Di Selasar kita bisa berdiskusi. Ramai-ramai atau sendiri. Boleh. Sambil minum kopi, merenung atau hanya sekedar berimajinasi, juga boleh. Atau sambil bermimpi dan masturbasi. Pun boleh-boleh saja. Terserah! Silakan saja. Suka-suka.
Senin, 24 Maret 2025
Gonggonganku Tak Akan Pernah Didengar
Gonggonganku Tak Akan Pernah Didengar
Yoss Prabu
Aku adalah anjing. Bukan anjing biasa, tapi anjing yang sudah lelah menggonggong.
Aku sudah lama tinggal di kampung ini. Dari aku kecil yang cuma bisa melolong mencari induk, sampai kini jadi anjing dewasa dengan suara gonggongan yang bisa membuat bocah-bocah menangis. Aku menyaksikan segalanya - banyak orang pergi dan pulang, pohon-pohon tumbuh lalu ditebang, janji-janji dilontarkan lalu dilupakan.
Dan tentu saja, aku menggonggong. Karena itulah tugasku.
Tapi di kampung ini, ada sekelompok manusia yang selalu berjalan dengan kepala tegak, dada membusung, dan langkah mantap. Mereka tak pernah menoleh saat aku menggonggong. Seakan aku ini cuma angin lalu. Mereka adalah orang-orang yang selalu berkata, “Biar anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu.” Klise, memang.
Biar aku ceritakan sesuatu yang mungkin tak pernah sadari, wahai manusia.
Aku menggonggong bukan karena benci, tapi karena peduli. Aku bukan anjing jahat. Aku tidak menggonggong hanya karena aku bisa. Aku menggonggong karena aku melihat sesuatu yang kalian tidak lihat. Aku melihat lubang di jalan yang bisa membuat kalian tersandung. Aku melihat orang-orang bermuka dua yang bersiap menikam kalian dari belakang. Aku melihat langkah kalian yang terlalu cepat, seakan dunia ini perlombaan tanpa garis akhir.
Tapi apakah kalian pernah berhenti sejenak dan mendengarkan? Tidak. Kalian malah menertawakanku. “Ah, biarkan saja. Dia cuma anjing buduk.”
Padahal kalau kalian mau menunduk sedikit, melihat ke dalam mataku, kalian akan tahu. Aku menggonggong karena aku peduli.
Gonggonganku adalah filosofi, bukan hanya sekedar bunyi. Gonggonganku bukan sekadar suara kosong. Setiap “gukguk” adalah refleksi dari kehidupan. Ada gonggongan tajam yang memperingatkan bahaya, ada gonggongan lemah yang meminta belas kasih, ada gonggongan berirama yang ingin mengajak bermain.
Aku, dalam segala keterbatasanku, hanya ingin berkomunikasi dengan dunia. Tapi dunia sepertinya sudah terlalu sibuk untuk memahami bahasa selain miliknya sendiri.
Aku mulai bertanya-tanya, apakah ini yang disebut kesepian?
Aku melankolis karena aku tahu suaraku tak akan didengar. Aku tahu, sekeras apa pun aku menggonggong, langkah kalian tidak akan berhenti. Kalian akan terus maju, tanpa menoleh. Mungkin ada satu-dua dari kalian yang ragu, yang sempat berhenti sejenak, tapi mereka akan segera ditegur oleh teman-temannya.
“Jangan dengarkan anjing tua itu. Kita maju terus.”
Maju ke mana? Aku tidak tahu. Mungkin kalian juga tidak tahu. Tapi kalian tetap melangkah, karena diam dianggap lemah, karena menoleh ke belakang dianggap sebagai tanda ragu.
Aku iri. Aku ingin jadi seperti kalian, berjalan tanpa beban. Tapi aku hanya anjing. Tugasku adalah menggonggong, walaupun aku tahu gonggonganku tak ada gunanya.
Sarkasku untuk kalian yang sombong. Kalian pikir, kalian itu hebat? Karena kalian bisa maju tanpa peduli pada suara di sekitar?
Ah, kalian ini seperti manusia-manusia di dalam kereta yang berjalan kencang, menutup jendela agar tak melihat pemandangan di luar. Padahal di luar sana ada banyak hal yang bisa kalian pelajari, yang bisa membuat kalian lebih bijaksana.
Tapi tidak. Kalian lebih suka berlari tanpa tujuan, asalkan terlihat sibuk. Kalian lebih suka berjalan tanpa ragu, walaupun mungkin kalian sedang menuju jurang.
Dan aku, si anjing bodoh ini, hanya bisa menggonggong sambil tertawa getir.
Aku akan tetap menggonggong, walau kalian tak peduli. Biar aku beri tahu kalian satu hal, aku tidak akan berhenti menggonggong.
Aku akan terus bersuara, meskipun kalian menertawakan aku. Aku akan terus memperingatkan, meskipun kalian tak peduli. Aku akan terus menyalak, meskipun aku tahu tak ada yang akan mendengar.
Karena pada akhirnya, menjadi anjing bukan soal didengar atau tidak. Menjadi anjing adalah soal kesetiaan. Kesetiaan untuk tetap melakukan apa yang benar, walaupun dunia memilih untuk mengabaikannya.
Dan siapa tahu, mungkin suatu hari nanti, ketika kalian akhirnya tersandung, kalian akan ingat suara gonggonganku. Dan kalian akan sadar, bahwa aku tidak pernah berniat menghalangi kalian. Aku hanya ingin kalian berhati-hati.
Tapi mungkin, saat itu aku sudah pergi.
Maka, wahai manusia, berjalanlah kalau memang itu yang ingin kau lakukan. Berjalanlah tanpa menoleh, jika kau pikir itu yang terbaik. Tapi ingatlah satu hal. Di suatu sudut jalan, di bawah bayang-bayang pohon yang kau lewati, akan selalu ada seekor anjing yang menggonggong.
Bukan karena ia membenci langkahmu. Tapi karena ia peduli.
Aku pernah berhenti menggonggong. Ketika suatu hari aku lelah. Aku melihat kalian berjalan, mengabaikan suaraku. Dan aku berpikir, untuk apa lagi aku menggonggong? Toh, tak ada yang peduli. Maka aku memutuskan untuk diam.
Awalnya, rasanya aneh. Aku terbiasa menyalak setiap kali ada sesuatu yang mencurigakan. Aku terbiasa mengingatkan, meskipun tidak ada yang mendengar. Tapi kali ini, aku hanya duduk diam di tepi jalan, melihat kalian lewat tanpa sepatah kata pun.
Dan kau tahu apa yang terjadi? Tidak ada yang berubah.
Kalian tetap berjalan dengan keyakinan penuh, seakan dunia ada di genggaman tangan kalian. Seakan tidak ada risiko, tak ada kemungkinan gagal. Seakan semuanya sudah pasti akan berhasil.
Tapi aku melihat sesuatu yang tidak kalian lihat. Aku melihat lubang-lubang kecil yang kalian abaikan. Aku melihat jalan yang mulai retak. Aku melihat langit yang perlahan berubah kelabu.
Aku tahu badai akan datang. Dan di saat itulah aku sadar, aku tidak bisa terus diam. Badai itu, akhirnya datang juga.
Aku melihatnya lebih dulu. Angin yang berputar, hujan yang mulai turun deras, langit yang berubah gelap. Aku tahu, sebentar lagi akan ada yang tersandung, akan ada yang tergelincir, ada yang jatuh.
Aku mulai menggonggong lagi. Kali ini lebih keras, lebih panjang, lebih mendesak. Aku berlari di samping kalian, mencoba menarik perhatian kalian. Tapi kalian tetap tidak peduli.
“Apa yang dia gonggongkan?” salah satu dari kalian bertanya.
“Biar saja. Itu cuma anjing,” jawab yang lain.
Dan aku, dalam frustasi dan kepedihanku, hanya bisa menggonggong lebih keras. Tapi suara hujan yang mengguyur dan deru langkah kalian lebih lantang dari suaraku.
Aku hanya bisa menyaksikan, ketika satu per satu dari kalian mulai tersandung.
Saat kalian jatuh, aku masih di sini. Aku ingin tertawa. Aku ingin berkata, “Aku sudah bilang, kan?” Aku ingin menyalak dengan nada sarkas, mengejek kalian yang selama ini mengabaikanku.
Tapi aku tidak melakukannya. Karena aku tahu rasanya jatuh. Aku tahu rasanya berjalan dengan penuh keyakinan, lalu tersandung oleh sesuatu yang tak terlihat. Aku tahu rasanya mengira diri sendiri kuat, lalu menyadari bahwa kita lebih rapuh dari yang kita kira.
Jadi aku hanya duduk di sana, diam, melihat kalian yang kini mulai mencari pegangan. Beberapa dari kalian akhirnya menoleh ke arahku. Aku melihat keraguan di mata kalian. Aku melihat penyesalan, walau kalian terlalu sombong untuk mengakuinya.
Dan untuk pertama kalinya, aku mendengar seseorang berkata, “Mungkin kita seharusnya mendengarkan anjing ini.”
Itu tidak mengubah apa pun. Badai tetap datang, dan aku tidak bisa menyelamatkan kalian semua. Tapi setidaknya, kali ini, kalian tahu aku ada.
Kalian akan bangkit, tapi apakah akan berubah? Aku melihat kalian perlahan bangkit, meraba-raba jalan yang sebelumnya kalian anggap sudah pasti benar. Kalian lebih hati-hati sekarang. Kalian melangkah lebih pelan.
Tapi aku bertanya dalam hati, “Sampai kapan?”
Aku tahu manusia. Aku sudah melihat kalian cukup lama untuk tahu bahwa kalian mudah lupa. Hari ini kalian tersandung, tapi besok kalian akan kembali berjalan dengan kepala tegak, seolah tak pernah jatuh. Hari ini kalian mendengar gonggonganku, tapi besok kalian akan kembali menertawakan suaraku.
Kalian akan berkata, “Ah, itu hanya kebetulan.”
Kalian akan berkata, “Lain kali, kita pasti lebih siap.”
Dan aku hanya bisa menunggu, kapan kalian akan jatuh lagi.
Aku akan tetap menggonggong, walau tanpa harapan. Aku bukan manusia. Aku tidak bisa menulis sejarah, tidak bisa berdiri di panggung dan memberikan pidato yang menginspirasi. Aku hanya seekor anjing. Tugasku adalah menggonggong.
Maka aku akan terus melakukannya.
Aku akan tetap bersuara, meskipun aku tahu suara itu akan diabaikan. Aku akan tetap berlari di samping kalian, meskipun kalian menganggapku mengganggu. Aku akan tetap peduli, meskipun kalian tidak meminta kepedulianku.
Karena pada akhirnya, dunia ini butuh suara-suara yang terus berbicara, bahkan ketika tak ada yang mau mendengar. Dunia ini butuh mereka yang tetap bersuara, bukan untuk didengarkan, tapi untuk mengingatkan.
Dan aku, seekor anjing tua di pinggir jalan, akan terus menggonggong.
Sampai akhirnya, dunia ini siap untuk mendengar.
*
Jakarta, 24 Maret 2025.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal
Hanya ilistrasi. (Gambar: AI). Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...
-
Selamat Pagi Kusibak kabut yang menggantung. Kutatap pagi yang redup. Lembapnya terasa segar di sela rintik yang malu-malu. ...
-
Tulisan ini saya buat ketika saya menjadi anggota dari sebuah grup WA yang admin-nya secara kurang ajar mendaulat saya untuk menjadi narasum...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.