Di Selasar kita bisa berdiskusi. Ramai-ramai atau sendiri. Boleh. Sambil minum kopi, merenung atau hanya sekedar berimajinasi, juga boleh. Atau sambil bermimpi dan masturbasi. Pun boleh-boleh saja. Terserah! Silakan saja. Suka-suka.
Rabu, 12 Maret 2025
Demokrasi Tepung Renyah di Mulut, Pahit di Hidup
hanya ilustrastrsi. (Foto: Pinterest).
Pengantar
Kang Juhi, pedagang gorengan. Tinggal seorang diri, di sebuah kamar kontrakan, di pinggiran Jakarta. Namun ia bisa berada di mana saja, dan bertemu dengan siapa saja. Karena ia hanya semacam simbol yang mewakili suatu kelompok masyarakat marjinal, yang alam bawah sadarnya terkadang mengejawantah ke berbagai dimensi kehidupan. Kang Juhi mengamati lalu batinnya mengkritisi berbagai aspek kehidupan yang sering kali menyimpang menurut penalaran akal sehat Kang Juhi. Apakah penalaran batinnya bisa dipertanggungjawabkan? Perlu diskusi lebih lanjut. Karena ia hanya penjual gorengan, yang tak menarik perhatian. Dibutuhkan tatkala tak ada pilihan.
Namanya juga dongeng.
*
Demokrasi Tepung
Renyah di Mulut, Pahit di Hidup
Prabu Prabu
Kang Juhi tinggal di sebuah kontrakan sempit di pinggiran Jakarta. Satu kamar berisi tikar rombeng, kompor gas, dan kalender lusuh bergambar selebriti dangdut. Meskipun begitu, dalam pikirannya, ia bisa berada di mana saja. Tukang gorengan itu bukan hanya sekadar sosok, tapi semacam simbol. Simbol orang-orang kecil yang tak pernah masuk headline berita, kecuali kalau ada peristiwa tragis atau dianggap mengganggu keindahan kota.
Beberapa hari sebelumnya. Sebelum gerobak Kang Juhi dicekal. Setiap hari, lelaki beranak dua itu, menggoreng tahu isi, tempe dan pisang yang dikasih tepung, dan bakwan sayur. Dengan minyak yang makin lama makin mirip lumpur. Tapi pelanggan tetap datang. Sebab di dunia yang sekarang sezaman dengan Kang Juhi ini, kelezatan bukan sekadar soal kesehatan, tapi juga soal harga dan kenikmatan instan yang hanya peduli hari ini. Begitu kata pelanggannya, Mas Karmin, tukang ojek online yang lebih percaya pada warung kopi dan gorengan Kang Juhi pereda lapar dan haus.
Namun di balik aroma minyak goreng yang mendidih, batin Kang Juhi terus bekerja. Mengamati, menganalisis, dan mengkritisi dunia yang sering kali berjalan dengan logika yang membuat kepala miring sebelas derajat.
Misalnya, kenapa manusia bisa antre panjang buat diskon belanja di mal, tapi kalau antre bantuan sosial malah berebut dan saling sikut? Kenapa orang yang ngaku paling saleh kalau sering kali paling duluan menyebarkan hoaks? Kenapa harga gorengan tak pernah naik secara adil, padahal harga minyak goreng melompat bak atlet lompat tinggi.
"Hidup ini ibarat gorengan, renyah di luar, panas di dalam, dan kalau dikunyah terlalu cepat bisa bikin lidah melepuh," begitu filosofi yang Kang Juhi yakini. Lagi-lagi sotoy.
Meski sekarang ini bulan puasa, seperti yang sudah-sudah, Kang Juhi tak peduli. Ia tetap akan mendorong gerobaknya ke perempatan jalan. Dekat pasar tradisional. Lengkap dengan tahu isi, tempe campur tepung, risoles dan dagangan favoritnya, gorengan bakwan sayur. Yang lebih banyak tepung daripada sayurannya.
Menurut Kang Juhi sotoy. Tepung adalah simbol ketahanan ekonomi. Seperti subsidi yang lebih banyak ke pencitraannya daripada kekebutuhan rakyat.
“Gorengan itu demokratis,” Kang Juhi pernah berfilosofi. Entah untuk siapa. Yang penting kelihatan sotoy. “Siapa pun bisa beli. Dari tukang ojek sampai bos-bos berdasi. Sama rata, sama renyah.”
Namun, di balik demokrasi tepung ini, ia sadar, nasibnya sebagai pedagang kecil adalah minoritas yang terlupakan. Dibutuhkan hanya saat kepingin ngemil dan dompet sudah menipis. Ia sering memerhatikan pelanggan yang datang. Ada pegawai kantoran yang mengeluh soal gaji kecil, guru honorer yang tetap tabah. Mahasiswa yang berbicara tentang, “#IndonesiaGelap” sambil berutang dan mak-mak yang mengomentari harga-harga yang melonjak naik. Namun tetap membeli.
Kang Juhi tetap mendengarkan semuanya tanpa perlu memberikan pendapat. Sebab, siapa sih yang benar-benar peduli dengan pendapat seorang pedagang gorengan?
Bagi Kang Juhi, hidup itu seperti minyak di penggorengan. Kalau terlalu panas, bisa gosong. Kalau kurang panas, gorengan jadi terlalu berminyak dan tak nikmat.
“Harus pas, harus seimbang,” katanya. Dalam hati, tentunya.
Tapi ketika melihat kenyataan di sekelilingnya, ia sering bertanya-tanya, “Kenapa hidup orang kecil selalu dipaksa berenang di minyak panas, sementara yang di atas duduk santai sambil menikmati menikmati korupsi?”
Ah, entahlah!
Ia juga punya teori konspirasi tentang gorengan. Lagi-lagi sok tahu.
“Lihat itu pasar saham, politik, berita-berita. Semua pakai istilah ‘gorengan’. Berarti ada yang lebih ahli menggoreng ketimbang saya!”
Tapi sayangnya, yang lebih ahli menggoreng itu tidak pernah ditertibkan Satpol PP.
Tapi hidup memang tak selalu bisa ditakar dengan logika sederhana. Seperti beberapa hari lalu, saat gerobaknya diangkut oleh Satpol PP – lagi-lagi soal gerobak – dalam operasi penertiban PMKS (penyandang masalah kesejahteraan sosial). Katanya, demi ketertiban kota. Demi kerapihan trotoar. Demi kenyamanan orang-orang yang sebenarnya tak pernah peduli pada keberadaan Kang Juhi kecuali mendadak kepingin ngemil.
"Kalau saya dibilang penyandang masalah kesejahteraan sosial, berarti yang menertibkan saya sudah sejahtera?" Gumamnya dalam hati.
Satpol PP itu cuma menjalankan tugas, Bro. Mereka juga buruh seperti dirinya. Sama-sama bekerja untuk sesuap nasi, hanya berbeda seragam.
Kang Juhi menghela napas. Ia tak marah. Sebab sudah lama ia sadar, bahwa hidup ini ibarat pisang goreng. Kadang manis, kadang terlalu matang sampai gosong. Kadang laris, kadang hanya jadi sisa yang hanya diendus kucing liar. Tapi ia tetap harus menggoreng lagi, esok hari, lusa, dan seterusnya.
Tanpa gerobaknya, Kang Juhi kini cuma lelaki biasa tanpa identitas dagang. Tapi siapa peduli? Orang seperti Kang Juhi hanya menarik perhatian saat mereka tak ada. Baru terasa penting saat yang tersisa cuma lapar dan perut keroncongan.
Hanya satu hal yang Kang Juhi yakini, selama orang masih suka ngemil dan gorengan tetap murah, ia akan selalu punya tempat di dunia ini.
*
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal
Hanya ilistrasi. (Gambar: AI). Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...
-
Selamat Pagi Kusibak kabut yang menggantung. Kutatap pagi yang redup. Lembapnya terasa segar di sela rintik yang malu-malu. ...
-
Tulisan ini saya buat ketika saya menjadi anggota dari sebuah grup WA yang admin-nya secara kurang ajar mendaulat saya untuk menjadi narasum...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.