Minggu, 07 September 2025

Sepuluh Nama, Seribu Luka. Ketika Negara Berdiri di Atas Kuburan Rakyatnya

 

Hanya ilustrasi. (Gambar: AI). 

Mereka yang meninggal hanyalah sepuluh nama dari ribuan yang disiksa, dipukul, ditendang, dicaci. Sepuluh tubuh yang sudah terbujur itu kini menjadi simbol betapa murah nyawa di negeri sendiri. Anak sekolah, tukang becak, pegawai kecamatan, mahasiswa, ojek online, semua lapisan rakyat ada di daftar korban. Sebuah potret sempurna. Kekerasan negara tak pandang bulu, karena bagi kekuasaan, rakyat hanyalah kerumunan tanpa wajah.

*

Sepuluh Nama, Seribu Luka.

Ketika Negara Berdiri di Atas Kuburan Rakyatnya

Oleh: Yoss Prabu

 

Pada akhir Agustus 2025, Indonesia menulis ulang bab paling kelam dalam buku panjang kekerasan negara. Sepuluh nyawa melayang, ratusan patah tulang, ribuan luka, dan lebih banyak lagi air mata yang tidak pernah masuk hitungan resmi. Negara sibuk menghitung kerugian gedung yang terbakar, tapi tidak pernah mampu menghitung berapa banyak hati yang hancur.

Andika, 16 tahun, masih berseragam SMK ketika hidupnya diremukkan benda tumpul. Affan, pengemudi ojek online, dilindas kendaraan rantis seolah nyawanya seharga ban cadangan. Di Yogyakarta, Rheza, mahasiswa penuh mimpi, pulang dalam kondisi tubuh biru lebam, wajahnya ditandai jejak sepatu aparat. Di Makassar, Rusdam alias Dandi, tulang punggung keluarga, dipukuli sampai mati hanya karena dituduh intel. Dan daftar itu terus berlanjut. Sepuluh nama, sepuluh cerita, sepuluh tragedi, yang semuanya berakhir di liang kubur.

Negara menyebut mereka “anarkis”, “makar”, bahkan “teroris”. Betapa murah label itu ditempelkan pada tubuh yang sudah kaku. Betapa mahal harga sebuah pertanyaan sederhana, kenapa rakyat yang bersuara selalu dibungkam dengan peluru, gas air mata, dan pentungan? Presiden bahkan sempat berpidato dengan gagah: aparat harus “tegas.” Tegas rupanya berarti menginjak kepala remaja, menembakkan gas air mata ke dada, atau melindas dengan kendaraan taktis. Tegas rupanya sinonim dari bengis.

Mari kita berhitung. Sepuluh korban jiwa. Tapi sesungguhnya, lebih dari sepuluh keluarga yang mati perlahan. Seorang ibu kehilangan suara karena terlalu lama menangis di Makassar. Seorang ayah masih menyimpan kunci motor anaknya yang tak akan pernah pulang di Yogyakarta. Seorang istri kehilangan suami yang melompat dari lantai empat gedung terbakar di Makassar. Anak-anak yang seharusnya masih bisa bercanda dengan bapaknya kini hanya bisa berbicara pada batu nisan. Tragedi ini bukan sekadar angka. Ia adalah potongan daging yang dicabik dari tubuh bangsa sendiri.

Ironinya? Uang triliunan rupiah justru digelontorkan untuk membeli peluru karet, gas air mata, dan drone pelontar, bukan untuk pendidikan, kesehatan, atau kesejahteraan. Seolah rakyat hanya layak diatur, dipukul, dan ditakuti. Seolah demokrasi hanyalah panggung sandiwara di mana aparat jadi pemeran utama, dan rakyat hanyalah figuran yang bisa mati kapan saja.

Komnas HAM berteriak. PBHI berteriak. Amnesty International berteriak. Tapi suara mereka tenggelam oleh sirene, ledakan gas air mata, dan perintah “tindak tegas.” Bahkan dunia internasional ikut bersuara, meminta penyelidikan independen. Namun di negeri ini, keadilan seringkali hanyalah kata yang dipajang di baliho, bukan yang hidup di pengadilan.

Mereka yang meninggal hanyalah sepuluh nama dari ribuan yang disiksa, dipukul, ditendang, dicaci. Sepuluh tubuh yang sudah terbujur itu kini menjadi simbol betapa murah nyawa di negeri sendiri. Anak sekolah, tukang becak, pegawai kecamatan, mahasiswa, ojek online, semua lapisan rakyat ada di daftar korban. Sebuah potret sempurna. Kekerasan negara tak pandang bulu, karena bagi kekuasaan, rakyat hanyalah kerumunan tanpa wajah.

Dan kita? Kita hanya bisa membaca berita, menunduk, menelan pil pahit yang sama. Kita tahu suatu hari nanti mungkin nama lain akan ditambahkan ke daftar. Sebab di negeri ini, darah rakyat hanyalah catatan kaki dalam sejarah yang ditulis dengan tinta polisi.

Sepuluh korban jiwa itu kini jadi monumen diam. Bukan di pusat kota, bukan di depan gedung DPR, tapi di hati setiap orang yang masih percaya bahwa manusia semestinya lebih berharga dari kursi empuk dewan. Mereka pergi tanpa keadilan, tapi meninggalkan luka yang seharusnya jadi cambuk. Bahwa, negara tak boleh lagi berdiri di atas kuburan rakyatnya sendiri.

Apakah mereka akan diusut tuntas? Atau akan dilupakan seperti korban-korban sebelumnya? Kita semua tahu jawabannya. Dan mungkin itulah yang paling tragis. Di negeri yang katanya demokratis, bahkan kematian rakyat pun hanya jadi angka dalam laporan resmi.

 

Diolah dari berbagai sumber:

-        https://www.kompas.tv/nasional/615662/komnas-ham-desak-usut-tuntas-10-korban-jiwa-dalam-demonstrasi-pbhi-kritik-penindakan-aparat?lgn_method=google&google_btn=onetap

 

-        https://www.bbc.com/indonesia/articles/cp949kn2d84o

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

  Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).  Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...