Senin, 18 Agustus 2025

Filsafat Tahu Goreng Isi

 


Pengantar

 

Kang Juhi, pedagang gorengan. Tinggal seorang diri, di sebuah kamar kontrakan, di pinggiran Jakarta. Namun ia bisa berada di mana saja, dan bertemu dengan siapa saja. Karena ia hanya semacam simbol yang mewakili suatu kelompok masyarakat marjinal, yang alam bawah sadarnya terkadang mengejawantah ke berbagai dimensi kehidupan. Kang Juhi mengamati lalu batinnya mengkritisi berbagai aspek kehidupan yang sering kali menyimpang menurut penalaran akal sehat Kang Juhi. Apakah penalaran batinnya bisa dipertanggungjawabkan? Perlu diskusi lebih lanjut. Karena ia hanya penjual gorengan, yang tak menarik perhatian. Dibutuhkan tatkala tak ada pilihan.

Namanya juga dongeng.

*

Filsafat Tahu Goreng Isi

Oleh: Yoss Prabu

 

Tahu isi goreng sedang merenung di dalam wajan Kang Juhi. Suara “cesss......” minyak panas seperti orkestra kemerdekaan yang tak pernah selesai. Kang Juhi menatapnya lama-lama, lalu tertawa kecil, “Lucu ya, kamu disebut “tahu isi”. Padahal banyak orang yang hidupnya ‘tahu kosong’.”

Tahu isi menjawab, dengan suara lirih namun penuh wibawa, “Itulah paradoks keberadaanku, Kang. Aku ini tahu yang tidak polos. Aku punya isi. Kadang sayur toge, kadang wortel, kadang kubis. Tapi manusia sering mengabaikan isi itu, lebih sibuk pada kulitku yang renyah. Padahal, bukankah kehidupan juga begitu? Orang menilai dari kulit, bukan dari isi.”

Kang Juhi tercenung. “Jadi maksudmu, merdeka itu harus dari dalam, bukan sekadar kulit luar?”

“Betul,” jawab tahu isi. “Bangsa ini boleh saja punya gedung tinggi, jalan tol, bahkan kereta cepat. Tapi kalau dalamnya penuh korupsi dan kebohongan, semua itu cuma seperti aku, tanpa isi. Kosong tapi dipaksakan. Merdeka sejati ada ketika dalamnya sehat, bukan hanya luarnya kriuk.”

Kang Juhi menyeringai sarkastis. “Luar kriuk, dalam kosong. Itu kayak politisi yang kampanye pakai janji manis, tapi begitu dimakan… anyep.”

Tahu isi menghela napas, asap panas naik ke udara. “Kadang aku iri pada tempe goreng. Dia jujur. Isinya tempe, ya sudah begitu. Aku? Harus menyembunyikan isi di balik kulit. Tapi di situlah letak eksistensiku. Aku mengajarkan manusia bahwa kejujuran isi lebih penting daripada keindahan kulit. Hanya saja, manusia sering tak belajar.”

Kang Juhi mendadak melankolis. Ia merasa seolah sedang menatap dirinya sendiri. Hidupnya sederhana, luarnya kusam, tapi dalamnya penuh tanya, kritik, dan harapan.

“Jadi aku ini sebenarnya mirip kamu, Tahu. Orang hanya lihat kulitku – penjual gorengan tak berpendidikan – tapi mereka tak pernah tahu isi kepalaku.”

“Ah, Kang,” suara tahu isi tiba-tiba lembut, seperti seorang sahabat, bahkan hampir romantis. “Justru itulah keindahanmu. Kau mungkin sederhana, tapi hatimu penuh isi. Kau tahu menertawakan nasib, bahkan saat perut lapar. Kau tahu menyindir dunia, meski tak ada yang dengar. Itu pun bentuk kemerdekaan.”

Kang Juhi mengangguk. “Kemerdekaan bukan cuma soal bangsa, ya. Tapi juga soal batin. Bisa tertawa meski hidup getir, itu juga merdeka. Bisa mencintai meski miskin, itu pun merdeka. Meski cintaku gosong karena tak ada yang membalas, setidaknya aku tetap bisa jatuh cinta.”

Tahu isi terdiam sejenak, lalu berkata filosofis, “Setiap gorengan punya takdir. Tempe jadi simbol kesederhanaan. Kerupuk jadi lambang kesia-siaan yang meriah. Bakwan jadi saksi gosongnya sejarah. Dan aku, tahu isi, menjadi pengingat bahwa manusia harus berisi. Kalau tidak, kau hanya jadi kulit kosong yang garing sebentar lalu dilupakan.”

Kang Juhi menatap lembut dengan mata berbinar. “Dasar, gorengan pun bisa jadi guru bangsa!”

Di luar kontrakan, kembang api mulai meletup, tanda malam kemerdekaan dirayakan. Anak-anak berteriak riang, bendera berkibar meski sobek di ujungnya.

Kang Juhi mengangkat sepotong tahu isi, menatapnya seolah menatap nasib bangsa.

“Semoga negeri ini seperti kamu, Tahu. Renyah di luar, tapi penuh isi di dalam. Semoga rakyat tak lagi sekadar jadi kulit gorengan yang habis sekali kunyah, tapi jadi isi yang menguatkan tubuh. Dan semoga para pemimpin sadar, jadi pemimpin itu jangan cuma kriuk di luar, tapi juga punya isi yang nyata.”

Ia menggigit tahu isi itu. Panas, pedas dari cabai, tapi hangat di perut.

“Terima kasih, Tahu,” bisiknya. “Kau telah memberiku kuliah filsafat yang lebih jujur daripada profesor mana pun.”

Dan di malam tujuh belas Agustus itu, Kang Juhi merasa ia tak sekadar makan gorengan. Ia sedang makan kemerdekaan. Renyah, pedas, pahit, tapi penuh isi.

*

Jakarta, 16 Agustus 2025.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

  Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).  Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...