Di Selasar kita bisa berdiskusi. Ramai-ramai atau sendiri. Boleh. Sambil minum kopi, merenung atau hanya sekedar berimajinasi, juga boleh. Atau sambil bermimpi dan masturbasi. Pun boleh-boleh saja. Terserah! Silakan saja. Suka-suka.
Senin, 17 Maret 2025
Gerobak Baru dan Harapan Baru
Gerobak baru Kang Juhi. (Gambar: AI)
Pengantar
Kang Juhi, pedagang gorengan. Tinggal seorang diri, di sebuah kamar kontrakan, di pinggiran Jakarta. Namun ia bisa berada di mana saja, dan bertemu dengan siapa saja. Karena ia hanya semacam simbol yang mewakili suatu kelompok masyarakat marjinal, yang alam bawah sadarnya terkadang mengejawantah ke berbagai dimensi kehidupan. Kang Juhi mengamati lalu batinnya mengkritisi berbagai aspek kehidupan yang sering kali menyimpang menurut penalaran akal sehat Kang Juhi. Apakah penalaran batinnya bisa dipertanggungjawabkan? Perlu diskusi lebih lanjut. Karena ia hanya penjual gorengan, yang tak menarik perhatian. Dibutuhkan tatkala tak ada pilihan.
Namanya juga dongeng.
*
Gerobak Baru dan Harapan Baru
Yoss Prabu
Malam itu, langit Jakarta seperti perasaan Kang Juhi. Berkabut. Setengah mendung, setengah berbintang. Di bawah lampu jalan yang kuning temaram, ia berdiri di depan gerobak barunya, memandanginya seperti seorang bapak yang baru saja menyambut anak sulungnya bau lahir ke dunia.
"Akhirnya punya gerobak lagi," batinnya, mengelus kayu yang masih harum dengan bau serbuk gergaji.
Sebelumnya, ia punya gerobak tua. Bukan sekadar gerobak, tapi teman setia, saksi bisu dari keringat dan lelahnya mencari nafkah. Tapi beberapa minggu lalu, datanglah pasukan berseragam-Satpol PP dengan ekspresi wajah yang tak bisa dibedakan antara ketegasan dan keberingasan. Lebih tepatnya kebosanan. Mereka merampas gerobaknya tanpa belas kasihan, seolah benda itu lebih berbahaya dari koruptor kelas kakap yang duduk di kursi empuk berukir.
“Pak, jangan diambil, ini satu-satunya sumber penghasilan saya,” kata Kang Juhi waktu itu.
“Maaf. Kami cuma menjalankan tugas,” jawab salah satu petugas dengan wajah bosan. Datar tanpa ekspresi.
Dan begitulah, gerobak lamanya raib, meninggalkan lubang di hati dan kantongnya.
Tapi sekarang, datang gerobak baru. Lebih kokoh. Dan, tentu saja lebih mahal.
Besok, ia akan berjualan lagi. Dan malam ini, akan mempersiapkan segala sesuatunya. Minyak, adonan terigu, sudah siap. Dan wajan menganga seperti rindu yang siap ditumpahkan. Dalam lenguhan panjang melelahkan.
Kang Juhi pun tertidur. Lelap. Dengan mimpi tentang surga.
Paginya. Sambil mempersiapkan yang semalam belum rapi, pikiran Kang Juhi melayang ke kampung halaman, ke istri dan anaknya yang sudah lama tak ia temui. Tahun ini, dengan gerobak baru, yang insyaAllah keuntungan akan mengalir, ia punya satu rencana besar. Mudik.
Mudik bagi perantau seperti Kang Juhi bukan sekadar pulang kampung. Itu adalah kepulangan yang sakral, perjalanan kembali kepada orang-orang yang selalu menjadi alasan kenapa ia bertahan.
Tahu isi. (Foto: Pinterest).
Sambil menggoreng dan menunggu pelanggan, Kang Juhi merenung. Hidup ini mirip dengan tahu isi. Dari luar, tampak sederhana. Kadang keras, kadang renyah. Tapi di dalamnya, ada sayuran yang bergizi tinggi.
“Bakwan sayur itu seperti manusia, Bu,” katanya pada pelanggan setianya, Bu Rina, seorang ibu muda yang sering mampir membeli tahu isi goreng.
“Maksudnya bagaimana, Kang?” tanya Bu Rina, menunggu kembalian.
“Ya, dari luar bisa kelihatan biasa aja, tapi kalau isinya tidak enak, ya percuma. Sama seperti hidup. Kita bisa kelihatan baik-baik aja, tapi kalau hati kosong, ya tetap aja hambar.”
Bu Rina tertawa kecil. “Kang Juhi ini cocok jadi motivator, bukan penjual gorengan.”
“Motivator mah banyak ngomong doang, Bu. Saya mah praktik langsung,” katanya sambil tertawa.
Tapi memang benar. Hidupnya, seperti tahu isi, tidak selalu renyah. Ada sedikit pedas, ada gurih, ada saat-saat ia hampir tenggelam dalam minyak panas masalah. Tapi selama ia masih punya isi, harapan, cinta, dan keyakinan, hidup ini tetap layak dijalani.
Meski demikian. Tentu saja, hidup di kota besar tidak selalu manis. Kadang pelanggan datang dengan seribu kritik yang tak masuk akal.
“Kang, ini pisang gorengnya kok tidak manis?”
“Lah, Bu. Saya jual pisang goreng. Bukan jampi-jampi tentang kebahagiaan,” jawab Kang Juhi asal.
Atau pelanggan yang menawar dengan semangat reformasi.
“Kang, kalau beli tiga dapat diskon tidak?”
“Dapat, Bu. Dapat tiga gorengan.”
Belum lagi teman-teman sesama pedagang yang kadang lebih kompetitif dari kompetisi sepak bola. Tapi kalah terus. Ada yang iri, ada yang ingin tahu rahasia adonan Kang Juhi.
“Eh, Kang, minyaknya pakai minyak bekas atau baru?”
“Bekas, tapi bekas saya beli di warung. Masih baru lah.”
Sarkasme dan humor adalah senjatanya. Di kota ini, kalau tidak kuat mental, bisa-bisa hidup lebih cepat basi ketimbang tahu goreng yang sudah dua hari tidak laku.
Hari pun bergeser. Malam pun muncul. Dan gerobaknya mulai kosong. Gorengan laris, dan laci di gerobaknya berjubel dengan uang. Ini pertanda baik.
Saat ia menutup gerobak, angin malam membawa aroma minyak dan tepung ke udara. Ia tersenyum.
"Tahun ini aku pasti pulang," pikirnya.
Membayangkan wajah istrinya yang tersenyum menyambutnya, anaknya yang mungkin sudah lupa wajah ayahnya tapi masih mengenali suaranya.
Hidup memang tak selalu adil. Tapi seperti minyak goreng, selama masih ada panas dan api, masih ada harapan.
Dan Kang Juhi percaya, selama ia masih bisa membolak-balik tahu isi dan bakwan sayur goreng dengan senyum di bibir, hidup ini masih layak diperjuangkan.
Jakarta, 17 Maret 2025.
*
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal
Hanya ilistrasi. (Gambar: AI). Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...
-
Selamat Pagi Kusibak kabut yang menggantung. Kutatap pagi yang redup. Lembapnya terasa segar di sela rintik yang malu-malu. ...
-
Tulisan ini saya buat ketika saya menjadi anggota dari sebuah grup WA yang admin-nya secara kurang ajar mendaulat saya untuk menjadi narasum...


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.