Selasa, 28 Januari 2025

Isra Miraj dan Imlek

Yoss Prabu Suatu malam, Rasulullah SAW mendapat "undangan eksklusif" dari Allah SWT. Bayangkan ini seperti naik roller coaster antariksa, tanpa antre tiket, tanpa delay, langsung menuju langit ketujuh. Kalau zaman sekarang, mungkin kita akan bilang, "Teleportasi spiritual tercepat dalam sejarah." Isra Miraj adalah perjalanan melampaui batas-batas logika manusia. Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Isra), dilanjutkan naik ke Sidratul Muntaha (Miraj), hanya dalam semalam! Coba bandingkan dengan kita yang sering terjebak macet di jalan tol. Buraq, kendaraan yang menemani perjalanan ini, kecepatannya jauh melampaui kecepatan cahaya. Kalau dipikir-pikir, manusia modern saja masih ribut soal hyperloop atau roket Elon Musk. Sementara itu, 1400 tahun yang lalu, Rasulullah sudah membuktikan bahwa perjalanan spiritual dan teknologi Allah jauh melampaui batas imajinasi manusia. Tapi, Isra Miraj bukan sekadar perjalanan cepat dan keren. Ini adalah pelajaran hidup. Perjalanan itu mengajarkan untuk terus bergerak, menembus batas ketakutan dan kebimbangan, demi meraih ridha-Nya. Salat lima waktu yang diwajibkan setelah peristiwa ini adalah “souvenir” yang mengingatkan untuk terus berkomunikasi dengan Sang Pencipta, kapan pun, di mana pun. Jadi, kalau merasa hidup terlalu berat, ingatlah Isra Miraj. Setiap perjalanan memiliki tujuan. Setiap rintangan bisa dilewati, asalkan mau percaya. Dan siapa tahu, setiap doa sedang "diangkat langsung" dengan kecepatan Buraq. Sementara Imlek bukan sekadar perayaan tahun baru, ini adalah festival kehidupan. Mulai dari jeruk mandarin yang berserakan di meja hingga lampion merah bergelantungan seperti diskon besar di mall, semuanya punya makna yang dalam. Jeruk, misalnya, melambangkan keberuntungan dan kemakmuran. Tapi kalau makannya kebanyakan? Itu pertanda sakit maag terganggu. Angpao merah juga menarik. Konsepnya sederhana, uang dibungkus amplop merah. Tapi filosofinya dalam. Memberi angpao, mengajarkan bahwa berbagi rezeki itu bukan bikin miskin, malah memperlancar energi kebaikan. Yang seru, anak-anak selalu semangat terima angpao, tapi lupa filosofinya. Yang penting isinya. Dan soal lampion merah yang menggantung? Itu bukan cuma dekorasi. Itu simbol harapan dan doa, seperti "lampu jauh" mobil yang menerangi jalan gelap. Filosofinya? Jangan takut berjalan dalam kegelapan hidup, asal hati tetap menyala. Tapi hati-hati kalau terlalu terang, nanti dianggap overacting. Ada juga tradisi membersihkan rumah sebelum Imlek. Maksudnya, membuang energi negatif, supaya rezeki bisa masuk. Tapi realitanya, kita sibuk menyapu sambil menggerutu, "Ini rezeki atau debu. Kok, tidak ada habis-habis?" Tapi, inti Imlek bukan sekedar jeruk, angpao, atau lampion. Intinya ada di kebersamaan keluarga. Di tengah bunyi petasan dan aroma kue keranjang. Terdapat pesan mendalam, hidup itu bukan soal seberapa banyak kita punya, tapi seberapa tulus kita memberi dan merayakan bersama. Jadi. Selamat memperingati Isra Miraj. Semoga perjalanan hidup kita selalu diridhoi Allah dan kita diberi kekuatan untuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Pun. Gong Xi Fat Coi! Semoga tahun ini, tidak cuma makmur, tapi juga bahagia. Juga jangan dilupakan, tanggal 28-nya merupakan Harpitnas. Hari kejepit nasional. Berdasarkan SKB 3 Menteri. Cuti massal. Libur. *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

  Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).  Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...