Sabtu, 15 Maret 2025

Kang juhi Punya Gerobak Baru

Hanya ilustrasi. Gerobak Gorengan. (Gambar: AI). Pengantar Kang Juhi, pedagang gorengan. Tinggal seorang diri, di sebuah kamar kontrakan, di pinggiran Jakarta. Namun ia bisa berada di mana saja, dan bertemu dengan siapa saja. Karena ia hanya semacam simbol yang mewakili suatu kelompok masyarakat marjinal, yang alam bawah sadarnya terkadang mengejawantah ke berbagai dimensi kehidupan. Kang Juhi mengamati lalu batinnya mengkritisi berbagai aspek kehidupan yang sering kali menyimpang menurut penalaran akal sehat Kang Juhi. Apakah penalaran batinnya bisa dipertanggungjawabkan? Perlu diskusi lebih lanjut. Karena ia hanya penjual gorengan, yang tak menarik perhatian. Dibutuhkan tatkala tak ada pilihan. Namanya juga dongeng. * Kang Juhi Punya Gerobak Baru Yoss Prabu Beberapa hari setelah pertemuan Kang Juhi dengan pria berdasi di pasar, hidupnya kembali seperti biasa-mendorong gerobak, menjual gorengan, dan bertahan di antara tawar-menawar pelanggan. Ia sudah hampir melupakan percakapan itu, menganggapnya sekadar angin lalu. Namun, suatu pagi beberapa hari kemudian. Kang Juhi berdiri mematung di lokasi, pada tempat di mana ia biasa berjualan. Sekedar menjaga asa, barangkali saja gerobaknya dikembalikan dan ia dapat berdagang kembali. Lalu terkejut ketika kemudian melihat sebuah truk berhenti di depannya. Dari truk itu, turunlah pria berdasi yang ia temui di pasar ini, beberapa hari lalu. Ia bersama beberapa orang berseragam dari dinas pemerintah. Mereka membawa papan nama besar bertuliskan: "Zona Usaha Mikro: Ruang untuk Pedagang Kecil." "Juhi!" panggil pria itu sambil tersenyum. "Ingat saya? Kami datang untuk memenuhi janji." Pria itu menjelaskan bahwa pemerintah telah mendengar keluhan para pedagang kecil. Sebagai langkah awal, mereka memutuskan untuk membuka beberapa zona khusus di setiap wilayah untuk para pedagang seperti Kang Juhi. Lokasi pertama ada di dekat pasar tradisional tempat Kang Juhi biasa berjualan. Tapi harus menunggu beberapa hari untuk pendirian bangunan semacam tenda. “Kami tahu ini belum sempurna,” ujar pria itu, “tapi kami ingin mencoba. Ruang ini khusus untuk pedagang kecil, bebas dari penggusuran. Kami juga menyediakan gerobak baru untuk Kang Juhi, sebagai permintaan maaf atas kejadian sebelumnya.” Kang Juhi tertegun. Ia tidak percaya bahwa suaranya, sekecil apa pun, benar-benar didengar. Para pedagang kaki lima berkerumun, menatap gerobak baru berwarna coklat cerah dengan nama “Gorengan Kang Juhi” tertulis rapi di sisi depannya. Langkah pemerintah itu segera menjadi bahan pembicaraan di pasar dan sekitarnya. Banyak pedagang kecil yang awalnya skeptis, tetapi perlahan-lahan mulai melihat harapan baru. Mereka mulai mendaftar untuk mendapatkan tempat di zona usaha mikro itu. Namun, tidak semua berjalan mulus. Beberapa pedagang besar merasa terancam, takut kehilangan pembeli karena perhatian pemerintah yang tiba-tiba beralih ke pedagang kecil. Mereka mencoba memprotes kebijakan tersebut. Dua hari kemdian, Kang Juhi melihat kelompok pedagang besar datang ke zona usaha mikro, membawa spanduk protes. Mereka mengklaim bahwa ruang tersebut “mengganggu tata ekonomi pasar.” Salah satu pedagang besar, seorang pria berpakaian rapi dengan nada meremehkan, mendekati Kang Juhi. “Kang Juhi, lu pikir gerobak baru ini bakal bikin lu kaya? Lu cuma pengganggu. Pedagang kecil seperti lu nggak punya tempat di kota ini.” Kang Juhi menahan diri, meski amarahnya mulai membuncah. Dengan suara tenang, ia menjawab, “Bapak salah. Pedagang kecil bukan pengganggu, kami adalah bagian dari kota ini. Gorengan saya mungkin kecil, tapi setiap hari mengisi perut orang-orang yang butuh makan murah. Kalau itu bukan kontribusi, lalu apa?” Kerumunan mulai mendukung Kang Juhi. Bahkan pelanggan-pelanggan setianya maju membela. Salah satu dari mereka, seorang ibu tua, berkata lantang, “Kalau tidak ada Kang Juhi, anak saya nggak bisa mau makan setelah pulang sekolah. Kalau nggak pake gorengan Kang Juhi! Dia lebih penting daripada toko besar Bapak!” Melihat kekompakan kelompok marjial, kerumunan pengunjuk rasa pun bubar. Dengan tidak rela tentunya. Melihat dampak positif dari program ini, pemerintah memutuskan untuk memperluas zona usaha mikro ke lebih banyak lokasi. Mereka bahkan mengadakan pelatihan sederhana untuk para pedagang, mengajarkan cara mengelola keuangan dan menjaga kualitas makanan. Kang Juhi diundang ke acara peresmian Zona Usaha Mikro: Ruang untuk Pedagang Kecil, untuk memberikan testimoni. Ia berdiri di panggung kecil, mengenakan baju sederhana, tetapi wajahnya penuh keyakinan. “Dulu saya berpikir suara saya tidak akan pernah didengar,” katanya. “Tapi sekarang saya tahu, kalau kita berani bicara dan bekerja keras, perubahan itu ternyata mungkin. Terima kasih kepada pemerintah yang akhirnya melihat kami bukan sebagai masalah, tapi sebagai bagian dari solusi.” Sore itu, Kang Juhi kembali ke kontrakannya. Ia menatap gerobaknya yang baru dengan rasa bangga, sambil berbicara pada baskomnya seperti biasa. “Lihat, Baskom. Dunia ini memang keras, tapi kadang-kadang, hal baik bisa terjadi. Mungkin mereka benar-benar peduli. Atau mungkin kita cuma beruntung. Tapi apa pun itu, aku akan terus berjuang. Karena sekarang, aku tahu ada ruang untuk kita di kota ini.” Dan esok harinya, Kang Juhi kembali berjuanan. Ia berangkat ke pasar dengan semangat baru, melayani pelanggan yang kini tidak hanya membeli gorengan, tetapi juga membawa cerita tentang pedagang kecil yang mengubah dunia, satu bakwan pada satu waktu. * Jakarta, 15 Maret 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

  Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).  Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...