Rabu, 26 Februari 2025

Retret Cara Terbaik untuk Menghabiskan Waktu dan Uang

Penjual gorengan. (Foto: Pinterest). Retret Cara Terbaik untuk Menghabiskan Waktu dan Uang Kang Juhi, pedagang gorengan. Tinggal seorang diri, di sebuah kamar kontrakan, di pinggiran Jakarta. Namun ia bisa berada di mana saja, dan bertemu dengan siapa saja. Karena ia hanya semacam simbol yang mewakili suatu kelompok masyarakat marjinal, yang alam bawah sadarnya terkadang mengejawantah ke berbagai dimensi kehidupan. Kang Juhi mengamati lalu batinnya mengkritisi berbagai aspek kehidupan yang sering kali menyimpang menurut penalaran akal sehat Kang Juhi. Apakah penalaran batinnya bisa dipertanggungjawabkan? Perlu diskusi lebih lanjut. Karena ia hanya penjual gorengan, yang tak menarik perhatian. Dibutuhkan tatkala tak ada pilihan. Namanya juga dongeng. * Ada seseorang sedang membeli gorengan. Tetangga Kang Juhi. Ia seorang dosen di sebuah universitas. Ia berjalan kaki. Padahal, biasanya naik mobil pribadi. Bawa sendiri. Sambil melayani, iseng Kang Juhi bertanya. “Kok jalan kaki, Pak?” “Ya, mobil saya di bengkel,” jawab dosen itu. Kang Juhi terus bertanya. “Pak, retret itu apa sih?” Setelah sempat mengerutkan dahi. Heran. Dosen itu pun menjawab juga. "Retret, kata yang membuat saya selalu ingin tertawa dan menangis secara bersamaan,” begitu katanya. Lalu ia melanjutkan, “Karena, retret adalah saat di mana saya harus meninggalkan semua yang saya cintai, telepon genggam, termasuk Wi-Fi dan medsos, untuk berdiam diri dalam kesunyian.” Jelasnya. Sangat akademis. Kang Juhi merenung. Kemudian dosen itu melanjutkan. “Tapi, apa yang terjadi ketika saya berada dalam kesunyian tersebut? Saya mulai berpikir tentang cinta, tentang makna hidup, dan tentang apa yang sebenarnya saya inginkan dari hidup ini. Saya mulai menyadari bahwa hidup ini tidak hanya tentang berbagi rasa dengan orang lain, tapi juga tentang menemukan diri sendiri dalam kesunyian. Karena, ketika saya berada dalam kesunyian, saya dapat mendengar suara hati saya sendiri, tanpa gangguan dari luar. Tapi, retret bukanlah tentang mengisolasi diri dari dunia luar. Retret adalah tentang menemukan keseimbangan antara kesunyian dan kebersamaan. Karena, ketika saya berada dalam kesunyian, saya dapat menemukan diri sendiri, tapi ketika saya berada dalam kebersamaan, saya dapat berbagi rasa dan pengalaman dengan orang lain.” Kang Juhi belum paham. Lalu dosen itu melanjutkan. “Di balik gemerlap kehidupan yang kadang terlalu bising, tersimpan dua dunia yang saling melengkapi. Retret dalam keheningan dan momen berbagi rasa yang penuh kehangatan. Bayangkan sebuah retret, tempat di mana setiap detik mengalun dengan sunyi, seolah waktu pun berhenti sejenak untuk mendengarkan bisikan hati. Di sana, dalam kesunyian yang mendalam, kita diajak untuk bertatap muka dengan diri sendiri, momen di mana setiap tanya dan tawa tersembunyi di balik kerlip pikiran yang melayang bebas. Ironisnya, kesunyian itu kadang justru penuh dengan humor; saat kita menyadari bahwa diam pun bisa menjadi pembawa canda, seperti ketika seekor burung tiba-tiba menyela renungan serius dengan kicauannya yang riang. Di sisi lain, ada pula momen berbagi rasa, sebuah perayaan kebersamaan yang penuh warna. Pada ruangan yang dipenuhi canda tawa, setiap perbincangan terasa seperti simfoni yang mengalun merdu. Di sini, kata-kata mengalir bagaikan aliran sungai yang tak terbendung, membawa cerita-cerita manis sekaligus getir. Sebuah alat semacam pengingat bahwa, hidup tak selamanya tentang kesendirian. Setiap gelak tawa, setiap pelukan hangat, seolah berkata, “Kita di sini, saling menguatkan dalam suka maupun duka.” Suasana ini mengajarkan bahwa dalam berbagi rasa, kita menemukan keindahan yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata, melainkan dirasakan dengan seluruh jiwa. Retret dalam keheningan mengajarkan kita untuk mendengarkan bisikan hati, agar kita dapat mengerti arti sejati dari diri kita sendiri. Di tengah diamnya alam, pikiran yang biasanya bising pun menemukan ruang untuk beristirahat. Sebuah ironi terselip di situ. Dalam keheningan, kadang lahir lelucon-lelucon kecil yang membuat kita tersenyum geli, seolah alam pun ikut bercanda. Mungkin, ketika sebatang ranting bergoyang pelan diterpa angin, kita pun bisa membayangkan ia tengah menari dengan irama musik yang hanya diketahui oleh para jiwa yang tenang. Sebaliknya, berbagi rasa memberikan kita pelajaran tentang kekuatan hubungan. Seperti saat dua insan saling berpandangan dalam keheningan penuh arti, lalu tiba-tiba tersipu melihat keanehan kecil yang hanya mereka yang mengerti, atau ketika lelucon ringan membuat hati terasa lebih ringan. Dalam kehangatan itu, cinta dan persahabatan tumbuh bagai bunga yang mekar di musim semi. Indah, rapuh, dan penuh harapan. Di antara dua dunia tersebut, tersimpan sebuah filosofi hidup yang mendalam, keseimbangan antara kesendirian dan kebersamaan adalah kunci menuju kebahagiaan sejati. Kita diajarkan untuk menyepi, karena dalam keheningan terdapat kekuatan untuk menemukan jati diri. Namun, kita juga diingatkan bahwa berbagi rasa adalah obat bagi jiwa yang kadang terluka oleh sunyi. Humor, romantisme, dan renungan filosofis berpadu, menciptakan harmoni yang membawa kita pada pemahaman bahwa setiap momen – baik itu penuh sunyi maupun penuh tawa – adalah anugerah yang patut disyukuri. Maka, mari kita rayakan hidup dengan dua cara itu, sesekali tenggelam dalam retret yang menenangkan dan sesekali membuka hati untuk berbagi rasa. Karena di sanalah, di persimpangan keheningan dan kebersamaan, letak rahasia keindahan hidup yang sesungguhnya. Kang Juhi belum paham. Tapi dosen itu telah membayar apa yang dia beli. Dan melanjutkan jalan kakinya. *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.

Bab baru: Kehilangan potongan kecil dalam hidup.

Bab baru: Kehilangan potongan-potongan kecil dalam hidup. 2026 ini serba berat. hilang perasaan, hilang setengah pemikiran, hilang jati dan ...