Jumat, 05 September 2025

Monolog Seorang Penyapu Jalanan

 

Hanya ilustrasi. (Gambar: AI). 

Monolog Seorang Penyapu Jalanan

Oleh: Yoss Prabu

 

Aku bukan orator. Suaraku tak pernah menggema lewat pengeras suara, apalagi ditulis di spanduk. Aku cuma penyapu jalanan. Si penjual sapu tangan dari aspal kota. Tapi anehnya, setiap kali mahasiswa berdemo, panggungku lebih luas dari mereka: seluruh jalan raya.

Lihatlah ini. Kertas selebaran berserakan seperti daun kering yang berguguran, botol air mineral beterbangan seperti peluru plastik, dan batu-batu berceceran bagai kenangan masa lalu yang tak pernah dibereskan. Demo itu katanya demi rakyat. Pertanyaannya, rakyat yang mana? Aku rakyat, tapi setiap kali mereka selesai berteriak, aku yang jadi korban patah pinggang karena harus menyapu jejak revolusi.

Ada yang bilang, “Bang, itu kan konsekuensi demokrasi.”

Lah, kalau demokrasi identik dengan sampah, kenapa aku tidak sekalian jadi menteri lingkungan hidup saja? Toh aku lebih paham cara mengangkat sisa-sisa amarah ketimbang mereka yang hanya jago bikin janji.

Lucunya, para mahasiswa itu romantis sekali dalam berteriak. Slogannya puitis, nadanya heroik, wajahnya penuh gairah masa muda. Tapi begitu pulang, mereka tinggalkan bekas seperti mantan yang tak tahu diri. Ingatan pahit, luka hati, dan tentu saja, botol plastik bekas air mineral yang entah kapan akan terurai.

Aku menyapu sambil mendesah panjang. Kadang sapu lidi ini terasa seperti biola tua. Setiap gesekan lidi ke aspal, bunyinya serupa musik sedih. Ah, barangkali aku terlalu melankolis. Tapi bukankah setiap pekerjaan kuli selalu punya puisi terselip? Mereka menulis sajak di laptop, aku menuliskannya dengan garis-garis sapu di jalanan. Bedanya, puisiku hilang begitu kendaraan pertama lewat.

Tapi jangan kira aku cuma mengeluh. Ada juga lucunya. Pernah sekali, usai demo, aku menemukan sepatu kiri tanpa pasangannya. Sepatu kiri, sendirian di tengah aspal. Aku bayangkan si pemilik pulang dengan kaki kanan bersepatu gagah, kaki kiri nyeker malu-malu. Mungkin itulah ironi revolusi. Mereka bicara soal keadilan sosial, tapi bahkan sepatunya pun tidak adil. Satunya hilang, satunya bertahan.

Ada pula spanduk berisi kata-kata lantang, “Hapus Outsourcing! Hancurkan Penindasan!” Aku angkat spanduk itu, lalu aku pakai untuk melap keringat. Rasanya pas sekali. Penindasan mungkin jauh di istana, tapi keringatku nyata menetes di ubun-ubun.

Meski begitu, jangan salah sangka. Di balik keluhanku, aku diam-diam jatuh cinta pada kota yang berantakan ini. Jalanan penuh sampah sekalipun, tetaplah rumahku. Aspal hitam ini seperti kekasih tua yang keras, kaku, retak-retak, tapi selalu setia menunggu langkahku tiap pagi. Kadang aku berpikir, barangkali cinta sejati memang begitu. Tak pernah indah di mata orang lain, tapi aku rela setia melakukannya setiap hari. Dan bukankah hidup ini pada dasarnya kerja menyapu yang tak pernah selesai? Kita bersihkan hari ini, besok kotor lagi. Kita perbaiki hati, besok patah lagi. Kita jatuh cinta, lalu kecewa, lalu jatuh cinta lagi. Seolah-olah hidup hanyalah putaran tak berujung. Membersihkan, kotor, membersihkan lagi. Mungkin Tuhan memang sedang bercanda dengan cara itu.

Sarkastisnya, mereka yang berteriak di jalan dengan gagah seringkali kelak duduk di kursi empuk, melupakan idealisme. Sedang aku, penyapu jalan, tetap di sini. Setia bersama sampah yang jujur apa adanya. Sampah tidak pernah munafik. Ia busuk ya busuk, bau ya bau. Tidak seperti politisi yang baunya disamarkan parfum mahal.

Kadang aku iri pada mahasiswa yang bisa jatuh cinta sambil berteriak revolusi. Aku? Paling banter jatuh cinta pada pagi yang dingin, ketika sinar matahari pelan-pelan menghangatkan tubuhku. Atau pada bayangan samar seorang perempuan yang dulu lewat sambil tersenyum, entah siapa namanya, entah di mana sekarang. Ia mungkin sudah lupa padaku, tapi aku masih ingat caranya menoleh. Kenangan itu seperti plastik kresek hitam-ringan, remeh, tapi selalu menyangkut di ranting pikiranku.

Jadi kalau kau tanya aku, apa arti demo? Demo itu seperti pesta cinta yang ditinggalkan tamu dalam keadaan berantakan. Mereka pergi dengan dada membara, aku tinggal dengan sapu dan dengkul pegal. Tapi tak apa. Karena di balik keluhanku, aku belajar satu hal, revolusi sejati bukan soal teriak di jalan, melainkan berani menyapu sisa-sisa keributan dengan sabar.

Dan aku, penyapu jalanan, mungkin satu-satunya revolusioner sejati yang masih setia setiap pagi.

*

Jakarta, 05 September 2025.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

  Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).  Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...