Selasa, 25 Maret 2025

Menggonggong Itu Tugas Suci

Hanya ilustrasi. (Gammbar: AI). Menggonggong Itu Tugas Suci Yoss Prabu Anjing menggonggong, itu adalah suara yang sangat familiar bagi semua. Namun, pernahkah berhenti sejenak untuk memikirkan apa yang sebenarnya terjadi di balik suara tersebut? Apakah anjing itu hanya sekedar menggonggong tanpa alasan, ataukah ada sesuatu yang lebih dalam yang ingin disampaikan? Jalanan sepi. Seorang pejalan kaki melangkah mantap. Kakinya melibas debu, kepalanya tegak, dan dadanya membusung seperti prajurit yang baru saja mendapat medali kehormatan. Dan, diperbolehkan rangkap jabatan pada lingkungan sipil. Menjadi lurah tanpa harus mencopot pangkat di kemiliteran. Tetapi di balik kepercayaan diri itu, ada satu gangguan yang sangat mengganggu. Gonggongan anjing. Anjing menggonggong itu karena merasa terancam. Merasa ada ancaman. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres, dan ia ingin memperingatkan tentang bahaya tersebut. Namun, apakah anjing benar-benar memahami apa yang sebenarnya terjadi? Ataukah ia hanya sekedar menggonggong karena naluri alamiahnya? Banyak pertanyaan yang membuat otak terus berpikir tentang kehidupan ini. Apakah benar-benar memahami apa yang sebenarnya terjadi. Ataukah hanya sekedar menggonggong seperti anjing. Kehidupan ini penuh dengan ketidakpastian, pun membingungkan. Siapa saja tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Tidak akan pernah tahu. Namun, apakah semuanya harus menggonggong seperti anjing, ataukah harus mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi? Andai dipikir, harus mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi. Harus pula mencoba memahami kehidupan itu sendiri, dan harus mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi. Tidak harus menggonggong seperti anjing, tapi tetap haruslah mencoba mengerti dan memahami. Namun, apakah benar bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi? Ataukah hanya sekedar berpikir bahwa mengerti. Namun sebenarnya tidak memahami. Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat otak berpikir tentang kehidupan dan membuat sadar bahwa kehidupan ini penuh dengan ketidakpastian. Dan membingungkan. Jadi, apa yang sebenarnya terjadi ketika anjing menggonggong? Apakah anjing itu hanya sekedar menggonggong karena naluri alamiahnya, ataukah ada sesuatu yang lebih dalam yang terjadi? Mari berpikir bahwa siapa pun tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun harus terus mencoba memahami dan memahami. Siapa pun tidak harus menggonggong seperti anjing. Yang penting, haruslah terus mencoba mengerti dan memahami. Anjing itu, entah milik siapa, terus menggonggong dari belakang pagar rumah tua. Lidahnya menjulur, ekornya bergerak-gerak, seolah-olah ia sedang melakukan pekerjaan paling penting di dunia. Memperingatkan seluruh alam semesta bahwa ada yang mencurigakan lewat. Namun, si pejalan kaki tidak peduli. Ia tetap melangkah, meski gonggongan itu kian nyaring, semakin menggebu-gebu. Andai diterjemahkan ke dalam bahasa manusia, barangkali artinya akan seperti ini, "Hei manusia, berhenti dulu! Aku tidak setuju dengan langkahmu!" Tapi siapa yang peduli? Menurutnya, yang sering ngaco – bukankah hidup memang begitu? Setiap kali si pejalan kaki ingin melangkah maju, akan selalu ada suara-suara di sekitar yang berusaha menghentikan. Ada yang berisik karena iri, ada yang ribut karena takut, ada yang mengomel hanya karena mereka memang hobi berkomentar tanpa alasan jelas. Anjing menggonggong bukan karena ia tahu ke mana si pejalan kaki akan pergi. Ia tak peduli. Ia hanya ingin bersuara. Kadang tanpa sebab, kadang karena kebiasaan, kadang karena merasa itu tugasnya. Sama seperti juga hewan lain. Ada yang berteriak bodoh, padahal mereka tidak pernah berusaha mencoba. Ada yang mengejek akan gagal, padahal mereka tidak pernah melangkah sejauh itu. Ada yang tertawa meremehkan, padahal satu-satunya hal yang pernah mereka lakukan hanyalah menjadi penonton dalam kehidupan ini. Dan lucunya, mereka pikir suara mereka itu penting. Mereka pikir dengan menggonggong, mereka bisa menghentikan setiap langkah. Ironis, bukan? Ya, memang gila. Jika saja si anjing mengerti bahwa gonggongannya tidak akan mengubah apa pun, mungkin ia akan memilih untuk diam dan menikmati sore yang tenang. Jika saja para anjing tidak terlambat sadar, bahwa komentar mereka hanya seperti suara latar yang bisa diabaikan, mungkin mereka akan lebih fokus pada memperbaiki diri sendiri. Tapi, ya sudahlah. Sementara si Pejalan Kaki pun, acap menggerutu. Mengapa harus berhenti hanya karena suara-suara yang tak berarti? Hidup ini adalah perjalanan, dan gonggongan anjing hanyalah musik latar. Jika berhenti hanya karena suara bising, maka siapa pun tidak akan pernah sampai ke tujuan. Jika harus terlalu sibuk menanggapi kritik, maka hanya akan membuang waktu yang seharusnya digunakan untuk melangkah lebih jauh. Biarkan mereka menggonggong. Biarkan mereka berisik. Biarkan mereka merasa penting dengan suara mereka. Jadi, biarkan saja. Si Pejalan Kaki pun terus berjalan. Terus maju. Terus melangkah menuju tempat yang lebih baik. Paling tidak menurutnya. Karena pada akhirnya, ketika sampai di tujuan, semua anjing dari berbagai ras, masih akan ada di sana. Berdiri di tempat yang sama, menggonggong tanpa henti, bertanya-tanya bagaimana si Pejalan Kaki bisa terus melangkah sejauh ini. Sementara si Pejalan Kaki hanya akan tersenyum. Sambil sesekali mengumpat, “Ndasmu!” Lalu melangkah lagi. Sambil terpincang-pincang. Anjing pun kembali menggerutu, “Aku hanya seekor anjing. Dan aku tidak tahu siapa manusia itu. Tapi aku tidak percaya orang seperti itu. Baunya lain. Biasanya, ia menyembunyikan sesuatu. Dan aku tidak suka cara ia berjalan.” Sementara si Pejalan Kaki terus melangkah, terlalu mantap. Kepalanya terlalu tegak. Dadanya terlalu membusung, seolah ia raja jalanan ini. Maka anjing pun kian menggonggong. Terlalu keras. Teralu tajam. Berulang-ulang. "Bau curang!" Ia berteriak begitu. Tapi tentu saja yang keluar hanya gonggongan. Dan seperti manusia yang sok percaya diri, si Pejalan Kaki pura-pura tidak mendengar. Pura-pura tak peduli. Tapi anjing tahu. Dia mendengarkan. Anjing juga tahu, bahwa siapa pun pasti tahu. Lihat saja cara dia melangkah. Pura-pura santai, padahal gerakannya sedikit lebih cepat. Meski agak pincang. Sepertinya terkena asam urat. Tangannya mengepal dan gemetar, seperti menyembunyikan sesuatu. Seperti terkena stroke ringan. Matanya tak berani melirik ke arah anjing. Mungkin dia memang pencuri! Atau mata-mata! Atau minimal, orang yang tidak suka anjing! Anjing harus terus menggonggong. Ini tugas suci. Anjing adalah benteng terakhir. Tanpa anjing, siapa yang akan mengawasi wilayah ini. Siapa yang akan mengingatkan bahwa bahaya bisa datang kapan saja dalam bentuk manusia yang terlalu percaya diri? Suatu ketika, anjing pernah diam saja. Selalu tutup mulut rapat-rapat. Ada orang lewat, ia hanya mengendus sedikit lalu kembali tidur. Tapi lalu apa yang terjadi? Suatu hari, seseorang lewat dan mengambil sandal Pak Ustad. Sejak saat itu, anjing bersumpah, ia tidak akan membiarkan manusia mana pun lewat tanpa audit suara. Dan lihatlah sekarang, si Pejalan Kaki masih terus berjalan, masih pura-pura tak terganggu. “Dia kira aku akan lelah?” Anjing menggerutu galau. “Halo?! Aku bisa menggonggong seharian!” Majikanku, manusia baik yang selalu memberiku makan siang. Beliau pernah bilang, "Sudahlah, itu cuma orang lewat, jangan ribut terus." Majikan yang baik, tapi naif. Bagaimana kalau orang yang "cuma lewat" ini ternyata punya niat jahat? Bagaimana kalau dia itu akan mencuri sandal lain? Atau tukang tipu yang suka menebar janji palsu? Anjing harus memastikan segala kemungkinan. Sementara si Pejalan Kaki terus melangkah. Anjing juga terus menggonggong. Ini pertempuran psikologis. Pertempuran sengit. Dia ingin terlihat tenang. Tapi anjing tahu hatinya gelisah. Setiap gonggongan anjing adalah pertanyaan yang tidak bisa ia jawab. "Kau siapa?" "Mau ke mana?" "Apa yang kau sembunyikan?" "Kenapa kau tidak membalas gonggonganku dengan jujur?" Tapi, seperti semua manusia licik, dia hanya melangkah tanpa menjawab. Akhirnya, dia semakin jauh. Anjing masih menggonggong, tapi suaranya mulai serak. Anjing tahu, si Pejalan Kaki menang dalam pertempuran ini. Meski hanya kali ini. Tapi anjing tidak menyesal. Tidak akan pernah menyesal. Anjing telah menjalankan tugas. Dunia ini penuh dengan manusia mencurigakan, dan selama anjing masih bernapas, anjing akan terus menggonggong. Karena suatu hari nanti, anjing yakin, ia akan benar. Karena mengonggong itu tugas suci. Dan mulia. * Jakarta, 25 Maret 2025.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

  Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).  Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...