Kamis, 28 Agustus 2025

Ketika Jalanan Menulis Gorengan Pun Ikut Bicara

 


Pengantar

 

Kang Juhi, pedagang gorengan. Tinggal seorang diri, di sebuah kamar kontrakan, di pinggiran Jakarta. Namun ia bisa berada di mana saja, dan bertemu dengan siapa saja. Karena ia hanya semacam simbol yang mewakili suatu kelompok masyarakat marjinal, yang alam bawah sadarnya terkadang mengejawantah ke berbagai dimensi kehidupan. Kang Juhi mengamati lalu batinnya mengkritisi berbagai aspek kehidupan yang sering kali menyimpang menurut penalaran akal sehat Kang Juhi. Apakah penalaran batinnya bisa dipertanggungjawabkan? Perlu diskusi lebih lanjut. Karena ia hanya penjual gorengan, yang tak menarik perhatian. Dibutuhkan tatkala tak ada pilihan.

Namanya juga dongeng.

*

Ketika Jalanan Menulis Gorengan Pun Ikut Bicara

Oleh: Yoss Prabu

 

Namanya Juhi. Tapi orang-orang menyapa dengan Kang Juhi. Penjual gorengan. Kontrakan cuma sepetak, di pinggir Jakarta, dekat got yang apabila hujan turn suka berubah jadi kali. Sungai. Saya hidup sendirian, anak istri di kampung. Di kontrakan ini Kang Juhi ditemani dengung kipas angin dan suara tikus yang kadang lebih berisik daripada televisi. Tapi jangan salah, walau badan di sini, pikiran Kang Juhi bisa nyelonong ke mana-mana.

Kang Juhi ini bukan siapa-siapa. Orang cuma mencarin kalau sedang lapar mendadak dan tidak ada pilihan lain selain gorengan tahu isi yang sudah agak dingin. Tapi justru dari tempat remeh seperti beginilah ia bisa melihat wajah asli kehidupan, wajah yang sering disembunyikan kamera televisi, tapi muncul jelas di jalanan.

Dan hari ini, jalanan itu bukan lagi milik klakson angkot atau ojol yang tancap gas sembarangan. Hari ini panggungnya buruh.

Opera Buruh di Gatot Subroto. Kang Juhi, hanya kebetulan lewat.

Jakarta lagi-lagi berdandan. Bukan buat konser Coldplay atau resepsi artis yang disiarkan infotainment, tapi buat demo buruh. Kang Juhi melihat ribuan orang keluar dari bus, truk, motor, bahkan ada yang berjalan kaki. Mereka datang dari Bekasi, Karawang, Depok, Bogor, Tangerang. Dari segala arah, seperti pasukan semut yang rela berjalan jauh demi sebutir kecil gula. Keadilan.

Temanya sederhana, tapi dalam. “Hapus Outsourcing – daripada mengerjakan semuanya sendiri, perusahaan “menyewa” pihak luar yang lebih ahli atau lebih murah untuk menangani tugas tertentu – Tolak Upah Murah.” Disingkat jadi HOSTUM. Lucunya, terdengar seperti nama band indie yang main di kafe pinggir jalan. Tapi jangan salah, HOSTUM ini bukan buat nyanyi-nyanyi, ini untuk meneriakkan kehidupan.

Polisi sudah siap dengan rombongan motor besar, rompi, dan wajah datar. Katanya lalu lintas bakal direkayasa situasional. Situasional itu artinya kalau massa gede, jalan ditutup. Kalau kecil, dibiarkan. Persis seperti percintaan di kota ini. Kalau terlalu ramai, jalan lain. Kalau sepi, ya monggo lewat. Kang Juhi jadi berpikir, jangan-jangan polisi itu diam-diam juga filsuf.

Tapi mereka punya garis merah, jangan coba-coba masuk tol. Katanya kalau itu sampai terjadi, bakal ada tindakan tegas. Buat Kang Juhi, itu mirip seorang bapak galak memarahi  anaknya, “Mainlah di halaman, asal jangan naik genteng!”

Kang Juhi berdiri di pinggir jalan, dekat gerobak gorengannya. Sambil meliat wajah-wajah para pengunjuk rasa. Apa yang bikin mereka rela kepanasan, dimaki sopir, bahkan dicurigai pedagang kaki lima macam saya? Jawabannya ada di enam tuntutan yang mereka bawa.

Pertama. Sandal Jepit. Outsourcing. Bagi mereka, itu luka. Kang Juhi mengerti rasanya, karena hidupnya juga seperti sandal jepit. Dipakai kalau perlu, ditendang kalau sudah usang. Outsourcing itu cinta semalam ala korporasi. Besoknya sudah ganti pasangan. Buruh teriak, “Hapus outsourcing!” Dan Kang Juhi ikut manggut. Karena siapa sih yang mau terus jadi sandal, diinjak tapi tak pernah dianggap? Kedua. Dompet Kurus. Upah murah. Dompet buruh tipis, lebih tipis dari kulit tahu goreng isi Kang Juhi, yang terlalu kering. Mereka kerja, tapi gajinya kalah sama cicilan motor pejabat. Hidup macam apa itu? Orang bilang cinta butuh pengorbanan. Betul. Tapi kalau pengorbanannya bikin anak tidak bisa jajan, itu bukan cinta. Itu pemerasan. Ketiga. Puisi Cabai. Kenaikan upah minimum. Angka 8,5–10,5 persen di kertas kelihatan keren. Tapi buat mereka, itu cuma puisi cabai. Harga cabai naik-turun seperti mood mantan pacar. Mereka cuma ingin bisa makan sambel tanpa harus berhutang sama warung. Apa susahnya sih, bikin upah yang bisa membuat orang merasa jadi manusia? Bab Keempat. Undangan Tanpa Nama. PP 35/2021. Aturan outsourcing. Kata buruh, itu seperti diundang pesta tapi nama kita tidak tercetak di kartu. Kita boleh masuk, tapi cuma duduk di kursi plastik dekat pintu. Kita bekerja buat perusahaan, tapi dianggap tamu tak resmi. Rasanya pedih. Kang Juhi jadi ingat, sering juga orang beli gorengan di gerobaknya, tapi tidak pernah mau memanggil namanya. Hanya, “Bang, berapa?” lalu pergi. Kelima. Superhero yang Ditunggu. PHK itu badai. Kang Juhi sering melihat tetangga kontrakannya tiba-tiba menganggur, pulang kampung, hilang ditelan waktu.

Nah, buruh minta ada Satgas. Superhero. Entah seperti Superman, Batman, atau Wiro Sableng, mereka tidak peduli. Yang penting ada yang bisa menolong saat perusahaan gampang banget bilang, “Anda kami PHK.” Karena kehilangan pekerjaan itu bukan cuma kehilangan duit. Tapi kehilangan martabat.

Keenam. Kopi Sachet Rasa Kopi. Pajak. PTKP Rp4,5 juta di Jakarta? Itu buat bayar kontrakan setengah kamar, di mana ranjangnya harus berbagi dengan koper. Sisanya? Hidup dengan kopi sachet rasa kopi. Buruh minta dinaikan ke Rp7,5 juta. Wajar, kan? Masa orang kaya bisa leha-leha di kursi empuk, sementara orang miskin hanya mengitung receh untuk membeli gorengan bakwan. Buat lauk. Buat makan.

Enam bab itu ditulis di jalanan. Bukan dengan tinta emas, tapi dengan spidol murahan di atas kardus. Suaranya serak, keringatnya asin, tapi kisahnya dalam. Kang Juhi melihat mereka seperti melihat dirinya sendiri.

Jakarta mungkin mendengar setengah hati. Senayan pura-pura budeg. Tapi buruh terus menulis. Dan Kang Juhi percaya, cerita ini bukan hanya milik mereka. Kita semua, pernah merasa jadi sandal jepit, dompet kurus, puisi cabai, undangan tanpa nama, korban badai, atau penikmat kopi sachet rasa kopi.

*

Said Iqbal, bos besar buruh itu, menambahkan tuntutan lagi. Hapus pajak pesangon, THR, JHT, dan stop diskriminasi pajak perempuan menikah. Katanya, terlalu banyak ketidakadilan. Kang Juhi manggut-manggut sambil nyengir pahit. Bener juga. Hidup buruh memang seperti sinetron panjang. Episodenya banyak, tapi adegannya nyesek terus.

Dan ternyata bukan cuma Jakarta. Dari Bandung sampai Jayapura, dari Lampung sampai Ternate, buruh berdiri di jalan, dengan naskah sama. Menagih janji. Indonesia jadi panggung besar. Dan mereka, para buruh, adalah pemain yang paling jujur.

Romantisme pun ada di sana. Di tengah terik, mereka berbagi air mineral. Di bawah bendera serikat, mereka berbagi harapan. Kang Juhi melihat itu, dan berpikir. Romantis juga, ya. Jalanan ini terkadang lebih tulus daripada cinta di medsos.

Tapi di balik semua, ada nada melankolis. Tuntutan ini bukan baru. Setiap tahun, buruh minta hal sama. Upah layak, kerja aman, perlakuan manusiawi. Lagu lama, tapi pemerintah seakan suka pura-pura tuli.

Akhirnya Jakarta jadi panggung sarkasme. Macet bukan karena pesta rakyat, tapi karena rakyat menuntut haknya. Polisi berjaga dengan wajah tegang, pengendara ngamuk, dan buruh berteriak.

Kang Juhi berdiri di sana, gorengannya mulai dingin. Tapi hatinya panas. Ia sadar, bangsa ini berdiri bukan di atas gedung-gedung tinggi, tapi di atas keringat mereka yang setiap hari berangkat subuh, pulang malam. Dan tetap miskin.

Kalau tuntutan sederhana saja dianggap ribut, mungkin benar parodi buruh itu.

 “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, asal tidak ada outsourcing.”

*

Jakarta, 28 Agustus 2025.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

  Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).  Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...