DPR didemo lagi. Rakyat teriak soal harga bahan pokok. Mereka rapat
soal proyek yang bisa dibagi. Rakyat menjerit soal anak-anak putus sekolah,
mereka sibuk debat siapa yang pantas menjadi ketua panitia. Ironis, bukan?
Bangsa ini punya teater termegah, tapi lakonnya selalu sama. Komedi busuk
dengan tiket termahal.
Air Mata yang Tak Pernah Masuk Risalah Sidang
Oleh:
Yoss Prabu
Ada
suara yang pecah di depan pagar tinggi itu. Suara rakyat yang berderai, yang
menggeram, yang seakan tak pernah benar-benar didengar. Gedung megah bercat
putih berdiri kokoh, dijaga aparat dengan tameng baja, seakan lebih layak
melindungi kursi empuk daripada hati rakyat yang compang-camping.
Hari itu,
DPR kembali didemo. Bukan pertama, bukan kedua, entah sudah keberapa kalinya.
Tetapi setiap kali rakyat datang dengan luka di dada, setiap kali pula gedung
itu hanya menutup mata. Orang-orang berteriak sampai serak, memegang poster
lusuh bertuliskan harapan yang patah, sementara dari dalam sana – para wakil
yang katanya “rakyat titipkan suara” – sibuk dengan agenda mereka sendiri.
Mengapa?
Karena janji sudah jadi barang dagangan. Karena suara rakyat dianggap tiket
masuk, bukan amanah. Karena kursi yang diduduki lebih dipandang sebagai trofi
kekuasaan, bukannya tanggung jawab.
Dan pada
akhirnya, partai-partai pun mulai menarik kadernya. Satu per satu, ada yang
diminta mundur, ada yang “dicabut mandatnya.” Mereka bilang ini demi meredam
amarah rakyat. Mereka bilang ini demi menyelamatkan nama baik partai. Tapi
siapa yang sebenarnya mereka selamatkan? Nama baik partai, atau hati rakyat
yang remuk?
Di depan
pagar itu, ada seorang bapak tua. Rambutnya memutih, kulitnya menggelap
terbakar matahari. Ia mengangkat poster dengan tangan gemetar, “Anakku mati di
jalan karena kebijakanmu.” Suaranya pecah, tubuhnya ringkih. Ia menangis bukan
karena kehilangan kursi, tapi karena kehilangan darah daging. Bagi dia, DPR
bukan lagi rumah harapan, melainkan gedung dingin tempat keputusan-keputusan
yang merampas masa depan bangsa.
Ada pula
seorang ibu yang menggenggam foto anaknya. Mahasiswa yang dulu rajin turun ke
jalan, kini hanya tersisa dalam bingkai. “Kalian bilang, kalian wakil rakyat. Rakyat
yang mana? Karena anakku mati di jalanan menuntut kalian, bukan karena musuh
asing, tapi karena kalian sendiri.” Suaranya parau, menusuk lebih tajam
daripada batu yang dilemparkan ke pagar.
Mereka
yang ditarik pulang dari kursi empuk DPR mungkin merasa malu, mungkin juga
tidak. Tetapi rakyat hanya melihat. Darah sudah tumpah, air mata sudah terlalu membanjir.
Dan penarikan itu hanyalah tambal sulam di kain yang sudah lama robek.
DPR
didemo bukan karena rakyat benci tanpa sebab. Mereka didemo karena janji tidak
ditepati, karena suara rakyat dianggap kentut. Karena keputusan yang lahir di
ruangan ber-AC itu tidak pernah sejalan dengan jeritan di kolong-kolong jalan
layang ibu kota. Plus lorong-lorong kampung.
Setiap
kali rakyat datang, aparat berdiri tegak, pagar makin tinggi, senjata makin
lengkap. Seakan rakyat adalah musuh yang mesti ditundukkan, padahal bukankah
rakyatlah yang membayar setiap bata gedung itu, setiap kursi empuk yang
diduduki?
Ada
seorang mahasiswa yang menulis dengan spidol hitam di karton. “Kami hanya ingin
didengar.” Kalimat sederhana, tapi entah mengapa tak pernah bisa dipahami dari
balik tembok kokoh itu.
Dan di
balik semua hiruk-pikuk, ada getir yang membekas. Bahwa demokrasi yang dulu
diperjuangkan dengan darah, kini terasa hambar. Bahwa kursi DPR yang katanya
rumah rakyat, kini lebih mirip menara gading. Bahwa wakil rakyat sering lupa,
mereka hanyalah wakil. Bukan penguasa.
Maka
partai-partai pun mulai sibuk menarik kader, membersihkan citra, menambal
reputasi. Tapi bagi rakyat, itu semua sudah terlambat. Mereka sudah kadung kecewa,
kadung percaya bahwa suara hanyalah komoditas lima tahunan.
Di
jalanan itu, di bawah terik matahari dan gas air mata, rakyat masih berdiri.
Mereka bukan ingin menggulingkan, mereka hanya ingin diingat. Bahwa setiap
kebijakan adalah soal hidup-mati, bukan sekadar angka di kertas.
Ada
tangisan, ada darah, ada pelukan di antara sesama yang luka. Mereka sadar,
mungkin hari ini lagi-lagi tak didengar. Tapi mereka tetap datang, karena kalau
diam, luka itu akan membusuk.
Dan
gedung itu masih berdiri, megah, dingin, membisu. Sementara di luar pagar,
suara rakyat terus pecah, seperti doa yang terkatung-katung di langit kelabu.
Ada hari
ketika jalanan penuh suara yang pecah seperti kaca dilemparkan ke lantai. Suara
rakyat. Serak, parau, teriris. Mereka berdiri di depan pagar tinggi, gedung
yang dulu dinamai “rumah rakyat, tapi kini terasa seperti benteng dingin yang
melindungi kursi, bukan nurani”. DPR kembali didemo. Seakan ini sudah jadi
ritus tahunan. Tapi bukan tanpa alasan. Rakyat datang karena janji yang pernah
dilontarkan telah membusuk di udara, karena harapan yang dulu ditanam malah
diinjak-injak oleh mereka yang mengaku “wakil”.
Di
tengah kerumunan itu, ada seorang bapak tua. Tangannya gemetar memegang poster,
“Anakku pulang tinggal nama, karena keputusan kalian.” Ia tak menjerit. Ia
hanya berdiri, tubuhnya rapuh, matanya basah. Tangisnya tidak keras, tapi
justru karena lirih, ia menusuk hati siapa pun yang melihat.
Di
sampingnya, seorang ibu memeluk foto anaknya yang sudah tiada. Mahasiswa yang
dulu percaya pada suara rakyat, kini hanya tergantung di dinding rumah. Ia
berkata dengan suara parau,
DPR
diguncang, bukan oleh batu atau bom, tapi oleh tangisan. Dan partai-partai
mulai menarik kadernya dari kursi yang empuk itu. Ada yang dicabut mandatnya,
ada yang ditarik pulang. Katanya demi meredam amarah rakyat, demi menyelamatkan
nama baik. Tapi siapa yang mereka selamatkan? Nama partai, atau hati rakyat
yang sudah lama retak?
Penarikan
itu terasa seperti tambal sulam di kain yang robek parah. Seperti menutup luka
bernanah dengan kain putih, padahal bau busuknya tetap menyebar. Rakyat sudah
terlalu sering dikhianati untuk bisa percaya pada sekadar “penarikan kader.”
Rakyat
bukan ingin menggulingkan. Mereka hanya ingin diingat. Bahwa setiap kebijakan bukan
sekadar angka di kertas, tapi soal hidup-mati. Bahwa harga beras bukan
statistik, melainkan isi piring anak-anak mereka. Bahwa korupsi bukan sekadar
kasus, melainkan sebab dari lapar yang menggigil di banyak rumah.
Mereka
berdiri di jalan, berteriak, menangis, merangkul satu sama lain dalam luka.
Mereka tahu, mungkin lagi-lagi suara itu akan dibungkam, dihalau dengan gas air
mata, dijawab dengan tameng baja. Tapi mereka tetap datang, sebab diam hanyalah
membuat luka kian membusuk lebih dalam.
Dan
gedung itu masih berdiri, megah, kokoh, tapi bisu. Pagar masih menjulang,
seakan membentengi segelintir orang dari lautan luka di luar sana.
Di
langit yang kelabu, suara rakyat terbang seperti doa yang tak pernah sampai.
Mereka tahu, harapan mungkin tak dijawab hari ini. Tapi mereka juga tahu,
mereka tak bisa berhenti mengetuk, meski pintu itu selalu terkunci.
Maka
tangisan di depan DPR bukan sekadar protes. Ia adalah ratapan panjang bangsa
yang merasa ditinggalkan. Ia adalah air mata yang jatuh bukan hanya karena
kecewa, tapi karena cinta. Cinta pada negeri yang perlahan diperlakukan asing
oleh anak-anaknya sendiri.
Dan di
balik setiap teriakan, ada kalimat lirih yang seakan berbisik ke dalam hati
kita semua. “Apakah wakil rakyat pernah benar-benar mengingat rakyat, atau
hanya mengingat kursinya?”
Lucu,
ya. Gedung yang megah itu katanya “rumah rakyat. Tapi kok setiap kali rakyat
datang, pintunya dikunci rapat, pagarnya dipasang kawat berduri, aparatnya
berjajar seperti siap perang. Seakan-akan rakyat bukan tuan rumah, melainkan
maling yang ingin merampok kursi empuk mereka.
DPR
didemo lagi. Ya, wajar. Kalau bayi menangis tiap lapar, itu manusiawi. Kalau
rakyat berteriak tiap perut kosong, itu super manusiawi. Yang aneh justru para
wakilnya, telinga mereka seolah hanya mendengar bunyi tepuk tangan partai dan
bisikan penguasa.
Rakyat
teriak soal harga bahan pokok, mereka rapat soal proyek yang bisa dibagi.
Rakyat menjerit soal anak-anak putus sekolah, mereka sibuk debat siapa yang
pantas menjadi ketua panitia. Ironis, bukan? Bangsa ini punya teater termegah,
tapi lakonnya selalu sama. Komedi busuk dengan tiket termahal.
Dan
ketika amarah rakyat tak terbendung, partai buru-buru menarik kadernya dari
kursi DPR. Katanya demi meredam kemarahan publik. Katanya, demi menyelamatkan
marwah partai. Oh, betapa mulianya. Padahal semua orang tahu, yang mereka
selamatkan bukan marwah, tapi citra jelang pemilu. Kader ditarik bukan karena
salah, tapi karena sudah terlalu kentara.
Rakyat
dipaksa menonton sandiwara murahan. Kader ditarik, lalu partai pura-pura suci.
Padahal besok lusa, wajah baru akan duduk di kursi yang sama, melanjutkan
kebiasaan lama. Sama saja. Janji di awal manis seperti madu, di tengah basi
seperti nasi semalam, dan di ujung pahit seperti kopi kurang gula.
Seorang
bapak di depan pagar, tangannya gemetar menulis dengan spidol di karton, “ANAKKU
MATI KARENA KEBAJIKANMU”. Tapi tulisan itu tidak pernah dibacakan di sidang
paripurna. Yang dibacakan hanya usulan anggaran perjalanan dinas.
Ada
seorang ibu berteriak, “Wakil rakyat? Rakyat yang mana? Aku ini rakyat juga,
tapi suaraku tak pernah sampai telinga kalian!” Namun di gedung itu, yang
terdengar hanyalah bunyi palu sidang, tanda sepakat dalam bisu yang
menyakitkan.
Rakyat
menangis di jalanan, tapi tangisan itu tidak pernah masuk risalah sidang. Yang
masuk hanyalah catatan siapa hadir, siapa izin, siapa absen. Seolah air mata
jutaan orang lebih tak berarti daripada tanda tangan absen seorang anggota.
Dan
partai-partai itu? Mereka seperti dokter gadungan. Memberi obat penenang
padahal penyakitnya sudah kanker stadium akhir. Menarik kader hanyalah
kosmetik, bukan penyembuhan. Rakyat tahu itu. Tapi apa daya? Suara rakyat
selalu lebih pelan daripada bisikan amplop di ruang lobi.
Kalau
ditanya kenapa DPR selalu didemo, jawabannya sederhana. Karena rakyat masih
punya harapan, walau kecil. Orang tak akan marah kalau sudah benar-benar putus
asa. Demonstrasi adalah tanda cinta terakhir. Cinta yang kecewa, cinta yang
patah hati, cinta yang terkhianati. Tapi cinta juga bisa mati. Dan ketika cinta
rakyat mati, jangan salahkan bila pagar itu kelak tak cukup tinggi, aparat itu
tak cukup banyak, dan kursi empuk itu tak cukup kokoh untuk menahan amarah yang
meluap.
Untuk
sementara, partai boleh menarik kadernya, boleh cuci tangan dengan sabun
retorika. Tapi noda yang sudah menghitam di hati rakyat tak akan hilang. Tak
akan pernah. Luka yang ditorehkan oleh janji-janji palsu itu terlalu dalam
untuk bisa diseka oleh konferensi pers.
Lucu,
ya. Gedung itu disebut Dewan Perwakilan Rakyat. Tapi setiap kali rakyat datang,
mereka dihalau. Setiap kali rakyat bicara, mereka dibungkam. Setiap kali rakyat
menangis, mereka menutup telinga. Jadi jangan salahkan rakyat bila suatu hari
nanti mereka bertanya dengan suara getir.
“Kalian
sebenarnya wakil rakyat, atau wakil kursi?”
*
Jakarta,
01 September 2025.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.