Hanya ilustrasi (Gambar: AI).
Pengantar
Kang Juhi, pedagang gorengan. Tinggal seorang diri, di sebuah
kamar kontrakan, di pinggiran Jakarta. Namun ia bisa berada di mana saja, dan
bertemu dengan siapa saja. Karena ia hanya semacam simbol yang mewakili suatu
kelompok masyarakat marjinal, yang alam bawah sadarnya terkadang mengejawantah
ke berbagai dimensi kehidupan. Kang Juhi mengamati lalu batinnya mengkritisi
berbagai aspek kehidupan yang sering kali menyimpang menurut penalaran akal
sehat Kang Juhi. Apakah penalaran batinnya bisa dipertanggungjawabkan? Perlu
diskusi lebih lanjut. Karena ia hanya penjual gorengan, yang tak menarik
perhatian. Dibutuhkan tatkala tak ada pilihan.
Namanya juga dongeng.
*
Romantika Bakwan Gosong dan Eksistensi Cireng
Goreng
Oleh:
Yoss prabu
Kang
Juhi duduk di depan kontrakan, menatap sepotong bakwan gosong di tangannya.
Malam itu bulan setengah, persis seperti hatinya. Setengah kenyang, setengah
kosong.
Bakwan
gosong tiba-tiba bersuara, dengan nada patah hati, “Kau tahu, Kang. Aku ini
korban cinta yang berlebihan. Kau ingin aku matang, tapi terlalu lama kau
tinggalkan, jadilah aku gosong. Bukankah begitu juga kisah asmara manusia?
Terlalu lama menunggu kepastian, akhirnya hangus di ujung waktu.”
Kang
Juhi terkekeh getir. “Jadi kamu ini puisi patah hati, Wan? Jangan lebay ah, toh
nanti ada juga yang makan kamu meski gosong.”
Bakwan
menatapnya dengan mata imajiner. “Itulah romantikaku, Kang. Aku tetap dicintai
meski buruk rupa. Bukankah itu cinta sejati? Bukan pada kulit yang mulus, tapi
pada isi. Pada rasa yang masih bisa ditelan, meski getir.”
Kang
Juhi diam sejenak, lalu senyum melankolis. “Kalau begitu, aku ini mirip kamu.
Hidupku gosong, penuh gagal, tapi siapa tahu masih ada yang bisa mencintaiku.”
Tiba-tiba,
dari piring plastik di sampingnya, cireng goreng ikut nimbrung. Suaranya tegas,
penuh eksistensi ala filsuf jalanan. “Halaaaaa....h, kalian berdua terlalu
sentimentil. Aku ini cireng – sagu digoreng. Dari luar keras, dalamnya kosong.
Dan justru itulah kejujuran eksistensialku. Aku tidak pura-pura punya isi. Aku
jujur, aku hanyalah kehampaan yang dibungkus kriuk.”
Bakwan
gosong mendelik. “Kau bangga dengan kekosonganmu? Apa itu bukan tanda kesia-siaan?”
Cireng
tertawa sinis. “Sia-sia bagimu, mungkin. Tapi aku disukai banyak orang. Karena
manusia, Kang, suka mengunyah kehampaan. Lihat saja politik, janji kosong
paling laku. Lihatlah asmara, rayuan gombal lebih cepat bikin jatuh cinta ketimbang
kejujuran yang getir. Aku adalah wajah bangsa ini. Kosong namun digemari.”
Kang
Juhi hampir tersedak oleh kebijaksanaan absurd itu. “Astaga, gorengan pun bisa
jadi dosen filsafat! Tapi, Cireng. Bukankah hidup yang kosong itu menyedihkan?”
Cireng
mendengus. “Tidak, Kang. Justru dari kekosongan itu, lahirlah kemungkinan.
Kosong itu ruang untuk diisi, kalau mau. Kau, misalnya. Merasa kosong tiap
malam. Tapi bukankah dari situ lahir semua renunganmu, semua tawa getir yang
kau bagikan? Jangan takut kosong. Kosong itu awal dari segalanya.”
Bakwan
gosong mendengus sinis. “Aku tetap lebih mulia. Aku hangus karena api cinta.
Sedangkan kau, Cireng, hanya hampa yang dimuliakan orang bodoh.”
Cireng
balas tertawa. “Lebih baik kosong daripada gosong! Setidaknya aku tak bikin
lidah pahit.”
Kang
Juhi terbahak. “Wah, kalian berdua ini seperti politisi dan seniman. Satunya
gosong karena idealisme, satunya kosong tapi populer. Dua-duanya tetap laku di
pasar.”
Lalu,
tiba-tiba suasana jadi romantis. Angin malam masuk lewat celah kontrakan.
Bendera lusuh di depan rumah berkibar pelan. Kang Juhi menatap bakwan gosong
dan cireng dengan mata penuh kasih.
“Kalian
tahu? Kalian ini ibarat dua wajah cinta. Ada cinta yang gosong – hangus tapi
tulus. Ada cinta yang kosong – hampa tapi membahagiakan sebentar. Hidup butuh
keduanya. Kadang kita rela terbakar demi seseorang. Kadang kita bahagia hanya
dengan janji kosong yang renyah di telinga.”
Bakwan
meneteskan minyak gosong, seolah air mata. Cireng tetap keras di luar, tapi
diam-diam rapuh di dalam.
Di luar,
anak-anak berlarian membawa obor kecil, menyanyi lagu kemerdekaan dengan nada
fals. Suara mereka mengalun ke dalam kontrakan, mencampur wangi minyak goreng.
Kang
Juhi mengangkat bakwan gosong di tangan kanan, cireng di tangan kiri. “Inilah
Indonesia,” katanya puitis. “Negeri gosong tapi tetap dicintai, negeri kosong
tapi tetap digemari. Antara pahit dan hampa, kita tetap menelan semuanya.
Karena cinta pada tanah air memang begitu. Bukan soal enak atau tidak enak,
tapi soal berani menelan sampai habis.”
Lalu ia
menggigit bakwan gosong – pahit tapi hangat. Ia lanjut menggigit cireng – hampa
tapi renyah. Dan ia tertawa di tengah kontrakan sepi.
“Terima
kasih, gorengan,” bisiknya. “Kalian selalu mengajarkan filsafat tanpa kampus,
romantika tanpa puisi, dan kemerdekaan tanpa pidato.”
*
Jakarta, 17 Agustus 2025.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.