Hanya ilustrasi. (Gambar: AI).
Monolog Seorang Penyapu
Jalanan
Oleh: Yoss Prabu
Aku bukan orator. Suaraku
tak pernah menggema lewat pengeras suara, apalagi ditulis di spanduk. Aku cuma
penyapu jalanan. Si penjual sapu tangan dari aspal kota. Tapi anehnya, setiap
kali mahasiswa berdemo, panggungku lebih luas dari mereka: seluruh jalan raya.
Lihatlah ini. Kertas
selebaran berserakan seperti daun kering yang berguguran, botol air mineral
beterbangan seperti peluru plastik, dan batu-batu berceceran bagai kenangan
masa lalu yang tak pernah dibereskan. Demo itu katanya demi rakyat. Pertanyaannya,
rakyat yang mana? Aku rakyat, tapi setiap kali mereka selesai berteriak, aku
yang jadi korban patah pinggang karena harus menyapu jejak revolusi.
Ada yang bilang, “Bang, itu
kan konsekuensi demokrasi.”
Lah, kalau demokrasi identik
dengan sampah, kenapa aku tidak sekalian jadi menteri lingkungan hidup saja?
Toh aku lebih paham cara mengangkat sisa-sisa amarah ketimbang mereka yang
hanya jago bikin janji.
Lucunya, para mahasiswa itu
romantis sekali dalam berteriak. Slogannya puitis, nadanya heroik, wajahnya
penuh gairah masa muda. Tapi begitu pulang, mereka tinggalkan bekas seperti
mantan yang tak tahu diri. Ingatan pahit, luka hati, dan tentu saja, botol
plastik bekas air mineral yang entah kapan akan terurai.
Aku menyapu sambil mendesah
panjang. Kadang sapu lidi ini terasa seperti biola tua. Setiap gesekan lidi ke
aspal, bunyinya serupa musik sedih. Ah, barangkali aku terlalu melankolis. Tapi
bukankah setiap pekerjaan kuli selalu punya puisi terselip? Mereka menulis
sajak di laptop, aku menuliskannya dengan garis-garis sapu di jalanan. Bedanya,
puisiku hilang begitu kendaraan pertama lewat.
Tapi jangan kira aku cuma
mengeluh. Ada juga lucunya. Pernah sekali, usai demo, aku menemukan sepatu kiri
tanpa pasangannya. Sepatu kiri, sendirian di tengah aspal. Aku bayangkan si
pemilik pulang dengan kaki kanan bersepatu gagah, kaki kiri nyeker malu-malu.
Mungkin itulah ironi revolusi. Mereka bicara soal keadilan sosial, tapi bahkan
sepatunya pun tidak adil. Satunya hilang, satunya bertahan.
Ada pula spanduk berisi
kata-kata lantang, “Hapus Outsourcing! Hancurkan Penindasan!” Aku angkat
spanduk itu, lalu aku pakai untuk melap keringat. Rasanya pas sekali.
Penindasan mungkin jauh di istana, tapi keringatku nyata menetes di ubun-ubun.
Meski begitu, jangan salah
sangka. Di balik keluhanku, aku diam-diam jatuh cinta pada kota yang berantakan
ini. Jalanan penuh sampah sekalipun, tetaplah rumahku. Aspal hitam ini seperti
kekasih tua yang keras, kaku, retak-retak, tapi selalu setia menunggu langkahku
tiap pagi. Kadang aku berpikir, barangkali cinta sejati memang begitu. Tak
pernah indah di mata orang lain, tapi aku rela setia melakukannya setiap hari. Dan
bukankah hidup ini pada dasarnya kerja menyapu yang tak pernah selesai? Kita
bersihkan hari ini, besok kotor lagi. Kita perbaiki hati, besok patah lagi.
Kita jatuh cinta, lalu kecewa, lalu jatuh cinta lagi. Seolah-olah hidup
hanyalah putaran tak berujung. Membersihkan, kotor, membersihkan lagi. Mungkin
Tuhan memang sedang bercanda dengan cara itu.
Sarkastisnya, mereka yang
berteriak di jalan dengan gagah seringkali kelak duduk di kursi empuk,
melupakan idealisme. Sedang aku, penyapu jalan, tetap di sini. Setia bersama
sampah yang jujur apa adanya. Sampah tidak pernah munafik. Ia busuk ya busuk,
bau ya bau. Tidak seperti politisi yang baunya disamarkan parfum mahal.
Kadang aku iri pada
mahasiswa yang bisa jatuh cinta sambil berteriak revolusi. Aku? Paling banter
jatuh cinta pada pagi yang dingin, ketika sinar matahari pelan-pelan
menghangatkan tubuhku. Atau pada bayangan samar seorang perempuan yang dulu
lewat sambil tersenyum, entah siapa namanya, entah di mana sekarang. Ia mungkin
sudah lupa padaku, tapi aku masih ingat caranya menoleh. Kenangan itu seperti
plastik kresek hitam-ringan, remeh, tapi selalu menyangkut di ranting
pikiranku.
Jadi kalau kau tanya aku,
apa arti demo? Demo itu seperti pesta cinta yang ditinggalkan tamu dalam
keadaan berantakan. Mereka pergi dengan dada membara, aku tinggal dengan sapu
dan dengkul pegal. Tapi tak apa. Karena di balik keluhanku, aku belajar satu
hal, revolusi sejati bukan soal teriak di jalan, melainkan berani menyapu
sisa-sisa keributan dengan sabar.
Dan aku, penyapu jalanan,
mungkin satu-satunya revolusioner sejati yang masih setia setiap pagi.
*
Jakarta, 05 September 2025.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.