Hanya ilustrasi. (Gambar: AI).
Ironis,
setelah ribuan suara berteriak di Jalan Gatot Subrota, pemerintah justru
bertanya, siapa dalangnya? Seakan-akan demo buruh hanyalah pertunjukan wayang
dengan dalang misterius yang menggerakkan. Padahal, dalang sesungguhnya duduk
manis di kursi empuk. Eksekutif dan legislatif dengan kebijakan yang
memprovokasi. Outsourcing dilegalkan, upah ditekan, aturan berpihak pada pemodal.
Jika ada yang layak dituding provokator, justru mereka. Para pembuat
undang-undang yang lebih sibuk melayani pemodal ketimbang rakyat. Di sinilah
ironi menjadi opera. Rakyat yang meminta singkong rebus dianggap pengacau,
sementara penguasa yang mencuri nasi pulen disebut negarawan.
Saling
Tuding dari Sebuah Opera
Oleh: Yoss Prabu
Jakarta kembali
bersiap. Bukan karena konser Coldplay atau resepsi artis, melainkan sebuah
panggung akbar bernama “demo buruh”. Ribuan pekerja dari Bekasi, Karawang,
Bogor, Depok, hingga Tangerang berencana menumpahkan suara di depan Gedung DPR
RI dan Istana Presiden. Temanya sederhana namun klasik. “Hapus Outsourcing,
Tolak Upah Murah.” Singkatnya, HOSTUM. Nama yang terdengar lebih seperti band
indie ketimbang gerakan massa, tapi justru di situlah daya tariknya.
Polisi,
sebagaimana naskah tetap dalam drama jalanan, sudah menyiapkan diri sebagai
antagonis berwibawa. Polisi menyebut, lalu lintas akan direkayasa secara
“situasional”. Terjemahannya sederhana. Kalau massa besar, jalan ditutup. Kalau
kecil, biarkan saja. Mirip cinta remaja galau di ibu kota. Kalau terlalu ramai,
cari jalan lain. Kalau sepi, silakan lewat. Meski demikian ada aatu larangan
keras: jangan sampai buruh masuk jalur tol. Polisi akan menegakkan hukum
sekeras ayah galak yang berkata, “Silakan main di halaman, asal jangan naik
genteng.”
Namun yang
sebenarnya, apa isi hati buruh hingga rela berpanas-panasan, diteriaki sopir
macet, dan ditatap pedagang kaki lima dengan penuh curiga? Jawabannya, enam bab
kisah yang mereka tulis dengan keringat.
Pertama. Sandal
Jepit. Outsourcing adalah patah hati kolektif. Buruh diperlakukan seperti
sandal jepit. Dipakai bila perlu, dibuang saat aus. Tak ada janji setia, tak
ada jaminan hari tua.
Kedua. Dompet
Kurus. Upah murah adalah hubungan beracun. Selalu memberi, jarang menerima.
Gaji yang tak cukup bahkan untuk menandingi cicilan motor pejabat.
Ketiga. Puisi
Cabai. Kenaikan upah minimum 8,5–10,5 persen hanya angka. Bagi buruh, itu
berarti, bisa beli cabai atau tidak. Karena harga cabai naik-turun seperti pacar
galau yang ditinggal.
Keempat. Undangan
Tanpa Nama. PP Nomor 35 Tahun 2021 terasa seperti undangan pesta yang tak
pernah mencantumkan nama mereka. Datang, bekerja, tapi tak pernah dianggap
keluarga.
Kelima. Superhero
yang Ditunggu. PHK (pemutusan hubungan kerja) datang seperti badai. Buruh
menuntut Satgas khusus, entah berjubah Batman atau berkeris Wiro Sableng,
asalkan bisa menahan tangan perusahaan yang terlalu mudah berkata, “Anda
dipecat.”
Keenam. Kopi
Sachet Rasa Kopi. PTKP (penghasilan tidak kena pajak) Rp4,5 juta hanya cukup
untuk kos sempit dan kopi sachet. Buruh ingin naik ke Rp7,5 juta. Pajak adil
mestinya bukan beban bagi yang miskin, sementara yang kaya bisa menguap santai.
Enam bab ini
bukan sekadar tuntutan. Melainkan kisah cinta, luka, dan harapan. Dari sandal
jepit sampai kopi sachet, semua ditulis di jalanan dengan suara serak di bawah
matahari.
Ironisnya,
setelah ribuan suara berteriak di Jalan Gatot Subrota, pemerintah justru
bertanya, siapa dalangnya? Seakan-akan demo buruh hanyalah pertunjukan wayang
dengan dalang misterius yang menggerakkan. Padahal, dalang sesungguhnya duduk
manis di kursi empuk. Eksekutif dan legislatif dengan kebijakan yang
memprovokasi. Outsourcing dilegalkan, upah ditekan, aturan berpihak pada pemodal.
Jika ada yang layak dituding provokator, justru mereka. Para pembuat
undang-undang yang lebih sibuk melayani pemodal ketimbang rakyat. Di sinilah
ironi menjadi opera. Rakyat yang meminta singkong rebus dianggap pengacau,
sementara penguasa yang mencuri nasi pulen disebut negarawan.
Gerakan ini tak
hanya di Jakarta. Dari Bandung hingga Jayapura, dari Lampung sampai Ternate,
buruh menggelar aksi serentak. Indonesia serasa panggung besar, dengan naskah
sama. Perjuangan hidup di negeri yang katanya kaya raya, gemah ripah loh
jinawi. Tapi pekerjanya harus terus menagih janji.
HOSTUM ingin
berjalan damai. Bahkan di tengah panas dan teriakan. Ada romantisme. Buruh
berbagi air mineral, bendera serikat jadi payung bersama, harapan dibagi sama
rata. Romantisme jalanan ini tak kalah manis dibanding selfie muda-mudi di
Bundaran HI.
Namun di balik
yel-yel, ada kesedihan melankolis. Tuntutan mereka selalu sama dari tahun ke
tahun. Upah layak, kerja aman, perlakuan manusiawi. Seperti lagu lama yang
terus diputar, sementara pemerintah pura-pura tuli.
Jakarta pada
akhirnya memang panggung sarkastisk. Jalanan macet bukan karena pesta rakyat,
melainkan rakyat menuntut pesta hak. Polisi tersenyum kecut mengatur lalu
lintas, pengendara menggerutu, dan buruh berharap suara mereka masuk ke ruang
rapat ber-AC.
Kini, pemerintah
sibuk mencari kambing hitam. Tapi rakyat sudah paham. Kambing hitam itu bukan
buruh, melainkan kebijakan yang dilahirkan di Istana dan disahkan di Senayan.
Bila penguasa
terus menganggap kritik sebagai makar, demo sebagai kerusuhan, dan jeritan
rakyat sebagai gangguan, maka sebenarnya dalang kerusuhan ada di kursi
kekuasaan itu sendiri.
Sejarah selalu
mencatat. Bukan rakyat yang menggulingkan pemerintah, tapi pemerintah yang
meruntuhkan dirinya sendiri. Dengan kesombongan, ketidakadilan, dan kebijakan
yang mengkhianati janji konstitusi.
*
Jakarta,
02 September 2025.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.