17 + 8
Romansa Reformasi yang Tertunda
Oleh: Yoss Prabu
Di negeri +62 yang terkenal dengan keajaiban nasi padang bisa
utang dulu bayar belakangan. Kini rakyat punya menu baru, 17+8 Tuntutan Rakyat.
Viral di medsos, diangkat dari status influencer, diangkat lagi di jalanan,
lalu dilempar tepat ke pintu gerbang DPR. Singkatnya, rakyat sudah muak
dijadikan penonton sinetron politik yang episodenya panjang tapi ceritanya
tetap. “Uangmu untuk gaji kami, sabarmu untuk salah kami.”
Apa isinya? Bayangkan sebuah daftar belanja emak-emak, tapi isinya
bukan cabai rawit atau minyak goreng, melainkan keadilan, transparansi, dan
harapan. Ada 17 tuntutan jangka pendek (harus kelar dalam seminggu) dan 8
tuntutan jangka panjang (harus beres setahun). Kalau DPR dan pemerintah gagal,
rakyat siap bilang. Check out gagal, bubarkan keranjang belanja DPR.
Tuntutan 17 poin, lebih mirip emergency
call. Dari tarik TNI kembali ke barak, hentikan kriminalisasi demonstran,
bentuk tim investigasi kasus Affan Kurniawan & Umar Amarudin, hingga
pembekuan kenaikan gaji DPR yang konon hobinya menambah fasilitas tapi lupa
kerja. Bahkan ada permintaan manis. Partai politik harus “umumkan komitmen
berpihak pada rakyat". Lucu, ya. Sama seperti minta mantan untuk setia, bisa
saja. Tapi rasanya mustahil.
Polisi juga kena semprot. “Hentikan kekerasan, taati SOP!” kata
rakyat. Ironis, SOP itu ada, tapi sering lebih rapi di laci ketimbang di
lapangan. Sementara untuk sektor ekonomi, rakyat menagih upah layak,
perlindungan dari PHK massal, dan dialog buruh yang bukan sekadar seremonial
kopi darat. Intinya, 17 poin ini seperti deadline skripsi. Harus selesai dalam
seminggu, kalau tidak, siap-siap kena demo babak 2.
“Tuntutan 8 poin jangka panjang, lebih filosofis. Bersihkan DPR,
reformasi partai politik, revisi sistem perpajakan biar adil, sahkan UU perampasan
aset koruptor, reformasi kepolisian. Dan lagi-lagi, TNI balik barak tanpa
alasan bercocok tanam di proyek “food estate”. Ditambah penguatan Komnas HAM
serta peninjauan ulang kebijakan ekonomi yang bikin rakyat ngos-ngosan. Ini
bukan sekadar tuntutan, tapi mimpi romantis rakyat. Sebuah negara yang
benar-benar berpihak pada mereka, bukan pada elite yang sibuk selfie di
parlemen.
Di balik semua ini, ada aroma melankolis. Nama-nama korban yang
disebut – Affan, Umar, dan lain – adalah wajah nyata dari harga demokrasi.
Mereka bukan sekadar headline berita, tapi luka yang masih basah. Rakyat
menuntut investigasi bukan untuk gaya-gayaan, tapi untuk menegakkan janji
paling sederhana. “Negara melindungi segenap bangsa.”
Ah, betapa indah kalimat itu di buku teks PKN, betapa getir
rasanya di jalanan penuh gas air mata.
Drama pun pecah di depan gedung DPR. Massa mahasiswa, influencer,
BEM, semua berbaur dalam satu orkestra protes. Ada yang bawa poster, ada yang
bawa tenda, seolah bilang, “Kalau DPR ogah dengar, ya kita camping di sini
sekalian.” Bahkan BEM Unindra tak segan menulis resolusi paling pedas, “#BubarkanDPR”.
Sederhana tapi menohok, seperti SMS putus cinta. Singkat, jelas, bikin sakit
hati.
Di tengah itu, ada juga sisi humor. Andovi dan Jovi menyebut tuntutan
ini gampang, “Tinggal ceklis!” Katanya, 17 poin bisa selesai kalau ada niat.
Ceklis seperti belanja di e-commerce. Sayangnya di republik ini, satu ceklis
bisa makan waktu satu dekade.
Namun, di balik humor dan drama, tuntutan ini punya sisi filosofis
yang dalam. Rakyat sejatinya hanya ingin didengar, dilibatkan, dan diperlakukan
sebagai manusia. Demokrasi bukan hanya kotak suara lima tahun sekali, tapi
ruang dialog setiap hari. Romantis, kan? Ya, romantis sekali, kalau saja elite
politik benar-benar bisa jatuh cinta pada rakyatnya, bukan pada rekeningnya.
Maka, “17+8 Tuntutan Rakyat”, bukan sekadar daftar. Tapi puisi
panjang penuh darah, keringat, dan harapan. Ia adalah serenada rakyat untuk
negaranya, kadang dinyanyikan dengan air mata, kadang dengan teriakan, kadang
dengan canda sinis. Sebuah doa agar Indonesia tidak lagi jadi panggung drama
penuh aktor palsu, tapi rumah yang adil dan manusiawi.
Dan bila tuntutan ini diabaikan? Ya, rakyat mungkin akan menulis
lagi, kali ini bukan “17+8”, tapi cukup dua kata yang lebih singkat, lebih
keras, dan lebih menakutkan.
“Revolusi Rakyat”.
Diolah dari:
-
<https://news.detik.com/berita/d-8093935/isi-17-8-tuntutan-rakyat-bergema-di-medsos-dan-dibawa-ke-aksi-di-dpr>
-
https://kumparan.com/kumparannews/isi-tuntutan-demo-25-agustus-di-dpr-hapus-tunjangan-stop-pemborosan-anggaran-25j0E3PRst6
*
Jakarta,
04 Septenber 2025.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.