dunia ini, kebebasan sering disalahartikan. Beberapa orang merasa bahwa kebebasan berpendapat memberi mereka hak untuk merendahkan atau bahkan menyerang keyakinan orang lain. Hari Puisi Dunia yang dimaksudkan untuk merayakan ekspresi dan kreativitas, malah berubah menjadi sebuah ajang untuk membuktikan betapa bebasnya mereka dalam menyakiti perasaan orang lain.
Saya memutuskan untuk melanjutkan rutinitas. Beranjak dari tempat duduk, saya pergi menuju ruang shalat. Saya tidak jadi ke musholah. Makanan sahur tadi masih terasa di perut, sepertinya mulai terasa pudar. Saya mengingatkan diri untuk tetap bersyukur, meski dunia sering kali tampak lucu dengan cara yang tidak biasa. Terkadang, hidup ini memang penuh dengan paradoks yang tidak mudah dipahami.
Saya melaksanakan shalat Subuh dengan khusyuk, berdoa agar Allah memberi petunjuk dalam segala hal. Hari ini adalah hari yang penuh makna. Puisi dunia yang dirayakan dengan kebebasan ekspresi, namun tanpa batas. Bagaimana bisa kebebasan dan penghormatan berjalan berdampingan jika mereka yang bebas tidak memahami kedalaman makna di balik kebebasan itu sendiri?
Usai shalat, saya duduk sebentar dan merenung. Tiba-tiba, suara ponsel kembali berbunyi lagi. Sebuah pesan masuk, kali ini dari teman lama saya.
Ia menulis, "Bro, baca ini, dunia memang aneh. Mereka yang bicara soal kebebasan malah menindas kita yang ingin hidup sesuai keyakinan. Jangan biarkan gambar itu merusak pikiranmu. Ingat, itu hanya sebuah 'keberanian' yang salah alamat."
Saya tersenyum pahit. Teman saya selalu tahu bagaimana cara menghibur dengan kata-kata yang penuh filosofi. Dia benar. Dunia ini memang aneh, kadang lucu, kadang menyedihkan. Kebebasan yang seharusnya membawa kedamaian, malah sering kali berakhir dengan kebingungan.
Namun, saya juga sadar. Meski hidup penuh dengan sindiran, kebebasan yang tidak terukur, dan puisi-puisi yang ditulis dengan kata-kata pedas, saya tetap punya keyakinan. Saya tetap memiliki agama yang memandu hidup, dan hal itu yang membuat saya tegar menghadapi segala yang datang.
Lalu saya merenung sambil berpikir. Mungkin di luar sana, kebebasan memang harus dihormati. Tetapi, kebebasan tanpa rasa hormat adalah kebebasan yang membebani, yang menyakitkan. Jadi, saya memutuskan untuk tidak membiarkan kepala babi itu merusak hari. Saya akan menanggapinya dengan tertawa, dan mungkin suatu saat, saya akan memnuat tulisan tentang kebebasan, atau membuat puisi yang tidak merendahkan siapa pun, namun penuh dengan penghormatan.
Karena pada akhirnya, kebebasan sejati adalah kebebasan yang memilih untuk tidak menyakiti orang lain.
Jakarta, 22 Maret 2025
*
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal
Hanya ilistrasi. (Gambar: AI). Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...
-
Selamat Pagi Kusibak kabut yang menggantung. Kutatap pagi yang redup. Lembapnya terasa segar di sela rintik yang malu-malu. ...
-
Tulisan ini saya buat ketika saya menjadi anggota dari sebuah grup WA yang admin-nya secara kurang ajar mendaulat saya untuk menjadi narasum...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.