Kamis, 13 Maret 2025

Hidup dan Baskom

Risoles ayam Pengantar Kang Juhi, pedagang gorengan. Tinggal seorang diri, di sebuah kamar kontrakan, di pinggiran Jakarta. Namun ia bisa berada di mana saja, dan bertemu dengan siapa saja. Karena ia hanya semacam simbol yang mewakili suatu kelompok masyarakat marjinal, yang alam bawah sadarnya terkadang mengejawantah ke berbagai dimensi kehidupan. Kang Juhi mengamati lalu batinnya mengkritisi berbagai aspek kehidupan yang sering kali menyimpang menurut penalaran akal sehat Kang Juhi. Apakah penalaran batinnya bisa dipertanggungjawabkan? Perlu diskusi lebih lanjut. Karena ia hanya penjual gorengan, yang tak menarik perhatian. Dibutuhkan tatkala tak ada pilihan. Namanya juga dongeng. * Di kamar kontrakannya. Sepi. Sendirian. Hendak berjualan, gerobaknya sedang “mondok”. Bukannya ngaji dan berdoa, Kang Juhi malah baca puisi. Ini puisinya. Hidup dan Baskom Di depan baskom tuaku Aku duduk dengan letih Bekas minyak Di tanganku Masih licin Juga Bau tepung Tak jua mau hengkang “Baskom Kau saksi hidupku Dari tahu isi Sampai bakwan renyah Setiap tetes keringat Setiap adonan Kau terima tanpa keluh Tanpa berang.” Kau adalah wadah kecilku Di mana harapan dan tepung bercampur Di mana Setiap cipratan minyak panas Adalah dunia Dan aku Hanyalah sendok kecil yang gemetar “Baskom, hidup ini sering tak masuk akal.” Kadang gurih Teradang terlalu pahit Seperti pelanggan yang datang dengan senyum Tapi menawar seolah aku ini pengemis kecil.” Dan kau diam Baskom tuaku Kau tak pernah bertanya Mengapa Kau hanya menunggu Dan memberiku ruang Untuk bermimpi lebih besar “Pernah aku berpikir Apa jadinya aku tanpa kau di sisiku?” Adonan ini tak akan berbentuk Dan aku Hanya lelaki tanpa tujuan Tapi, oh.... baskom Bukan kau yang butuh Tapi aku Akulah yang butuh kamu Penjaga kecil mimpiku Kau tahu, kan? Hidup ini seperti gorengan Kadang mekar indah saat minyak menyentuh Kadang gosong saat terlalu lama dibiarkan Dan seperti minyak panas itu Kenyataan sering kali melukai Walau hanya dengan cipratan kecil Tapi Nyeri dan berbekas Tapi denganmu Dengan itu Aku belajar Bahwa rasa bisa diciptakan Bahwa sakit dapat berbekas Meski dunia tak pernah lunak “Jadi, baskom tuaku Malam ini aku berterima kasih Berterima kasih sekali Untuk kesetiaanmu dalam diam Untuk menjadi saksi kehidupan Dalam kesederhana yang keras ini.” Di bawah lampu redup Aku tersenyum sendiri Esok Kau akan kembali penuh tepung Dan aku Kembali pada takdir kecilku Penjual gorengan Tapi malam ini Biarkan aku bermimpi Sebentar lagi Sebentar saja Karena baskom Kau tahu kan Mimpi adalah satu-satunya hal Yang tak bisa diaduk habis oleh kehidupan “Tidurlah, baskom Besok kita mulai lagi.” Jakarta, 13 Maret 2025 Yoss Prabu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

  Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).  Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...