Di Selasar kita bisa berdiskusi. Ramai-ramai atau sendiri. Boleh. Sambil minum kopi, merenung atau hanya sekedar berimajinasi, juga boleh. Atau sambil bermimpi dan masturbasi. Pun boleh-boleh saja. Terserah! Silakan saja. Suka-suka.
Sabtu, 22 Februari 2025
Indonesia Gelap, Kasih Pun Tertahan
Puisi
Indonesia Gelap, Kasih Pun Tertahan
Yoss Prabu
Di kolong langit yang mendung
Namun terasa panas
Gerah
Seorang mahasiswa berbisik lirih
Pada pujaannya
"Kekasih, cintaku padamu tak kalah gigih
Namun lihatlah negeri ini
Begitu gelap dan penat."
Di antara buku dan demonstrasi
Langkah-langkahnya tak sekadar
Mencari cinta
Tapi menuntut ilmu yang bebas
Tak terbelenggu
Supaya anak bangsa tak hanya jadi bayang
Di tepi impian belaka
Mahasiswa itu
Menatap tanah yang semakin sempit
“Reforma agraria sejati,” katanya lirih
Sebab tanah ini bukan hanya sekadar saksi
Tapi rumah
Yang perlahan digerus proyek ambisi
Mereka ingin diamkan suara kampus
Seperti
Puisi yang direnggut dari pena
Undang-undang minerba
Sebuah paku di dada
Menjadikan kritis
Sebagai dosa yang terus dikutuk waktu
Digerus zaman
“Militer di mana-mana, kekasihku,”
Ujarnya sendu
"Adakah cinta masih bisa tumbuh
Pada tanah yang terus-menerus
Diinjak sepatu laras
Dan suara hati
Disekap
Dibungkam
Oleh ketakutan
Was-was
Dan rasa curiga yang berlebihan."
Di lembah sunyi
Masyarakat adat menangis
Kebudayaan mereka
Di ujung pusaran kuasa
Rancangan undang-undang
Bagai janji tanpa jiwa
Tanah leluhur pun hampir tiada
Mati tanpa daya
Dan di tengah kekalutan itu
Terlihat instruksi sang petinggi
Melayang seperti angin
Dingin
Menyapu harapan
Semangat dan asa
Merenggut pendidikan
Dan kesehatan
Yang seharusnya jadi hak rakyat
"Kekasihku, aku lapar
Bukan karena rindu
Tapi makan gratis itu
Perlu dibahas ulang
Supaya tidak menjadi
Sekadar bumbu politik yang manis
Dan
Benar-benar menyentuh perut yang menangis."
Para dosen yang mengajarkan cahaya
Terjebak
Dalam gelapnya keringat
Tanpa upah cukup
"Mereka bukan lilin yang bisa dibiarkan habis
Harapan butuh kesejahteraan
Agar tetap menyala."
Di sisi lain
Korupsi kian menari
Seperti musuh yang tak pernah mati
"Perpu perampasan aset
Harus ditegakkan
Agar kita
Tak selamanya dalam lingkaran hampa."
Mereka ingin merevisi aturan
TNI, Polri dan Kejaksaan
"Tapi revisi ini
Seperti belati di tangan penguasa
Melukai keadilan
Yang sudah tipis suaranya."
Dan
Di tengah kebisingan kabinet yang boros
Pejabat berlagak bak raja tanpa dosa
"Harus dirombak, kekasihku
Supaya negeri ini
Tak selamanya
Menjadi panggung para pelawak yang konyol."
Di atas kursi empuk
DPR bersekongkol
Membisiki aturan
Demi memperkuat kekuasaan
"Mereka ingin mengatur
Bagaimana kita bicara
Tapi suara rakyat tidak akan pernah mati."
Dan polisi, oh......
Itu juga butuh reformasi
Bukan untuk hilangkan mereka
Tapi supaya mereka
kembali jadi pelindung
Bukan bayang-bayang yang memuakkan
Masih
Di bawah langit mendung
Yang sama
Pasangan mahasiswa itu memeluk erat cita
"Kekasihku
Maafkan aku
Cintaku padamu sungguh dalam
Tak akan luntur
Oleh deras apa pun
Tapi cintaku
Kepada negeri ini
Lebih mendesak untuk disuarakan."
Ia menatap mata sang pujaan
"Kita mungkin
Tidak bisa menari
Di bawah mendung siang ini
Yang sepertinya akan hujan
Tapi kita bisa memasang payung
Ribuan
Atau mungkin jutaan payung
Supaya negeri ini
Tidak lagi
Dalam kegelapan yang sunyi."
Dan di kolong langit berkabut yang sama
Cinta dan perjuangan
Menyatu dalam asa
Bahwa esok
Indonesia tak lagi gelap
Dan mereka bisa mencinta tanpa rasa bersalah.
Jakarta, 22 Februari 2025
*
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal
Hanya ilistrasi. (Gambar: AI). Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...
-
Selamat Pagi Kusibak kabut yang menggantung. Kutatap pagi yang redup. Lembapnya terasa segar di sela rintik yang malu-malu. ...
-
Tulisan ini saya buat ketika saya menjadi anggota dari sebuah grup WA yang admin-nya secara kurang ajar mendaulat saya untuk menjadi narasum...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.