Pengantar
Kang Juhi, pedagang gorengan. Tinggal seorang diri, di sebuah
kamar kontrakan, di pinggiran Jakarta. Namun ia bisa berada di mana saja, dan
bertemu dengan siapa saja. Karena ia hanya semacam simbol yang mewakili suatu
kelompok masyarakat marjinal, yang alam bawah sadarnya terkadang mengejawantah
ke berbagai dimensi kehidupan. Kang Juhi mengamati lalu batinnya mengkritisi
berbagai aspek kehidupan yang sering kali menyimpang menurut penalaran akal
sehat Kang Juhi. Apakah penalaran batinnya bisa dipertanggungjawabkan? Perlu
diskusi lebih lanjut. Karena ia hanya penjual gorengan, yang tak menarik
perhatian. Dibutuhkan tatkala tak ada pilihan.
Namanya juga dongeng.
*
Filsafat Tahu Goreng Isi
Oleh: Yoss Prabu
Tahu isi goreng sedang
merenung di dalam wajan Kang Juhi. Suara “cesss......” minyak panas seperti
orkestra kemerdekaan yang tak pernah selesai. Kang Juhi menatapnya lama-lama,
lalu tertawa kecil, “Lucu ya, kamu disebut “tahu isi”. Padahal banyak orang
yang hidupnya ‘tahu kosong’.”
Tahu isi menjawab, dengan suara
lirih namun penuh wibawa, “Itulah paradoks keberadaanku, Kang. Aku ini tahu
yang tidak polos. Aku punya isi. Kadang sayur toge, kadang wortel, kadang
kubis. Tapi manusia sering mengabaikan isi itu, lebih sibuk pada kulitku yang
renyah. Padahal, bukankah kehidupan juga begitu? Orang menilai dari kulit,
bukan dari isi.”
Kang Juhi tercenung. “Jadi
maksudmu, merdeka itu harus dari dalam, bukan sekadar kulit luar?”
“Betul,” jawab tahu isi.
“Bangsa ini boleh saja punya gedung tinggi, jalan tol, bahkan kereta cepat.
Tapi kalau dalamnya penuh korupsi dan kebohongan, semua itu cuma seperti aku,
tanpa isi. Kosong tapi dipaksakan. Merdeka sejati ada ketika dalamnya sehat,
bukan hanya luarnya kriuk.”
Kang Juhi menyeringai
sarkastis. “Luar kriuk, dalam kosong. Itu kayak politisi yang kampanye pakai
janji manis, tapi begitu dimakan… anyep.”
Tahu isi menghela napas, asap
panas naik ke udara. “Kadang aku iri pada tempe goreng. Dia jujur. Isinya
tempe, ya sudah begitu. Aku? Harus menyembunyikan isi di balik kulit. Tapi di
situlah letak eksistensiku. Aku mengajarkan manusia bahwa kejujuran isi lebih
penting daripada keindahan kulit. Hanya saja, manusia sering tak belajar.”
Kang Juhi mendadak
melankolis. Ia merasa seolah sedang menatap dirinya sendiri. Hidupnya sederhana,
luarnya kusam, tapi dalamnya penuh tanya, kritik, dan harapan.
“Jadi aku ini sebenarnya
mirip kamu, Tahu. Orang hanya lihat kulitku – penjual gorengan tak
berpendidikan – tapi mereka tak pernah tahu isi kepalaku.”
“Ah, Kang,” suara tahu isi
tiba-tiba lembut, seperti seorang sahabat, bahkan hampir romantis. “Justru
itulah keindahanmu. Kau mungkin sederhana, tapi hatimu penuh isi. Kau tahu
menertawakan nasib, bahkan saat perut lapar. Kau tahu menyindir dunia, meski
tak ada yang dengar. Itu pun bentuk kemerdekaan.”
Kang Juhi mengangguk.
“Kemerdekaan bukan cuma soal bangsa, ya. Tapi juga soal batin. Bisa tertawa
meski hidup getir, itu juga merdeka. Bisa mencintai meski miskin, itu pun
merdeka. Meski cintaku gosong karena tak ada yang membalas, setidaknya aku
tetap bisa jatuh cinta.”
Tahu isi terdiam sejenak,
lalu berkata filosofis, “Setiap gorengan punya takdir. Tempe jadi simbol
kesederhanaan. Kerupuk jadi lambang kesia-siaan yang meriah. Bakwan jadi saksi
gosongnya sejarah. Dan aku, tahu isi, menjadi pengingat bahwa manusia harus
berisi. Kalau tidak, kau hanya jadi kulit kosong yang garing sebentar lalu
dilupakan.”
Kang Juhi menatap lembut dengan
mata berbinar. “Dasar, gorengan pun bisa jadi guru bangsa!”
Di luar kontrakan, kembang
api mulai meletup, tanda malam kemerdekaan dirayakan. Anak-anak berteriak
riang, bendera berkibar meski sobek di ujungnya.
Kang Juhi mengangkat sepotong
tahu isi, menatapnya seolah menatap nasib bangsa.
“Semoga negeri ini seperti
kamu, Tahu. Renyah di luar, tapi penuh isi di dalam. Semoga rakyat tak lagi
sekadar jadi kulit gorengan yang habis sekali kunyah, tapi jadi isi yang
menguatkan tubuh. Dan semoga para pemimpin sadar, jadi pemimpin itu jangan cuma
kriuk di luar, tapi juga punya isi yang nyata.”
Ia menggigit tahu isi itu.
Panas, pedas dari cabai, tapi hangat di perut.
“Terima kasih, Tahu,”
bisiknya. “Kau telah memberiku kuliah filsafat yang lebih jujur daripada
profesor mana pun.”
Dan di malam tujuh belas
Agustus itu, Kang Juhi merasa ia tak sekadar makan gorengan. Ia sedang makan
kemerdekaan. Renyah, pedas, pahit, tapi penuh isi.
*
Jakarta, 16 Agustus 2025.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.